
Selama beberapa hari berikutnya, Aku cukup sering memperhatikannya. Tidak benar-benar berniat sih, tapi entah mengapa terkadang mata ini mencari keberadaannya.
Semakin diperhatikan, dia terlihat semakin manis. Sosoknya sangat canggung, pemalu, pendiam dan penyendiri? Tidak, dia bukan penyendiri. Dia sudah mencoba berbaur, namun tidak ada yang menghiraukannya. Kali ini pun demikian.
Aku melihat Khansa kebingungan. Pergi dari satu kelompok ke kelompok yang lain, hanya untuk membuatnya diterima dalam bagian kelompok itu.
Melihatnya seperti itu membuatku kesal dan marah. Kesal, kenapa dia menjadi sosok yang begitu menyedihkan seperti itu? Aku marah pada teman-teman yang mengacuhkannya.
Aku tidak tahan melihatnya seperti itu. Tanpa Aku sadari tubuhku bergerak lebih dulu dibanding otakku. Aku menghampirinya.
"Khansa, kenapa Kamu sendiri? Mana kelompokmu?"
"Se-semuanya sudah pas. Aku sendiri..." Khansa menjawab dengan tergugup. Sosoknya yang seperti ini akan membuat orang lebih mudah untuk membullynya.
"Kamu ikut kelompokku saja. Kita di meja sana."
"Tapi... Tapi kelompokmu sudah 5 orang..."
"Iya, tidak apa-apa. Guru juga tidak akan keberatan."
"Bolehkah?"
"Tentu boleh. Aku yang mengajakmu." Aku berjalan ke kelompokku, sementara Khansa mengikutiku dari belakang. Aku bisa melihat tatapan tidak suka anggota kelompokku. Aku menatap mereka dengan tajam, membuat mereka tunduk dengan keinginanku.
Aku melihat kelompokku belum menerima Khansa sepenuhnya. Itu terlihat dari sikap mereka yang tidak melibatkan Khansa dalam praktikum itu. Lagi-lagi gadis itu terlihat canggung. Benar-benar sosok menyedihkan yang membuat orang ingin melindunginya. Aku salah satunya.
***
"Ay, nggak bawa mobil lagi?" Diana datang ke kelasku dengan tampang cemberut.
"Mana pernah Aku bawa mobil yank."
"Kan Aku udah bilang tadi malam, nyuruh Kamu bawa mobil hari ini. Kamu sengaja ya Ay? Kamu nggak pengen pulang sama Aku kan, makanya Kamu bawa motor terus. Kamu tahu Aku nggak suka naik motor. Kamu sayang nggak sih sama Aku?"
"Sayang lah. Kalau nggak sayang, nggak mungkin Kita masih pacaran sampai sekarang kan?" Obat wanita ketika merajuk adalah melambungkan hatinya. Itu teori yang kudapatkan dari berbagai sumber.
"Tapi Kamu kok bawa motor Ay? Kalau Kamu sayang sama Aku, Kamu nggak akan kayak gini..." Diana tetap merajuk. Dia memonyongkan bibir seksinya. Benar kata orang, dia memang gadis paling cantik di sekolah ini.
"Memangnya kenapa sih dengan naik motor? Lebih enak kan? Nggak kena macet. Lebih romantis juga kan, bisa pelukan di motor..."
"Pokoknya Aku nggak suka naik motor! Titik! Jadi cowok nggak peka banget sih!" Diana menghentak-hentakan kakinya. Terkadang lucu melihatnya seperti itu.
"Terus gimana?"
"Bodo lah, bodo!!" Dia membalikkan tubuhnya sembari tetap menghentak-hentakan kakinya.
"Jadi pulang bareng nggak nih?"
"Ogah!!" Diana berteriak gusar dan berjalan menjauh dariku. Ngambek dia, hehe. Bodo amatlah. Paling juga dia ngambek beberapa hari. Aku hanya perlu mengacuhkannya, kemudian dia akan kembali datang padaku. Biasanya sih seperti itu.
***
Hari bebas lagi. Hari tanpa menemani Diana shopping, ke salon atau sekedar hang out dengannya.
Hari ini Aku akan ke rumah Dino. Mencoba game keluaran terbaru dan juga mengintip koleksi filmnya. Dino juragan film es*k-es*k. Pasti seru sekali bila melihat semua koleksinya. Otak kotorku mulai berkelana. Adegan demi adegan syur mulai berkelibatan dibenakku, membuatku tak sabar ingin segera tiba di rumah anak itu.
Aku mengambil motor di parkiran dan melajukannya dengan pelan. Ketika sedang menyusuri jalan dengan santai, mataku menatap sosok yang tidak asing.
Sosok itu tampak menyedihkan. Dia sedang menuntun sepeda kayuhnya yang ternyata bannya bocor. Hatiku sakit melihatnya seperti itu. Ketika banyak gadis yang menolak naik motor karena takut kepanasan, tapi gadis yang satu ini justru mengayuh sepeda tanpa rasa malu.
Kucing, kenapa Kamu selalu terlihat menyedihkan di mataku? Kapan Aku bisa melihatmu menjadi sosok yang ceria tanpa mengundang belas kasihan orang lain? Sosokmu yang seperti ini membuatku ingin melindungimu.
Aku memacu motorku dan mendekatinya "Khan... Khansa, kenapa sepedamu? Bocor?"
"Iy-ya nih..." Aku memperhatikannya. Aku ingin memboncengnya, namun bagaimana dengan nasib sepedanya?
"Kamu bisa naik motor nggak?" tanyaku. Aku memutuskan untuk menyuruhnya membawa motorku. Aku bisa meminta Dino untuk menjemputku.
"Nggak bisa..."
"Hem... Repot juga. Gini aja deh, Kamu bonceng laki. Aku yang nyetir motor, Kamu nahan sepedamu dengan tangan kirimu. Gimana?"
"Hah? Apakah itu bisa?"
"Ta-tapi Aku tidak ingin merepotkan..."
"Tidak merepotkan. Sesama teman harus saling membantu kan?" Ya, sesama teman memang harus saling membantu. Apalagi membantu kucing menyedihkan sepertimu, Aku pasti akan mendapat banyak pahala bukan?
Kami mencoba metodeku. Khansa menyingsingkan roknya dan duduk dibelakangku. Sementara Aku tetap menahan sepedanya agar tetap seimbang.
"Berat nggak? Kalau berat, Kita bisa mencoba metode lain."
"Ng-nggak berat kok."
"Oke, Aku jalan ya." Aku mulai menyalakan mesin motor. Aku melajukan motor dengan pelan, karena khawatir tangannya tidak mampu menahan beban sepeda.
Di sepanjang jalan sesekali Aku menatap wajahnya melalui spion. Jarang, bahkan Aku tidak pernah melihat gadis seperti dia dalam hidupku. Mungkin karena Aku hidup dilingkungan yang berkecukupan, sehingga Aku tidak pernah menjumpai sosok seperti dia.
Berasal darimana? Rumahnya dimana? Seperti apa kehidupannya? Seperti apa keluarganya? Mengapa sosoknya terlihat tegar namun sekaligus menyedihkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menghantuiku. Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan gadis ini.
Aku mencoba untuk mengajaknya mengobrol dengan santai. Dia gadis yang pemalu. Obrolan itu tidak akan terjadi bila Aku tidak memulainya lebih dulu.
"Dimana rumahmu?" tanyaku.
"Ehm... Itu lurus saja, nanti ada gang di depan belok kanan..."
"Oke."
Aku melajukan kendaraan sesuai dengan intruksi darinya. Dua puluh menit kemudian, Kami tiba di depan rumah.
"Ini rumahmu?" Aku menatap rumah itu secara keseluruhan.
Rumah yang sangat sederhana. Terletak di wilayah perkampungan. Hanya bagian depan rumah itu yang bertembok, sementara bagian belakangnya berdindingkan bambu. Aku baru tahu bahwa ada rumah seperti itu. Sedikit banyak Aku sudah bisa membaca kehidupannya.
"Iy-ya..." Khansa tampak tidak nyaman dengan pertanyaanku. Mungkin dia menyangka Aku sedang menilainya?
Aku mengalihkan pembicaraan pada hal lain dan membantu Khansa memompa ban sepedanya. Beberapa menit kemudian, Aku sudah selesai melakukannya.
"Sudah beres. Besok Kamu sekolah lagi kan?"
"Iy-ya..."
"Baguslah. Kalau begitu, Aku pamit dulu ya. Salam buat ayah dan adikmu."
"Eh iya... Te-terima kasih banyak ya... Terima kasih..." Khansa membungkukan tubuhnya, seolah-olah Aku penyelamat hidupnya. Sikap yang terlalu berlebihan.
"Bukan apa-apa. Andaikan orang lain yang mengalaminya, Aku juga pasti akan melakukan hal sama. Jangan dipikirkan. Aku pulang dulu ya." Tanpa menunggu ucapan Khansa, Aku memacu motorku.
Di sepanjang jalan Aku berpikir. Tubuhnya begitu kecil, namun dia begitu tegar dan mandiri.
Dia pemalu, pendiam, polos, canggung, menyedihkan, namun dibalik itu semua dia adalah sosok yang tegar, kuat, mandiri dan tidak mengeluh dengan hidupnya. Dia adalah sosok gadis yang berbeda. Membuatku sangat penasaran.
Kucing, sepertinya Aku benar-benar tertarik untuk mengenalmu.
***
"Darimana saja Nguk? Kami menunggumu dari tadi." Dino menoyor kepalaku. Aku masuk ke kamarnya dan melihat ada sekitar lima orang teman sekelasku di sana. Suasana tampak tegang. Mereka tampak fokus pada layar TV. Aku mengintip apa yang mereka tonton. Ternyata mereka menonton blue film.
"Kampr*t! WTF!! Mesum semua otak kalian!" Aku menendangi b*kong mereka satu persatu.
"Kamu rajanya mesum Lex. Kita semua tahu, Kamu sengaja main kesini mau lihat koleksinya Dino kan? Ganteng-ganteng mesum, hahaha." Mereka tertawa serentak. Aku berbalik pada Dino dan menendang b*kongnya. Geram karena Dino membocorkan rahasiaku.
"Tapi setidaknya Aku masih ada pelampiasan. Nggak kayak kalian yang jomblo. Bisanya main tangan." Aku menjawab dengan sikap pongah dan sombong, membuat gusar semua orang.
"Bocah g*ndeng! Sempr*l!!" Dino dkk menendangi tubuhku. Ucapanku memang sangat menohok mereka. Hanya Aku yang memiliki pacar di antara semuanya, dan pacarku adalah gadis paling cantik di sekolah. Pemuda mana yang tidak akan iri melihatku?
Tapi ucapanku hanya kebohongan belaka. Aku tahu batas-batas pacaran. Meskipun rasa penasaranku untuk mencoba hal "itu" sangat besar, tapi Aku tetap tidak berniat untuk melakukannya dengan Diana. Aku merasa, Diana bukan orang yang tepat untuk membuatku bisa melakukan hal seintim itu.
***
Happy Reading 🙏 Maaf baru update 🙏