Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 34 - Aku Merindukanmu


Tatapan Kita benar-benar terpaku. Aku tidak bisa membaca ekspresi Alex. Matanya tampak dalam dan tajam. Bulu kudukku meremang. Tubuhku gemetar. Tatapan itu seolah-olah menelanj*ngiku. Membuatku tak berdaya.


Ya, Aku tetap tidak berdaya. Aku Khansa yang sama. Yang masih tidak berdaya dihadapan Alex.


"Eh sini deh Lex, sudah lama Kita nggak ketemu." Salah satu orang menarik tangan Alex, membawanya duduk.


"Ehm ya." Mau tidak mau tatapan Kami terputus. Alex kembali sibuk melayani pertanyaan teman-temannya.


Setelah Alex datang, acara inti pun dimulai. Ketua panitia memberi beberapa kata sambutan dan menyuruh Alex untuk melakukan hal yang sama. Setelah itu acara non formal itu berjalan seperti biasa.


Aku masih duduk di pojok ruangan. Mataku tanpa henti menatap Alex. Sesekali mata Kita bertemu, namun sejurus kemudian Alex mengalihkan pandangannya.


Pikiranku bertanya-tanya, apa Alex masih membenciku? Tapi kalau Alex benci, mengapa dulu dia membantuku dalam banyak hal? Aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu.


Acara demi acara terus berlanjut. Banyak yang tidak puas acara akan segera berakhir sehingga mereka memutuskan untuk melanjutkan acara sesi kedua.


Mereka memutuskan untuk berkaraoke. Mereka memilih tempat karaoke yang masih berada dalam lingkup hotel. Separuh dari anggota yang hadir memutuskan untuk ikut, sementara separuh yang lain memutuskan untuk pulang.


Mungkin Aku memang yang tidak tahu malu. Aku menunggu keputusan Alex. Ternyata pria itu ikut acara sesi kedua, sehingga Aku pun mengikutinya.


Ada sekitar 30 orang yang ikut. Terdiri dari hampir 20 laki-laki dan 10 orang perempuan, termasuk Aku.


Aku tidak peduli bila mereka menganggapku tidak ada. Aku hanya ingin melihat Alex. Ingin berbicara dengannya. Meminta maaf dan berterima kasih atas semua hal yang dilakukan pria itu terhadapku.


Acara karaoke itu berlangsung dengan sangat meriah. Setiap orang tampak bersemangat untuk unjuk suara. Malam semakin larut, suasana semakin memanas.


Entah siapa yang memesan, namun minuman keras mulai berdatangan ke ruangan Kami. Para laki-laki mulai pesta minuman, sementara teman wanita tetap bernyanyi dengan ceria. Asap rokok mulai memenuhi ruangan. Lampu ruangan menjadi temaram, digantikan oleh lampu berkelap-kelip. Suasana ruangan sudah tampak seperti hiburan malam. Aku merasa jengah. Aku tidak terbiasa dengan suasana ini. Namun Aku berusaha bertahan, Aku ingin berbicara dengan Alex.


Acara masih terus saja berlanjut. Minuman tak pernah berhenti datang. Begitu habis, langsung muncul lagi minuman yang lain. Aku melihat Alex menenggak beberapa botol. Begitu habis, langsung membuka botol yang baru, begitu seterusnya.


Detik berubah menjadi menit, dan menit pun berubah menjadi jam. Satu persatu penghuni ruangan itu mulai meninggalkan ruangan. Tepat pukul 23.45 WIB, ruangan itu tampak lengang. Hanya menyisakan Kita berdua. Ya, hanya berdua!!


Aku menatap Alex yang masih tampak minum. Dari gestur tubuhnya, pria itu sudah mabuk. Meskipun posisi duduk, tapi tubuhnya sudah tampak limbung.


Alex mengambil botol baru lagi. Aku bergerak cepat dan menahan tangannya.


"Cukup Al." Aku menjauhkan botol-botol itu dari jangkauan tangan Alex.


Alex menengadah. Menatapku. Matanya merah. Pandangan matanya sudah tidak lagi fokus.


"Khaaaansaaaaaa... Temaaaankuu... Khaaaansaaaa... Hehe..." Alex tergelak. Pria itu sudah benar-benar mabuk.


Tubuh Alex beringsut mendekatiku. Dia memegang kepalaku dan membelainya.


"Khaaansaaaaku... Jadiiii cantiiiikkkk... Khansaaaaku maniiiisss... Aaakuuu banggaaaa... Anaaak baik... Anaaakk baaaik..." Alex menepuk-nepuk kepalaku.


Aku hanya tertegun. Tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku benar-benar tidak menyangka Alex masih mengingatku.


Alex memegang kedua bahuku dan merengkuhku dalam pelukannya.


"Khaaansaaaa... Akuuuu merindukaaanmuu... Saaangaatt... Saaaangaaatt rinduuu... Khaaansaaakuuu... Jaangaan meeembenciiikuu... Jaaangaaann beencciii Akuuu... Khaaansaaaa..." Alex tetap memelukku. Mulutnya tak berhenti meracau.


Aku benar-benar bingung dengan sikapnya. Bukankah seharusnya Alex yang membenciku? Mengapa Alex mengatakan Aku dilarang untuk membencinya?


Keberadaan Alex yang begitu dekat membuatku tercekat. Bau rokok dan minuman keras di tubuhnya tidak menghalangiku untuk menerima pelukannya. Tidak ada jengah atau jijik karena sentuhan kulit seperti yang biasa kurasakan ketika disentuh oleh pria lain. Aku hanya merasa sangat familiar dengan sentuhan ini. Seperti pulang ke rumah.


Aku membalas pelukan Alex, menikmati rasa ini. Mataku berkaca-kaca. Alexku... Alexku... Alexku... Aku sedang menyentuhnya. Perasaan ini tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya ingin menikmati kerinduan ini.


Lama Kami berpelukan. Tiba-tiba Aku mendengar napas halusnya. Tampak teratur dan berirama.


"Al?" bisikku. Namun tidak kudengar jawaban. "Al?" Aku kembali memanggil. Alex tidak kunjung menjawab. Hanya dengkur halusnya yang terdengar. Aku menjauhkan tubuh Kami. Seperti dugaanku, Alex tertidur!!


Entah harus marah atau tertawa melihat kelakuannya yang seperti ini. Ini pertemuan penting Kami, tapi dia malah tertidur. Huft.


Aku menyandarkan tubuh Alex ke sofa. Dan menatap wajahnya berlama-lama.


"Al... Aku merindukanmu... Sangat-sangat rindu... Aku menunggumu... Kenapa baru datang sekarang?" Aku memberanikan diri untuk menyusuri wajah Alex dengan tanganku.


Rasanya masih tidak percaya. Laki-laki yang kucintai selama belasan tahun ada di depanku. Perasaanku benar-benar membuncah.


"Al... Aku minta maaf dengan sikap-sikapku yang dulu. Aku menyesal... Benar-benar sangat menyesal... Al... Aku mencintaimu..." Aku meraba wajah yang sangat kucintai itu.


Berpuluh-puluh menit selanjutnya, kuhabiskan dengan berbicara sendiri sembari menunggu Alex terbangun. Aku mengungkapkan isi hatiku yang selama ini tidak bisa kuungkapkan.


KLEK


Tiba-tiba pintu ruang karaoke terbuka.


"Eh maaf, Saya pikir sudah tidak ada orang. Si-silakan dilanjutkan." Seorang pekerja hotel memasuki ruangan Kami.


"Tunggu."


"Ya? Ada yang bisa Saya bantu?" Pekerja itu berbalik dan menatap Kami berdua.


"Bisakah Anda membantu Saya untuk mengangkat pria ini? Saya tidak tahu dia menginap dimana. Saya tidak mungkin meninggalkannya di sini."


"Oh baik Bu." Pria itu mendekati Alex, bersiap-siap untuk mengangkatnya. Dia menatap wajah Alex dalam-dalam. "Sepertinya, pria ini tamu di hotel Kami Bu."


"Benarkah?" tanyaku.


"Iya. Kalau tidak salah beliau baru check in hari ini. Boleh Saya periksa tubuh beliau? Saya ingin mencari kunci kamar."


"Silakan." Dan pekerja itu mencari kunci di saku baju Alex.


"Ini dia." Pekerja itu menunjukan kunci kamar yang berbentuk key card. "Mari Bu, Saya akan membantu mengantar beliau ke kamarnya."


Pekerja itu menyampirkan lengan Alex di bahunya dan memapah tubuhnya, sementara Aku mengikuti di belakangnya.


Kamar Alex terletak di lantai 4, berupa king excutive room dengan fasilitas single bed.


Pekerja hotel itu meletakan tubuh Alex di ranjang besar dengan hati-hati. Kemudian setelah selesai, dia berbalik padaku.


"Ada lagi yang bisa Saya bantu Bu?"


"Tidak ada. Terima kasih." Aku memberikan sejumlah tips dan pekerja itu undur diri.


Sekarang hanya Kita berdua. Aku begitu bingung harus melakukan apa. Ini pertama kalinya Aku berada dalam satu kamar dengan pria.


***


Happy Reading 🥰