Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 106 - Mimpi Yang Menjadi Nyata?


Aku keluar dari ruang meeting dan mencari tempat privasi untuk mengangkat panggilan itu.


"Ya Ma? Ada apa?"


"Alex, ini Papa. Kamu segeralah pulang. Dampingi kakakmu."


"Pulang kemana Pa? Ke Jakarta atau ke J*****? Aku sedang di Surabaya sekarang Pa. Masih ada beberapa cabang yang akan kukunjungi,"


"Pulanglah ke Jakarta segera. Kami juga akan segera ke sana. Dampingi kakakmu."


"Kenapa Pa? Ada apa dengan Aaron? Kenapa Aku harus mendampinginya?"


"Kakakmu kecelakaan. Informasinya sekarang dia masih kritis. Mamamu masih pingsan. Begitu Mamamu sadar, Kami akan segera menyusul kesana. Tolong dampingi dia segera." Panggilan itu pun ditutup, meninggalkan Aku yang masih berdiri tercengang, berusaha menelaah informasi yang baru saja kudapatkan.


Sekelebat bayangan mimpi aneh itu kembali datang. Di dalam mimpi Diana mengatakan, bahwa 'dia' sudah tidak ada. Diana tidak mau hidup lagi karena 'dia' sudah pergi. Apakah yang dimaksud 'dia' itu adalah Aaron?!


Bulu kudukku merinding. Aku dihantui oleh rasa takut. Meskipun dulunya Aku dan Aaron pernah bermasalah, namun masalah itu telah selesai. Hubungan Kami baik-baik saja, layaknya hubungan kakak adik pada umumnya.


Membayangkan terjadi sesuatu pada Aaron benar-benar membuatku gelisah dan ketakutan. Apalagi bila membayangkan Aaron meninggal seperti di mimpi itu. Aku benar-benar tidak rela. Aku tidak ingin kakakku satu-satunya pergi begitu saja. Aku harus kembali ke Jakarta segera!!


"Winda, akhiri meetingnya. Aku tunggu di mobil. Kita kembali ke Jakarta sekarang." Aku menutup telepon dan turun ke lantai bawah. Kemudian Aku menunggu di mobil. Lima menit kemudian Winda sudah bergabung denganku.


"Cari penerbangan paling cepat. Kita kembali ke hotel, packing barang dan langsung ke bandara."


"Baik Pak." Tanpa banyak bertanya Winda segera mematuhi perintahku.


Sesampainya di hotel, Aku segera mengemas barang-barangku. Aku memasukan semua barangku dengan terburu-buru, begitu dikejar-kejar oleh waktu. Pikiran Aaron sedang dalam kondisi kritis berkecamuk di kepalaku. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Aku sudah turun ke lobby. Kulihat Winda juga sudah berada di sana.


"Apa mobil jemputannya sudah siap?"


"Sudah Pak. Mari Pak." Winda mengarahkanku ke salah satu mobil jemputan dan Kami menuju ke bandara.


Pikiranku terlalu dipenuhi dengan Aaron hingga Aku melupakan fakta penting. Aku belum menemui Khansa. Aku belum memperjelas hubungan Kita. Fakta itu membuatku terkejut.


"Winda, putar balik."


"Mau kemana Pak?"


"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan,"


"Tapi tiga puluh menit lagi pesawat Kita take off Pak. Kalau Kita putar balik sekarang, Kita akan terlambat. Kita harus menunggu tiga jam lagi untuk pesawat selanjutnya. Apa tidak apa-apa Pak?"


Aku terdiam mendengar penjelasan Winda. Menimbang-nimbang hal mana yang harus kuprioritaskan. Memikirkan kondisi Aaron yang sedang kritis dan tidak ada keluarga yang mendampinginya, atau Khansa yang mungkin saja menolak kehadiranku. Pada akhirnya Aku memilih Aaron, karena Aku menilai kondisinya lebih urgent.


"Lanjut ke bandara."


"Baik Pak."


Mobil jemputan yang disediakan oleh maskapai langsung membawa Kami ke ruang tunggu keberangkatan. Winda menyerahkan beberapa dokumen. Beberapa saat kemudian Kami sudah menerima boarding pass tanpa perlu mengantri untuk check in. Hanya perlu menunggu selama sepuluh menit ketika bagian information service mengumumkan pesawat akan segera boarding. Kami segera memasuki pesawat. Aku duduk di dekat jendela.


"Apa perlu Saya tukar tempat duduk? Mungkin Bapak tidak nyaman duduk di dekat jendela?" tanya Winda.


Kali ini Aku tidak akan mengulangi hal yang sama lagi. Aku tidak akan membiarkan Khansa pergi. Meskipun harus menebalkan muka karena Khansa akan menolakku, Aku tetap harus memilikinya, karena kejadian malam itu sudah membuatku memiliki hak terhadapnya.


Tunggu Aku sayang, Aku pasti akan kembali padamu.


***


Begitu tiba di Jakarta, Aku langsung menghubungi Diana. Namun berkali-kali dihubungi, wanita itu tidak mengangkat panggilannya. Aku kembali menghubungi nomor orangtuaku, namun nomor itu diluar jangkauan. Mungkin orangtuaku sedang dalam perjalanan ke Jakarta.


Tidak putus asa, Aku kembali menelepon Diana. Aku tidak tahu harus menelepon siapa. Setelah panggilan yang entah ke berapa puluh kali, akhirnya ada yang mengangkat teleponku.


"Halo, Saya Lusi asisten Princess D. Saat ini artis Kami belum bisa menerima..."


"Aku Alex, teman Diana."


"Maaf?"


"Dimana kakakku? Dirawat dimana dia?!"


"Ma-maaf?"


"Aku Alex! Adiknya Aaron, tunangannya Diana! Aku dengar kakakku mengalami kecelakaan. Dirawat dimana dia sekarang?!" Aku mulai emosi. Wanita itu benar-benar tidak membantu.


"Oh-oh, maaf, Pak Aaron sedang berada di ruang operasi. Syukurlah Anda menelepon. Kami sedang berada di National Hospital. Tolong segeralah kemari, Diana sedang tidak dalam kondisi yang baik..." Aku segera menutup panggilan itu.


"Winda, Kamu kembalilah ke kantor. Ada urusan pribadi yang harus kuselesaikan." Tanpa menunggu jawaban Winda, Aku berbalik dan menuju mobil yang telah menungguku. "Langsung ke National Hospital."


"Baik Pak."


Perjalanan itu memakan waktu hampir setengah jam. Pikiranku mulai berkeliaran kemana-mana. Aaron sedang di meja operasi sekarang. Bahkan dokter menjalankan operasi sebelum wali dari Aaron datang, itu artinya kondisinya sangat serius. Pikiran paling buruk menghampiriku, membuatku ketakutan membayangkan hal itu.


"Kakak bodoh, bertahanlah!"


***


Sesampainya di RS, Aku melihat pemandangan yang mengejutkan. Tepat di depan ruang operasi, kulihat Diana sedang menangis meraung-raung. Dia memanggil-manggil nama Aaron sembari memukul-mukul pintu ruang operasi. Managernya berusaha menenangkannya, tapi bukannya menjadi lebih tenang, dia malah berubah menjadi lebih emosional.


"Aaron!! Aaron!! Jangan tinggalkan Aku!! Aku yang salah!! Maafkan Aku!! Maafkan Aku!! Haaaaa....!!" Diana kembali memukul-mukul pintu.


"Sshhhh, Di... Tenanglah. Dia pasti akan baik-baik saja. Dokter sudah menanganinya. Duduk yang tenang ya. Kita tunggu sampai operasinya selesai..."


"Bagaimana Aku bisa tenang?!! Dia seperti itu karena Aku!! Andaikan Kami tidak bertengkar, dia tidak akan mengalami kecelakaan itu!! Semua ini salahku!! Salahku!! Haaaa..." Diana kembali menangis meraung-raung. Tidak ada wajah gadis cantik lagi di sana. Yang ada hanya wajah putus asa. Tubuhnya gemetar karena tangis. Airmata beruraian, sementara isakan, jeritan, dan raungan tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.


Beberapa saat kemudian kulihat tubuhnya mulai limbung. Aku segera berlari mendekat. Tepat sebelum tubuhnya menyentuh lantai rumah sakit yang keras, Aku menahan tubuhnya dengan tanganku. Diana telah kehilangan kesadarannya.


***


Happy Reading 😶


NB : Ahh, maaf ya kalo Up-nya nanggung-nanggung. Kerja pulang malem terus. Tapi tetap lebih dari 1000 kata kok per episodenya. Tetap sabar menunggu ya semuanya..😙🤗