
Di Jakarta Aku memilih tinggal di kosan, sementara Diana tinggal di apartemen, satu gedung dengan Aaron. Aku memilih kosan yang dekat dengan kampus, agar memudahkanku untuk mobilisasi.
Aku kuliah di Fakultas Tekhnik jurusan Elektro, sementara Diana mengikuti Aaron yaitu di Fakultas Managemen Bisnis.
Sebagai mahasiswa baru, cukup banyak yang membuatku sibuk. Dari padatnya jadwal OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) hingga adaptasi dengan mata kuliah dan lingkungan baru. Namun sesibuk dan selelah apapun, kepalaku tidak pernah berhenti memikirkannya. Aku hanya bisa mengandalkan sahabatku untuk mencari tahu kabarnya.
"Hallo Nguk?"
"Gimana kabarnya?"
"Tanyain kabarku dulu kek. Yang ditanyain selalu dia,"
"Karena Aku tahu kabarmu pasti baik-baik saja. Bagaimana dia? Apa dia diterima? Kuliah di fakultas apa? Jurusan apa?"
"Satu-satu tanyanya Nguk. Lama-lama Aku capek jadi mata-matamu begini. Kenapa nggak sewa orang saja sih buat mantau aktivitas dia?"
"Aku nggak percaya orang lain. Aku percaya Kamu."
"Tapi Kamu ngerepotin Aku,"
"Cepat kasih tahu Aku semua hal tentangnya,"
"Kalau Kamu sepenasaran itu, kenapa Kamu nggak kuliah di sini saja? Kamu bisa memantaunya sendiri,"
"Berisik. Cepat beritahu Aku."
Dino menceritakan semua hal yang diketahuinya. Aku bangga Khansaku memperoleh beasiswa itu dengan kemampuannya. Aku bangga dia diterima di universitas melalui seleksi masuk nasional. Apapun fakultas dan jurusan yang diambilnya, Aku akan selalu bangga.
"Besok laporkan lagi."
"Nguk, fakultasku dan fakultasnya lumayan jauh jaraknya. Aku nggak mungkin selalu bisa memantau wanitamu,"
"Ya sudah, carikan Aku orang yang bisa memantaunya. Tapi Aku ingin orang itu bisa dipercaya. Aku nggak bisa membayangkan dia dikuntit orang aneh sepanjang hari,"
"Seharusnya Kamu kuntit sendiri. Dasar aneh. Lama-lama Kamu semakin aneh Nguk. Kenapa terobsesi sekali sama dia sih? Apa karena dia pernah menolakmu? Pemuda Tampan idola semua gadis?"
"Bukan urusanmu. Kamu nggak ingin lihat Aku kayak dulu lagi kan? Turuti kata-kataku."
"Aku ini sebenarnya sahabatmu apa bawahanmu sih? Selalu saja menyuruhku untuk menurutimu." Dino mengomel, tapi dia tetap saja menuruti apa yang kumau.
Dino membayar salah satu teman sefakultas Khansa untuk melaporkan segala gerak-gerik gadis itu kepadanya. Setiap malam, Aku hanya perlu menerima laporan lengkapnya.
Jadwal kuliah dan praktikum yang padat membuatku cukup kewalahan dan menguras energi. Namun semua rasa lelah itu seakan-akan hilang begitu Aku melihat wajahnya.
Bagaikan orang bodoh Aku mengusap layar ponsel, membayangkan tanganku sedang mengusap wajahnya. Khansaku masih tetap sama. Dia masih bersepeda, rambut selalu dikuncir dengan kacamata tebalnya. Aku senang karena Khansa tidak merubah penampilannya. Setidaknya hal itu tidak menarik para lelaki br*ngsek untuk mendekatinya.
Setiap prestasinya membuatku bangga. Khansa berhasil meraih IPK 4,00. Dia juga menjadi pribadi yang lebih mandiri. Menghasilkan uang dengan usahanya sendiri. Aku ingin memeluk dan mengusap kepalanya, mengatakan bahwa Aku sangat bangga padanya. Ketika hal itu terjadi, Aku hanya bisa memeluk ponselku, membayangkan sedang memeluknya.
Prestasi dan kemandirian Khansa membuatku terpacu untuk melakukan hal yang sama. Aku semakin giat belajar hingga menghasilkan nilai yang memuaskan. Aku menjadi mahasiswa menonjol di fakultasku. Hal itu membuat para dosen mulai tertarik, hingga akhirnya tawaran itu datang padaku.
Mereka menawarkan accelarated program atau kelas aksel di perguruan tinggi. Mereka menawarkan program percepatan S1-S2. Tujuannya untuk mempercepat masa studi dengan mendapat gelar sarjana dan master sekaligus. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Pendidikan S1 dan S2 yang umumnya ditempuh dalam jangka waktu enam tahun, bisa kutempuh hanya dalam waktu empat tahun. Tidak berhenti sampai di situ, universitas mulai menawarkan berbagai beasiswa ke luar negeri untuk program doktoral (S3).
Aku memilah dan memilih universitas yang berpotensi besar untuk mendekatkanku dengan mimpiku. Pada akhirnya Aku menjatuhkan pilihan pada Technische Universitรคt Braunschweig (TU Braunschweig), salah satu univeristas teknik di Jerman.
Sebenarnya itu keputusan yang berat, bila berpikir untuk meninggalkan negara ini dan jauh dari Khansa. Namun Aku kembali mengulang dan mengkaji keinginanku. Pada akhirnya Aku tetap berangkat ke Jerman, toh meskipun di Jerman, Aku juga bisa mendapat kabarnya setiap malam.
***
Malam itu Aku mendengar kabar bahwa Khansa telah diterima disalah satu bank swasta terkenal. Dia juga menjadi lulusan terbaik di fakultasnya. Rasa bangga ini membuatku tanpa sadar menitikkan airmata. Seolah-olah Aku adalah seorang ayah yang berhasil mengantarkan anaknya menuju kesuksesan. Aku ingin sekali memeluk dan mengecupi keningnya, namun yang bisa kulakukan hanyalah menciumi fotonya.
Aku kembali melihat-lihat foto Khansa yang lain. Aku tercekat melihat penampilannya dalam busana kerja. Dia menjadi begitu cantik. Tubuhnya tidak pendek lagi, namun tinggi dan langsing. Kacamata tebal dan rambut di kuncir sudah tidak ada lagi. Dia berubah menjadi wanita yang sangat cantik.
Bukannya senang, hal ini malah membuatku sangat khawatir. Aku berniat untuk menelepon Dino, menyuruhnya untuk memperketat dalam memantaunya sebelum akhirnya pemuda itu meneleponku terlebih dulu.
"Din, suruh orangmu untuk mengawasinya selama dua puluh empat jam. Kenapa dia berpenampilan seperti ini? Dia akan mengundang laki-laki br*ngsek untuk menggodanya,"
"Nguk, maaf sepertinya Aku nggak bisa mantau dia lagi,"
Perkataan Dino membuatku terdiam. Berusaha mencoba tenang, Aku pun bertanya, "Kenapa?"
"Khansa diterima di cabang Surabaya, sementara Aku nggak bisa kemana-mana. Aku juga nggak mungkin nyuruh teman sekelasnya dulu untuk mengawasinya,"
"Kamu serius Din?"
"Duarius malah. Jadi bagaimana?"
"Kamu benar-benar nggak bisa mantau dia lagi? Apa nggak ada cara lain?"
"Sebenarnya Aku punya kenalan sih Lex. Hanya saja nggak begitu dekat. Dia punya orang-orang yang bisa dipekerjakan untuk melakukan hal apapun,"
"Bukan sesuatu yang illegal atau kriminal kan?" Aku bertanya dengan curiga.
"Sikapmu yang selalu memantau Khansa selama empat tahun ini juga sudah bisa disebut kriminal Nguk, sadar nggak sih?"
"Tapi Aku nggak ada niat jahat. Aku hanya ingin tahu kabarnya,"
"Sama saja. Kamu sudah merusak privasi orang. Kembali ke topik tadi. Apa Kamu rela Khansamu itu dipantau orang lain?"
"Aku tegaskan dulu. Apa bisnis mereka itu legal? Nggak ada sangkut pautnya dengan kriminal?"
"Yang Aku tahu, mereka menangani masalah-masalah sepele. Seperti misal menguntit seorang suami atau pacar yang dituduh berselingkuh, atau menguntit gebetan yang sudah dari bertahun-tahun diincar tapi nggak ada keberanian untuk mengutarakan,"
"Kamp**t." Aku tahu Dino sedang menyindirku. "Kamu yakin mereka nggak melakukan hal-hal illegal kelas berat kan?"
"Kalau hal itu, Aku sangat yakin." Dino menjawab dengan tegas.
Aku terdiam, berpikir hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini. Posisiku sedang di Jerman sekarang, Aku tidak mungkin meninggalkan penelitianku begitu saja dan kembali ke Indonesia. Di sisi lain Aku juga terlalu pengecut untuk menemui Khansa seorang diri. Aku benar-benar takut ditolak untuk yang kedua kali.
"Baiklah. Aku percaya padamu Din. Kalau ada apa-apa dengannya, Kamu orang pertama yang kucari. Ingat itu Din."
"Dasar bocah, bukannya berterima kasih malah mengancam sahabatnya. Tapi Aku berjanji padamu Nguk, wanitamu akan selalu aman, percayalah. Ya sudah, lanjutkan penelitianmu. Aku mau lanjut lagi."
"Oke Din, terima kasih. Aku tunggu laporanmu berikutnya."
"Baik Tuan Tukang Perintah." dan telepon pun ditutup.
***
Happy Reading ๐
NB : Stop dulu ya. Sekarang sudah pukul 02.36 WIB. Kalau nggak capek, besok disambung lagi ๐ Gak terasa chapter ke 100 ๐ semoga masih setia menunggu AlKhans update ya ๐ค๐ค