Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 82 - Karma


"Kejadian terulang lagi? Maksudnya apa Dok?" Alex bertanya dengan menyelidik. Aku langsung menatap dokter Afifah dengan khawatir. Berharap dokter itu memberikan jawaban yang membuat Alex tidak curiga.


"Ehm, maksud Saya begini Pak. Kehamilan Ibu Khansa sudah memasuki trimester ketiga, jadi harus lebih hati-hati. Hindari hal-hal yang berisiko, misalnya berhubungan suami istri."


"Anda yakin tidak ada alasan lain?"


"Iya Pak. Pesan Saya, jaga istri Anda baik-baik. Jaga perasaannya agar tidak stres. Senangkan hatinya. Karena perasaan istri Anda akan berpengaruh terhadap janinnya."


"Dengerin itu Yank. Perasaanmu akan berpengaruh terhadap Alkha. Jangan ngambek-ngambek lagi." Dengan tidak tahu malu Alex menciumi tanganku, seolah-olah Aku pusat dari kesalahan itu. Menyebalkan!


Setelah menebus obat dan vitamin, Kami pulang ke rumah. Di sepanjang jalan Alex melancarkan rayuannya. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, sementara tangannya mengelus-ngelus perutku.


"Alkha, Mama jahat. Dari semalam Papa dicuekin. Papa salah apa?"


"Gerah. Jauh-jauh." Aku mendorong kepala Alex, tapi pria itu langsung menyergap tubuhku dan memelukku dengan lebih erat.


"Sayangku sudah mau bicara. Aku tidak akan melepasmu, cup... cup... cup..." Alex membombardirku dengan ciuman. Semakin Aku berusaha melepaskan diri, semakin erat dia memelukku. Akhirnya Aku membiarkannya. Suatu kesalahan Aku menanggapinya. Seharusnya Aku tetap mendiamkannya, agar dia tidak melunjak.


"Mau pergi kemana? Hari ini Aku masih cuti. Mau belanja? Atau lihat sawah? Kata Winda kemarin lihat sawah ya?"


Oh, Kamu tahu Aku pergi lihat sawah? Seharusnya Winda juga memberitahumu kalau Aku menangisimu?! Lalu mengapa Kamu masih tidak merasa bersalah?!


"Atau Kita pulang ke rumah? Berpelukan sepanjang hari? Saling melepas rindu? Aku tahu Kamu menangis karena merindukanku kan?"


Aku melirik Alex. Ingin rasanya Aku mencakar wajah tampannya yang tampak percaya diri itu! Mudah sekali dia berkata seperti itu?! Mengapa dia begitu menyepelekan perasaanku? Apa karena dia tidak memiliki perasaan yang sama?


Hah, percuma meladeninya. Yang ada akan semakin membuatku makan hati. Lebih baik Aku kembali mengacuhkannya saja. Itu lebih baik untuk hati dan emosiku.


"Sini deh, Aku kangen." Alex meraih tubuhku, menempatkan di pangkuannya. Kembali mengecupi pipi dan keningku. Ketika bibirnya akan mencapai bibirku, Aku segera mendorong wajahnya jauh-jauh.


"Cium Aku sayang. Aku merindukan bibirmu." Alex kembali merangkum wajahku, memaksa bibirnya mel*mat bibirku. Sedetik kemudian bibirnya sudah menjelajahi rongga mulutku. L*dahnya menjalar kemana-mana. Menggodaku untuk membalas perlakuannya.


Baiklah, Aku akan membalasnya. Aku mengigit lidah dan bibir Alex kuat-kuat!


"Aauuwwww!!" Alex melepaskan pag*tannya. Dia memegang bibirnya. Timbul perasaan bersalah dalam hatiku melihat bibir dan lidahnya yang berdarah. Tanpa sadar Aku langsung memegang bibirnya.


"Sakit yank..." Alex memegang tanganku dan menunjukkan bibir dan lidahnya yang berdarah. Dia memasang ekspresi minta dikasihani. Timbul sebersit rasa kasihan dalam hatiku. Namun sejurus kemudian Aku kembali mengingat perbuatannya. Aku kembali mendorong wajahnya jauh-jauh.


Bodo amat, rasakan!! Itu akibatnya jadi pria ganjen, tidak punya hati dan tidak memikirkan perasaan pasangannya!


Alex meminta tissue pada supir dan membersihkan bibirnya. Ada cukup banyak darah di tissue. Lagi-lagi perasaanku menjadi bersalah. Meskipun dia menjengkelkan, rasanya tidak tega juga melihatnya terluka seperti itu.


Pada akhirnya Kami pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Alex mencoba menuntunku, tapi Aku selalu menepis tangannya. Tidak mau menerima penolakan, dia langsung membopong tubuhku dan akan membawaku ke kamar.


"Turunkan Aku!! Aku belum minum susu!!" Alex menghentikan langkahnya. Dia menurunkan Aku di ruang keluarga dan meletakkan tubuhku pelan-pelan di atas sofa.


"Tunggu di sini sayang, Aku akan membuatkannya untukmu." Sebelum Aku menjawab, Alex sudah menghilang dari pandangan. Dia pergi ke dapur dan membuatkanku susu. Sepuluh menit kemudian dia datang membawa susu dan biskuit bumil.


"Hati-hati, masih panas." Alex menyeduh susu itu dan meniup-niupnya agar suhunya turun.


"Aku bisa minum sendiri." Aku meraih susu itu, namun sebelum Aku bisa menjangkaunya Alex menjauhkan susu itu dari tanganku. Sikapnya yang spontan membuat posisi gelas terguling hingga akhirnya susu itu tumpah tepat di celananya.


"Auuwww!! Auuuwww!!Aauuuww!!" Alex cepat-cepat berdiri dan mengibas-ngibaskan celananya. Susu panas itu tumpah tepat di bagian sensitifnya. Entah kenapa Aku ingin tertawa terbahak-bahak melihatnya kelabakan seperti itu. Rasanya Aku puas sekali. Hahahaha...


Alex segera berlari ke kamar mandi terdekat. Begitu Alex menghilang dari pandangan, Aku langsung tertawa puas. Aku senang melihatnya menderita seperti itu!! Itu karmamu wahai pria ganj*n!!


Lima belas menit kemudian, Alex keluar dari kamar mandi. Tampak handuk membelit tubuh bagian bawahnya.


"Sayang, Aku ke atas dulu. Sebentar lagi Aku buatkan susu yang baru." Kemudian Alex naik lift menuju kamar Kami. Wajahnya tampak sangat lesu, mungkin sudah terjadi sesuatu dengan benda pusakanya? [Maaf, Aku ngetiknya sambil tertawa nih 😂]


Pria itu memakai kaos dan celana kolor longgar. Cara jalannya sedikit aneh. Dari raut wajahnya dia nampak kesakitan. Entah harus tertawa atau prihatin melihatnya seperti itu.


"Kok sudah buat susu sendiri yank? Padahal mau Aku buatin."


"Kelamaan."


"Aku bantu bawa ke depan ya..."


"Nggak usah. Entar kena *itu* lagi." Tanpa sadar tatapanku beralih pada sel*ngk*ngannya. Wajah Alex tampak meringis.


Aku membawa biskuit dan susu ke ruang keluarga, sementara Alex membuntutiku dari belakang.


Aku duduk di sofa, membuat diriku senyaman mungkin. Alex ikut-ikutan duduk di sebelahku. Aku mengacuhkannya, tetap menyantap biskuit dan meminum susuku.


"Katanya bumil itu kakinya bengkak ya, sini Aku pijat kakimu." Tanpa menunggu jawabanku, Alex langsung berlutut dan memijat kakiku.


"Lepas!!"


"Jangan emosi. Ingat dokter bilang apa." Aku terdiam mendengar kata-kata Alex. Ya, Aku memang tidak boleh emosi. Pada akhirnya Aku membiarkan dia memijat kakiku yang membengkak.


Alex memijatku dengan lembut dan hati-hati. Melihatnya berlutut seperti itu membuatku sedikit kasihan, tapi bukan berarti Aku sudah memaafkan perbuatannya!


Aku ingin menjambak rambutnya dan bertanya, apa alasan dia tidak menghubungiku?! Apa karena terlalu sibuk dengan Diana?! Namun yang terlontar dari mulutku ternyata hal lain.


"Ba-bagaimana kondisinya? Ap-apa *dia* baik-baik saja?"


"Hah? Dia?" Alex mendongakkan kepalanya. Menatapku dengan bingung.


"Itu... Itu... Apa baik-baik saja?" Tanpa sadar Aku menunjuk sel*ngk*ngan Alex. Ingin Aku menampar diriku sendiri.


"Ohh... Kondisinya sangat tidak baik. Memerah. Pasangin salep dong yank..." Alex berkata dengan wajah memelas 🥺 seperti seekor anak khoceng yang minta di manja. Modus!! 😤


***


Happy Reading 😝


Q & A Lageeeh


Q : Thor, kapan POV Alex? Katanya nggak nyampe episode 100? Ini udah episode 80an loh Thor.


A : Yaelah, kan masih eps 80an gezz, belum eps 100 kan. Santuy seperti di pantuy sambil nyemil rengginang aja ya nunggunya 🤤


Q : Thor, sekarang kok malas update ya? Update pelit. Nggak kayak dulu.


A : Yaelah, jahat banget sih ngomong akoh males 😭 Kan udah dijelasin kemarin, kendalanya karena apa. Yang pertama, karena sekarang Akoh kerjanya merangkap kerjaan 3 orang. Ada temen cuti melahirkan, jadi kerjaan dia, Akoh yang kerjain. Biasanya siang bisa megang HP buat ngetik episode, sekarang kagak bisa. Akhirnyah, 1 hari hanya bisa update 1 episode gezz. Kendala kedua, kemarin akoh sempet sakit juga ya. Mohon dimengerti ya, duniaku nggak hanya di Mangatoon/Noveltoon aja. Aku juga punya RL yang butuh diperhatiin. Jadi please, jangan minta crazy up, atau bilang Akoh malas update lagi. Sakeeeddd hatiku gezz, seperti di iris-iris sembiluh sakedddd tapi tak berdaaraahh 🤧😭


A : Thor, kok akhir-akhir ini episodenya makin pendek?


Q : Nggak pendek zheyenk. Setiap episodeku itu isinya 1100-1300 kata. Jadi itu hanya perasaanmu saja zheyenk 😌


A : Thor, kenapa sih Khansa selalu ngebatin aja? Nggak ngomong langsung ke Alex? Trus Alex juga gitu, kenapa misterius banget?


Q : Emang sengaja karakternya dibuat kek gitu zheyenk. Jadi jangan baveerr2 ya.. Mending wafeerr aja, enak dimakan. 😌


Udah gitu aja Q & A nya. Kalo ada pertanyaan lain bisa DM igehkoh ya @erka3162.


Terima kaaaseeehh 😚😙🤗