
Aku benar-benar tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Khansa yang kuanggap bisa menjadi pelipur lara dan menyembuhkan rasa sakit dari rasa terkhianati ternyata juga meninggalkanku.
Baru saja Aku akan bangkit, namun kemudian Aku dijatuhkan lagi. Perasaan ini lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tubuhku sepertinya tidak akan mampu menerimanya.
Apakah Aku memang tidak seberharga itu? Sehingga orang-orang didekatku rela mengkhianati dan meninggalkanku? Seburuk itukah diriku hingga mereka bersikap seperti itu?
"Hooeeekkk... Hooooeeekkk..." Aku muntah-muntah hebat. Dino selalu berada di sampingku. Dia menepuk-nepuk punggungku. Setelah Aku berhenti muntah, dia membawaku ke UKS. Di UKS pun kondisiku juga tidak membaik. Aku hanya beristirahat sebentar, kemudian akab muntah lagi. Melihat keadaanku yang tidak kunjung membaik itu, dia membawaku ke rumah sakit.
Perasaan ditolak dan ditinggalkan membuatku muak terhadap diriku sendiri. Aku merasa sangat tidak berharga sehingga keberadaanku di dunia tampak sia-sia. Kondisi psikologisku yang seperti itu membuat tubuhku menolak keberadaanku sendiri.
Aku tetap muntah-muntah hebat. Tidak ada makanan yang bisa masuk ke tubuhku sehingga cara lain yang digunakan melalui pemberian cairan infus.
Selama beberapa hari di RS yang kulakukan hanyalah muntah, tidur, muntah, tidur, begitu seterusnya. Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin lupa bahwa satu-satunya orang yang kuharap bisa ada disisiku juga meninggalkanku.
***
Entah sudah berapa hari Aku di rumah sakit. Sekarang Aku berada dalam fase menangis. Aku tidak muntah lagi, tapi lebih banyak menangis. Setiap kali mengingat perkataan Khansa membuatku menangis. Rasa sakit itu ternyata masih tetap ada. Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya? Apa Aku bisa bangkit lagi setelah ini?
Ekspektasiku terhadap Khansa begitu besar. Aku pikir selama ini hubungan Kami baik-baik saja. Khansa mau menerimaku sebagai temannya. Ternyata tidak seperti itu. Khansa menerimaku dengan terpaksa. Mungkin memang Aku tidak layak untuk bisa dekat dengannya. Aku tidak cukup baik untuk berada di sampingnya. Aku benar-benar tidak memiliki kepercayaan diri lagi.
***
Fase ini membuat orangtuaku maupun sahabatku khawatir. Aku terbangun dari tidur hanya untuk menangis. Tertidur dalam keadaan menangis. Hal itu berlangsung selama beberapa hari.
Kondisi kejiwaanku yang seperti ini membuat orangtuaku mendatangkan psikolog. Namun Aku tetap enggan untuk berbicara. Percuma bicara, itu tidak akan merubah kondisiku. Aku tetap memilih untuk diam.
Aku keluar dari rumah sakit karena kondisi fisikku baik-baik saja. Aku kembali ke rumah. Aku tetap diam dan enggan untuk berbicara. Hingga pada suatu hari, Diana dan Aaron datang ke kamarku secara terpisah. Mungkin mereka pikir penyebabku seperti ini karena mereka. Sedikit banyak memang karena mereka, tapi penyebab utamanya karena Khansa.
Awalnya yang datang ke kamarku adalah Aaron. Posisiku tidur membelakanginya. Sepertinya dia duduk di lantai. Mungkin bersimpuh?
"Hiks..." Aku mendengar isakannya. Aaron menangis. Kemudian tangis itu kudengar semakin keras.
"Al... Ma-maafkan Aku... Aku memang br*ngsek. Aku tidak memiliki pembelaan apa-apa. Aku bersalah, hiks... Al... Lakukan apa saja yang Kamu mau. Kamu bisa membunuhku... Aku akan menerimanya... Bangunlah Al, hiks... Pukul Aku agar Kamu puas... Jangan diam seperti ini, hiks... Huuu... Maaf... Maafkan Aku... Maafkan Aku...Huuu..."
Mendengar Aaron berkata seperti itu membuat perasaanku hampa. Tidak ada rasa sakit hati ataupun rasa untuk menerima maafnya. Aaron di mataku tetaplah seorang kakak br*ngsek.
Lama Aaron di kamarku sembari menangis dan meminta maaf. Namun Aku tetap mengacuhkannya. Aku pura-pura tertidur.
Di hari berikutnya, gantian Diana yang datang ke kamarku. Sama seperti Aaron, dia juga menangis meminta maaf padaku.
"A-aku tidak menyangka akan membuatmu seperti ini... Aku bersalah Al... Maaf... Maafkan Aku... Maafkan Aku Al..."
"A-aku tidak tahu perbuatan Kami akan mempengaruhimu seperti ini... Aku tahu Kamu tidak menyayangiku Al... Aku tahu semuanya... Ta-tapi kenapa Kamu menjadi seperti ini? Ini bukan dirimu Al... Bangunlah Al... Marahlah pada Kami... Keluarkan semua amarahmu pada Kami... Jangan diam seperti ini... Hiks... Huuu..." Aku tidak menanggapi Diana. Tapi gadis itu tetap berbicara.
"Aku tahu Aku salah... Tapi kesalahan ini tidak semuanya ada padaku... Kamu pasti tahu itu Al... Kamu tidak benar-benar sayang padaku..."
"Kalau Kamu sayang, Kamu pasti akan menjaga hatiku... Kamu tahu Aku tidak suka naik motor, tapi Kamu tetap membawa motor seolah-olah Kamu sengaja melakukannya untuk membuat Kita agar tidak bisa pulang bersama..."
"Kamu tahu Aku tidak suka Kamu dekat dengannya, tapi Kamu mengacuhkan keinginanku. Kamu tetap dekat dengannya, menganggapku seperti bukan apa-apa..."
"Kamu juga tahu kalau Aku suka ke salon, tapi bukannya pergi menemaniku, Kamu malah pergi bermain dengannya. Ketika Kamu tidak ada seperti itu, Kak Aaron selalu ada untukku. Dia mengisi tempatmu. Sementara Kamu sibuk bertemu dengannya."
"Aku tahu semuanya Al... Hatimu sudah bukan untukku lagi. Hatimu sudah Kamu berikan pada dia... Jadi jangan bersikap menyedihkan seperti ini seolah-olah Kamu korbannya, karena sedikit banyak sikapmu ini yang mendorongku untuk melakukannya."
"Cepat bangun Al... Jangan jadi lemah seperti ini. Kalau Kamu marah, cepat lampiaskan kemarahanmu pada Kami!! Jangan jadi pengecut yang berdiam diri seperti ini."
Terkadang Diana berbicara dengan menghiba-hiba, meminta maaf atas segala sikapnya. Namun terkadang dia juga berbicara dengan keras, memecutku untuk menyudahi aksi diamku ini.
Selama beberapa hari selanjutnya Aaron maupun Diana tetap bergantian datang ke kamarku. Membawa misi yang sama. Meminta maaf padaku dan berharap bahwa Aku akan kembali seperti semula.
Orang yang kuharapkan kehadirannya tidak ada. Orang yang mungkin bisa membuatku kembali pulih tidak datang padaku. Sepertinya dia benar-benar membenciku. Aku benar-benar ditinggalkan.
***
Kedatangan Diana dan Aaron mulai membuatku berpikir. Perkataan Diana ada benarnya juga. Selama berpacaran dengannya, Aku memang tidak benar-benar memperhatikannya. Malah jauh dari kata perhatian.
Pikiranku terlalu sibuk dengan Khansa hingga Aku tidak memikirkan hal lain. Ternyata orang yang kupikirkan tidak memikirkanku. Dia malah muak dan membenciku. Perasaan dibenci oleh orang yang disayangi sungguh sangat menyakitkan. Aku merasa tidak layak hidup di dunia ini.
Setiap hari Dino selalu datang menghiburku. Membujukku untuk kembali ke sekolah lagi. Diana maupun orangtuaku juga melakukan hal yang sama.
Pada suatu hari, Aku mencapai suatu titik, Aku akan berdamai dengan mereka. Aku tidak benar-benar memaafkan kesalahan mereka berdua. Aku hanya mencoba untuk berdamai. Aku memutuskan untuk kembali ke sekolah lagi.
***
Happy Reading 🙃