
Aku hanya mengiyakan apa yang diperintahkan Alex. Hanya dengan menurutinya, akan membuat kemarahannya mereda.
Aku menatap Sizil dari kaca spion. Pandangan Kami bertemu dan saling melempar kode-kode melalui mata. Seolah-olah menyatakan pesan "turuti saja perkataan pria ini jika ingin selamat."
Alex hampir menghabiskan hand sanitizer satu botol. Dia membasuh keseluruhan lengan dan tanganku dengan cairan itu.
"Selesai. Tidak ada lagi jejak si br*ngsek itu." Alex mengecupi tanganku.
"Ingat kata-kataku. Jangan berhubungan dengan pria itu lagi. Mengerti Khansa?"
"Iya Mas." Iya, iya, mengerti Mas. Nggak usah di ulang-ulang juga ngomongnya.
"Katanya Kamu kangen Sizil, itu sudah kubawa orangnya. Kalian bisa kangen-kangenan." Mana bisa kangen-kangenan kalau ada Kamu yang mengawasi Kami dengan ketat seperti ini?
"Mas..."
"Ya sayang?"
"Aku ingin jalan-jalan berdua dengan Sizil, bolehkah?"
"Boleh. Tapi aku ikut." Yah, bukan jalan-jalan berdua namanya kalau Kamu juga ikut Mas.
"Kalian mau kemana?"
"Zil, enaknya kemana?"
"Aku... Aku terserah Ibu saja..." Sizil rupanya masih belum bisa beradaptasi dengan keberadaan Alex. Tampak dari sikapnya yang masih canggung dan ketakutan.
"Mas, Sizil akan canggung tuh kalau Kamu ikut. Please, nggak usah ikut ya..." Aku berbisik pada Alex. Menggunakan suara sok manja untuk merayunya. Dan terbukti, wajah serius Alex langsung melembut. Sepertinya Aku mulai tahu kelemahan pria ini.
"Kalian berjalan-jalanlah. Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi Aku tetap akan mengawasi kalian dari jauh, mengerti?"
"Iya..." Huft, memang tidak mudah untuk merayunya.
Alex memutuskan untuk menginap di Surabaya selama satu malam. Setelah menyuruh Winda untuk memesankan Kami kamar hotel, dia mulai mengikuti kemanapun Kami pergi.
Aku dan Sizil memutuskan untuk pergi ke Mall. Aku berjalan beriringan dengan Sizil, sementara Alex mengekori kemanapun Kami melangkah. Seperti janjinya, Alex membuat cukup jarak bagi Kami. Dia berada lima belas meter di belakang Kami.
Sizil menggandeng tanganku. Dari wajahnya, Aku bisa melihat banyak hal yang ingin disampaikan anak itu.
"Gila!! Gila!! Gila!! Ibu beneran nikah sama si killer itu?! Gila Bu!! Kok bisa?!" Sizil melirik ke belakang, memastikan Alex tidak mendengar kata-katanya.
"Dan... Dan Ibu sudah hamil!! Berapa lama Kita tidak bertemu? Kenapa Ibu sudah hamil sebesar ini?! Aku benar-benar nggak nyangka!!" Sizil menatap perutku dengan tak percaya.
"Sudah, jangan berisik. Cepat ambil baju yang Kamu mau." Kami sedang berada di store pakaian. Sebenarnya Kami tidak berniat untuk membeli pakaian. Kami hanya mencari-cari tempat untuk berbicara tanpa terdengar Alex.
"Ibu kenal dia dimana?! Bukankah waktu meeting dengan GH Ibu tidak ikut? Kenapa tiba-tiba Ibu sudah menjadi istrinya? Ini benar-benar gila Bu! Ceritakan semuanya padaku!"
"Panjang ceritanya. Nggak usah diceritakan. Intinya memang sudah seperti ini keadaannya."
"Ihhh, Ibu diam-diam menghanyutkan ya. Pantas saja Ibu menolak Pak Andre, ternyata Ibu sudah mengincar yang jabatannya jauh, jauh lebih tinggi dari dia. Aku jadi makin kasihan sama Pak Andre..."
"Gimana kabar dia Zil? Aku masih merasa bersalah..."
"Emang Ibu harus merasa bersalah dong. Dia pria baik-baik lho Bu. Ibu ninggalin dia begitu saja. Sudah gitu langsung nikah sama pejabat kantor pusat lagi. Bisa bayangin sakitnya dia kayak apa? Dan tadi... Adegan apa itu? Barang apa itu yang diberikan Pak Killer ke Pak Andre?"
"Cincin."
"Cincin apa?"
"Cincin lamaran Zil. Dulu Andre melamarku, tapi Aku tolak. Waktu hari terakhir di kantor, dia kembali memberikan cincin itu padaku. Aku lupa mengembalikannya. Entah bagaimana ceritanya, Alex menemukan cincin itu dan terjadilah drama tadi..."
"Ya ampun Bu!! Ibu benar-benar ceroboh ya. Sudah tahu punya suami killer kayak gitu, naruh barang dari mantan sembarangan. Itu Pak Killer nggak ngebunuh Pak Andre saja sudah untung Bu!" Sizil menoleh ke belakang, memperhatikan Alex dengan seksama. Secercah tawa usil menghampiri mulutnya.
"Tapi Bu, lihat deh. Pak Killer lucu juga. Badan gede, tampang galak, tapi... Hihihi, dia nenteng tasnya Ibu, ya ampun. Ngakak nih, hihihi..." Sizil tidak berhenti tertawa. Aku mencubit lengannya.
"Jangan kenceng-kenceng ketawanya Zil. Di mutasi ke Pap*a baru tahu rasa Kamu."
"Hih, mentang-mentang istri GH. Ancamannya main mutasi aja, huh... Eh, tapi serem juga Bu. Tadi Pak Killer juga ngancam mau mutasi Pak Andre ke Pap*a kan? Duh, sebaiknya Ibu jangan macem-macem deh. Jangan berhubungan lagi dengan Pak Andre. Nasib Pak Andre ada di tangan Pak Killer Bu. Sebaiknya Ibu nurut aja deh sama dia." Sizil kembali melirik Alex. Senyum usilnya kembali mengembang.
"Bu..."
"Pak Yohan kan galak ya. Di ranjang dia galak juga nggak Bu? Hihihi..."
"Hisshh, anak ini."
"Auuww Bu, sakit..." Aku menjewer telinga Sizil.
"Zil..."
"Ya Bu?"
"Kalau Kamu di mutasi ke kantor pusat, Kamu mau nggak?"
"Mau sih. Asalkan orang itu juga di mutasi di tempat yang sama."
"Orang itu?"
"Bu, Aku tanya serius deh."
"Tanya apa?"
"Ibu ada perasaan nggak sih sama Pak Andre?"
"Pertanyaan yang sama. Kamu sudah tahu jawabannya Zil. Aku tidak mungkin menolak lamarannya kalau ada perasaan sama dia Zil. Kenapa? Kamu suka Andre?"
"Ehem... Kalau Aku jawab iya, Ibu keberatan nggak?" Wajah Sizil tampak memerah.
"Serius Zil? Kamu suka sama Andre?"
"Iy-ya Bu. Pak Andre baik banget sih Bu. Dia sempurna. Boleh nggak Aku deketin dia Bu?"
"Kok Kamu malah ijin sama Aku sih Zil? Aku kan bukan siapa-siapanya dia. Ya ampun, Aku bakal seneng banget kalau kalian berjodoh." Aku memeluk Sizil. Tidak menyangka wanita yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri ini menyukai mantan pacarku yang baik hati.
"Tapi susah banget deketin dia Bu. Pak Andre belum mau membuka hatinya untuk siapapun. Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Sepertinya dia masih menunggu Ibu..." Sizil menghela napas berat. Aku kembali memeluknya.
"Dia pasti akan membuka hatinya Zil. Apalagi setelah kejadian hari ini. Kamu tetap dekatin dia saja. Jangan pantang menyerah. Kalian berdua orang-orang baik. Semoga kalian bisa berjodoh. Aku mendukungmu Zil..."
"Uhhh Ibu so sweet banget sih. Makasih banyak loh Bu, hihihi..."
"Jadi Kamu beneran nggak mau dipindah ke kantor pusat nih?"
"Sudah dibilang mau kok, asalkan Pak Andre juga ikut Bu."
"Kalau itu, dia nggak mungkin setuju Zil." Aku melirik Alex.
"Bilangin ke Pak Yohan Bu, kalau dia mau mindahin Pak Andre ke Pap*a, Aku juga mau ikut. Tenang saja, Pak Andre nggak bakal ganggu lagi. Ada Aku yang menjaganya."
"Anak kecil, sok dewasa banget." Aku mencubit hidung Sizil dengan gemas.
Rasanya menyenangkan sekali bertemu dengan wanita itu. Seolah-olah hatiku seperti mendapat angin segar. Mengingatkanku pada masa-masa ketika lajang, dimana Kami bisa melakukan hal apapun sesuka hati. Tidak seperti sekarang, yang melakukan hal sekecil apapun harus ijin dulu pada si Tuan Maha Benar.
"Sudah belanjanya?" Aku melihat Alex berjalan ke arah Kami. Dia mengambil baju di tangan Kami. "Hanya ini saja?"
"Aku sih sudah. Sizil, ada lagi yang mau dibeli?" Sizil menggelengkan kepalanya. Ekspresi cerianya sudah hilang, berganti dengan ekspresi tegang.
"Ya sudah, ayo ke kasir. Setelah ini Kita cari makan." Alex menggandeng tanganku dan membawaku ke kasir. Setelah melakukan pembayaran ini-itu, dia membawa Kami ke food court.
Alex menggandeng tanganku. Sesekali dia mengecupi punggung tanganku. Bila dia sudah seperti itu, terbersit tanya di hatiku.
"Alex, apa Kamu menyayangiku? Atau sekedar obsesi padaku?"
***
Happy Reading 😊
[Mungkin seperti ini ekspresi Alex ketika menemui Andre 😂]