
Malam semakin larut. Satu persatu anggota reuni mulai pulang. Aku selalu menatap Khansa, memastikan wanita itu masih ada di sana. Aku lega begitu melihatnya.
Beberapa orang tampak tidak puas bila reuni itu harus diakhiri, sehingga ada yang menyarankan untuk melanjutkannya di tempat lain yaitu di tempat karaoke. Aku melirik Khansa, menimbang-nimbang apakah wanita itu akan ikut juga. Aku gambling, memutuskan untuk ikut acara itu. Kalau pun Khansa tidak ikut, Aku tinggal pergi mengejarnya.
Di luar dugaan, Khansa mengikuti acara itu. Suasana di ruang karaoke tampak lebih panas. Lampu ruang yang redup, musik hingar bingar dan kepulan asap rokok mulai memenuhi ruangan. Aku mengawasi Khansa, menunggu waktu yang tepat untuk mendekatinya.
Ketidakpercayaan diri, perasaan takut untuk ditolak membuatku semakin gugup. Aku memesan lebih banyak minuman keras. Setidaknya dengan minuman itu pikiranku akan terasa lebih ringan dan bebas. Aku akan bebas mengutarakan perasaanku tanpa adanya embel-embel rasa gugup dan takut.
Minuman keras membuat kepalaku terasa ringan. Aku mulai ketagihan. Tubuhku tidak berhenti mengkonsumsinya. Setiap kali habis, Aku selalu memesannya lagi dan lagi.
Pikiranku mulai melayang-layang. Tubuhku terasa panas. Perasaan gugup, tidak percaya diri dan takut sudah tidak ada lagi. Digantikan oleh perasaan bebas tak terkendali.
Aku tidak menyadari bila satu persatu teman-temanku telah pergi. Yang kupedulikan hanya keberadaan Khansa. Hingga pada akhirnya tinggalah Kami berdua.
Berada dalam satu ruangan dengan Khansa membuatku semakin tidak berhenti minum. Berbotol-botol telah kuhabiskan. Kepalaku menjadi semakin ringan. Kesadaranku mulai berkurang. Akal jernihku mulai hilang. Aku berniat untuk meminum botol yang selanjutnya ketika seseorang menahan tanganku.
"Cukup Al."
Aku mengenali suara itu. Suara yang kurindukan dalam malam-malamku. Aku menengadah dan melihat Khansa di depanku.
Ah, apakah Aku bermimpi? Apakah dia benar-benar Khansa? Betapa cantiknya...
"Khaaaansaaaaaa... Temaaaankuu... Khaaaansaaaa... Hehe..." Aku mulai meracau. Entah apa yang kuracaukan, kata-kataku hanya mengalir begitu saja. Aku merasa sangat bebas dan tanpa beban.
Mungkin ini hanya mimpi. Aku bisa berbuat sesuka hati. Aku beringsut mendekatinya. Dengan perasaan mendamba Aku memeluknya dan mulai meracaukan hal-hal yang tak bisa kuingat dengan jelas.
Aku merasa Khansa membalas pelukanku. Aku merasa seperti kembali ke rumah yang hangat. Pelukan Khansa adalah tempat untukku pulang. Rasa nyaman ini membuatku mengantuk. Sedikit demi sedikit, Aku mulai kehilangan kesadaran dan akhirnya pergi ke alam mimpi.
***
GREB
Tanganku menarik lengan Khansa yang berdiri membelakangiku. Ternyata ini bukan mimpi. Khansa benar-benar ada di depanku. Semua yang terjadi di ruang karaoke juga bukan mimpi. Khansa membalas pelukanku. Apa itu artinya dia tidak lagi membenciku?
"Khansa..." ucapku dengan suara parau. Berpikir hal seperti itu membuatku menggila. Pikiran dan logika tertutupi oleh perasaan liar yang datang begitu tiba-tiba. Entah mendapat keberanian darimana, Aku langsung menarik tangan itu hingga tubuh Khansa terjatuh dalam pelukanku. Aku mendekapnya dengan erat, seolah-olah takut dia akan pergi begitu saja.
"Khansa... Khansa... Khansa..." Aku memanggil namanya berulang-ulang. Perasaanku begitu meluap-luap. Perasaan rindu dan ingin memiliki menjadi satu. Aku memanggil namanya dengan lirih, memastikan bahwa dia benar-benar ada dan Aku tidak sedang bermimpi.
Aku mengecup keningnya dengan lembut, menunggu reaksinya. Tidak ada penolakan. Apakah Khansa sudah benar-benar tidak membenciku?
Aku menarik tubuhku dan menatap matanya dalam-dalam. Aku bisa melihat pantulan diriku di dalam bola matanya. Aku mencari-cari adanya penolakan, namun Aku tidak menemukannya. Aku mulai terbawa suasana. Dengan ragu Aku mendekatkan tubuhku secara perlahan, bermaksud untuk menciumnya. Aku memberi kesempatan wanita itu untuk menolakku, namun semakin dekat tubuh Kami, tidak kulihat penolakan di dalam dirinya.
Aku menatap bibir lembutnya. Bibir yang selalu kudambakan dalam mimpi-mimpiku. Perasaan ingin mencumbu dan merasakan bibir itu menuntunku untuk mendekat padanya. Aku mulai kehilangan pikiran dan logikaku. Aku hanya mengikuti naluriku sebagai laki-laki yang selama belasan tahun mendambanya.
Perlahan namun pasti Aku mengecup bibirnya. Perasaanku tercekat. Aku selalu membayangkan bisa mencium dan mencumbunya. Namun ternyata khayalan itu tidak sebanding dengan perasaan nyata. Bibir Khansa terasa sangat lembut, hangat, manis dan kenyal. Aku menjadi semakin candu.
Sudah lama Aku tidak berciuman. Aku sedikit grogi dengan kemampuanku itu. Aku hanya bisa mengandalkan naluri.
Noted : Sebanyak 400 kata yang berisi part mereka terpaksa dihilangkan karena laporan seseorang. Makasih deh buat yang laporin ya 😅 Fix, Anda tidak ada kerjaan 🤭
***
Happy Reading 🤗