
Alex menatapku lekat-lekat. Dia ingin menjawab perkataanku, namun sejurus kemudian ponselnya berdering.
"Ya Winda. Kamu sudah di bandara? Kamu pergi ke rumah dulu. Ambil barang-barangku. Nanti pergi ke alamat yang kukirim." Dan pembicaraan pun di tutup.
"Ayo pulang."
"Ta-tapi..."
"Aku akan menjawabnya nanti. Sekarang pulang dulu. Atau ada makanan yang ingin Kamu makan?"
Aku menggelengkan kepala. Akhirnya dengan patuh Aku mengikuti Alex ke mobil. Aku tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Alex bahwa dia tidak perlu menikahiku. Bila Alex datang dengan status masih single, mungkin Aku akan senang menerima ajakannya.
Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Dia sudah memiliki istri dan calon anak. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan wanita lain hanya untuk membuat diriku dan calon anakku bahagia.
Alex bertanya tentang tempat tinggalku. Aku memberinya arahan. Sebenarnya Aku sedikit menyesal memberitahu alamat kostku. Tapi dibanding harus berduaan dengan Alex di hotel, Aku lebih memilih tinggal di kosanku.
Tiba-tiba Aku ingat motorku yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
"Bagaimana dengan motorku? Aku harus mengambilnya..."
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengamankannya. Untuk apa bingung? Kedepannya Kamu juga tidak akan membutuhkannya."
"Maksudnya?"
Alex tidak menjawab pertanyaanku. Dia tetap mengemudi hingga Kami tiba di kosan.
"Jadi ini persembunyianmu selama ini?" Alex menatap keseluruhan bangunan itu. "Sepertinya tempatnya aman. Hem, gadis pintar." Alex tiba-tiba mengelus rambutku. Membuatku tanpa sadar kembali menepis tangannya.
"Jangan sentuh Aku." Aku tidak melihat ekspresi Alex. Aku turun dari mobil dan Alex menyusulku.
"Mau kemana?"
"Ikut masuk."
"Untuk apa?"
"Kenapa bertanya lagi? Aku mau tidur." Ya ampun, Aku gemes sekali dengan pria ini.
Di pintu gerbang, Alex dicegat oleh security yang bertugas.
"Maaf Pak, laki-laki tidak boleh masuk."
"Aku suaminya." Alex menggunakan nada dingin. Membuat security itu tampak segan.
"Dia bukan suamiku Pak. Jangan biarkan dia masuk." Aku masuk ke dalam gerbang dan menatap Alex penuh kepuasaan. Entah mengapa Aku senang karena merasa menang darinya.
Hari ini Aku terbebas dari Alex. Entah bagaimana untuk hari esok? Aku tidak bisa memikirkannya lagi.
Alex sudah tahu tempat tinggalku. Sudah tahu Aku mengandung anaknya. Pria itu pasti tidak akan melepaskanku begitu saja. Aku harus memberi pengertian padanya. Bahwa untuk melihat anaknya dia tidak perlu sampai menikahiku. Aku juga tidak akan melarang dia untuk bertemu dengan anaknya kelak.
Aku membuka pintu kamarku dan merebahkan diri. Hari ini benar-benar hari yang berat dan melelahkan.
Baru tiga menit Aku berbaring, pintuku sudah diketuk dari luar. Siapa yang datang?
Tanpa bertanya, Aku berjalan ke pintu dan membukanya. Aku kembali menatap wajah pria menyebalkan itu.
"Ke-kenapa bisa masuk?"
"Karena *ini* sayang." Alex membuat gerakan tangan, yang menunjukan kalau semua itu karena uang.
Tanpa ijin dariku, Alex masuk ke kamar dan berbaring di ranjangku. Dia seolah-olah menganggap kamarku seperti kamarnya sendiri.
"Hah, lelah sekali." Dia berbaring dengan nyaman. Membuatku gugup sekaligus jengah.
"Ka-kalau begitu, Aku yang akan keluar..." Aku berbalik dan berjalan ke arah pintu. Namun gerakan Alex lebih cepat. Dengan sekejap mata dia sudah berada di pintu. Mengunci pintu kamarku dan memasukkan kuncinya di dalam saku celananya. Aku hanya bisa ternganga melihat gerakan cepatnya.
"Jangan kemana-mana. Tetap di sini, oke." Senyum liciknya kembali kulihat. Dia kembali ke ranjang dan tidur-tiduran di sana.
"Sini." Ucapnya sembari melambai-lambaikan tangannya. Dia menepuk-nepuk ranjang di sisinya. Menyuruhku untuk mendekat padanya.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Alex terkekeh melihat tubuh kikukku.
"Kenapa? Apa Kamu takut Aku tidak bisa menahan diri lagi? Hehe. Tenang saja. Aku tidak akan menyerangmu sebelum Kamu menjadi milikku lagi."
"Sebenarnya apa sih maumu?!"
"Menikahimu."
"Tapi Aku tidak mau!"
"Kenapa? Karena Kamu tidak mencintaiku? Tapi Aku menginginkan anak itu."
"Tapi Kamu tidak perlu menikahiku. Aku akan mengijinkanmu untuk melihatnya..."
"Aku ingin mendampingi tumbuh kembangnya. Bukan hanya melihatnya sesekali." Alex duduk dan menatapku lekat-lekat. "Ingat Khansa, Aku bisa mengambil anak itu darimu. Kamu tahu pengaruhku. Aku bisa memenangkan perkara ini di pengadilan."
DEG
Mendengar perkataan Alex membuat tubuhku gemetar. Alex benar-benar serius dengan ucapannya. Aku tahu dia pasti akan menang. Keluarganya sangat terpandang di kotaku. Mereka pasti punya koneksi untuk memenangkan perkara seperti ini.
Ha-haruskah Aku menerima permintaannya dan menjadi istri kedua? Apakah Aku benar-benar akan menjadi orang ketiga? Bagaimana bila Diana mengetahuinya? Diana pasti akan...
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan di pintu kamarku. Kemudian ponsel Alex berbunyi.
Terlihat seorang wanita muda yang Aku pikir seumuran denganku. Wanita itu memakai baju formal. Atasan blazer dan celana kain berwarna hitam. Dia menyanggul rambutnya. Tampak kacamata bertengger di atas hidungnya.
Secara keseluruhan wanita itu tampak formal dan serius. Sebenarnya dia cukup cantik bila rambutnya di gerai dan kacamatanya dilepas.
"Kamu sudah datang. Dimana barang-barangku?"
"Ini Pak." Sebuah koper berukuran sedang masuk ke kamarku.
"Tidak ada barangku yang tertinggal?"
"Saya sudah bertanya pada Bu Diana, kata beliau semua barang Bapak sudah dimasukan ke dalam koper ini."
"Bagus. Ayo masuk." Wanita muda itu masuk.
"Winda, ini Khansa. Kalian berkenalanlah. Aku mau mandi dulu."
Bagaikan rumah sendiri, Alex membongkar kopernya. Mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkanku dan wanita bernama Winda ini berdua.
Winda bergerak ke arahku. Dia mengulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu Aku membalasnya.
"Perkenalkan Bu, nama Saya Winda. Saya sekretaris Pak Yohan." Ucapnya dengan nada santun.
"Saya Khansa..." Aku siapanya Alex? Selingkuhannya? Entahlah, Aku tidak bisa menjawab statusku sendiri.
Kami berdiri dalam keheningan. Aku bingung harus mengatakan apa.
"Silakan duduk." Aku menunjuk sofa kecil di ruanganku.
"Terima kasih." Winda duduk di sofa dengan sikap tegap. Sepertinya dia orang yang sangat kaku.
Aku tidak tahu tujuan Alex membawa wanita itu kesini. Aku pergi ke dapur dan membuat teh untuknya.
Dari dalam kamar mandi Aku masih mendengar pancuran air. Pertanda si pria menyebalkan itu masih mandi.
Aku menyuguhkan teh dan beberapa toples camilan pada Winda.
"Tidak perlu repot-repot Bu."
"Tidak merepotkan kok." Kemudian Kami kembali sama-sama terdiam. Aku benar-benar tidak tahu harus memulai darimana.
CEKLEK
Pintu kamar mandi terbuka. Alex keluar dengan berpakain rapi. Dia memakai kemeja berwarna putih dan celana berwarna beige. Tetesan air masih tampak di rambutnya yang basah.
Aku menelan ludah. Aku cepat-cepat memalingkan wajahku begitu menyadari hatiku yang kembali berdebar-debar untuknya.
Dasar wanita lemah! Kamu sudah berniat melupakannya! Ingat, dia suami orang! Kamu tidak berhak mencintainya, apalagi memilikinya!
"Kalian sudah saling berkenalan?"
"Sudah Pak." Winda langsung berdiri dan memasang sikap tegap. Seperti seorang prajurit yang siap menerima sebuah perintah.
"Hem, baguslah. Winda, mana tiketku?"
Winda mengambil sesuatu dari dalam tas dan menyerahkannya pada Alex.
"Ini Pak." Winda menyerahkan berlembar-lembar tiket.
"Kamu sudah memastikan jumlah tiketnya tepat?"
"Iya Pak. Saya memesan untuk 4 orang."
"Bagus."
Alex memasukan tiket itu ke dalam tas kecilnya. Kemudian dia berjalan ke arahku.
"Andaikan tidak sedang hamil besar, Aku pasti akan membawamu. Baik-baik dengan Winda. Jangan coba-coba untuk kabur. Winda punya taekwondo sabuk hitam lho." Alex membelai kepalaku. Aku otomatis menjauhkan tubuhku. Namun gerakanku kalah cepat dengan gerakan Alex. Dia menarik tanganku dan...
Cup...
Kecupan hangat mendarat di keningku. Membuat keningku memanas. Tanpa Aku sadari, Alex juga memelukku dan mengusap-ngusap rambutku.
"Tunggu Aku." Katanya sembari mengelus perutku dan menjauh. Kemudian tubuhnya berbalik dan menghadap Winda yang tampak membelakangi Kami.
Sepertinya Winda sangat tahu diri. Dia tidak mau menatap kemesraan yang ditunjukan oleh bosnya?
"Winda, titip dia. Jaga dia baik-baik sampai Aku pulang. Jangan biarkan dia kabur. Mengerti?"
"Mengerti Bapak." Winda menundukan tubuhnya dengan sikap hormat.
"Jangan nakal." Alex kembali mengkusuk-kusuk rambutku sebelum menghilang di balik pintu. Aku menatapnya dengan terpana.
***
Happy Reading 😎
Numpang Promo Igeh ya 😁
Di igeh sudah ada klarifikasi Alex, curhatan dan tangisan Khansa dan juga video ena-ena mereka (eh salah ketik)
Cuzz Pollow ya geesss 😂😆