
"Mas, bangun..."
"Mmmmm..." Alex semakin menyampirkan tangannya di pinggangku. Menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya.
"Pesawatnya jam berapa? Kalau tidak bangun, Kita bisa ketinggalan pesawat..."
"Tidurlah sayang. Biarkan Aku memelukmu..." Alex memelukku dari belakang. Tangannya membelai-belai perutku dengan lembut. Bibirnya mulai mengecupi kepalaku.
"Aku suka aromamu..." Alex semakin mengendus-ngendus leherku.
"Aku bau Mas, belum mandi..."
"Ya, bau kecut dikit."
"Hihhh!! Lepasin."
"Gitu aja ngambek. Beneran Aku suka baumu sayang. Biarkan Aku memelukmu. Diam dulu."
Aku terdiam, membiarkan Alex memelukku. Padahal sepanjang malam Kita sudah berpelukan, namun sepertinya tidak pernah ada puasnya. Aku suka berpelukan sepanjang hari seperti ini.
"Sayang, apa menurutmu Kita pergi bulan madu saja?"
"Bulan madu?"
"Ya. Aku ingin berduaan denganmu. Tidak ada yang mengganggu." Mendengar Alex berkata seperti itu membuatku membalikkan tubuh. Mata Kami saling bertatapan. Alex membelai rambutku. Menyusuri pipiku dengan buku-buku jarinya. Aku memegang tangan Alex. Semakin menempelkan tangan pria itu di pipiku.
"Khansa..."
"Ya?"
"Khansa... Khansa... Khansa..."
"Apa sih Mas?"
"Aku suka memanggil namamu."
"Nggak jelas deh."
"Sini, Aku peluk." Alex kembali menarik tubuhku. Membuatku kembali berada di dekapannya.
Bolehkah Aku merasa bahagia? Bolehkah Aku menikmati perlakuannya? Rasanya Aku ingin seperti ini selamanya. Berdua... Tidak, tidak... Bertiga. Ya, Aku, Alex dan bayi Kami selalu bersama.
"Menurutmu Kita lebih baik kemana? Ada tempat yang ingin Kamu kunjungi?"
"Aku terserah Kamu saja Mas..." Asalkan bisa bersamamu, dimanapun tempatnya Aku pasti akan bahagia.
"Enaknya ke luar negeri apa di dalam negeri?"
"Terserah Mas, Aku ngikut saja..."
Dddrrttt... Dddrrrttt... Dddrrrttt...
Suara ponsel bergetar mengganggu intensitas Kami. Aku menoleh, untuk melihat siapa yang menghubungiku pagi-pagi. Ternyata yang bergetar bukan ponselku, namun ponsel Alex yang diletakkan di nakas di sampingku.
"Ada telepon Mas..."
"Tolong ambilkan sayang."
Aku mengambil ponsel Alex. Sekilas Aku bisa membaca nama si penelepon. Nama kontak si penelepon itu adalah "rumah", apakah itu telepon dari Diana?
Aku menyerahkan ponsel itu pada Alex. Begitu melihat nama si penelepon, Alex langsung terduduk. Pria itu langsung bergegas berdiri dan berjalan menjauh.
"Ya, ini Aku." Itu kata terakhir yang kudengar dari mulut Alex. Selebihnya Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Ah, sepertinya cukup sampai di sini saja mimpinya. Saatnya kembali ke dunia nyata. Mari menghadapi kenyataan pahit ini. Kenyataannya, Aku memang tidak akan pernah bisa memiliki Alex seutuhnya, karena Aku hanya yang kedua.
Aku beranjak dari tempat tidur. Membereskan selimut dan bed cover yang berantakan, kemudian pergi ke kamar mandi. Mengguyur tubuhku dengan air hangat. Guyuran air itu benar-benar membuatku terbangun dari mimpi.
Aku sudah memutuskan untuk menerima takdirku. Menerima setiap perlakuan Alex padaku. Seberapa pun porsi perlakuan yang dia berikan padaku. Jadi Aku tidak boleh memiliki perasaan kesal, iri, sakit hati atau cemburu. Sudah menjadi resikoku menjadi istri kedua. Aku harus membuang perasaan ini jauh-jauh sebelum menjadi penyakit hati.
"Khansa, sepertinya Kita harus menunda bulan madu Kita."
"Iya Mas..."
"Kita harus kembali ke Jakarta. Kamu bersiap-siaplah. Setengah jam lagi mobil jemputan akan datang."
"Iya."
Hilang sudah suasana romantis Kami. Memang kebahagiaan ini tidak akan kekal. Hanya kesemuan belaka. Layaknya setetes air di tengah padang pasir, yang pada akhirnya akan tergerus oleh lingkungan sekitarnya, hilang tak berbekas.
Di sepanjang perjalanan ke bandara, Alex banyak berdiam diri. Dia seolah-olah menutup dirinya dengan dunia sekitar. Alex sibuk dengan pikirannya sendiri. Keberadaanku pun menjadi tak tampak. Dia menjadi Alex yang tidak kukenal.
Dia dekat, namun jauh. Hubungan Kami sangat intim, tapi tak pernah ada keterbukaan layaknya pasangan normal lainnya. Alex yang terlalu menutup diri dengan segala rahasianya, dan Aku yang tidak berani mengungkapkan isi hati dan pikiranku.
Bagaikan berjalan di selembar lapisan es, yang entah kapan es itu mencair dan hancur. Ya, hubungan Kami serapuh itu.
Aku menatap Alex. Dia masih tampak sibuk dengan pikirannya. Aku bertanya-tanya, kabar apa yang dibawa Diana hingga membuatnya seperti ini? Apa Diana marah karena tidak mendapati Alex di Jakarta? Apa Diana tahu mengenai hubungan Kami? Banyak pertanyaan di kepalaku, namun Aku tetap tidak berani mengungkapkannya.
***
Kami tiba di rumah ketika hari sudah sore. Alex tampak sibuk bertelepon ria.
"Winda, pesankan tiket ke Sing*pura. Ya, malam ini juga. Satu tiket saja. Cukup tiket keberangkatan. Kepulangannya jangan dipesan dulu. Sudah, itu saja." Alex menutup teleponnya dan berbalik ke arahku.
"Sayang, tolong packing kan baju-bajuku."
"Mau kemana Mas? Kan Kita baru saja datang..."
"Sing*pura. Aku mau menyusul Diana. Tolong siapkan ya."
"Oh..." Hatiku yang tak tahu diri ini merasa sakit. Tapi Aku berusaha menahannya. Aku tidak ingin Alex melihat hatiku yang buruk ini.
"Untuk berapa hari Mas? Apa perlu baju formal juga?"
"Siapkan untuk 1 minggu. Siapkan baju bepergian saja. Tidak perlu baju formal. Terima kasih ya, Aku mandi dulu, cup..." Alex mendekat padaku dan mengecup keningku. Kemudian dia berjalan ke kamar mandi.
Jangan tanyakan bagaimana perasaanku. Menyiapkan baju-baju suami hanya untuk merelakan suami bertemu dengan istri sahnya. Aku ingin menangis, tapi sebisa mungkin tetap menahannya.
Aku menyiapkan segala keperluan Alex. Dari baju, celana, pakaian dalam, peralatan mandi dan lain-lain.
Setengah jam kemudian, Alex keluar dari kamar mandi. Aku menyiapkan baju yang akan dipakainya saat itu juga. Sementara untuk baju-bajunya yang di koper juga sudah siap.
Alex memakai segala sesuatu yang Aku siapkan. Tak berapa lama kemudian, mobil jemputan dari maskapai sudah datang. Kami turun ke lantai bawah. Supir memasukan koper Alex ke dalam mobil.
Aku mengantarkan Alex sampai di depan gerbang rumah. Bersiap untuk melakukan perpisahan.
"Aku berangkat ya. Kalau butuh sesuatu, telepon Winda. Dia akan membantu memenuhi semua keinginanmu. Jaga diri baik-baik." Alex merangkul tubuhku. Ingin Aku menangis dan menahannya agar tidak pergi, namun Aku sadar dengan posisiku. Aku tidak berhak untuk bersikap seperti itu.
"Alkha, Papa berangkat dulu ya. Jangan rewel. Jangan ngerepotin Mama ya, cup..." Alex mencium perutku dan membelainya. Kemudian dia kembali mencium keningku.
"Ingat, hubungi Winda bila butuh sesuatu. Mengerti?"
"Iya..."
Alex kembali mencium keningku. Kemudian kecupannya beralih ke bibirku. Dia mencium bibirku dengan lembut.
"Baik-baik ya." Dia membelai puncak kepalaku dan mengecupnya lagi sebelum masuk ke dalam mobil jemputan.
Selepas Alex pergi, Aku langsung pergi ke kamarku. Aku merasa tubuhku sangat lemas. Aku menahan diri untuk tidak menangis, namun pada akhirnya airmataku jatuh tak terbendung juga. Aku menangis dalam diam.
***
Happy Reading 🙏
NB : Maaf ya baru update, selama 2 hari ini tidak enak badan. Semoga masih setia menunggu AlKhans ya, terima kasih 🙏