
Aku keluar dari kamar Dino dan pergi ke ruang sebelah, dimana ada ruangan yang digunakan sebagai studio. Aku mengambil gitar dan mulai memainkannya.
Pikiranku berkelana pada si kucing. Bertanya-tanya, sedang apa dia? Apa saja yang dilakukannya sepulang sekolah? Hal-hal seperti itu.
Dino masuk ke ruangan itu dan langsung memukul punggungku.
"Eh Nguk, Kamu darimana? Kita nungguin dari tadi."
"Nganterin kucing?"
"Hah? Nganterin Diana maksudnya?"
"Bukan. Kucing."
"Apaan sih. Nggak jelas bocah ini." Dino menoyor kepalaku.
"Eh Din, serius mau tanya..."
"Tanya apa?"
"Nggak jadi."
"Lah bocah ini. Tanya apa sih? Bikin penasaran aja."
"Nggak jadi. Kamu pasti nggak bisa jawab."
"Apaan sih?"
Aku termenung. Sebenarnya Aku mau menanyakan hal sepele pada Dino. Boleh tidak sih bersimpati terhadap gadis lain ketika posisi Kita masih memiliki pacar?
Tentu saja Dino tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu, karena pemuda itu tidak memiliki pacar.
***
"Din, ikut Aku yok."
"Kemana?"
"Cari HP."
"Lah, mau ganti lagi? Bukannya HP mu baru ganti ya?"
"Bukan buatku."
"Buat siapa?"
"Jangan banyak bac*t, ikut aja sih."
"Bila Raja sudah bertitah, maka hamba sahaya hanya bisa mengikutinya."
Aku dan Dino berboncengan. Kami pergi ke daerah kampus dimana terdapat konter ponsel bertebaran.
Aku pergi ke beberapa konter, mencari tipe ponsel yang sesuai. Dino mulai lelah mengikutiku.
"Sebenarnya Kamu nyari HP apa sih Nguk? Kita sudah datang ke 4 konter nih, tapi kenapa belum ada yang cocok? Coba katakan tipe HP yang Kamu cari?"
"Nokia 2300. Kondisi masih baru."
"Lah mana ada? Kan sudah tidak produksi lagi? Kenapa harus cari HP itu sih? Kan banyak tipe baru..."
"Sudahlah. Pokoknya Aku cari HP itu. Sebelum menemukannya, Aku nggak akan pulang."
Aku kembali menelusuri konter demi konter untuk mencari tipe ponsel itu. Aku tahu ponsel itu sudah tidak produksi lagi, digantikan dengan tipe lain yang lebih canggih. Tapi Aku ingin membeli ponsel itu.
Tadi siang Aku mendata nomor ponsel teman-teman sekelas. Aku baru tahu kalau Khansa tidak memiliki ponsel. Bagaimana Kami akan berkomunikasi bila dia tidak memiliki ponsel? Aku berinisiatif untuk memberinya ponsel.
Aku tidak ingin Khansa curiga. Aku ingin membuat seolah-olah itu ponsel bekas yang sudah tidak kupakai, tapi di sisi lain Aku ingin kondisi ponsel itu masih baru. Permintaan yang merepotkan memang, tapi Aku harus mendapatkan apa yang kumau.
"Pokoknya carikan Aku HP itu. Koneksimu kan banyak C*k."
[Sebenarnya percakapan mereka ingin Aku selingin dengan bahasa Jawa kasar, tapi karena takut banyak yang tidak mengerti, Aku buat bahasa Indonesia saja ya 😅]
Kami mencari di seluruh konter. Entah sudah berapa konter yang Kami datangi. Menjelang malam, Kami baru menemukan ponsel itu. Aku tersenyum puas melihatnya. Tepat seperti yang kumau. Nokia 2300 dengan keypad pink dan ungu. Ciri khas ponsel cewek. Besok Aku akan memberikan ponsel ini pada si kucing. Semoga si kucing senang hati menerimanya.
***
Seperti dugaan, Diana kembali datang mencariku. Dengan wajah cemberut dia mengadu pada Bu Presiden.
"Jahat dia Ma. Kalau Aku nggak hubungi, dia nggak hubungi duluan Ma."
"Jadi cowok itu yang peka Al. Mama ngajarin apa? Mama tidak pernah ngajarin anak Mama kayak gini. Rasakan ini." Mama memukul punggungku.
"Auuww, sakit Ma!"
"Biar Kamu sadar. Jadi cowok itu jangan besarin ego. Kalau salah itu ngalah, minta maaf. Bla... Bla... Bla..." BuPres mulai berceramah. Seperti biasa, Mama selalu membela Diana. Sepertinya beliau sangat berambisius untuk membuat Diana menjadi menantunya.
"Kalian lanjut dulu. Mama tinggal ke belakang."
"Yank, maafin Aku ya." Aku memegang tangan Diana.
"Iya. Jangan diulangin lagi ya Ay..." Hem... Semudah itu mendapatkan maaf darinya.
"Iya."
"Janji?"
"Iya, janji." Diana langsung menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Katanya malam ini ada syuting tugas kelompok ya?"
"Iya, kok tahu?"
"Tahu lah. Mata-mataku banyak. Kamu ada adegan sama si cewek gatel itu kan?"
"Cewek gatel? Siapa?"
"Briana! Cewek nggak tahu diri yang ngejar-ngejar Kamu itu."
"Kan untuk tugas sekolah yank."
"Pokoknya nggak mau tahu. Aku ikut malam ini."
"Oke. Terserah Kamu saja."
"Ay..."
"Hem?"
"Hadap sini." Aku menatap Diana.
"Apa?" tanyaku.
Tiba-tiba Diana mendekat padaku. Dia menyapukan bibirnya sekilas pada bibirku. Aku menahan tubuhnya dan beringsut menjauh.
"Di, ada Mama..."
"Sebenarnya Kamu sayang nggak sih sama Aku Ay?"
"Kenapa nanya hal kayak gitu?"
"Aku ngerasa Kamu nggak benar-benar sayang..."
"Itu hanya perasaanmu saja. Aku sayang sama Kamu." Huft, kenapa wanita selalu menanyakan hal seperti ini?
"Aku juga Ay..." Diana memelukku. "Pokoknya Kamu harus fokus sama Aku. Nggak boleh lihat cewek lain. Apalagi lihat Briana, ngerti Kamu Ay?"
"Iya, iya." Nggak boleh lihat Briana ya? Oke... Tapi lihat si kucing boleh kan?
***
Atas desakan Mama, pada akhirnya Aku membawa mobil malam itu. Alasannya untuk keselamatan Diana. Gadis itu mengikuti kegiatan kelasku dan mengamati acara syuting sekolah dengan ketat.
Diana mengawasi gerak-gerik Briana, sementara mataku mencari-cari si kucing. Seperti biasa, si kucing selalu menjadi sosok yang tidak tampak. Bersembunyi dibalik bayang-bayang gelap, membuat dirinya semakin tidak terlihat. Ingin Aku menariknya dan membuatnya berdiri di tempat yang terang, agar keberadaannya diketahui semua orang.
Syuting itu selesai pukul setengah sepuluh malam. Aku melayangkan pandangan pada seluruh area foodcourt, namun Aku tidak menemukan keberadaannya. Apa si kucing sudah pulang?
"Ay, yuk pulang. Jangan lama-lama di sini, entar Aku terkontaminasi." Diana datang dan mengalungkan tangannya di lenganku. Matanya menatap Briana yang berdiri di sampingku dengan tatapan tajam.
Aku tidak mengerti Diana. Mengapa dia harus begitu tidak suka pada Briana? Apa dia pikir Aku memperhatikan Briana? Seujung kuku pun Aku tidak tertarik pada gadis itu. Benar-benar aneh.
Kami menuju parkiran foodcourt dan mengambil mobil. Pikiranku masih memikirkan si kucing. Dimana gadis menyedihkan itu? Apa benar-benar sudah pulang? Naik apa?
Ketika pikiranku berkelana kemana-mana, Aku melihat sosok yang kucari. Dan seperti biasa, dia selalu terlihat menyedihkan. Mengayuh sepedanya seorang diri. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya seperti itu!!
TIN... TIN... TIN...
Aku mengklaksonnya. Berniat menyuruhnya berhenti. Diana menarik tanganku.
"Apa-apaan Ay? Mau ngapain?"
"Dia Khansa, teman sekelasku." Aku menurunkan kaca mobil. "Khansa, ayo naik."
"Ay, Kamu mau ngapain sih? Kenapa nyuruh dia naik?"
"Aku akan mengantarnya." Tanpa menunggu ucapan Diana, Aku keluar dari mobil dan mendekati Khansa yang berdiri tak jauh dariku.
Perasaan marah, kesal sekaligus sedih menjadi satu. Aku marah dan kesal karena melihatnya seperti itu. Kapan dia tidak akan terlihat menyedihkan? Kapan kucingku akan terlihat keren di mata orang lain? Sosoknya yang menyedihkan seperti itu membuatku ingin melindunginya.
***
Happy Reading 😑
NB : Maaf kalau membosankan & hambar ya, masih membangun mood untuk nulis 🙏 Nulis kayak gini aja butuh waktu hampir 5 jam 🤦♀️ padahal isinya hanya adegan remeh temeh nggak penting 🤦♀️ Maaf bila kedepannya tulisannya masih terasa hambar, sepertinya Aku sedang mengalami writer's block. Maaf dan terima kasih 🙏🙇♀️