
Mendengar penjelasan dokter tidak lantas membuatku lega. Dia sedang datang bulan katanya, tapi mengapa sampai harus pingsan seperti ini? Apa semua wanita pasti akan merasakan hal seperti ini? Apa Khansa tiap bulan mengalaminya? Hah, gadis ini sungguh membuatku khawatir.
Dokter Nina meninggalkan Kami berdua. Dia menyuruhku untuk mengelap keringat dingin dan mengompres perut Khansa dengan kantong yang berisi air hangat. Pikiranku berputar-putar.
Wajahnya ketika pingsan terlihat semakin lemah. Banyak keringat dingin bermunculan di keningnya. Bibirnya terlihat pucat dan kering.
Khansa, kenapa Kamu selalu berhasil membuatku khawatir? Kenapa Kamu bisa mempengaruhiku seperti ini? Apa benar ini hanya perasaan kasihan? Perasaan ingin menjadikanmu sahabat? Ya, ini pasti perasaan itu.
Sembari mengompres perut Khansa, Aku mulai bicara sendiri. Mungkin Aku sudah benar-benar gila, hanya saja perkataan Khansa terakhir kali membuatku sakit hati dan kepikiran.
Aku tidak tahu sudah berapa lama Aku di sana. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku suka berduaan dengan Khansa seperti ini. Aku ingin berada di sampingnya ketika dia terbangun...
"Lex, Alex..." Suara Dino membuyarkan lamunanku. Tumben anak ini memanggil namaku dengan benar.
"Apa Din?"
"Pak Riswan nyariin Kamu. Sudah giliran Kamu lari nih." Meskipun berat, akhirnya Aku mengikuti Dino ke lapangan.
"Lex..."
"Apa?"
"Kenapa Kamu baik banget sama dia? Siapa namanya?"
"Khansa. Sudah hampir setahun Kita sekelas, kenapa Kamu nggak bisa hafal namanya sih?!"
"Dia nggak menonjol. Susah sekali untuk mengingatnya." Bahkan Dino pun tidak bisa mengingat Khansa dengan benar. Lalu mengapa gadis itu justru melekat di hatiku?
"Nguk, ini hanya saran ya. Jangan marah."
"Apa?"
"Kamu kan sudah pacar. Sebaiknya jangan terlalu memberi perhatian lebih pada cewek lain..."
"Dia temanku. Bukan seperti yang Kamu pikirkan Din."
"Aku nggak tahu alasanmu melakukan hal ini. Tapi Kamu benar-benar aneh Lex, sadar nggak sih?"
"Aku nggak aneh. Dari dulu Aku seperti ini!"
"Aku nggak pernah ngelihat Kamu memberi perhatian lebih terhadap cewek kecuali pada Diana. Tapi hari ini Kamu aneh. Jangan bilang Kamu suka sama dia?! Tapi itu nggak mungkin kan?"
"Omonganmu nggak masuk akal." Aku meninggalkan Dino dan mulai bergabung dengan yang lain.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan perkataan Dino. Aku suka Khansa?! Hahaha, itu tidak mungkin bukan? Bagian mana dari gadis itu yang menarik? Ini bukan perasaan suka, melainkan perasaan kasihan. Ya, pasti hanya perasaan itu.
***
Setelah selesai lomba lari, Aku kembali ke UKS untuk melihat kondisi Khansa. Betapa terkejutnya Aku mengetahui Khansa sudah pulang lebih dulu.
Aku ingin segera menyusulnya, namun masih ada dua mapel lagi yang harus kuikuti. Aku menahan diri untuk tidak segera menyusul Khansa dan mengikuti dua mapel itu sampai selesai.
"Ay, hari ini bawa motor lagi?" Diana datang ketika Aku sedang membereskan buku-bukuku.
"Ah ya."
"Kamu mau kemana Ay? Kok buru-buru?"
"Iya, hati-hati ya Ay." Aku menoleh pada Diana dan melambaikan tangan. Tumben hari ini gadis itu tidak rewel? Ada sedikit perasaan bersalah terbersit di hatiku karena sudah berbohong pada Diana. Bagaimanapun juga, dia adalah pacarku. Salahkah Aku berbohong seperti ini? Bukannya Aku berselingkuh, Aku hanya akan menemui kucing, maksudku sahabatku. Jadi pasti tidak apa-apa kan?
Aku mengambil motor dan mulai memacunya menuju rumah Khansa. Di jalan Aku berpapasan dengan mobil sport berwarna merah milik Aaron. Mau kemana playboy itu? Apa dia sudah menemukan gadis taklukan lainnya? Ah masa bodohlah, bukan urusanku. Sekarang Aku hanya perlu menemui Khansa. Aku khawatir dengan kondisinya. Tentu saja ini hanya kekhawatiran seorang sahabat.
***
Aku berada tepat di depan rumah Khansa. Aku menatap bangunan itu berlama-lama. Perasaan gugup tiba-tiba menyerangku. Seolah-olah kegugupan ketika mengajak pacar kencan untuk pertama kalinya.
Rumah itu terlihat sepi tak berpenghuni. Tidak ada aktivitas penghuni di dalamnya. Perasaan khawatir kembali menyerangku. Khansa baik-baik saja bukan?
Tanpa menunggu lagi, Aku langsung mengetuk pintu rumahnya.
Tok... Tok... Tok...
Tidak terdengar jawaban. Aku kembali melakukannya beberapa kali sebelum akhirnya pintu itu terbuka dari dalam. Perasaan lega menghantamku begitu menatap wajahnya yang sudah tidak pucat lagi.
"A-alex?"
"Khansa... Ba-bagaimana keadaanmu?" Ah, kenapa Aku jadi ikut terbata-bata? Dimana kemampuan bicaraku yang biasanya? Kami seperti dua orang bodoh yang saling salah tingkah.
Rasanya sangat canggung. Mengingat pembicaraan terakhir Kami yang berakhir dengan tidak mengenakkan. Khansa sepertinya sudah baik-baik saja. Aku lebih baik pulang saja.
Aku sudah bersiap-siap untuk pulang. Namun sejurus kemudian Khansa menahanku. Dia memintaku untuk tinggal. Aku tidak menolaknya, karena pada dasarnya Aku memang ingin melihatnya.
Aku masuk ke dalam rumah Khansa dan menunggunya dengan sabar. Beberapa menit kemudian dia datang dengan membawa secangkir teh di tangannya.
Kami duduk dengan canggung. Aku berusaha untuk mencairkan suasana dengan menanyakan perihal sakitnya. Pun begitu, suasana masih canggung. Aku bingung. Tidak ada topik yang bisa kujadikan bahan pembicaraan. Kepiawaianku berbicara seolah-olah hilang. Aku benar-benar bingung menghadapi situasi ini.
Pandanganku tertuju pada secangkir teh yang berada di atas meja. Aku akan meminum teh itu, kemudian pulang.
"Aku... Aku minum tehnya ya..." Tanpa banyak berpikir, Aku mengambil teh itu dan menyeruputnya.
"Awas masih panas!" teriak Khansa. Tapi, terlambat. Rasa panas itu sudah membakar lidah dan area mulutku.
"Buuuhhh!!" Dengan spontan Aku menyemburkan teh itu dan mengipasi mulutku yang kepanasan. Khansa juga tampak sibuk mengelap cairan teh yang berhamburan di baju dan celanaku. Kemudian tangan Khansa meraih wajahku dan mengelap bekas teh di mulutku. Seketika rasa panas itu tidak kurasakan lagi.
Jarak wajah Kami hanya kurang dari 20 cm. Dilihat dari jarak sedekat ini, Khansa terlihat lebih manis. Matanya bening. Alisnya rapi. Hidungnya kecil tapi mungil dan bibirnya... bibirnya tipis namun penuh. Tampak natural, tanpa adanya polesan apapun. Aku ingin merasakan bibir itu... Bibir itu terlihat manis dan lembut...
Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Khansa.
DEG... DEG... DEG...
Seketika jantungku berdebar sangat cepat. Aku tersihir. Mataku tak bisa berpaling. Aku bisa melihat diriku di dalam bola matanya. Diriku seolah-olah tersedot dengan mata itu. Jantungku berdebar semakin kencang. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan debaran ini terasa semakin nyata.
Tanpa kusadari, tubuhku bergerak ke arahnya. Aku tidak bisa menahan diriku. Aku bergerak perlahan, memberi kesempatan padanya untuk menolakku.
Khansa diam, seolah-olah mengiyakan keinginanku. Aku semakin mendekatinya. Sepuluh senti, tujuh senti, lima senti... Khansa mulai menutup mata, membuatku semakin berani mendekatinya. Tatapanku mengarah pada bibirnya, tidak sabar ingin merasakan kelembutannya. Aku mulai menutup mata, bersiap untuk penyatuan bibir Kami. Satu senti lagi...
"Mbak, Adek pulang!!" Dan suara itu merusak semuanya.
***
Happy Reading 🤗
NB : Mohon maaf ya kalau updatenya jadi tidak tentu begini. Semoga masih setia menanti. Terima kasih buat yang masih bersabar menunggu AlKhans update 🤧😙🤗