
"Benar-benar ngambek ya? Dari tadi Aku ngomong nggak dijawab." Tangan Alex masih membelit tubuhku. "Jangan ngambek sayang. Suami pulang kok dicuekin?"
Aku masih melanjutkan kegiatan memasakku sampai selesai. Setelah itu Aku menata lauk pauk itu di piring dan membawanya ke meja makan. Alex berusaha mengambil hatiku dengan membantuku menyiapkan sarapan. Aku tidak peduli dengan keberadaannya.
Aku mengisi piringku dengan nasi dan lauk pauk yang banyak. Aku harus makan banyak, agar bayiku sehat.
"Aku suapin ya." Alex duduk disebelahku dan mengambil piringku. Dia mulai menyendok nasi dan lauk, mengarahkan makanan itu padaku. "Buka mulutmu sayang..."
Aku memalingkan wajahku. Aku mengambil piring lain dan kembali mengisinya dengan nasi dan lauk.
Aku punya tangan, Aku bisa makan sendiri. Aku tidak butuh perhatian semu darimu.
"Khansa? Kamu kenapa sih? Sudah lama Kita tidak bertemu, kenapa sikapmu menjadi seperti ini?"
"Kamu kenapa? Kamu marah karena apa? Karena Aku tidak menghubungimu? Aku benar-benar sibuk selama seminggu ini. Maafkan Aku ya, jangan marah lagi..." Alex menepuk-nepuk pahaku. Aku tidak mempedulikannya. Aku tetap makan dengan lahap. Keberadaannya tidak mengurangi nafsu makanku. Selesai makan, Aku langsung berdiri dan membereskan piring kotor.
"Mbak, Aku sudah selesai makan. Tolong mejanya dibereskan ya." Aku berbicara pada Mbak Asih yang berada tak jauh dari tempat Kami duduk.
"Baik Nyonya."
Setelah itu Aku berjalan keluar dari dapur. Alex meraih pergelangan tanganku dan menariknya. Membuatku kembali berada di pelukannya.
"Sayang... Maafkan Aku ya. Jangan mendiamkanku." Alex merengkuh tubuhku. Tapi Aku tetap tidak bergeming. "Jangan marah lagi. Emosimu bisa mempengaruhi Alkha."
Setiap kali mendengar nama Alkha terucap dari mulutnya membuat emosiku tersulut. Aku emosi karena keberadaanmu! Sekarang Aku mencoba untuk bersabar menghadapimu demi Alkha.
Alex, pergilah yang jauh. Kembalilah pada Diana. Sungguh ketiadaanmu akan membuat hatiku lebih tenang. Biarkan Aku hidup bersama Alkha dengan bahagia. Jangan mengganggu Kami lagi. Sungguh, Aku sudah tidak peduli denganmu lagi.
"Kamu mau kan memaafkanku?" Alex memegang bahuku. Tatapannya tampak menghiba. Aku menatapnya dengan tatapan menerawang.
"Maafkan Aku ya. Hari ini mau pergi kemana? Aku bisa mengantarmu kemana pun Kamu mau..."
Dddrrttt... Dddrrrttt... Dddrrrttt...
Ponsel Alex bergetar. Pria itu melepaskan pegangannya di bahuku dan mengangkat panggilan itu. Aku menggunakan kesempatan itu untuk berjalan ke lantai atas, menuju tempat persembunyianku.
Aku tidak peduli Alex mendapat telepon dari siapa. Aku tidak ingin mencari tahu. Terserah dia mau apa, Aku sudah tidak ingin tahu dengan hidupnya.
Aku pergi ke kamar dan segera mengambil ponselku. Kemudian Aku pergi ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaanku. Aku tidak ingin Alex tahu mengenai kondisi kandunganku. Bagaimana caranya agar Aku tetap melakukan pemeriksaan tanpa sepengetahuan Alex?
Aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Winda.
Aku : Winda, hari ini jadwal pemeriksaan kandunganku. Bisakah Kamu mengantarku?
Winda : Maaf Bu, bukannya Saya tidak bersedia mengantar Ibu. Setahu Saya Pak Yohan sudah pulang, kenapa Ibu tidak meminta antar pada beliau?
Ah, seperti dugaanku, Winda tidak bisa diharapkan. Lagi-lagi Aku harus berhadapan dengan Alex.
Aku : Ya, dia memang sudah pulang. Aku bertengkar dengannya. Bisakah Kamu menyampaikan hal ini padanya?
Winda : Baik Bu, segera Saya sampaikan.
Begitu selesai berkirim pesan dengan Winda, Aku langsung menelepon dokter kandunganku. Dokter perempuan itu bernama Afifah, seorang dokter paruh baya yang sangat keibuan.
"Iya Ibu Khansa, ada yang bisa Saya bantu?"
"Dokter, hari ini jadwal saya periksa. Kemungkinan besar Saya akan ditemani suami Saya. Bisakah Saya melakukan beberapa permintaan?"
"Ya Ibu Khansa, Saya mendengarkan."
"Dokter, suami Saya tidak mengetahui kondisi kehamilan Saya. Saya tidak ingin menambah bebannya. Akhir-akhir ini dia banyak pikiran. Saya takut dia stres. Bisakah dokter merahasiakan kondisi Saya dari suami Saya?"
"Ibu Khansa, semua kondisi Anda harus diketahui oleh pasangan Anda. Jadi bila ada apa-apa, suami Anda akan siaga..."
"Tolong Bu Dokter, tolong rahasiakan hal ini pada dia. Saya tidak ingin melihatnya stres bila tahu kondisi Saya. Sekarang kondisi Saya sudah baik-baik saja. Tidak ada cairan ketuban yang keluar..."
Tok... Tok... Tok...
"Khansa? Kamu didalam? Kenapa pintunya dikunci?" Aku mendengar suara Alex dari luar. Aku menjadi semakin gugup.
"Tolong ya Bu Dokter, tolong... Mungkin sebentar lagi Saya akan ke tempat Bu Dokter. Tolong ya Bu... Sebelumnya terima kasih Bu Dokter..."
"Khansa! Apa yang Kamu lakukan di dalam?! Buka pintunya!" Suara Alex sudah terdengar meninggi. Aku cepat-cepat menutup panggilan itu dan membuka pintu kamar mandi.
"Ah, hampir saja Aku mendobrak pintunya. Kenapa Kamu di kamar mandi lama sekali? Kamu membuatku takut..." Alex memeluk tubuhku. Membelai-belai rambutku. Mungkin dulu Aku akan percaya bahwa pria ini benar-benar mengkhawatirkanku, tapi sekarang tidak lagi.
"Kata Winda hari ini ada jadwal periksa ya? Kenapa tidak langsung memberitahuku? Sampai kapan Kamu akan mendiamkanku seperti ini Khansa?"
Mungkin selamanya. Kamu bisa berkomunikasi dengan Winda, tapi tidak denganku. Apa salahnya kalau sekarang Aku juga melakukan hal yang sama? Menjadikan Winda sebagai perantara komunikasi Kita.
"Apa yang harus Aku lakukan untuk membuatmu memaafkanku? Jawab Aku Khansa." Aku tetap terdiam. Aku melepaskan diri dari pelukan Alex. Kemudian berjalan ke ruang ganti. Aku mengganti bajuku, bersiap-siap untuk pergi melakukan pemeriksaan. Aku tidak punya pilihan lain, selain pergi dengan pria itu.
***
Di sepanjang perjalanan, Alex tetap berusaha untuk membuatku bicara. Dia memelukku, menciumiku, dan mengelus-ngelus perutku. Sungguh andaikan bisa, Aku ingin mendorongnya dengan kasar. Setiap kali memiliki pemikiran seperti itu, Aku selalu teringat bayiku. Aku tidak boleh terlalu emosional dan stress agar tidak mempengaruhi bayiku.
Akhirnya Kami tiba di tempat praktik dokter Afifah. Aku berharap dokter Afifah mau mengabulkan permintaanku untuk tidak menceritakan kondisiku yang sebenarnya pada Alex.
Dokter Afifah mengamati kondisi kantung janinku dengan cermat. Memeriksa setiap bagiannya dengan teliti. Senyum cerah tersungging di bibirnya.
"Kondisinya bagus. Jumlah air ketuban bagus. Berat janin dan posisi tubuh janin juga bagus. Sepertinya Anda akan melahirkan sesuai dengan HPL, Ibu Khansa."
"Beneran Dok?"
"Ya. Tetap jaga kondisi Anda sekarang. Jangan stres atau terlalu banyak pikiran. Tetap jaga pola pikir dan pola makan. Dukungan dari pasangan juga sangat dibutuhkan." Dokter Afifah melirik Alex yang berada di sampingku. Pria itu bersikap sok perhatian, dengan selalu memegang tanganku. Menciumi punggung tanganku berkali-kali dan membelai-belai rambutku.
"Dan untuk menghindari kejadian itu terulang lagi, Saya sarankan untuk sementara waktu hindari dulu melakukan hubungan suami istri."
Kata-kata terakhir dokter Afifah bagaikan angin surga bagiku. Ingin rasanya Aku melompat-lompat kegirangan. Setidaknya untuk beberapa bulan kedepan Aku akan terbebas dari sentuhannya. Hore!!
[Kapok Kamu dus-kerdus!]
***
Happy Reading 😑
NB : Up hanya 1, jadi jangan ditungguin lagi ya 🥴 Saya mau lanjooot berlibur lagi 💃