
"Ayo."
"Mau kemana?"
"Kamar."
"Se-serius?"
"Kapan Aku pernah bercanda masalah ini sayang."
"Ta-tapi ini masih belum jam tujuh..."
"Memangnya melakukan hal seperti itu harus menunggu tengah malam?" Alex tergelak. Dia mendekap tubuhku. Dengan sekali gerakan dia menggendongku.
"Turunkan Aku!"
"Tidak mau. Nanti Kamu kabur."
"Gimana mau kabur dengan perut sebesar ini. Turunkan Aku please. Banyak yang lihat."
"Aku suka menggendongmu." Alex tak mendengarkan perkataanku. Dia menuju lift dan menekan lantai 3. Sembari menggendongku, mulutnya tak henti-hentinya mengec*pi bibirku, membuatku kewalahan.
Alex membuka dan menutup kamar dengan kakinya. Bibir Kami kembali saling bert*utan. Aku suka berciuman dengannya, sehingga tanpa sadar selalu membuatku membalas setiap l*mat*nnya.
Tanpa Aku sadari, Alex sudah membaringkanku di ranjang. Dia menatapku dalam-dalam. Tatapan matanya melembut. Aku bisa melihat pantulan diriku di dalam matanya.
Alex menatapku seperti Aku adalah sosok yang paling berharga. Tatapanku terkunci. Aku tenggelam dalam lautan mata gelap itu.
Alex menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajahku. Jari tangannya mengelus-ngelus pipiku. Andaikan Aku tidak tahu yang sebenarnya, Aku akan mengira Alex mencintaiku.
"Khansa... Khansaku... Khansaku..." Suara lirih Alex membuatku tercekat. Aku seperti menangkap nada kesedihan di dalamnya. Tanpa sadar Aku menangkup wajah Alex, bermaksud ingin untuk menghiburnya.
Mata Alex terpejam. Dia menyurukkan kepalanya pada tanganku. Seolah-olah sentuhanku bisa menyembuhkan dan membuatnya baik-baik saja.
Alex mengecupi tanganku. Setiap jari jemari dia kecupi satu persatu. Seolah-olah perwujudan rasa syukur dan terima kasihnya padaku?
Kemudian dia mulai melabuhkan bibirnya di keningku. Mengecupnya dengan lembut dan berlama-lama. Aku memejamkan mata, menikmati perlakuannya.
Bibir hangat itu kemudian menjalar, menyusuri mata, pipi dan daguku. Memberi sapuan pada setiap anggota tubuhku.
Tanpa sadar mulutku terbuka, menunggu bibirnya berlabuh. Namun rupanya Alex tidak membiarkannya. Dia melewatkan bibirku, dan menyapu area leherku. Membuatku tanpa sadar mengeluarkan d*sahan.
D*sahanku rupanya sangat berdampak padanya. Tanpa Aku prediksi bibirnya langsung menerjang bibirku dan mel*m*tnya sampai habis.
Kali ini ciumannya tidak lagi lembut, namun penuh dengan gairah yang menggelora. Aku berusaha mengimbanginya dengan membalas perlakuannya sebisaku. Namun Aku yang masih amatir ini tidak bisa mengimbanginya. Pada akhirnya Aku hanya bisa memasrahkan diriku.
Alex benar-benar m*l*m*tku habis-habisan. L*dah panasnya menjalar kemana-mana. Bibirnya mengh*sap, meny*dot, meng*lum dan meng*giti bibirku. Aku kewalahan. Aku memejamkan mataku dan membiarkan arus g*irah ini membawaku.
Tangan Alex mulai menjalar kemana-mana. Dia bagaikan seekor laba-laba yang mempunyai tangan delapan. Semua area tubuhku tidak luput dari j*mahannya. Aku merasa tubuhku mulai ringan. Aku tidak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi. Pikiranku berkabut dan berada di awan-awan. Aku memeluk Alex, berusaha berpegangan atas arus gairah yang melanda.
Bibir Alex sibuk menj*lati leherku, sedangkan tangannya menjalari d*daku. Tangan dinginnya bertemu dengan d*da hangatku yang sensitif, menimbulkan percikan sensasi yang tidak biasa. Tangan itu m*remas d*daku dengan lembut. Membuatku tanpa sadar mel*nguh.
Aku tidak tahu kapan hal itu terjadi, namun Alex sudah berhasil membuka dasterku. Yang tersisa hanya pakaian dalamku. Rasa dingin di kulit menyadarkanku. Tiba-tiba terlintas sepotong pikiran di kepalaku. Aku segera membuka mata dan menghentikannya.
Alex menatapku dengan keheranan. Aku memeluk tubuhku sendiri dan berusaha menyembunyikannya dari tatapan mata Alex.
"Ja-jangan melihatku..."
"Kenapa? Ada apa sayang?"
"Aku gendut... Jangan melihatku..." Aku menutupi tubuhku dari pandangan mata Alex. Ini sangat memalukan. Alex menatap tubuhku yang membengkak. Dia pasti akan jijik padaku.
Satu ciuman hangat mendarat di keningku, kemudian berlabuh di bibirku.
"Kamu sangat cantik sayang... Sangat cantik... Biarkan Aku menyayangimu..." Alex kembali menciumiku dengan lembut. Membuatku membuka mata. Tatapan mataku bertemu dengan tatapannya yang tulus. Alex terlihat tidak jijik padaku. Pelan-pelan Aku kembali membuka diriku.
"Ma-matikan lampunya..."
"Tapi Aku tidak bisa mengagumimu..."
"Matikan lampunya." Alex mematuhiku. Dia mematikan semua lampu, sehingga kamar itu menjadi gelap gulita. Seberkas cahaya bulan samar-samar menelesup ke kamar Kami.
Pencahayaan yang minim membuatku sedikit percaya diri. Kami masih bisa menatap wajah satu sama lain, meskipun hanya samar. Tapi setidaknya Alex tidak melihat tubuh jelekku secara langsung.
Alex kembali padaku. Tubuh hangatnya mendekat padaku. Bibirnya mulai kembali menciumiku. Aku membalas ciumannya dengan sepenuh hati.
Aku mencintaimu... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu...
Bisikku dalam hati. Berharap dia mendengar ungkapan perasaanku dan membalas perasaanku meskipun hanya sedikit.
Seperti mendengar bisikanku, Alex menciumku dengan lembut. Kembali menciptakan momen yang sempat menghilang.
L*dah Kami kembali berta*tan. Saling m*ncecap rasa manis dan kelembutan masing-masing. Tangannya kembali bergerilya. Menyentuh setiap jengkal tubuhku tanpa terkecuali. Aliran rasa panas kembali membakar tubuhku. Semua itu berpusat pada titik tubuhku.
L*dah Alex menari-nari, menyusuri leherku. Memberikan tanda kepemilikan. Tangannya mer*mas d*daku. Dengan sekali gerakan dia berhasil menyingkirkan penutup d*daku. Membuat tubuh bagian atasku terbuka.
Desiran perasaan yang janggal mengaliri tubuh ketika tangan Alex menyentuh p*ncak d*daku. Tangan itu menyentuh dengan halus. Memainkan, m*m*lintir dan mem*linnya dengan nakal. Tubuhku mulai mengejang tak karuan. Aku benar-benar melupakan akal sehat. D*sahan dan leng*han lolos tanpa Aku sadari. Aku mendekap tubuh Alex. Semakin mendekatkan tubuhku kepadanya.
Alex meninggalkan leherku. Aku merasa kosong. Namun sedetik kemudian, l*dah pria itu sudah menggantikan posisi tangannya. Ya!! Wajah Alex sudah terbenam di atas d*daku. Menciumi keduanya secara bergantian. Kemudian... tanpa Aku duga mulut Alex mulai menggantikan posisi tangannya.
Pria itu meng*lum, mengg*litik, mem*lin, mengh*sap, dan mengg*giti p*ncak d*daku dengan bernafsu.
Aku seperti tersengat aliran listrik ribuan voltase!! Tanganku tanpa sadar mendekap wajah Alex. Menekannya dengan lebih dalam. Tidak ada logika, tidak ada pikiran, tidak ada Diana!! Hanya Khansa dan Alex!! Hanya Kami!!
Aliran arus b*rahi menghantamku. Bermula dari dua titik sensitif itu dan berakhir pada inti sari tubuhku. Aku tidak bisa menghentikan suara d*sahan, leng*han dan teriakan. Seolah-olah tubuhku melakukannya tanpa berpikir. Aku memang benar-benar kehilangan pikiranku!!
Alex memainkan l*dahnya secara bergantian. Puas menikmati satunya, dia berpindah ke yang lain. Tubuhku mulai panas. Ada semacam aliran di tubuhku yang seolah-olah minta dikeluarkan.
Aku melengkungkan tubuhku, seolah-olah menuntut Alex untuk berbuat lebih. Aku menjambaki rambutnya ketika kurasakan aliran itu semakin dekat... dekat... Dan pada akhirnya...
"Aleeeeeeexxxx!!!" Tubuhku mengejang dan bergetar dengan hebat. Pikiranku langsung kosong. Tubuhku menjadi ringan. Aku seperti terbang di awang-awang. Perasaan ini sangat n*kmat sekaligus melegakan. Aku... suka dengan perasaan ini.
***
Happy Reading 😂🤣
NB : Kurang 1 part lagi untuk hari ini. Masih oteweh nulis 😂😂. Bagi yang jombloh atau belum cukup umur, dilarang baca ya 😂