
Aku memutuskan untuk mengajukan cuti. Aku perlu menata hati dan pikiranku kembali.
Aku menghubungi BM ku dan mengungkapkan keinginanku. Awalnya beliau keberatan, namun karena beliau tahu Aku jarang mengajukan cuti, akhirnya beliau mengijinkan.
Aku mengemas baju-bajuku dan memasukannya ke dalam koper. Aku mengajukan cuti selama dua minggu. Aku akan pulang ke kampung halamanku. Kota kecil yang penuh dengan kenangan.
Tanpa memberitahu Andre maupun Sizil, Aku pergi di hari itu juga. Aku menggunakan travel.
Jarak antara kotaku dan Surabaya kurang lebih 190 km. Butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai di kotaku.
Aku memakai masker dan kacamata hitam, agar lebih mudah menangisi kebodohanku.
Di sepanjang perjalanan Aku selalu mengingat Alex. Ciuman pertama Kita dan sentuhan pertamanya. Mengingat detail yang Kita lakukan di malam itu. Ingatan itu kembali membuatku menangis.
Tiba-tiba Aku ingat Andre. Aku harus tegas pada Andre. Sepulangnya dari cuti, Aku akan menolak lamaran pria itu. Atau haruskah kutolak sekarang?
Tubuhku sudah ternoda. Seharusnya orang yang menjadi suamiku adalah orang yang mengambil hal itu dariku. Namun, sekarang pun Aku tidak bisa berharap padanya.
Aku tidak akan menikah. Tidak adil bagi suamiku kelak jika mereka memiliki istri seperti diriku. Begitu pula dengan Andre. Akan sangat tidak adil baginya, memiliki istri Aku tapi tubuh dan hatiku sudah menjadi milik pria lain.
Aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Andre. Memang terlihat sangat pengecut, tapi ini cara paling cepat untuk tidak menggantung perasaan pria itu lebih lama.
"Assalamu'alaikum Mas. Terkait pertanyaanmu tempo hari, Aku akan menjawabnya sekarang. Mohon maaf Mas, Aku belum bisa menerima lamaranmu. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Aku ingin Kita menjadi teman baik saja. Tolong carilah wanita lain yang mencintaimu. Maaf Aku menjawab lamaranmu via WA, maaf bila Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung. Semoga Kita menjadi teman baik ke depannya. Terima kasih untuk perasaanmu selama ini. Aku benar-benar menghargainya. Sekali lagi, Aku mohon maaf Mas..."
Selesai mengetik pesan itu, Aku langsung mematikan ponselku dan menikmati kesendirianku.
***
Hampir menjelang Isya', Aku tiba di kotaku. Ayah dan ibuku tampak terkejut. Tapi mereka menyambutku dengan tangan terbuka. Mereka memelukku tak henti-hentinya.
"Sendiri saja Nduk? Mana Nak Andre?" Ibu tampak clingak-clinguk, berharap melihat orang lain di sampingku.
"Iya sendiri Bu. Mau sama siapa lagi?"
"Lho, Ibu pikir Kamu bawa Nak Andre."
"Kita sudah putus Bu."
"Apa?!" Ibu mengambil koperku dan membawanya masuk ke dalam rumah. Beliau tampak mendesah kecewa, begitu pula dengan ayahku. "Kenapa putus? Kalian bertengkar? Kenapa tidak diselesaikan baik-baik?"
"Khansa yang salah Bu." Ibu meletakkan koperku di kamar dan duduk di atas tempat tidur.
"Salah apa? Putri Ibu tidak pernah salah. Putri Ibu selalu menjadi anak manis yang membanggakan orangtua." Aku tersenyum sendu. Meskipun hanya ibu tiri, tapi Bu Ina sangat baik padaku. Beliau janda tanpa anak, sehingga benar-benar menganggap Aku dan Fian sebagai anaknya sendiri.
"Peluk Khansa Bu..."
"Oh sini...sini... Sayangku..." Ibu memelukku dengan erat. Mencium keningku dengan sayang. Aku merasa seperti benar-benar dicintai.
"Ada masalah apa?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Kenapa wajahmu sangat sedih Nduk? Jangan bohong, Ibu bisa merasakannya. Cerita pada Ibu, ada masalah apa?"
"Benar-benar tidak ada Bu." Aku menggelengkan kepalaku. Tidak mungkin Aku bercerita habis tidur dengan laki-laki yang bukan suamiku bukan? Kalau sampai orangtuaku mendengar hal itu, Ayahku pasti akan langsung mengejar Alex dan menyuruh laki-laki itu untuk menikahiku.
"Ibu tahu Kamu anak yang mandiri. Selalu memendam masalahmu sendiri. Yang bisa Ibu lakukan, semoga Tuhan segera mengangkat masalah-masalahmu. Agar Kamu menjadi putri Kami yang ceria lagi, cup..." Ibu mengecup keningku dengan lembut.
Tuhan tidak akan mengampuniku. Aku sudah melakukan dosa besar. Melakukan zina. Aku begitu malu dan merasa bersalah, terhadap Tuhan dan kedua orangtuaku.
***
Mudah memang mengatakan akan melupakan Alex. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Sepanjang malam Aku kembali menangisinya. Perasaan yang sudah tertanam selama bertahun-tahun tidak akan mudah menghilang begitu saja.
Alex terbawa suasana, sementara Aku terbuai rasa. Kami melakukan hal itu dengan perasaan berbeda. Aku yang naif tidak bisa membedakannya.
Jauh dari kota Surabaya Aku pikir bisa melupakan segala kepenatan yang terjadi di sana. Namun nyatanya tidak seperti. Pikiranku terus berkelana kemana-mana. Menjelang subuh, Aku baru bisa memejamkan mataku.
***
"Nduk... Nduk... Bangun... Ada yang mencarimu. Nduk..." Tubuhku diguncang dengan lembut. Aku membuka mataku perlahan.
"Ehm..."
"Bangun Nduk. Ada yang mencarimu di depan lho. Kamu pasti senang kalau melihatnya." Suara Ibu tampak ceria.
Pikiran pertama yang melintas di kepalaku, itu pasti Alex!!
Alex pasti menyesal atas kejadian malam itu dan menyusulku kemari. Alex pasti ingin memberiku kejelasan tentang hubungan ini.
Pemikiran bodohku mulai berkelana. Aku mulai melupakan niatan untuk melupakan Alex lagi.
Aku segera duduk dan cepat-cepat ke kamar mandi. Aku mencuci wajahku dengan kilat dan menggosok gigiku dengan cepat.
"Sudah Ibu duga, Kamu pasti senang melihatnya. Buktinya ini anak Ibu semangat sekali bangunnya, hehe..." Ibu menatapku sembari bersandar di pintu kamar mandi. Melihat kelakuanku sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Pipiku bersemu merah. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Aku segera mengganti baju tidurku dengan baju kasual yang enak untuk dilihat. Aku tidak sempat memakai soflens, sehingga kacamata tetap bertengger di atas hidungku.
Aku mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan.
"Calm down Khansa... Jangan tunjukan kalau Kamu terlalu antusias. Bersikap biasa saja, oke." Aku menenangkan diriku sendiri. Menenangkan dadaku yang berdebar tidak karuan.
Kemudian Aku pergi ke ruang tamu, untuk melihat sang pujaan hati.
Aku melihat seorang pria duduk membelakangiku. Dia tampak asyik mengobrol dengan ayahku yang tampak senang dengan kehadirannya.
"Ini bintang yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tumben-tumbenan bangunnya siang. Biasanya subuh selalu bangun. Nduk, lihat siapa yang datang." ucap ayahku.
Pria itu memalingkan wajahnya. Dan... Sebersit kekecewaan melandaku. Bukan Alex yang datang, melainkan Andre.
"Khansa..." Andre berdiri. Raut wajahnya tampak kusut. Penampilannya benar-benar tidak sesuai dengan dirinya. Biasanya Andre selalu rapi, tapi kali ini dia terlihat berantakan.
"Mas Andre... Kenapa bisa ada di sini?"
"Ehem... Kalau begitu, Ayah dan Ibu mau ke pasar dulu. Ada barang yang mau Kami beli. Bu, ayo berangkat."
"Iya Yah, tungguin Yah..." Ayah mengajak Ibu keluar. Sepertinya ingin membiarkan Kita untuk berbicara dengan bebas.
Aku menatap Andre dengan sangat canggung. Andre pasti datang karena membaca pesan dariku. Bodohnya, Aku lupa tidak menghidupkan ponselku lagi.
Aku duduk di kursi dengan ragu-ragu. Bersiap-siap untuk memberi alasan mengenai keputusanku.
"Duduk Mas."
"Ah ya." Andre duduk di depanku. Dia menatapku dalam-dalam. Tampak sikap tidak percaya diri dan keraguan di wajahnya. Dia terlihat rapuh.
"Sha, Aku sudah membaca pesanmu. Bisa Kamu katakan alasannya, mengapa Kamu menolak lamaranku?"
***
Happy Reading 🙄