
Di sepanjang jalan Aku memaki-maki diriku sendiri. Merutuki kebodohanku. Sikap macam apa tadi?! Aku akan mencium si kucing? Kenapa?! Apa dia semenarik itu?!
Tidak, tidak! Dia tidak menarik! Kucing hanyalah kucing. Mahluk menyedihkan yang patut dikasihani. Dia tidak semenarik itu!!
Lalu... Mengapa hatiku berdebar-debar? Aku bahkan belum pernah merasakan perasaan ini ketika bersama Diana. Debaran apa ini?!
Ah, ini pasti debaran karena Aku akan mencium orang baru. Bukan perasaan spesial. Jangan terlalu dipikirkan. Tadi Aku hanya terbawa perasaan. Suasana rumahnya pun mendukung. Hanya ada Kami berdua. Dan ada insiden kecil itu. Semua laki-laki pasti akan memiliki insting yang sama bila berada di posisiku. Mencium siapa pun wanita di depannya. Jadi, tidak perlu kupikirkan. Anggap saja kejadian ini tidak pernah ada. Semoga Khansa juga berpikiran hal yang sama denganku.
***
Mudah memang mengatakannya, tapi pada kenyataannya Aku tidak berhenti memikirkannya. Bayangan itu selalu menari-nari. Mata bening itu... Bibir polos itu...
"Aarrrghhhh!!"
"Apa-apaan Al!!" Mama tiba-tiba membuka pintu kamarku.
"Bukan apa-apa Ma."
"Kenapa teriak-teriak? Ngaget-ngagetin saja. Turun ke bawah. Makan malam sudah siap."
"Oke."
Aku dengan malas turun ke bawah. Hanya ada Mama, tidak ada yang lain.
"Mana yang lain? Kenapa hanya Kita berdua?" Aku menarik kursi dan duduk di seberang BuPres.
"Kakakmu belum pulang. Nggak tahu lah kemana. Pulang kampung bukannya banyak-banyakin sama Mama, malah ngeluyur."
"Kayak Mama nggak kenal dia aja. Paling udah dapat pacar baru. Papa mana?"
"Papamu sibuk sama pencalonan. Kalian semua sibuk. Nggak ada yang peduli sama Mama. Gini ini kalau rumah isinya laki semua. Kapan Kamu dan kakakmu bisa kasih Mama menantu sih Al? Mama nggak sabar pengen punya anak perempuan..."
"Bikin lagi aja Ma."
"Hush, kalau ngomong sama orang tua itu jangan sembarangan."
"Lah, Mama aneh. Anak masih umur 16 tahun disuruh bawa menantu. Gimana sih Ma?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti dengan pemikiran Mamaku.
"Al..."
"Ya?" Aku menatap Mama dengan curiga. Nada suaranya berubah. Seperti ada sesuatu yang diinginkannya.
"Lulus SMA, Kamu ikat Diana deh Al..."
"Hah?"
"Minimal kalian tunangan dulu. Setidaknya Diana nggak kemana-mana."
"Ma, sadar nggak sih? Umurku masih 16 tahun, sementara Diana 15 . Kami masih dibilang anak-anak. Masih bocah. KTP saja belum punya kok disuruh tunangan, ckckckck..."
"Kalian lulus SMA kan sudah 17 tahun Al. Bisa punya KTP..."
"Kalo omongan ini dilanjutin, Aku nggak jadi makan nih."
"Iya, iya. Mama diam nih. Lanjutin makannya."
Aku makan dalam diam. Aku benar-benar terganggu dengan perkataan Mama. Sebegitu inginkah Mama ingin menjadikan Diana sebagai menantunya? Mengapa keinginan itu sama sekali tidak ada di hatiku? Apa karena Aku masih remaja? Atau karena Diana bukan orang yang tepat untukku?
Entahlah, Aku tidak tahu jawabannya. Aku masih remaja, bukan waktuku untuk memikirkan hal seperti itu.
Aku melihat ponsel. Tumben-tumbenan tidak ada telepon atau SMS dari Diana? Beberapa hari ini ponselku lumayan sepi. Sebenarnya ada bagusnya juga sih, Aku jadi terbebas melakukan apa saja yang kumau. Aku benar-benar tidak tahu hubunganku dan Diana mau Aku bawa kemana. Aku hanya menjalaninya saja.
***
Hari ini adalah hari ujian. Aku melihat kursi kosong di belakangku. Kemana dia? Kenapa belum datang juga?
Aku melihat jam tangan. Kurang dari lima menit lagi ujian akan dimulai, namun Aku tidak melihat keberadaan Khansa. Sebenarnya kemana gadis itu?
Tak berapa lama kemudian, guru pengawas datang dengan membawa soal.
"Sudah siap semua?"
"Ada yang belum datang Pak." Aku mengacungkan tangan.
"Siapa?"
"Khansa Aulia Pak."
Tidak ada yang menjawab. Bahkan Aku pun tidak tahu keberadaannya.
"Ujian itu tentang ketepatan waktu. Bila dia telat, dia akan menerima konsekuensinya. Ujian Saya mulai."
Guru pengawas membagikan kertas ujian. Ingin Aku membantah perkataannya, namun Aku tidak memiliki alasan kuat melakukannya.
Sampai ujian satu mapel selesai, Khansa juga belum datang. Pikiranku mulai kemana-mana. Bertanya-tanya, dimana anak itu berada? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Memikirkan kemungkinan itu membuatku berdiri dari posisi dudukku.
"Ya Alex, ada apa?"
"Saya sudah selesai Pak." Aku mengumpulkan lembar jawaban ujian dan melangkah keluar. Aku menelusuri koridor demi koridor sekolah. Mencari-cari keberadaannya. Namun tidak kunjung kutemukan.
Aku tidak bisa menemukan Khansa di sekolah, itu artinya Aku harus mencarinya ke rumahnya. Aku mengambil motor dan memacunya menuju rumah Khansa.
Sesampainya dirumah Khansa, Aku tidak menemukan siapapun di sana. Aku sudah berusaha mencari tahu melalui tetangganya, namun mereka mengatakan bahwa Khansa bersekolah. Sebenarnya anak ini sedang kemana sih?!
Tidak berhasil menemukan Khansa, membuatku kembali memacu kendaraan ke sekolah. Masih ada satu mapel lagi yang harus kuikuti. Setelah ujian selesai, Aku akan kembali mencarinya lagi.
Tepat pukul setengah sebelas, ujian pun selesai. Aku kembali mengambil motorku, bersiap-siap mencari Khansa lagi. Entah dimana pun harus kucari.
Aku tengah memacu kendaraanku ketika Aku mengenali sosok yang baru saja keluar dari perpustakaan itu. Sosok itu tengah menuntun sepedanya, bersiap-siap untuk menaikinya.
Campuran rasa geram dan lega melandaku. Aku segera memarkir motorku di bahu jalan dan berlari ke arah Khansa. Sebelum gadis itu benar-benar menaiki sepedanya, Aku memegang tangannya. Menariknya, membuatnya berbalik dan menghadapku.
"Khansa, kemana saja Kamu?!! Kenapa tidak ikut ujian?!"
***
Aku mendengar penjelasan Khansa dengan perasaan geram. Sekolah br*ngs*k!! Oknum br*ngs*k!! Berani-beraninya menahan kartu ujian seorang siswa hanya karena belum mampu bayar SPP?! Kurang aja sekali!
Aku membawa Khansa ke ruang TU dan membuatnya mendapatkan kartu ujian. Setelah itu, Aku mengantarnya pulang.
Selepas mengantar Khansa pulang, Aku kembali ke ruang TU, menemui oknum yang menahan kartu ujian Khansa.
"Berapa tagihannya?" tanyaku.
"A-atas nama Khansa ya?"
"Ya." jawabku. Wanita bernama Nurul itu segera memeriksa data Khansa. Aku tahu wanita ini takut padaku karena basic keluargaku. Papaku calon terkuat pemimpin di kotaku, meskipun hal itu belum dipastikan juga, namun dari dulu keluargaku sudah di sanjung-sanjung oleh banyak orang. Kali ini Aku menggunakan latar belakang keluargaku untuk menekan orang lain.
"Untuk tunggakan SPPnya satu juta dua ratus ribu..."
"Semuanya."
"Hah?"
"Aku bilang semuanya. SPP, uang gedung, uang buku, uang praktikum, dan lain-lain. Semuanya sampai dia lulus."
"Serius Nak?"
"Kapan Saya bercanda? Tolong hitungkan semua."
"Baik, ditunggu dulu ya Nak..." Hah, manis sekali mulut wanita satu ini. Kenapa dia tidak semanis ini ketika berbicara dengan Khansa? Apa karena keluarga Khansa tidak memiliki power apa-apa? Sehingga pantas diperlakukan seenaknya? Sungguh miris sekali, melihat kelakuan orang yang hanya hormat pada orang yang memiliki jabatan.
"Silakan Nak Alex..." Aku kembali mendekat dan menerima tagihan itu. Aku memperhatikan tagihan itu baik-baik. Keningku berkerut.
"Serius jumlah tagihannya hanya segini?"
"Iya Nak."
"Ini sampai dia lulus? Uang tebus ijazah? Biaya lain-lain? Apa sudah dimasukkan semua?"
"Sudah semua Nak. Itu sudah total keseluruhan."
Aku kembali menatap tagihan yang hanya berjumlah Rp 17.500.000,- itu. Bahkan jumlah ini lebih kecil dari uang jajan bulananku. Serius hanya senilai ini? Hanya sejumlah ini membuat Khansaku tidak ikut ujian?!
Aku bertanya berulang kali pada petugas TU, namun jawabannya tetap sama. Pada akhirnya Aku melunasi semua tagihan itu secara tunai.
"Kalau dia tanya siapa yang membayar uang sekolahnya, katakan yang membayarnya adalah komite orang tua asuh." Aku berbisik pada Bu Nurul sembari menyelipkan lima lembar uang seratus ribuan.
"Iya Nak, akan Ibu sampaikan demikian." Bu Nurul tampak sumringah. Semua manusia suka uang. Tidak terkecuali manusia di depanku ini.
***
Happy Reading 😊