Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 83 - Lepaskan Aku


"Kenapa, kenapa harus Aku yang pasangin?! Pasang sendiri sana!!


"Nggak kelihatan yank. Serius, kondisinya nggak baik-baik saja. Mau lihat?" Alex berdiri dan bersiap-siap untuk membuka celananya.


"Stop!! Mau apa Kamu?"


"Agar Kamu lihat kondisinya yank. Please, pasangin salep ya..."


"Nggak mau. Pergi sana ke dokter kulit. Atau ke dokter kelamin."


"Kamu rela punyaku dilihat-lihat sama orang lain? Please dong yank, pasangin salep ya..."


Hish, kenapa dia seperti kocheng sekarang? Mana sikap galaknya? Apa ini modusnya agar mendapat maaf dariku?


"Please ya... Please..." Alex memasang tampang memelas. Dia benar-benar pintar merayu!!


"Beneran parah? Separah apa sih?"


"Makanya, ayo Aku tunjukin. Mau masangin salep ya? Ya, ya, ya?"


"Masang salep aja kan? Nggak lain-lain?"


"Nggak dong sayang. Kan dokter bilang Kita nggak boleh ML dulu demi Alkha. Beneran nggak modus deh." Aku menjadi bimbang.


Alex meraih tanganku dan membimbingku untuk mengikutinya.


"Maaf belum bisa menggendongmu. Kondisi nggak memungkinkan." katanya dengan wajah prihatin. Cara berjalan Alex juga masih aneh. Aku benar-benar ingin menertawakannya.


Alex menyuruh Mbak Asih untuk mengambil kotak P3K dan membawa kotak itu ke kamar Kami.


Aku benar-benar masih marah terhadap pria itu, namun melihat dia seperti itu timbul rasa kasihan di benakku.


Alex menuntunku ke ranjang. Kemudian dia berbaring dan membuka celananya. Aku spontan langsung memalingkan wajahku. Ini benar-benar memalukan.


"Yank, lihat sini. Lihat yank, beneran merah." Alex menarik tanganku, mencari-cari perhatian.


"Gimana mau ngasih salep kalau Kamu nggak lihat gitu? Lihat sini dong." Alex kembali duduk dan memegang daguku. Membuatku menatapnya. "Katanya mau ngasih salep? Dilihat dong objeknya."


Akhirnya mau tidak mau Aku menatap milik Alex. Sebenarnya cukup risih juga, karena ini untuk pertama kalinya Aku menatap benda itu tanpa ada perasaan nafsu yang biasanya Kita bangun.


Entah harus tertawa atau prihatin melihat kondisinya saat ini. Kulitnya benar-benar memerah. Ini benar-benar akan mengguncang masa depannya!! Pfffttt! Ini benar-benar karmamu wahai suami tukang poligami!! Aku tertawa jahat sekaligus puas!! Hahahaha!


"Bawa ke dokter saja sih."


"Nggak mau. Coba kasih salep yank. Ada bagian-bagian tertentu yang nggak bisa kulihat."


"Jangan lihat Aku. Pejamkan matamu."


"Kenapa?"


"Pejamkan saja sih. Mau dikasih salep apa nggak?"


"Oke, oke." Alex mematuhiku. Dia memejamkan matanya. Setelah memastikan Alex menutup mata, Aku kembali memperhatikan miliknya.


Wah, kasihan sekali si junior. Ini akibatnya punya tuan tidak berperasaan, jadi junior kan yang kena imbasnya.


Aku mengambil salep dan mulai mengoleskan salep itu menggunakan cotton bud pada kulitnya yang memerah. Awalnya si junior masih tertidur dengan santuy, tapi begitu mendapat sentuhan cotton bud dan olesan salep yang dingin, si junior mulai terbangun dengan gagahnya. Berdiri tegak layaknya tiang bendera.


"Ihh apa-apaan sih!" Aku yang terkejut dengan refleks langsung memukul junior dengan telapak tanganku.


"Auuwww!! Aauuuwww!! Aduhhh!! Ampuun!"


Alex mengaduh-ngaduh sembari memegangi miliknya. "Jahat Kamu yank."


"Salah siapa mesum? Bilang nggak bakal ngapa-ngapain kan..."


"Lah, ini kan otomatis berdiri kalo kena sentuhan yank. Bukan mauku..."


"Sudahlah, lanjutin sendiri sana. Atau kalau nggak langsung ke dokter saja."


"Nggak mau. Benar-benar tega Kamu ya milikku dilihat-lihat orang lain."


Halah, toh milikmu juga sering dilihat Diana kan. Apa bedanya dilihat satu dokter lagi? Dasar laki-laki mesum.


"Jadi beneran nggak mau dilanjutin nih?"


"Coba kesini." Aku menyuruh Alex untuk mendekat. Pria itu dengan semangat mendekat padaku. Kami sedang duduk di atas ranjang.


Aku menatap bibir Alex yang terluka. Meskipun Aku sangat kesal padanya, tapi Aku tidak tega juga melihatnya terluka seperti ini. Aku memberi salep pada bibir Alex yang terluka karena gigitanku. Meskipun pria ini suka melambungkan perasaanku dan kemudian menghempaskannya ke jurang yang paling dalam, tapi setidaknya pria ini pernah sangat baik padaku.


Bukan salahnya kalau tidak bisa mencintaiku. Salahku yang terlalu mencintainya dan terbawa perasaan, hingga akhirnya Aku terbuai dan mengharap perasaanku juga dibalasnya. Sekarang Aku sudah benar-benar lelah. Aku ingin menghentikan perasaan ini sesegera mungkin.


"Nanti kalau Aku nggak ada jangan sering terluka kayak gini ya."


"Ngomong apa sih? Aneh."


"Tapi nggak apa-apa sih kalau mau terluka, kan ada Diana yang merawat..."


"Kamu ngomong apa sih Khan? Nggak jelas. Sini peluk Aku." Alex meraih tubuhku, berusaha untuk memelukku. Aku beringsut menjauh.


"Al..."


"Aku nggak suka Kamu panggil namaku. Aku serius Khan."


"Al... Aku mau bicara serius."


"Aku tidak suka Kamu bicara seperti itu Khansa."


"Al... Sudah berapa lama Kita saling mengenal?"


"Aku tidak suka nada bicaramu."


"Al... Dulu waktu SMA Kita pernah jadi sahabat, yah meskipun harus berakhir seperti itu. Aku tidak menyangka hubungan Kita bisa berkembang seperti ini..."


"Al, Kamu pria yang baik. Meskipun ada kalanya Kamu egois, tidak mau dibantah, suka emosi tapi secara keseluruhan Aku menganggapmu pria yang baik..."


"Aku tidak mau mendengarkan ucapanmu. Hentikan bicaramu Khansa!" Nada suara Alex mulai meninggi.


"Yohan Alexander, sahabatku... Sampai sekarang Aku masih tidak menyangka Kamu akan menjadi ayah anakku. Tapi, Aku rasa hubungan Kita tidak bisa berkembang lebih dari ini..."


"Alex, sahabatku... Papanya Alkha... Aku tidak bisa hidup denganmu lagi. Ini terlalu menyakitkan... Aku tidak bahagia. Jadi, lepaskanlah Aku...


"Aku tidak akan memutus ikatanmu dengan Alkha. Kamu bisa bertemu dengan Alkha sepuasnya, tapi Aku mohon tolong lepaskan Aku dari ikatan ini. Sungguh Aku tidak bahagia..." Aku menahan diri untuk tidak meneteskan airmata. Aku sudah menyampaikan perasaanku. Ada perasaan lega sekaligus sakit hati. Namun Aku menekan perasaan sakit hatiku.


Aku melihat tubuh Alex bergetar. Pria itu memalingkan wajahnya. Aku tidak bisa melihat ekspresinya. Aku bersiap untuk menerima segala amukan kemarahannya. Bila malam ini Kami harus bertengkar, biarkan saja terjadi. Semoga pertengkaran ini akan menjadi akhir dari hubungan Kami.


"Ka-kamu be-benar-benar tidak bahagia?" Suara Alex tampak gemetar. Dari suaranya, dia seperti menahan isakan, namun Aku yakin bukan karena itu. Alex pasti sedang menahan amarahnya.


"Iya, Aku tidak bahagia. Ijinkan Aku pergi ya... Aku janji tidak akan mempersulitmu untuk bertemu dengan Alkha nantinya..."


"Benar-benar tidak bahagia? Sedetik pun hidup denganku tidak membuatmu bahagia?"


"Iya." Aku menatap punggung Alex yang membelakangiku. Tubuh pria itu masih tampak gemetar.


"Ap-apa itu karena 'dia'?" tanyanya.


Dia? Yang dimaksud Alex dengan 'dia' pasti Diana bukan?


"Ya, sebagian besar karena 'dia'. Tapi sebagian yang lain karena diriku sendiri."


Alex tidak menjawab lagi. Kami sama-sama terdiam. Kondisi sangat canggung. Aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa keputusanku untuk membicarakan hal ini adalah benar. Demi hatiku dan Alkha, Aku harus segera melepas pria ini.


"Khansa... Apa Kamu benar-benar tidak bahagia hidup bersamaku? Tidak semenit pun? Sedetik?"


"Iya, Aku tidak pernah bahagia." Bohong. Ada masa-masanya Aku sangat bahagia ketika bersamanya. Namun rasa sakit yang ditimbulkan olehnya lebih besar, sehingga menghapus rasa bahagia itu menjadi buih-buih berceceran.


Kami berada dalam suasana hening. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk menghadapi amukan emosinya. Namun ternyata tidak sesuai prediksiku. Alex terdiam sembari membelakangiku. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di pikirannya.


Dddrrrttt... Dddrrrttt... Dddrrrttt...


Dalam keheningan itu, tiba-tiba ponsel Alex bergetar. Alex melihat siapa yang meneleponnya. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan pergi menjauh. Sebelum dia menghilang dibalik pintu, dia berkata.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah Kita bertemu lagi." Kemudian Alex pergi, meninggalkanku yang masih termenung sendiri. Bertanya-tanya apa maksud dari ucapannya.


***


Happy Reading 🙄