
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Mengganggu tidurku yang gelisah. Aku tetap memejamkan mata, berusaha mengabaikan suara-suara itu.
Tok... Tok... Tok...
Bukannya berhenti, namun suara ketukan kembali terdengar lagi. Aku takut suara-suara itu membangunkan Khansaku.
Tok... Tok... Tok...
"Aarrghhh, s*al!! Siapa?!!" Aku terduduk dan mulai berteriak. Selimut turun dari tubuhku, menunjukkan tubuhku yang telanj*ng.
"Ini Saya Pak. Sudah pukul setengah delapan. Sudah saatnya Kita berangkat kunjungan." terdengar suara Winda di balik pintu.
Ah, Aku baru ingat. Sekarang sudah hari Senin. Saatnya Aku kunjungan cabang. Aku harus membangunkan Khansa.
Aku menoleh pada sisi lain tempat tidur. Berharap melihat kekasihku berada di sampingku. Aku terkejut mendapati Khansa tidak ada di sana. Untuk memastikannya, Aku membuka seluruh selimut. Namun tempat tidur itu kosong. Khansa benar-benar tidak ada di sana!!
Perasaan bingung, kecewa, marah, sedih membaur menjadi satu. Bertanya-tanya mengapa orang yang kuharapkan ada di sisiku tidak ada di sana? Apakah tadi malam itu hanya mimpi? Hanya salah satu dari fantasi liarku saja?
Tidak, tidak. Tadi malam benar-benar nyata. Aku memang sedikit mabuk dan tak sadarkan diri, tapi setelah itu kesadaranku kembali. Aku dan Khansa memang bersama. Lalu kemana dia sekarang?
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu kembali mengusikku, membuyarkan semua lamunan. "Tunggu di lobby Winda! Sepuluh menit lagi Aku turun!"
"Baik Pak."
Pikiranku masih berputar-putar pada Khansa. Bertanya-tanya kemana wanita itu pergi? Kenapa pergi? Apa Khansa menyesal telah tidur denganku? Hingga dia memutuskan untuk pergi? Memikirkan hal itu membuat dadaku nyeri.
Aku tidak mau berpikir terlalu jauh. Aku sudah menjadikan Khansa milikku. Mau tidak mau wanita itu harus menerimaku. Pemikiran yang egois memang, tapi Aku tidak bisa membiarkannya pergi dari hidupku lagi.
Tidak mau berlarut-larut, Aku memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap kunjungan cabang. Kalau Khansa pergi dariku hari ini, Aku bisa menangkapnya lagi. Aku bisa menemukannya di kantor maupun di rumah kontrakannya. Tidak akan sulit bagiku untuk menangkapnya kembali.
Sepuluh menit kemudian Aku sudah turun ke lobby. Kulihat Winda sudah menungguku di sana.
"Mobil jemputan dari cabang sudah siap Pak."
"Oke."
Aku berjalan keluar dari hotel disambut oleh mobil jemputan yang sudah menunggu. Begitu Aku sudah duduk dengan nyaman, mobil segera meluncur ke kantor cabang.
"Ini data perform cabang Pak." Winda menyerahkan tablet.
"Ya, ya." Aku menerima tablet itu asal-asalan. Melihat angka-angka di sana, tapi pikiranku kemana-mana. Sembilan puluh persen pikiranku tertuju pada Khansa, sementara sepuluh persen lainnya memikirkan mimpi anehku tadi malam. Perasaanku menjadi tidak enak. Mengapa Aku bisa bermimpi seperti itu? Seperti sebuah firasat akan terjadi sesuatu.
Hah, mimpi hanyalah bunga tidur. Aku tidak perlu memikirkan hal itu secara mendalam. Fokusku sekarang hanya Khansa. Aku akan memperjelas hubungan Kami ke depannya. Khansa sudah menjadi milikku, Aku tidak akan melepasnya lagi.
***
Aku sedang berada di ruang meeting yang dihadiri oleh semua karyawan cabang. Aku menatap satu persatu wajah yang ada di sana. Perasaan kecewa dan marah kembali datang ketika Aku tidak melihat dia ada di sana. Khansa benar-benar menghindar dariku. Dia bahkan memilih untuk tidak bekerja. Semenyesal itukah dia tidur denganku?!
"Winda, atur pertemuanku dengan para tim lending dan funding. Pastikan operasional berjalan seperti biasa. Jangan biarkan nasabah terabaikan karena kedatanganku. Tetap prioritaskan layanan nasabah."
"Baik Pak. Akan segera sampaikan pada pimpinan cabang." Winda berjalan ke arah Arif, dan menyampaikan pesan dariku. Arif tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dia mulai menyuruh tim operasional keluar dari ruangan itu, sehingga yang tersisa kini hanya tim funding dan lending. Aku melayangkan pandang. Hanya tersisa sekitar dua puluhan orang. Terdiri dari tim Khansa dan tim si br*ngsek.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Aku tidak ingin marah-marah hari ini. Performa cabang Surabaya paling baik sewilayah kerja Jatim. Tidak ada alasan untuk mempressure lagi. Namun kepergian dan ketidakhadiran Khansa hari ini benar-benar merubah moodku. Aku ingin melampiaskan kemarahan ini.
"Apa semua tim sudah lengkap?" tanyaku. Aku melayangkan pandang. Kebanyakan dari mereka tampak menunduk. Hanya si br*ngsek yang tidak mau kusebut namanya dan Arif yang berani menatapku.
"Ya Pak. Semua sudah lengkap." jawab si br*ngsek. Sepertinya dia ingin menyembunyikan kenyataan bahwa Khansa tengah tidak hadir dalam pertemuan ini.
Aku menatap si br*ngsek. Ternyata dia lebih tampan dari di foto. Performa kinerjanya juga di atas rata-rata. Bila tidak ada sangkut pautnya dengan Khansa, mungkin Aku akan menyukai sosoknya. Dia sosok yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Sosok yang dibutuhkan perusahaan.
Namun begitu mengingat dia adalah pacar Khansa membuatku emosi jiwa! Pertanyaan demi pertanyaan selalu muncul di benakku. Sampai sejauh mana hubungan mereka? Apa mereka sudah pegangan tangan? Berpelukan?! Berciuman?!
Memikirkan hal itu membuat otakku kembali mendidih oleh amarah. Tapi satu hal yang pasti. Setidaknya Khansa bisa menjaga diri. Khansa masih suci. Aku yang mengambil hal itu darinya. Aku pemenangnya!! Tanpa sadar senyum licik dan sinis tersungging di bibirku.
Baiklah, Khansa memang pacarmu. Tapi dia akan segera menjadi istriku. Aku adalah pemilik Khansa yang sebenarnya!
Memikirkan hal itu membuatku senang. Tapi kesenangan itu tidak bertahan lama mengingat sikap Khansa pagi ini. Hatiku kembali diliputi oleh amarah.
"Arif,"
"Saya Pak?"
"Bisa Kamu jelaskan data-data ini?!" Aku melempar data-data itu di meja. Arif segera mengambil data itu dan membacanya.
"Berapa potensi dana di Surabaya?! Mengapa total DPK masih kurang dari 1T ?! Apa kalian semua di sini tidak bekerja?! Makan gaji buta?!"
"Sa-saya bisa menjelaskannya Pak..."
"Aku tidak mau mendengar penjelasan Arif!! Yang kumau itu action!! Data DPK cabang kalian hanya 4% dari total potensi dana yang bisa diserap!! Kemana yang 96%?! Seharusnya cabang kalian mampu menyerap minimal 15% dari total keseluruhan, tapi mengapa angkanya jauh dari target?!"
"Begini Pak, di Surabaya terdapat ratusan bank, yang terdiri dari bank pemerintah dan swasta yang terbagi lagi menjadi bank konvesional maupun syariah. Selain itu masih ada bank perkreditan dan juga koperasi. Serapan dana 4% menurut Saya sudah terbilang besar mengingat banyaknya persaingan..."
"Jadi menurutmu cabangmu sudah achieve?! Sudah layak disejajarkan dengan bank-bank pemerintah? Apa Kamu tidak melihat total DPK mereka?! Arif, bank Kita memang bank swasta, tapi total asset Kita tidak kalah dengan bank pemerintah! Seharusnya serapan dana yang masuk juga tidak berbeda jauh! Aku tidak butuh pemimpin yang mentalnya seperti Kamu! Tidak berambisi dan mudah puas!!" Aku menghela napas sejenak, sebelum melanjutkan, "Aku tidak mau tahu, di kwartal ke 4 Aku harus melihat cabang ini bertumbuh. Minimal 7% dari total dana secara keseluruhan. Bila tidak, siap-siap saja letakkan jabatanmu!!"
Suasana ruang meeting menjadi hening. Mungkin Aku sudah keterlaluan, tapi Aku tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba suasana hening itu dipecahkan oleh bunyi ponsel yang berdering terus menerus.
Aku mengalihkan pandanganku pada Winda, karena Aku tahu bunyi itu berasal dari ponselku. Aku melihat Winda berjalan ke arahku sembari membawa ponsel. Bila sedang meeting, Aku memiliki kebiasaan menitipkan ponsel itu padanya. Tujuannya agar tidak ada gangguan dari luar.
"Maaf Bapak, mengganggu waktunya. Ada telepon dari *Rumah*, apa perlu Saya mengangkatnya?"
"Tidak perlu Winda. Aku akan mengangkatnya sendiri."
***
Happy Reading 😶