
"Maaf... Maaf... Maafkan Aku... Khansa..."
Aku terbangun. Lagi-lagi Aku mendengar suara Alex mengigau. Aku memperhatikan wajah Alex dengan seksama. Ada aliran airmata di sudut matanya. Bibirnya tak henti-hentinya mengucap maaf.
"Maaf... Maafkan Aku... Khansa...Khansa..."
Kali ini dia menyebut namaku. Bukan Diana lagi. Aku senang mendengarnya. Tapi melihat ekspresi sedih di wajah dan ucapan permintaan maafnya, membuatku ikut sedih.
Alex meminta maaf, meskipun hanya alam bawah sadarnya yang melakukannya.
Maaf untuk apa? Untuk tidur denganku malam itu? Untuk tidak mencariku setelahnya? Untuk menjadikanku yang kedua? Untuk membuat hubunganku dan ayahku memburuk?
Kamu minta maaf untuk apa Al? Sebenarnya Aku ingin menanyakan banyak hal padamu. Tapi Aku terlalu takut mendengar jawabannya. Aku tidak mau sakit hati lagi.
Al... Bila memang nasibku seperti ini, Aku akan menerimanya. Aku akan menerima semua perlakuanmu. Meskipun nantinya Kamu tidak mencintaiku, tapi Aku mohon tetap cintai anak Kita.
Al... Aku memaafkanmu atas kejadian di malam itu, karena itu memang salah kita berdua. Aku memaafkanmu yang tidak mencariku, karena hal itu harus sesuai dengan kata hatimu.
Aku tidak memaafkanmu karena menjadikanku yang kedua. Bukan karena Aku serakah ingin menjadi satu-satunya, tapi Aku memikirkan perasaan wanita lain. Bagaimana perasaan Diana bila tahu Aku menikah denganmu? Memikirkannya saja sudah membuatku sedih.
Maafkan Aku karena sudah ada di antara Kamu dan Diana. Maafkan Aku karena sudah membuatmu kebingungan dengan semua ini.
Al... Aku bingung, setelah ini apa yang akan terjadi pada Kita kedepannya?
***
Kami terbangun karena bunyi ponsel yang berdering terus-menerus. Alex segera mengangkat panggilan itu.
"Ya?!! Ada apa Winda?!! Kamu mengganggu tidurku!! Apa?!!" Alex menutup panggilan dan memeriksa ponselnya. Kemudian dia menelepon lagi.
"Winda, pesankan tiket untuk dua orang. Ya, Aku dan istriku. Pesankan yang paling pagi. Kami siap-siap sekarang." Alex kembali menutup panggilan.
"Sayang, Kita ke Jakarta sekarang. Siapkan baju-bajumu." Selesai berkata seperti itu, Alex memberiku kecupan sekilas sebelum menghilang ke kamar mandi.
Ke Jakarta? Aku ikut ke Jakarta? Berarti akan tinggal bersama Alex? Apa Diana juga?
"Khansa, tolong ambilkan baju dalamku, kemeja putih celana hitam di koper." Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.
"Iya." Aku dengan patuh membongkar koper Alex dan mengambil apa yang dia suruh.
Wajahku merah padam begitu memegang baju dalamnya. Pikiranku langsung kemana-mana. Aku cepat-cepat mengambil celana dan kaos dalam Alex dan menuju kamar mandi.
Tok... Tok... Tok...
Aku mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek
Alex membuka pintu kamar mandi lebar-lebar.
"Aakhhhpp!!" Aku terkesiap. Aku melempar baju itu ke wajah Alex dan menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Pppffftttt..." Alex tertawa geli. Dia menangkap baju yang kulempar kemudian berjalan mendekat padaku. Tetesan air masih membasahi tubuhnya.
"Jangan mendekat!!"
"Kenapa?"
"Jangan mendekat! Dasar mesum!"
"Kenapa sayang? Bukankah Kita sudah pernah saling melihat tubuh satu sama lain. Lihat Aku." Alex memegang bahuku. Aku menepis tangannya dan kabur diikuti oleh suara terbahak-bahaknya.
Dasar mesum! Otak piktor! Pikiran dangkal! Penjahat k*lamin! Tidak tahu malu! Mantra yang ku umpat di dalam hatiku.
Alex menyebalkan!! Bagaimana tidak? Pria itu sedang t*lanjang bulat di depanku! Tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya! Apa maksudnya bersikap seperti itu?! Kesal! Kesal! Kesal!
Dari dalam kamar mandi Aku masih mendengar tawa kepuasan Alex. Membuat hatiku semakin kesal.
Lima menit kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. Senyum jahil masih tersungging di bibirnya. Aku tidak mau melihat si mesum ini!!
"Cepat mandi sana." Tanpa menoleh pada Alex, Aku pergi ke kamar mandi.
Tapi meskipun begitu, tubuh itu benar-benar melekat di kepalaku. Tubuh ramping namun berotot. Dada bidang yang terawat. Ada bulu halus di perutnya yang mengarah pada...
"Akhpp!!" Aku cepat-cepat menyiram kepalaku dengan air. Untuk menjernihkan pikiranku yang ikut-ikutan kotor.
"Dasar mesum! Mesum! Mesum!" Aku mengomel sembari mandi.
Sepuluh menit kemudian Aku selesai mandi. Aku melongok ke dalam kamar. Alex terlihat sedang mempacking koperku dan juga kopernya.
"Cepat siap-siap ya. Sepuluh menit lagi Kita check out."
"Hem." Aku berbalik ke kamar mandi, tapi Alex menahan tanganku.
"Mau kemana?"
"Ganti baju."
"Ganti di sini saja. Kenapa harus ke kamar mandi?"
"Dasar mesum!!" Aku menghempaskan tangan Alex dengan gemas dan buru-buru ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian Kami sudah berada di jalan raya, menuju bandara kota Malang.
Kali ini Alex tidak begitu banyak bercanda. Wajahnya tampak serius. Dia membuka iPadnya sembari menerima berbagai panggilan.
Dari yang Aku tangkap, sepertinya masalah pekerjaan. Apa ada masalah di kantor?
"Ya, ini Aku menuju bandara. Kurang dari dua jam Aku akan tiba di sana. Panggil semua kuasa hukum. Dan segera buat surat tanggapan. Bagaimana dengan Direksi? Masih di LN? Kumpulkan semua GH, mengerti?"
Alex menutup panggilan dan mempelajari iPadnya lagi. Sepertinya dia sedang memantau fluktuasi saham.
"Apa ada masalah?"
"Hanya masalah kecil." Alex berusaha tersenyum sembari mengusap kepalaku. Aku tahu pasti bukan masalah kecil.
Ketika Alex kembali fokus pada iPadnya, Aku mengambil ponselku dan mencari berita tentang perusahaan lamaku. Ternyata benar saja.
Perusahaan itu tengah diterpa isu menjadi money laundry bagi anak perusahaan asuransi milik pemerintah. Karena isu itu, banyak nasabah yang memilih menarik dananya secara besar-besaran. Kondisi itu menyebabkan harga saham turun secara signifikan.
Aku memberanikan diri memegang tangan Alex, berusaha menghibur dan menyemangatinya. Alex tampak terkejut. Dia menatapku dengan bertanya-tanya. Kemudian senyum kecilnya mengembang. Alex meletakan iPadnya dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Hemm... Manis banget sih, cup... cup... cup... cup..." Dia mengecup kening, pipi, hidungku berkali-kali. Mengabaikan sopir di depan Kami. Aku merasa menyesal telah berusaha menghiburnya. Dia kembali mesum seperti biasa.
Kami memilih penerbangan paling pagi. Sebelum jam sepuluh pagi, Kami sudah tiba di Jakarta. Di sana Kami telah ditunggu oleh Winda.
"Winda, Kamu temani istriku. Aku langsung ke kantor."
"Baik Pak."
"Bareng Winda dulu ya, nanti kalau semua urusan sudah selesai Aku segera pulang." Alex menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Butuh apa-apa langsung katakan pada Winda. Jaga diri baik-baik, cup... cup..." Alex mengecup keningku dan mencuri satu kecupan di bibirku.
Aku memegang bibirku dengan terkejut, merasakan getaran panas di sana. Alex tertawa geli dan berbisik.
"Nanti bukan hanya kecupan, tapi *******, jilatan, gigitan..."
"Da-dasar mesum!!" Aku mendorong tubuh Alex menjauh. Sementara Alex hanya terkekeh. Winda sepertinya terkejut melihat Alex yang seperti itu. Wajahnya terlihat terpana.
"Winda, istriku ini polos sekali. Jaga dia baik-baik. Pastikan dia aman sampai Aku pulang. Mengerti?!"
"Baik Pak."
Kemudian Kami berpisah. Ada mobil lain yang menjemput Alex, sementara Aku pulang bersama Winda. Aku tidak tahu akan tinggal di tempat seperti apa dan dimana. Aku hanya berharap tempat itu jauh dari Diana. Apakah ini pemikiran dari istri kedua kah?
***
Happy Reading 🙄
NB : Mohon maaf hanya bisa update 1 episode. Tadi pulang kerjanya malam. Maaf ya 🙏