
Sepeninggalnya Alex, Aku hanya berdua saja dengan Winda. Kondisi yang canggung benar-benar membuatku sangat tidak enak hati.
"Apa Anda sudah makan? Kalau belum, Saya akan memesankan makanan untuk Anda..."
"Saya sudah makan Bu. Anda tidak perlu terlalu formal pada Saya. Cukup panggil nama Saya saja dan berkomunikasi seperti biasanya."
Hah, jadi canggung lagi. Kami berdua sama-sama berdiri. Aku tidak tahu harus melakukan apa-apa.
"Ibu tidak perlu sungkan pada Saya. Silakan beristirahat bila badan Ibu lelah."
Meskipun Winda berkata seperti itu, tetap saja Aku merasa sungkan. Sebenarnya apa sih tujuan Alex membawa wanita ini kemari? Apa Alex takut Aku kabur?
Ya sebenarnya Aku memang berniat untuk kabur. Tapi ternyata pria itu sudah membaca pikiranku. Buktinya dia sekarang menaruh penjaganya di sini.
Aku memutuskan untuk duduk di ranjang. Terlalu lama berdiri membuat kakiku pegal.
"Sudah lama jadi sekretaris?"
"Sudah 5 tahun Bu. Tapi sebagai sekretaris Pak Yohan baru 6 bulan."
"Kalau tidak berkenan untuk menjawab, tidak usah di jawab ya. Memang Alex kerja dimana?"
"Sama di perusahaan Ibu sebelumnya."
"Hah?"
"Beliau GH di bank tempat Ibu bekerja sebelumnya."
"Hah?!!"
Aku menyerap informasi itu dengan terkejut. Kemudian Aku kembali mengingat-ingat ucapan Andre dan Sizil. Kata Andre ada pergantian GH, dan Aku disuruh untuk mengecek di struktur organisasi. Namun karena pikiranku sibuk dengan Alex, Aku tidak memedulikan hal itu.
Sizil juga berkata bahwa GH yng baru masih muda tapi galak. Itu artinya pagi itu Alex datang ke kantorku. Ketika Aku menangis karena penyesalan. Alex bisa datang ke kantorku tapi tidak berniat mencariku. Benar-benar terlihat bahwa pria itu memang tidak memiliki perasaan apa-apa padaku.
Kemudian Aku teringat dengan ucapan Sizil. Kata Sizil ada wanita bernama Winda yang mencariku. Apa wanita yang di maksud adalah Winda yang berdiri di depanku ini? Aku sangat penasaran.
"Ehem... Kata temanku Kamu pernah telepon ke cabang untuk menanyakanku? Kalau boleh tahu, ada masalah apa?"
"Saya tidak tahu ada masalah apa Bu. Saya hanya menjalankan perintah dari Pak Yohan. Beliau menyuruh Saya untuk mencari Anda."
Desiran angin sejuk berhembus di hatiku. Entah mengapa Aku senang mendengar informasi seperti ini.
"Sejak kapan dia menyuruhmu untuk mencariku?"
"Sejak 2 bulan yang lalu Bu. Karena selama beberapa bulan sebelumnya Pak Yohan masih berada di luar negeri."
DEG
Hatiku kembali mencelos. Dua bulan yang lalu, bertepatan dengan kabar pernikahan Princess D berhembus. Itu artinya Alex menikah dengan Diana terlebih dahulu, setelah itu baru mencariku? Untuk apa?!
"Oh begitu."
Aku menjadi lemas. Aku kembali tidak bersemangat. Awalnya Aku sudah merasa senang karena Alex ada usaha untuk mencariku. Namun sedetik kemudian Aku kembali di hempaskan oleh kenyataan pahit.
Ya sudahlah, untuk apa bersedih? Toh tidak ada gunanya bukan? Alex dan Diana sudah menikah. Mereka juga sedang menanti kehadiran buah hati. Sudah tidak bisa diharapkan lagi.
Yang perlu kupikirkan saat ini adalah mencegah Alex untuk menikahiku karena Aku tidak ingin menyakiti Diana. Kami sama-sama perempuan. Tak terbayangkan rasanya bila suami yang Kita kasihi ternyata memiliki wanita lain. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Diana.
"Aku... Aku istirahat dulu ya..."
Aku menutup mataku dan mencoba untuk tertidur. Aku tidak ingin memikirkan Alex lagi. Aku hanya ingin hidup dengan bahagia bersama anakku saja.
***
Entah sudah berapa lama Aku tertidur. Aku terbangun ketika kurasakan guncangan lembut di bahuku.
"Khan... Khansa... Bangun sayang..." Aku membuka mata perlahan. Aku menatap Alex yang berjongkok di depanku.
"Aahhh, ternyata Aku masih bermimpi..." Aku menatap Alex dan memegang wajahnya. Sentuhan fisik yang sangat terasa membuatku benar-benar terbangun. Aku sedang tidak bermimpi!! Alex benar-benar ada di depanku.
"J-jam berapa?"
"Sudah hampir Magrib. Bangun gih." Alex membelai kepalaku. Membuatku merasa sangat di sayang. Namun sejurus kemudian Aku tersadar dan langsung menepis tangannya.
"I-iya Aku bangun." Aku langsung duduk di ranjang dan kejutan kembali menghampiriku. Aku melihat kamarku yang biasanya kosong melompong tampak dipenuhi oleh beberapa orang. Aku menatap satu persatu dan... Aku mengenali wajah mereka semua!! Ya, mereka adalah keluargaku!!
"A-ayah, I-ibu?" Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Ayah, Ibu maupun Fian tampak sedih. Mereka terlihat kecewa padaku.
"Akhhp!" Aku langsung menutupi perutku dengan selimut. Aku tidak ingin mereka melihat perut buncitku. Tapi semua itu sia-sia. Mereka sudah melihat semuanya.
Aku gemetar menunggu reaksi mereka. Aku sudah menjadi anak yang mengecewakan. Airmata mengalir di pipiku. Aku sedih... Benar-benar sedih. Aku telah menyakiti hati orangtuaku. Membuat lubang besar dihati mereka. Aku merasa benar-benar tidak layak menjadi seorang anak.
"Hiks... Hiks... " Aku menutup wajahku dan menangis. Terlalu malu untuk melihat mereka.
"Nduk... Kok bisa kayak gini?" Aku mendengar suara Ibu, dan merasakan peluk dan tangisannya. Kami menangis bersama.
"Kenapa anak Ibu jadi seperti ini? Kenapa? Huuu..." Aku membalas pelukan Ibu.
"Maaf... Maafin Khansa Bu... Maaf... Huuu... Maaf sudah mengecewakan kalian... Maaf... Huuu... Hiks..."
Entahlah, Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ini benar-benar kejutan yang diluar dugaanku. Aku tahu suatu saat nanti kehamilanku akan diketahui, tapi Aku tidak berpikir skenarionya akan seperti ini.
Hampir setengah jam Kami bertangis-tangisan. Kemudian, setelah tangis Kami reda, Ayah mendudukanku. Aku dan Ibu duduk di ranjang. Sementara para lelaki berdiri, menghadapku seolah-olah ingin menyidangku.
"Khansa..." Bergetar tubuhku. Ayah jarang memanggilku dengan nama. Bila beliau melakukannya, itu tandanya beliau benar-benar marah dan kecewa padaku.
"Ayah sudah mendengar semua ceritanya dari Alex. Ayah kecewa padamu. Ayah tidak menyangka putri Ayah akan menjadi seperti ini..."
Aku gemetar mendengar setiap tutur kata yang diucapkan Ayah. Beliau selalu bangga padaku. Baru kali ini beliau mengatakan kekecewaannya. Hatiku benar-benar sedih. Aku kembali menangis.
"Biarkan dia menangis. Jangan hibur dia." Ayah berkata dengan tegas. Membuatku menelan ludah dengan susah payah.
"Kesalahan ini ada pada kalian berdua. Tapi kesalahan paling banyak ada pada dirimu Khansa! Kamu hamil, keluar dari pekerjaan, pergi ke kota ini tanpa sepengetahuan Kami! Kamu membohongi Kami! Darimana Kamu belajar berbohong?! Ayah tidak pernah mengajarimu bersikap seperti itu!"
"Huuuuu... Huuuu... Hikk..." Aku hanya bisa menangis sesegukan.
"Alex sudah mencarimu. Dia sudah memiliki niatan baik. Tapi mengapa Kamu menolak untuk menikah dengannya? Kenapa? Apa Kamu merasa mampu membesarkan anakmu sendiri? Apa Kamu tidak peduli dengan hinaan yang akan didapat pada anak itu?! Kenapa Kamu menjadi egois? Apa Kamu tidak berpikir nantinya anakmu juga akan membutuhkan sosok seorang ayah?! Apa yang Kamu pikirkan Khansa?!"
"A-ayah... Hiks..." Aku rasanya ingin membunuh Alex. Dia sepertinya sudah berhasil mencuci otak ayahku hingga berpihak padanya. Membuatku menjadi penjahatnya dan orang paling bersalah di sini. Padahal Tuhan tahu, selama sebulan penuh Aku menunggu kabar Alex. Tapi pria itu baru mencariku setelah menikah dengan Diana. Apa Aku salah bila menolak menikah dengannya?
"Alex sudah menceritakan semua kondisinya. Dan Ayah memakluminya. Pokoknya Ayah tidak mau tahu, Kamu harus menikah dengannya! Sekarang Alex hanya bisa menikahimu secara sirih, tapi itu tidak masalah! Asalkan anak di dalam kandunganmu itu memiliki sosok seorang Ayah. Kamu dengar Ayah bicara Khansa?!"
***
Happy Reading 😎
Hemmm... Alex licik juga ternyata 👏👏👏