
Diana menatapku lekat-lekat. Aku menahan diriku untuk tidak pingsan. Mataku sudah mulai berkunang-kunang.
"Kayak kenal... Pernah lihat dimana ya?" Diana menatapku dari atas ke bawah, dan kembali ke atas lagi. "Mirip sama teman SMA Kita ya Al, siapa namanya Al? Sha... Sha... Entahlah siapa. Aku lupa..."
Alex tidak menjawab perkataan Diana. Dia hanya menatapku lekat-lekat. Tatapan matanya tak terbaca. Dia menatap perutku dengan tajam. Aku menjadi takut dengan tatapannya. Seolah-olah dia akan mengambil anak ini dariku.
Aku tidak pernah merasa sangat lelah. Tubuhku sangat sehat. Bayiku tidak pernah menyusahkanku. Tapi entah mengapa kali ini tubuhku tidak bisa di ajak kompromi. Kepalaku sangat berat, pusing yang teramat sangat melandaku. Aku merasa bumi tempatku berpijak mulai berputar...
"Eh mau jatuh tuh. Tangkap Al!" Sayup-sayup Aku mendengar suara Diana dan merasakan tangan kuat menopang tubuhku. Setelah itu Aku merasa melayang, tidak merasakan apa-apa lagi.
Entah berapa lama Aku tak sadarkan diri. Aku terbangun setelah merasakan pijatan di lenganku dan bau minyak kayu putih yang khas.
Aku membuka mataku secara perlahan. Orang pertama yang kulihat adalah Alex. Dia berada tepat di depanku, hanya berjarak tidak kurang dari satu meter.
Mata Kami kembali berpandangan. Darahku masih berdesir ketika menatap matanya. Jantungku berdetak dengan sangat cepat. Entah apa Aku salah lihat, Aku seperti menangkap kerinduan di mata Alex. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Sudah sadar?" Suara Diana memutus kontak mata Kami. Aku serta merta langsung berusaha untuk duduk.
"Jangan duduk, berbaring saja." Tangan Alex menahan tubuhku agar tetap berbaring.
Aku menatap sekelilingku. Rupanya Aku sedang berada di sebuah kamar. Entahlah kamar siapa yang kutempati saat ini.
"A-aku sudah tidak apa-apa..." Aku kembali berusaha duduk. Namun Alex kembali menahanku.
"Jangan membantah." Suara Alex terdengar tegas dan tak ingin dibantah.
Akhirnya Aku kembali berbaring. Diana menyerahkan sebotol air padaku. Alex mengambil botol itu dan membantuku untuk meminumnya. Aku ingin menolak, tapi tatapan tegas Alex menyurutkan niatku.
Sembari minum, Aku mencuri-curi pandang pada Diana. Bagaimana mungkin Alex bersikap seperti ini di depan istrinya? Apa dia tidak takut Diana cemburu?
"Akhh... Aku ingat. Kamu Khansa kan? Dulu pernah satu kelas dengan Alex. Benar kan tebakanku Al?"
"Hem." Alex bergumam. Matanya masih fokus menatapku. Aku merinding di tatap seperti itu.
"Wah tidak disangka ya Kita bisa bertemu lagi seperti ini..."
"Di, bisa tinggalkan Kami dulu. Ada yang mau kubicarakan dengan dia." Tanpa menoleh pada Diana, Alex menggunakan nada memerintah.
"Yah terserah deh. Tapi Khansa ditungguin Mami. Katanya mau jual produk?"
"Eh ya Mbak Diana. Aku memang mau menawarkan produkku. Ka-kalau begitu Aku permisi dulu."
Aku langsung beringsut dari ranjang dan berdiri dengan cepat. Aku takut berduaan dengan Alex. Aku takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Aku langsung keluar dari kamar diikuti oleh Diana. Meninggalkan Alex yang masih tidak bergerak di posisinya.
Aku menuju ruang tamu dimana Aku sudah ditunggu oleh nasabah prioritasku.
"Mbak Khansa sudah enakan?" tanya wanita paruh baya bernama Bu Ana itu.
"Iya Bu. Maaf Saya datang kesini malah merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan. Apa kejadian seperti ini sering terjadi?"
"Maaf?"
"Pingsan. Apa Mbak Khansa sering mengalaminya?"
"Tidak Bu, tidak pernah. Baru kali ini terjadi..."
Pandanganku teralihkan melihat Alex ikut bergabung di ruangan itu. Aku duduk dalam satu kursi dengan nasabahku, sementara Diana dan Alex duduk di kursi lain di depanku. Aku menjadi canggung karena tatapan Alex tak bisa lepas dariku. Mata Alex seakan-akan ingin melahapku bulat-bulat. Aku ketakutan.
"Di luar kota Bu. Sebenarnya dia sudah melarang Saya untuk bekerja, tapi Saya memaksa. Saya tidak suka berdiam di rumah." Aku tidak berani melirik pada Alex lagi, sepertinya laki-laki itu marah? Tapi untuk apa?
"Yah pokoknya tetap jaga kesehatan ya. Untung saja pingsannya di depan rumah, kalau di jalan bagaimana?"
"Iya Bu, terima kasih atas perhatiannya."
"Lalu bagaimana dengan program yang Kamu tawarkan kemarin?" Pertanyaan Bu Ana membawa angin segar padaku. Setidaknya kali ini Aku bisa menjawab tanpa berbohong.
Aku menjelaskan produk asuransiku dengan segala kelebihan-kelebihannya. Aku juga menjawab dengan jujur mengenai kelemahannya.
Diana berpindah ke sisiku dan mulai melihat tabel program yang kubawa. Aku melirik Alex. Aku menyesal telah melakukannya, karena pria itu masih menatapku lekat-lekat. Sepertinya dia sangat tidak sabar untuk berbicara denganku? Rasanya Aku ingin segera kabur saja.
Satu jam kemudian, Aku selesai menjelaskan produkku. Bu Ana mau ikut programku. Bahkan beliau juga mendaftarkan Diana. Dari yang Aku tangkap, sepertinya Bu Ana adalah mamanya Diana, mertuanya Alex pastinya.
"Tadi kesini naik apa?"tanya Bu Ana.
"Motor Bu."
"Wah panas-panasan..."
"Aku akan mengantarnya." Suara tenang dan tegas itu menyentakku. Aku langsung menoleh dan menatap Alex yang juga sedang menatapku dengan intens.
"Ti-tidak perlu. A-aku bisa pulang sendiri." Membayangkan berduaan dengan Alex membuatku ketakutan. Aku tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan pria itu ke depannya.
"Motormu taruh di sini. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya. Aku akan mengantarmu."
"Iya Khan, biar Alex nganterin Kamu. Di luar panas banget. Rawan lho buat Ibu hamil seperti Kita untuk dehidrasi." Diana berbalik dan berbicara pada Alex. "Kamu ganti baju dulu deh Al. Nggak mungkin dong nganterin Khansa pake kolor gitu."
"Hem." Alex berbalik dan menuju kamar. Aku menggunakan kesempatan itu untuk kabur, namun tanganku ditahan Diana.
"Aku harus pulang sekarang Mbak. Aku sudah biasa naik motor seperti ini."
"Tapi Khans..."
"Bu Ana, Saya pamit pulang dulu ya. Terima kasih banyak Bu, assalamu'alaikum..." Dan Aku buru-buru ngacir. Aku cepat-cepat mengambil motorku dan memacunya. Aku benar-benar takut tertangkap Alex.
Aku memacu motorku dalam batas aman. Airmata tanpa terasa mengalir di pipiku. Aku tidak ingin menangis, tapi airmata ini hadir tanpa persetujuanku.
Aku kesal dengan takdir. Selama ini Aku tidak pernah mengeluh bila Tuhan memberiku nasib seperti apa. Aku juga sudah menanggung kesalahan yang telah kubuat dengan memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap anak ini.
Lalu mengapa sekarang menjadi seperti ini?! Ketika Aku sudah memutuskan untuk melupakan Alex dan menganggapnya tidak ada, menjauh dari kehidupan Alex dan Diana tapi mengapa Tuhan malah mempertemukan Kami seperti ini?
Apa salahku sangat berat hingga Aku mendapatkan hukuman seperti ini?!!
Tuhan, Aku benar-benar tidak ingin tahu kabar mereka, tidak ingin peduli terhadap mereka namun mengapa malah Engkau mempertemukan Kami seperti ini? Mengapa Tuhan?
Apa hukumanmu belum cukup pantas untukku? Mengapa Aku harus melihat mereka berdua lagi? Mengapa Aku harus melihat Diana hamil?!
Tuhan, ini sangat tidak adil. Tolong jangan mempermainkan takdirku lagi. Tolong biarkan Aku dan anakku bahagia tanpa bayang-bayang mereka, Aku mohon padamu Tuhan...
Tiba-tiba Aku melihat ada mobil yang berusaha memepetku. Aku menatap si pengendara dengan wajah kesal. Sebelum Aku menyemburkan kata-kata protesku, tiba-tiba si pengemudi menurunkan kaca mobil.
"Khansa, berhenti!! Turun!!" Aku melihat Alex berteriak padaku.
***
Happy Reading 🙄