Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 79 - Fokus Pada Bayiku


Aku pulang ke rumah. Entah mengapa setelah membuat keputusan perasaanku menjadi lebih tenang. Aku berharap menjadi pribadi kuat dan tidak goyah lagi. Aku hanya akan memikirkan bayiku, tidak ada yang lain.


"Winda..."


"Saya Bu?"


"Aku ingin daftar kelas kehamilan. Tolong carikan yang menurutmu bagus."


"Saya izin ke Pak Yohan dulu Bu."


"Ya, terserah." Terserah sudah, Aku tidak peduli. Kalau pun tidak diizinkan, Aku bisa belajar sendiri di rumah.


"Winda, tolong antarkan Aku periksa ya..."


"Apa tidak sebaiknya menunggu Pak Yohan datang Bu?"


"Tidak perlu. Seharusnya minggu kemarin jadwalnya periksa."


"Saya perlu izin Pak Yohan Bu." Ya, izin saja terus. Mungkin hanya untuk ke kamar mandi pun Aku perlu mendapat izinnya.


Aku kembali ke kamar. Aku tidak lagi menangis. Aku hanya akan hidup untuk bayiku. Dulu waktu masih hidup sendiri di Malang, pikiranku selalu fokus pada bayiku. Semenjak ada Alex, pikiranku menjadi terpecah. Aku banyak memikirkan Alex hingga terkadang Aku lupa bahwa naik turunnya emosiku akan mempengaruhi janinku.


Sekarang, Aku tidak akan membiarkan Alex mempengaruhi emosiku lagi. Mau seperti apapun dia bersikap, Aku tidak akan peduli lagi. Aku akan menghapus rasa ini.


***


Hari ini adalah hari kelima. Aku tidak lagi menangis. Semalaman Aku tertidur sembari memeluk janinku. Meminta maaf padanya karena sudah membuatnya merasakan apa yang Aku rasakan.


Aku bangun dengan perasaan janggal. Aku merasa basah di bagian bawah tubuhku. Aku meraba-raba bed cover dan selimut. Ternyata bukan hanya dugaanku saja. Bed cover dan selimutku benar-benar basah. Begitu pula dengan celana dalam dan dasterku. Apa Aku buang air kecil secara tidak sengaja?


Aku mencium cairan itu. Sama sekali tidak berbau. Hanya sedikit kesat di tangan. Cairan ini bukan air kencing, lalu cairan apakah itu?


Aku bangun secara perlahan, mengambil ponselku dan mulai mencari tahu. Berdasarkan info yang kudapat, ternyata itu adalah cairan amnion/ketuban.


Tubuhku mulai gemetar. Kehamilanku baru memasuki usia 7 bulan, tidak mungkin Aku melahirkan sekarang bukan?


Tok... Tok... Tok...


Tanpa mendengar jawabanku, pintu kamarku terbuka. Kulihat Winda sudah berdiri tak jauh dari tempatku berada. Aku menyembunyikan tubuhku dari pandangan Winda. Aku takut Winda mengetahui kondisiku.


"Selamat pagi Ibu. Mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya. Saya mendapat kabar dari Pak Yohan. Beliau mengijinkan Saya untuk membawa Anda periksa kehamilan ataupun mendaftarkan Anda di kelas kehamilan. Kapan Anda ada waktu untuk..."


"Sekarang Winda. Sekarang Aku bisa. Bisakah Kamu keluar dulu? Aku mau bersiap-siap."


Setidaknya Tuhan menjawab doaku kali ini. Aku benar-benar harus konsultasi ke dokter kandungan mengenai kondisiku saat ini. Mengapa tubuhku mengeluarkan air ketuban tanpa adanya kontraksi? Apa ada yang salah dengan kandunganku?


"Dek, tetap bersama Mama ya. Jangan tinggalin Mama. Mama bersalah padamu. Ijinkan Mama untuk menebus kesalahan Mama. Please ya sayang, sehat-sehat. Belum waktunya Kamu keluar sayang. Tetap baik-baik ya di perutnya Mama..."


Aku membersihkan selimut dan bed coverku yang basah. Menggantinya dengan yang baru. Setelah itu Aku membersihkan diriku sendiri dengan hati-hati. Tubuhku gemetar. Aku merayu-rayu janinku, untuk tetap bertahan di rahimku.


Berkali-kali Aku meminta maaf padanya, karena sikapku yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku hanya berharap bayiku akan baik-baik saja sampai waktu melahirkan tiba.


***


Aku masuk ke ruang dokter kandungan itu sendiri. Winda memaksa untuk menemaniku. Aku bersikukuh untuk menolaknya. Kami berdebat. Winda selalu membawa-bawa nama Yohan untuk menundukkanku. Syukurlah ada asisten dokter yang membelaku. Dia menyuruh Winda untuk menunggu di luar, karena memaksakan kehendak pada ibu hamil sangat tidak baik untuk kondisi psikologisnya.


Aku masuk ke ruangan itu dan mulai berkonsultasi. Dokter memeriksa kandunganku dengan cermat. Memeriksa setiap bagian dari rahimku. Mengukur setiap kandungan amnionku dan juga memastikan bahwa janinku dalam kondisi baik-baik saja.


"Sudah berapa lama Anda mengalami hal ini?"


"Ibu Khansa, Saya senang Anda langsung kemari begitu mengalami gejala ini. Biasanya ada beberapa ibu hamil yang meremehkan masalah ini, karena dianggap tidak berbahaya."


"Saya sudah memeriksa jumlah cairan amnion Anda. Untung saja jumlah amnion yang berkurang hanya sedikit. Jadi kemungkinan Anda untuk melahirkan secara prematur terbilang kecil. Namun, Anda tidak boleh menyepelekan hal ini. Bila cairan amnion masih terus keluar, bukan tidak mungkin Saya akan melakukan tindakan operasi."


"Kenapa bisa keluar begitu saja Dok? Saya tidak mengalami gejala apapun, bahkan kontraksi ringan sekalipun..."


"Itu karena faktor stres dan kelelahan. Lelah di sini bukan hanya lelah secara fisik, namun juga lelah secara pikiran. Saya menyarankan Anda untuk bedrest total selama 3-4 hari. Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk Anda. Bila dalam jangka waktu 3-4 hari cairan amnion masih terus keluar dan cairan itu berubah menjadi keruh dan berbau, maka Saya dengan terpaksa akan melakukan tindakan SC (operasi caesar)."


"Tenangkan diri Anda. Jangan terlalu banyak pikiran. Buat diri Anda bahagia. Dukungan dari pasangan juga sangat dibutuhkan di sini. Ceritakan semua ini dengan suami Anda, karena dukungan mental dari ayah bayi akan membantu emosional Anda."


Aku mendengarkan segala penuturan dokter dengan seksama. Perasaanku semakin bersalah terhadap bayiku. Kehamilanku menjadi seperti ini karena pikiranku yang stres. Terlalu memikirkan ayah si bayi membuatku lupa, bahwa bayiku juga membutuhkan perhatianku. Aku harus membuat diriku bahagia, agar bayi ini baik-baik saja.


***


"Winda, untuk beberapa hari ke depan Aku akan selalu di kamar. Tolong sampaikan pada Mbak Asih untuk membawa makananku ke dalam kamar."


"Ada apa Bu? Apa hasil pemeriksaannya tidak bagus? Boleh Saya lihat hasil pemeriksaan Anda? Saya harus melapor pada Pak Yohan..."


"Tidak, tidak. Hasilnya bagus. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu dalam menjagaku. Tolong laporkan pada dia, bahwa hasil pemeriksaannya bagus. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Ibu yakin?"


"Ya, sangat yakin."


Seperti saran dokter, Aku benar-benar bedrest. Aku melakukan hampir semua aktivitasku di tempat tidur. Aku meminta Mbak Asih untuk membuatkanku makanan sehat, kemudian memakannya dengan lahap. Meminum obat dan vitamin yang diresepkan dokter. Melakukan hal-hal yang membuatku rileks dan bahagia seperti misalnya mendengarkan musik klasik yang menenangkan atau menonton drama ringan yang membuatku kembali tersenyum.


Keesokan harinya, Aku kembali meraba celana dalam maupun bedcoverku. Tidak ada rembesan cairan lagi. Aku menghembuskan napas lega.


"Terima kasih ya Nak, karena sudah pengertian sama Mama. Kamu benar-benar anak yang baik. Tetap bertahan sama Mama sampai akhir ya..."


Aku mengelus-ngelus perutku. Seperti bisa memahamiku, Aku merasakan tendangan lembut di perutku. Aku menangis karena terharu.


Hanya bayi ini milikku. Hanya bayi ini yang akan membalas cintaku. Aku harap bisa selamanya berada di dekatnya, dan Kami akan hidup dengan bahagia.


***


Aku sudah tidak menghitung berapa hari Alex pergi tanpa kabar. Itu merupakan suatu kemajuan bagiku. Aku tidak lagi mengharapkan kedatangannya ataupun kabar darinya. Aku hanya fokus pada bayiku.


Sudah hari ketiga dari terakhir kali Aku konsultasi dengan dokter. Selama tiga hari berturut-turut, tidak ada rembesan cairan amnion yang keluar. Besok adalah hari ke empat. Hari untukku kembali berkonsultasi.


"Besok Kita ketemu Bu Dokter lagi ya Dek. Baik-baik ya sayang. Sekarang Kita tidur dulu."


Aku menarik selimut dan tidur menyamping. Membungkus tubuhku dengan nyaman. Memberi kehangatan bagiku dan bayi ini.


Aku hampir terlelap ke alam mimpi ketika Aku merasakan seseorang membuka pintu kamarku. Aku enggan berpaling. Aku tetap dengan posisi menyamping, pura-pura tertidur.


Ah, mungkin itu Winda yang datang. Untuk melihat dan mengecek keadaanku.


Aku merasa seseorang itu mendekat padaku. Kemudian sentuhan bibir hangat mendarat di pelipisku.


"Aku pulang sayang. Sudah tidur ya?"


***


Happy Reading 😒


Si lelaki kerdus dateng gaess, minta di sleding 😤