
Diana menghabiskan waktu cukup lama di rumahku. Melihat Diana, selalu membuatku merasa bersalah. Terbayang apa saja yang kulakukan bersama Alex. Kemesraan Kami, perhatian Alex yang berlebih. Seharusnya Aku tidak mendapatkan itu semua. Hanya Diana yang berhak mendapatkannya.
Maaf ya Diana, dari dulu Aku selalu menjadi penyebab rusaknya hubungan kalian. Dulu Aku menyebabkan kalian putus, sekarang Aku malah berada di tengah-tengah kalian. Menjadi orang ketiga.
Diana... Sebenarnya Aku tidak mau seperti ini. Aku sudah mengikhlaskan Alex bersamamu. Aku hanya ingin hidup bersama anakku, tapi Alex memiliki pemikiran lain. Maafkan Aku Diana...
Tiba-tiba ponsel Diana berdering. Dia mengangkat panggilan itu.
"Khansa, Aku pulang dulu ya. Kapan-kapan Aku kesini lagi. Atau Kamu lah sekali-sekali main ke rumahku."
"Iya."
"Kamu Aku daftarkan kelas kehamilan ya. Jadi Aku ada temannya. Kita bisa pergi bareng."
"Emm kalau masalah itu..."
"Pokoknya Aku daftarin deh. Ya sudah Aku pulang dulu. Baik-baik ya bumil..." Diana kembali memelukku dan mengelus perutku. Rasanya Aku ingin menangis. Mengapa dia sebaik ini padaku?
"Iya, Kamu juga Mbak..."
"Panggil Diana saja. Dari dulu selalu manggil Mbak, padahal Kita seumuran."
"Iy-ya Mb... Eh Di..." Aku memeluk Diana. Dalam hati permintaan maafku terucap. Rasanya tidak tega menyakiti hati yang sudah sebaik ini padaku.
Selepas Diana pergi, Alex kembali meneleponku. Namun Aku malas mengangkat teleponnya. Aku hanya rutin mengiriminya foto-fotoku. Ya, hanya sejauh itu keberanianku untuk memberontaknya. Aku tidak berani berbuat lebih, karena Aku takut dengan kemarahannya.
***
Aku sengaja tidak menyambut kedatangan Alex. Aku berbaring di kamar sepanjang hari. Alex datang menjelang waktu Isya'. Dia langsung berbaring di sampingku dan memeluk tubuhku yang membelakanginya.
"Suami berangkat kerja tidak diantar. Suami pulang kerja pun tidak di sambut. Masih ngambek?" Aku tidak menjawabnya, Aku kembali pura-pura tidur.
"Ngambek jangan lama-lama dong sayang. Aku sedih nih." Alex mengecupi tengkukku.
"Maaf, tadi Aku kasar ya? Jangan buat Aku marah. Besok Kita pulang ya." Satu kalimat Alex membuatku membuka mata. Alex mengijinkanku pulang ke rumah ayah?
Aku membalikan tubuhku dan menghadapnya. Mataku bertatapan dengan matanya yang tampak sedih.
"Nah gitu dong. Harusnya dari tadi suami pulang itu disambut. Sini Aku cium." Alex mendekatkan bibirnya, namun segera kubungkam dengan tanganku.
"Beneran besok Aku boleh pulang?"
"Iya. Senang? Sini cium dulu."
"Aku boleh melahirkan di sana?"
"Aku tidak pernah berkata seperti itu. Kita hanya beberapa hari di sana. Setelah itu Kita kembali ke sini. Kita kesana juga sembari menghadiri pernikahan Dino. Ingat Dino, teman sekelas Kita dulu waktu kelas 1."
Hah... Sudah kuduga Alex tidak akan semudah itu berubah pikiran. Aku kembali membalikan tubuhku dan membelakanginya.
"Ngambek lagi? Jangan ngambek-ngambek dong sayang. Kita pulang ya. Aku akan mengantarmu ke tempat manapun yang Kamu mau. Kita bisa ke laut, gunung atau manapun..."
"Aku ingin lihat sawah."
"Ya, Kita juga bisa lihat sawah. Jangan ngambek lagi ya..." Kenapa kalau sudah seperti ini Alex terlihat manis? Mana sikap galaknya tadi? Benar-benar menyebalkan.
"Beneran Dino mau nikah? Dia juga ngundang Aku?"
"Iya. Kenapa?"
"Aneh saja. Tumben ada yang ingat sama Aku?"
"Kenapa berkata seperti itu? Aku selalu mengingatmu. Besok jadi berangkat ya?"
"Hem."
"Masih."
"Sini Aku peluk biar ngambeknya hilang." Alex memelukku dan mengecupi keningku. Alex terlalu pintar merayu, dia bersikap seperti ini saja sudah membuatku luluh. Dasar Aku lemah!!
***
Aku mempacking cukup banyak baju. Mungkin kali ini Aku tidak berhasil merayu Alex, tapi nanti setelah sampai di kotaku, Aku akan mencari-cari alasan agar tidak perlu kembali ke Jakarta. Dengan begitu, kemungkinan untuk bertemu dengan Diana akan semakin kecil.
"Kenapa bawa baju banyak? Kita hanya 3 harian di sana."
"Ehm iya... Kan kebutuhan bumil banyak Mas..." Alex hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Kemudian dia membawa koper-koper itu ke lantai bawah.
Sebuah mobil jemputan yang disediakan oleh maskapai telah menunggu Kami. Supir datang dan membantu Kami memasukan koper ke dalam bagasi mobil. Setelah semua siap, Kami masuk ke dalam mobil. Alex duduk di samping supir, sementara Aku di belakang. Aku cukup merasa aneh dengan pengaturan tempat duduk ini, namun sejurus kemudian Aku mengetahui alasannya.
Alex menyuruh supir menghentikan mobil tepat di depan rumah Diana. Setelah itu dia turun dan memencet bel rumah. Tak berapa lama kemudian kulihat Diana keluar sembari membawa koper juga. Perasaanku mulai tidak enak. Ingin rasanya Aku kabur dari situasi ini!!
Supir menghampiri mereka dan membantu membawakan koper Diana. Sementara Alex dan Diana berjalan beriringan menuju mobil. Melihat mereka berdua berjalan berdua seperti itu terlihat sangat serasi. Hatiku tiba-tiba terasa sakit.
Mereka sudah dekat. Alex membukakan pintu mobil untuk Diana.
"Hai Sha... Kata Alex Kamu ikut. Makanya Aku mau ikut juga. Sudah lama juga tidak pulang ke kampung halaman." Diana duduk di sebelahku dengan nyaman. Aku yang terlalu terkejut tidak bisa menanggapi kata-katanya.
"Nggak disangka ya Al, Dino akhirnya menikah juga... Bla... Bla... Bla..." Mereka mengobrol dua arah. Aku terlalu terkejut, bingung dan marah untuk memahami obrolan mereka. Kemarahan itu tentu saja kutujukan pada Alex, yang melakukan ini tanpa memberitahuku. Andaikan Aku tahu Diana ikut, Aku tidak akan pernah mau ikut perjalanan ini. Akan terlalu menyakitkan melihat Kami bersama dalam satu situasi seperti ini!!
Akhirnya Kami tiba di bandara. Mobil langsung menuju ruang tunggu keberangkatan yang telah disediakan oleh maskapai. Alex hanya menyerahkan beberapa dokumen Kami dan duduk dengan santai. Beberapa saat kemudian Kami sudah menerima boarding pass tanpa perlu check in dan mengantri lama. Kami menunggu di international lounge yang telah di sediakan oleh maskapai sembari menunggu boarding pesawat.
"Kalian mau makan apa?" Alex bertanya pada Kami berdua.
"Aku mau salad buah. Kasih keju dan mayonaise yang banyak." Diana menjawab.
"Hem. Khansa? Kamu mau makan apa?"
"Aku nggak makan."
"Harus makan dong. Mau lihat menunya dulu?" Aku menggelengkan kepalaku. Ada secuil rasa sakit hati ketika Alex memanggil namaku seperti itu. Aku sudah terlalu biasa dipanggil "sayang", rupanya hal itu membuatku terbuai.
"Ya sudah." Alex tampak kesal. Dia berbalik dan menuju bar makanan. Hanya tinggal Aku dan Diana.
"Menurutmu Alex gimana Sha?"
"Uhuk... Hah?"
"Dia baik kan? Maksudku, dia itu tipikal pria yang penyayang. Cocok jadi suami dan juga seorang ayah..."
"Hem." Aku tak tahu harus menjawab apa? Aku tidak tahu maksud perkataan Diana. Apa dia sengaja memamerkan Alex padaku?
"Tipikal pria idamanmu seperti apa Sha? Apa Alex termasuk salah satunya?"
JLEB
Pertanyaan yang tak kuduga-duga. Aku menatap Diana dengan terkejut. Mengira-ngira apakah Diana sudah mengetahui hubungan Kami? Aku menelan ludah, bingung harus menjawab apa...
"Ini makanan kalian. Diana, salad buah. Khansa, ada gado-gado, soto, dan umpia." Tiba-tiba Alex datang sembari membawa makanan dengan dibantu oleh pramusaji. Kedatangan Alex menyelamatkanku dari menjawab pertanyaan Diana.
***
Happy Reading 🥴
Maaf ya hanya bisa update 1 episode saja. Bukan bermaksud pelit up, tapi emang sikon gak memungkinkan. Selama 3 bulan ke depan saya merangkap kerjaan 3 orang (duh jadi curhat kan 😂). Jadi mungkin baru bisa up beberapa episode waktu weekend saja. Mohon maaf ya 🙏🙇♀️