
Aku menghapus airmataku dan segera mengangkat panggilan video itu. Kulihat wajah pria yang kucintai memenuhi layar ponsel.
"Sudah tidur?"
"Belum."
"Kenapa matamu sembab gitu? Habis nangis?"
"Ng-nggak. Mau nangisin apa juga."
"Aku."
"Hah?"
"Kamu merindukanku kan? Makanya nangis?"
"Ishhh, nggak banget." Alex tampak tertawa. Aku suka melihatnya tertawa seperti itu. Memang Aku lemah terhadap pria ini. Aku tidak bisa berlama-lama marah padanya. Dia selalu bisa membuatku luluh. Ya, Aku selemah itu di depan Alex.
"Setelah ini mau ngapain?"
"Tidur..."
"Al, dicariin Mama tuh." Kudengar suara Diana memanggil.
"Ya. Aku kesana." Jawab Alex sembari menoleh pada Diana. Kemudian dia kembali menoleh padaku. "Sayang, Aku matikan dulu ya. Tidur yang nyenyak." Aku belum sempat menjawab, Alex sudah mematikan panggilan.
Hatiku kembali sakit. Kapan Aku dikenalkan pada keluarga Alex? Apa selamanya Aku dan anakku disembunyikan seperti ini? Apa anakku tidak akan pernah merasakan kasih sayang kakek dan nenek dari keluarga Alex?
"Hehe, nggak apa-apa Dek. Kamu masih punya Mama, Akung dan Uti. Masih ada Om Fian juga. Kamu tidak akan kekurangan kasih sayang. Papa juga sepertinya menyayangimu Dek, jadi nggak apa-apa ya..." Aku mengelus perutku. Seperti bisa memahami perkataanku, Aku merasakan gerakan bayiku. Aku berbincang-bincang cukup lama dengan bayiku, sebelum akhirnya Aku ketiduran.
***
Aku terbangun ketika mendengar suara ketukan di kamarku. Aku mengambil ponsel, untuk melihat waktu. Jam masih menunjukkan pukul 11 malam, siapa yang mengetuk pintuku tengah malam seperti ini?
Tok... Tok... Tok... Suara ketukan yang tak henti-hentinya.
"Iya sebentar." Aku berjalan ke arah pintu. "Siapa?" tanyaku. Namun tidak ada jawaban selain ketukan. Akhirnya pelan-pelan Aku membukanya.
"Sayang..." Alex tiba-tiba memelukku dan menggendongku. Dia menutup pintu dengan kakinya.
"Lho? Kok ada di sini Mas?"
"Iya, Aku kangen. Cium Aku." Alex membaringkanku di ranjang dan menciumi wajahku.
"La-lalu Diana gimana Mas?"
"Memangnya dia kenapa?"
"Apa tidak apa-apa Mas kemari?"
"Tidak apa-apa. Diana sudah tidur. Ada Mama yang menjaganya. Aku ingin tidur dengan istriku. Sini peluk Aku."
Ahh, Aku benar-benar menjadi pelakor. Harusnya Alex menemani Diana, tapi gara-gara Aku dia malah menemaniku. Terkadang terbersit dipikiranku, membayangkan Alex melakukan hal itu dengan Diana membuat hatiku sakit. Tak terkecuali malam ini. Tanpa sadar Aku mengendus-ngendus aroma tubuh Alex. Entah mengapa Aku merasa sangat lega dan bahagia ketika Aku tidak mencium bau parfum Diana di tubuhnya. Ya ampun, Aku benar-benar menjadi wanita egois!
Aku menyurukan kepalaku di dada Alex dan membalas pelukannya. Kami hanya saling berpelukan. Perasaan ini lebih menyenangkan dibanding ketika Kami baku hantam (eh maksudnya melakukan hubungan suami istri 😌).
Aku merasa sangat disayang. Alex membelai-belai rambutku sembari mengecupi keningku.
"Aku cuti tiga hari. Besok mau pergi kemana? Jadi lihat sawah?"
"Iya. Tapi naik motor ya Mas..."
"Kenapa tidak naik mobil saja? Kalau naik motor, nanti Kamu kepanasan."
"Aku pengen naik motor..." Agar Aku bisa memelukmu. Hal yang dulu tidak bisa kulakukan.
"Apa ini termasuk ngidam?"
"Anggap saja seperti itu."
"Baiklah Nyonya Besar, apapun permintaanmu akan Aku turuti." Kalau Aku memintamu untuk menikahiku secara sah, apa Kamu juga akan menurutinya? Kalau Aku memintamu untuk mengenalkan Aku pada keluargamu, apa Kamu juga akan menurutinya Mas?
"Ng-nggak. Nggak ada..."
"Setelah ke sawah, ada tempat lain yang ingin Kamu kunjungi? Sekolah Kita misalnya?"
"Nggak. Besok Aku pikirkan tempat yang lainnya."
"Baiklah. Terserah Kamu saja sayang."
"Mas..."
"Hem?"
"Kalau Kamu menemaniku, bagaimana dengan Diana Mas?"
"Sudah Aku katakan, sudah ada Mama yang menjaganya. Besok dia dan Mama pergi ke LN, jadi Kita pulang ke Jakarta berdua."
"Ke LN?"
"Iya, sekarang ayo tidur. Sini mendekat padaku." Aku menempelkan tubuhku. Alex memelukku dari belakang. Dia mengusap-ngusap perutku dengan lembut. Hal itu sangat menenangkan. Aku mulai mengantuk.
Namun tiba-tiba saja usapan itu mulai menjalar kemana-mana. Tangan Alex memijat-mijat d*daku dan mem*lin puncaknya.
"Mas!!"
"Hem?" Alex menelusupkan kepalanya dan menciumi tengkukku. Ciuman itu kemudian merambat ke leher dan rahangku. Ciuman-ciuman kecil yang kemudian berubah menjadi j*latan-j*latan rakus.
"Maaassss..." Bulu kudukku mulai meremang. Tubuhku mulai melayang. Aku mulai hanyut.
Bibir Alex menciumi, menj*lat dan mengecupi leherku, sementara tangannya mer*mas-r*mas d*daku.
Tangan Alex menelusup masuk ke dalam bajuku, dan menyentuh setiap bagian sensitifku. Aku mendesah. Desahanku membuat Alex semakin bersemangat. Dia mel*m*t bibirku dengan rakus. L*dahnya mengekplorasi kehangatan mulutku. L*dah Kami saling menari-nari. Menyesap, meny*dot, mengh*sap dan saling mem*lin.
Bibir Alex meninggalkanku. Berpindah pada kehangatan d*daku. Dia menc*mbunya dengan rakus. Meninggalkan jejak kepemilikan.
Aku hanya bisa mendesah dan menjambaki rambut Alex. Menekan kepala pria itu agar menyentuhku dengan lebih dalam. Tangan Alex meraba tubuhku dan berhenti di bagian sensit*fku. Tangannya bermain-main di sana, membuatku menggelinjang, mengejang dan menggelepar. Suara desahanku memenuhi keheningan kamar itu. Aku mencapai puncak berkali-kali.
Alex menarik tangannya dan menj*lati lend*r di tangannya. Karena terpengaruh nafsu, sikapnya yang seperti itu membuatku semakin bergair*ah. Aku berinisiatif langsung mel*m*t bibir Alex.
Perang antar l*dah pun di mulai. Tangan Alex tak henti-hentinya menyentuh bagian sensit*fku. Membuatku kembali basah. Nafsu membuatku menjadi orang berbeda. Tanpa punya rasa malu, Aku menyentuh bagian sensit*f Alex yang sudah men*gang dengan hebat dan mulai meng*rutnya, terkadang cepat, terkadang lambat. Perlakuanku yang seperti itu membuat ciuman Alex semakin dalam. Deru napas Kami saling bersaut-sautan. Geraman dan desahan bercampur menjadi satu.
"Aku sudah tidak tahan lagi sayang..." Suara Alex terdengar parau. Dia memposisikan tubuh Kami. Dia membuatku terbaring dengan posisi miring, sementara dia berada di belakangku. Dengan satu kali gerakan, dia menyatukan tubuh Kami.
Suara des*han, dengusan dan leng*han lega meluncur dari bibir Kami. Alex kembali menyergap bibirku, sementara tubuh bagian bawahnya mulai bergerak secara berirama.
Aku mulai meracau. Pikiranku mulai berkelana. Seolah-olah nyawa ini sudah terlepas dari raganya. Aku hanyut dan semakin hanyut. Mengikuti derasnya arus gairah yang menuntunku.
Beberapa kali tubuhku mengejang, namun tubuh Alex tidak berhenti memberi kenikm*atan. Dia terus menerus bergerak secara berirama, membuatku semakin terlena hingga akhirnya gerakan itu menjadi semakin cepat, cepat dan cepat...
"Maaaassssssss!!"
"Khansaaaaahh!!"
Kami mengalami pelepasan bersama. Tubuh Kami mengejang dan bergetar dengan bibir saling bertautan. Alex menumpahkan semua cair*nnya dan memelukku dengan erat.
Kami berpelukan sembari mengatur napas Kami yang tersengal-sengal. Alex mengecupi wajahku.
"Terima kasih sayang..."
"Huum..." Aku memeluk Alex dan menyurukkan kepalaku di dadanya.
"Tidur ya."
"Iya..." Alex menarik selimut dan membungkus tubuh t*lanj*ng Kami berdua. Kami tertidur dalam keadaan puas.
***
Happy Reading 😝😂
NB : Ada yang tanya, mau dibawa kemana alur cerita ini? Alur ceritanya terlalu bertele-tele, mulai jenuh dan membosankan. Jawabannya : Dinikmatin saja 😚 nanti juga ada masanya semuanya terungkap. Sekarang masih episode slow2, jadi mohon bersabar ya semuanyaahh.. Ciuuum duyuu 😚🤗