
Aku menunggu Alex di kamar. Berharap pria itu kembali datang dan memberikan jawaban. Hampir satu jam Aku menunggu, namun Alex tak kunjung datang. Pada akhirnya Aku pergi ke lantai bawah dan mencarinya. Menurut ART dan security, Alex pergi keluar dengan diantar supir.
Aku kembali ke kamar. Berusaha menebak dan menerka-nerka jalan pikiran Alex. Aku sudah menyampaikan maksudku secara baik-baik. Aku harap Alex bisa menerima keputusanku dan melepaskanku.
"Dek, Mama nggak berniat misahin Kamu sama Papa. Nanti akan ada masanya Kamu mengerti keputusan Mama. Maafin Mama ya Dek..."
Aku sedang berbaring sembari menunggu kabar Alex ketika mendengar ketukan di pintu kamarku.
Tok... Tok... Tok...
"Ya, masuk." Aku duduk, untuk melihat siapa yang datang. Aku pikir itu pasti Mbak Asih namun ternyata dugaanku salah. Bukan Mbak Asih yang datang, melainkan Winda.
"Maaf Bu, mengganggu waktu istirahatnya."
"Ya, ada apa Winda?"
"Pak Yohan menyuruh Saya untuk mempacking baju-bajunya Bu."
"Untuk apa? Mau kemana dia?"
"Ke Sing*pura Bu. Tadi beliau memerintahkan Saya memesan tiketnya."
Hah, ke Sing*pura lagi? Apa telepon tadi dari Diana? Apa ini maksud dari kata-kata Alex? Untuk memberiku jawaban setelah Kami bertemu lagi? Dia menggantungku lagi?
"Dimana dia sekarang?"
"Di bandara Bu. Ijinkan Saya untuk mempacking baju beliau Bu."
"Berapa lama dia di negara itu?"
"Saya kurang tahu Bu. Saya hanya memesan tiket keberangkatan."
Lagi-lagi Aku harus menunggunya. Baiklah, Aku akan tetap menunggu. Bukankah dia sudah biasa membuatku seperti ini? Kali ini Aku tidak boleh terpengaruh oleh sikapnya. Pikiranku harus tetap tenang agar bayiku tetap baik-baik saja.
Aku pergi ke ruang ganti dan mulai menyiapkan baju-baju Alex. Winda akan membantuku, tapi Aku melarangnya. Rasanya Aku tidak rela melihat wanita lain menyiapkan perlengkapan Alex di depan mataku. Sungguh perasaan yang lucu. Padahal sebentar lagi Aku juga akan berpisah dengan laki-laki itu.
"Winda, katakan pada dia, Aku akan menunggunya. Aku harap dia memberikan jawaban yang Aku mau."
"Baik Bu, akan Saya sampaikan pesan Anda. Kalau begitu, Saya permisi dulu." Winda pergi dengan membawa koper Alex.
"Baiklah Dek, Kita juga harus siap-siap. Nanti kalau Papa datang, Kita bisa langsung pergi dari sini." Aku mengambil koperku dan mulai mempacking baju-bajuku. Untung saja barangku hanya sedikit, jadi Aku tidak akan kerepotan membawanya.
"Kita bisa pulang ke kota J, ketemu kakek nenek Dek. Kalau mereka tidak mau menerimamu, Kita bisa ke Malang atau Surabaya. Kita masih punya banyak tempat tujuan, jangan khawatir ya..."
Selesai mempacking baju, Aku kembali merenung. Kilatan demi kilatan ingatanku bersama Alex mulai berkeliaran di kepalaku. Dari kenangan membahagiakan sampai yang menyedihkan sekalipun.
Cukup sampai di sini akhir cintaku. Cinta yang telah bersamaku selama 12 tahun. Sudah saatnya Aku melepaskan diri dari perasaan ini dan membuat diriku dan anakku bahagia. Aku yakin, tanpa Alex pun Kami masih bisa bahagia.
***
Sudah hari ketiga, namun Alex tak kunjung datang. Mungkin kali ini pun Aku akan menunggu lebih lama dari sebelumnya.
Semakin lama menunggu, perasaan khawatir dan was-was mulai menghantuiku. Aku takut Alex menolak untuk melepasku dan penderitaan ini tidak akan pernah berakhir. Cara apa yang harus kulakukan agar Alex mau melepasku? Berbicara secara baik-baik sudah Aku lakukan, haruskah Aku pergi diam-diam? Hah, bila Aku melakukan hal itu Alex pasti akan mencariku dan membuat kehebohan. Orang tuaku juga pasti akan mengkhawatirkanku. Sepertinya pilihan terakhir, Aku tetap harus sabar menunggunya datang.
***
"Datanglah ke Resto De Luna. Winda akan mengantarmu. Aku akan memberimu jawaban."
Di hari ke empat, Aku mendapat pesan dari Alex. Perasaanku tidak karuan. Ada rasa takut sekaligus cemas. Aku harap Alex tidak membuat masalah ini menjadi lebih rumit dan mau segera melepasku.
"Apa ini Wind?"
"Pak Yohan menyuruh Saya untuk memberikan ini pada Anda."
Aku menerima kotak itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah sebuah gaun hamil berwarna baby pink. Gaun itu berlengan panjang dan selutut. Lengan dari gaun itu transparan yang mana terdapat pita girly di ujung lengannya. Bagian bawah gaun terdapat rumbai transparan yang membuat gaun itu terlihat lebih feminin. Sementara di bagian perut terdapat pita tipis yang berguna untuk menyesuaikan lekuk pemakainya. Secara keseluruhan, gaun itu sangat cantik.
"Kenapa Aku harus memakai gaun ini?"
"Saya kurang tahu Bu. Saya hanya menuruti perintah dari Pak Yohan."
"Dia dimana?"
"Saya rasa beliau sedang menunggu di tempat yang sudah dijanjikan."
"Baiklah Aku akan segera memakainya. Semakin cepat Aku bertemu dengannya, semakin cepat masalah ini selesai. Ada lagi yang harus kupakai?"
"Iya Bu. Ini sepatu dan tas Anda." Winda menyerahkan sepatu flat dan tas berwarna pink. Sungguh si Yohan ini suka sekali melihatku memakai baju pink. Aku akan menuruti semua permintaannya. Ini akan menjadi terakhir kalinya Aku patuh terhadapnya.
Winda membantuku berhias. Dia memoles wajahku dengan make up flawless dan menata rambut hitamku. Aku melihat tampilanku di kaca. Aku terlihat lebih segar dan muda dibanding umurku. Aku terlihat seperti mama muda yang cantik. Tampilan yang cocok bertemu dengan Alex untuk terakhir kali.
"Aku sudah siap Win, ayo Kita berangkat."
"Baik Bu."
Winda membawaku ke restoran Eropa yang terletak di Jakarta Utara. Di sepanjang perjalanan, Aku menekan rasa gugupku dengan minum air mineral dan menggosok-gosok tanganku.
Aku berharap Alex memberi jawaban yang kuinginkan. Namun di sisi hatiku yang lain muncul perasaan sedih dan sakit bila itu benar-benar terjadi. Sungguh, mengapa hatiku menjadi rumit seperti ini?
Setelah setengah jam perjalanan, mobil berhenti di salah satu resto bernuansa Eropa. Resto itu menyuguhkan konsep teduh dan nyaman. Di depan resto terdapat banyak tanaman, sehingga akan membuat pengunjung betah untuk berada di sana dalam jangka waktu yang lama.
Resto itu memiliki konsep bangunan berkaca dengan jendela-jendela besar, sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan di luar resto. Banyak lampu hias berwarna kuning menghiasi sudut-sudutnya sehingga sekilas mengingatkan Kita akan kumpulan kunang-kunang.
Winda membawaku memasuki resto. Di dalam resto terdapat pohon besar dan rindang dimana di setiap rantingnya dihiasi oleh lampu berwarna temaram. Di setiap ruangan di hias oleh tanaman dan bunga-bunga cantik. Hampir di setiap sudut ruangan di dekor layaknya pesta perayaan pernikahan atau pertunangan?
"Winda, apa Kita tidak salah masuk resto?"
"Tidak Bu. Saya sangat yakin di sinilah tempatnya. Dan itu Pak Yohan..." Winda mengedikan matanya, memberi aba-aba padaku untuk melihat arah pandangannya.
Benar juga, Aku melihat Alex di sana. Melihatku datang, dia langsung berdiri dan berjalan ke arahku. Alex memakai baju slimfit berwarna putih tulang. Lengan panjangnya dia gulung hingga tampak otot-otot lengannya. Dia memakai celana berwarna beige dan sepatu coklat. Penampilannya itu mengingatkanku akan pertemuan pertama Kita pada saat reuni.
Alex menyisir rambutnya dengan rapi dan berjalan ke arahku dengan percaya diri. Penampilannya yang luar biasa tampan menggoyahkan hatiku. Sanggupkah Aku berpisah dengan laki-laki ini?
Awalnya tatapanku terpaku hanya pada Alex, sebelum akhirnya Aku menyadari sosok-sosok di belakang pria itu. Aku melihat kumpulan orang-orang yang tengah duduk di meja besar di belakang Alex. Aku mengenali beberapa orang di sana, terlebih lagi dengan sosok cantik yang tengah melambai-lambaikan tangannya padaku. Ya, Aku melihat Diana di sana!!
Seketika perasaan mual dan pusing melandaku. Perutku bergejolak, sementara hantaman rasa pusing di kepala membuat pandanganku bergoyang. Keringat dingin membasahi pelipisku.
Tubuhku mulai goyah. Pandanganku sedikit demi sedikit mulai menggelap. Aku tidak sanggup berdiri lagi. Sebelum Aku benar-benar terjatuh, Aku merasakan tangan kuat menopang tubuhku dan membawaku ke dalam pelukannya.
"Khansa!!" Aku mendengar suara teriakan Alex dan suara beberapa langkah orang yang menghampiriku. Wajah-wajah mereka tampak sangat cemas. Aku menatap wajah cemas Alex untuk terakhir kali, sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
***
POV Khansa END 😌
NB : Baiklah, karena banyak yang penasaran dengan POV Alex, meskipun belum waktunya, Aku menyudahi POV Khansa. Chapter selanjutnya POV Alex. Untuk POV Alex masih belum tahu update kapan, nanti Aku umumkan di igeh. So jangan tanya2 di komen kapan UP lagi ya. Terima kaseeehh 💃