Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 53 - Menikah


Aku masih menangis sesegukan. Tidak bisa membantah sedikit pun perkataan Ayah. Aku dan Ayah sangat dekat. Ayah jarang sekali marah. Sekalinya marah Aku akan sangat ketakutan seperti ini.


Ibu meraih tubuhku dan memeluk. Berusaha menghiburku.


"Sudahlah Ayah, semua sudah terlanjur terjadi. Tidak ada gunanya juga Ayah memarahinya. Kesalahan ada pada mereka berdua. Biarkan mereka yang bertanggung jawab atas kesalahan mereka." Ibu membelai-belai kepalaku. Aku masih saja menangis.


"Sudah, jangan menangis lagi Nduk. Kamu harus nurut sama perkataan Ayah. Jangan tolak niat baik Nak Alex. Menikahlah dengan dia. Tidak apa-apa meskipun kalian menikah sirih. Itu lebih baik daripada membiarkan kondisimu seperti ini."


"Huuu... Hiks... Hiks... " Aku semakin menangis sesegukan. Ayah dan Ibu mengijinkanku menikah dengan Alex. Ayah dan Ibu mengijinkanku untuk menjadi istri kedua. Bagi mereka tidak apa-apa menjadi istri kedua dibanding tidak memiliki status seperti ini.


Aku benar-benar menjadi orang ketiga. Dan kedua orangtuaku mendukungku untuk melakukannya. Semua itu demi bayiku.


Apakah Aku harus menerima menjadi istri kedua? Bagaimana dengan perasaan Diana?


"Alex, persiapkan semuanya. Ayah minta besok kalian sudah menikah. Ini benar-benar aib!!"


"Baik Ayah."


"Ingat. Ayah belum memaafkanmu. Apapun alasanmu melakukannya, Ayah tidak bisa menerimanya. Kamu sudah merusak anak Ayah. Seharusnya bila Kamu menyukainya, Kamu meminta pada Kami baik-baik. Bukan dengan cara menghamilinya seperti ini! Ayah kecewa dengan kalian berdua!"


"Maafkan Kami Ayah." Alex menunduk. Dari nada suaranya Alex terlihat sangat menyesal.


Mendengar Ayah membuat keputusan untukku, membuatku semakin menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar akan menjadi istri kedua. Benar-benar tidak ada jalan lain bagiku untuk mundur lagi. Sepertinya Aku harus pasrah menerima takdir ini.


***


Malam itu Alex memindahkan Kami semua ke salah satu hotel bintang lima di kota Malang. Alex membawa semua barang-barangku dan mengembalikan kunci kosan pada induk semang.


Dia benar-benar memutus semua hubunganku dengan kosan. Tujuannya agar Aku tidak bisa kembali kesana lagi.


Alex membooking lima kamar. Aku, Alex, Winda dan Fian tidur di masing-masing kamar. Sementara Ibu dan Ayah di kamar satunya.


Namun kemudian Ibu berpindah ke kamarku. Mungkin beliau khawatir dan takut terjadi sesuatu padaku. Ibu menjaga sembari memelukku dengan erat. Menghiburku dan membesarkan hatiku agar dengan ikhlas menerima pernikahan ini.


Semalaman Aku banyak menangis. Membayangkan akan benar-benar menjadi istri Alex. Andaikan keadaannya tidak seperti ini, mungkin ini adalah mimpiku yang benar-benar menjadi nyata.


Semenjak SMA Aku selalu membayangkannya. Bagaimana Alex membalas perasaanku dan Kami menikah dengan bahagia.


Namun mimpi tidak seindah kenyataan. Aku benar-benar menikah dengan Alex, namun bukan karena alasan yang kuinginkan. Kami menikah karena anak, dan Aku hanya menjadi istri kedua. Benar-benar jauh dari impianku.


Tapi seberapa keras Aku menolaknya, tetap tidak akan bisa. Sepertinya Aku harus menerima takdir ini dengan lapang dada.


***


Pada pukul enam pagi Ibu membangunkanku yang baru saja terlelap. Beliau menyuruhku untuk bersiap-siap.


Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung. Aku melihat ada beberapa orang tak dikenal di kamarku.


"Bangun Nduk, sudah waktunya Kamu siap-siap. Akadnya jam sembilan. Masih banyak yang harus Kita lakukan."


"Hah?" Aku menatap Ibu dengan kebingungan.


"Sudah, ayo mandi dulu." Ibu menarik tanganku dengan lembut. Mau tidak mau Aku mengikutinya.


Di dalam kamar mandi tampak wadah besar berisi air yang di dalamnya terdapat bunga setaman. Ibu membantuku membuka baju dan memakaikanku kebaya. Aku menatap Ibu dengan kebingungan.


Ibu mendudukanku di kursi dan memakaikan bunga melati yang telah dirangkai pada tubuh bagian atasku. Aku masih menatap Ibu dengan kebingungan.


"Hikkss... Hikss..." Ibu tiba-tiba menangis. Beliau mengecup keningku dengan sayang dan membaca doa. Airmata tampak mengalir di pipinya.


Aku menahan diriku untuk tidak menangis. Namun tetap saja airmata lolos dari mataku. Karena dibutakan cinta, Aku membuat kesalahan itu. Mengatasnamakan cinta, Aku telah mengecewakan orang tuaku. Membuat mereka malu. Melempar aib di wajah mereka. Andaikan waktu bisa di ulang, Aku tidak mau melakukan hal sebodoh itu. Sekarang terbukti, cinta tidak membawaku kemana-mana. Hanya kesengsaraan belaka. Aku menikah dengan tidak terhormat. Hanya semata-mata untuk menutupi aib. Ironisnya Aku hanya menjadi istri kedua. Itulah balasan bagi kebodohanku yang tak ada habisnya.


***


Pada pukul 08.30 WIB, Aku sudah selesai di rias. Mereka memakaikanku gaun putih longgar dengan jilbab yang dibuat menjuntai jatuh menutupi perutku. Sepertinya para perias melakukannya dengan sengaja, untuk menutupi perutku yang sudah membuncit. Aku sudah pasrah dengan itu semua.


Aku tidak peduli dengan penampilanku. Tapi Aku sekilas melihat wajahku. Perias itu merias wajahku dengan sempurna. Aku tampak cantik dengan make up flawless namun tetap natural. Wajahku tampak lebih segar. Aku terlihat anggun dan elegant. Aku tidak percaya bisa tampil secantik ini hanya dengan make up?


Tepukan di bahu menyadarkanku. Ibu mengajakku keluar dari kamar dan menuju tempat akad. Ibu selalu menggenggam tanganku, membuatku selalu kuat.


Di depan hotel sudah tampak mobil mewah yang telah dihias dengan bunga, menunjukan bahwa itu mobil pengantin. Aku masuk ke dalamnya di temani oleh Ibu.


Aku tidak melihat Alex maupun Ayah. Hanya Fian yang mendampingi Kami. Aku tidak berani menatap mata Fian. Dia tampak kecewa padaku. Seolah-olah tatapan kagumnya terhadapku menjadi sirna begitu saja. Aku sakit hati melihatnya.


Mobil melaju dengan kecepatan normal. Tepat pukul 08.55 WIB mobil berhenti di salah satu masjid besar di kota itu. Ibu menuntunku dengan pelan, membawaku masuk ke dalamnya.


Di dalam masjid tampak Ayah dan Alex yang sudah duduk berhadapan. Di sekitar mereka tampak beberapa orang yang tidak kukenal. Mungkin mereka penghulu dan beberapa saksi.


Tanpa sengaja tatapan mataku bertemu dengan mata Alex. Pria itu memakai setelan jas elegant berwarna putih. Wajah tampannya terlihat semakin menonjol dalam balutan pakaian itu.


Deg... Deg... Deg...


Tatapan Kami membeku. Kami seolah-olah sama-sama terpaku. Aku takjub dan terlena. Mata Alex tampak menunjukan segalanya. Perasaan cinta, kagum, takjub dan bahagia? Mata Alex tampak berkaca-kaca. Aku menjadi hanyut dan mulai mempercayainya. Mungkinkah ada sedikit saja rasa di hatinya untukku?


"Ehem... Calon mempelai wanita sudah datang. Silakan duduk. Acara akan segera Kami mulai."


Suara penghulu membuyarkan tatapan Kami. Ibu menuntunku untuk duduk di samping Alex. Perasaanku kembali berdebar-debar.


Aku menundukan kepalaku. Aku merasa Alex sedang menatapku.


"Mempelai pria, apa Anda sudah siap?"


"Siap Pak."


"Wali, saksi, apa sudah siap?"


"Siap."


"Baik, acara akan Saya mulai." Penghulu membacakan beberapa doa untuk Kami. Setelah itu menyerahkan prosesi ijab kabul kepada Ayahku selaku wali nikah.


"Saya nikahkan engkau Yohan Alexander bin Surya Atmadja dengan putri Kami Khansa Aulia binti Ahmad dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, emas 100 gr dan uang 500 juta rupiah dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Khansa Aulia binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!" Ucap Alex dengan suara tegas dan lantang.


"Bagaimana saksi?"


"SAAAAAAAHHHH."


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” Ucap orang-orang yang ada di sana secara bersamaan.


Aku memejamkan mata. Airmata tanpa terasa mengalir di pipiku. Aku sudah menjadi istri kedua dari seorang Yohan Alexander.


***


Happy Reading 🥺


NB : Pertanyaannya, sudah berapa kali Aku nulis adegan ijab kabul ini? 😌😅