Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 64 - Lagi-lagi Bertemu


Hasil chek up hari itu bagus. Bayiku sehat. Detak jantungnya kuat. Berat badannya juga sesuai dengan umur kehamilan. Jagoanku selalu tidak mengecewakan mamanya. Aku mengelus-ngelus perutku dengan senang.


Satu hal yang membuatku sedikit kesal. Si bodoh di sampingku ini menanyakan tentang hal "itu".


"Tadi malam Kami melakukannya. Dengan durasi yang cukup lama. Istriku juga mengalami pelepasan beberapa kali. Apa itu tidak apa-apa untuk bayi Kami?"


Ingin rasanya Aku memasukan pria itu ke dalam karung dan membuangnya ke laut. Pertanyaannya benar-benar membuatku sangat malu. Aku tidak berani memandang wajah dokter itu lagi.


"Ehem... Sebenarnya tidak apa-apa Pak. Tapi tolong pelan-pelan, dan durasinya jangan terlalu lama. Takut istri Bapak kelelahan..." Aku menatap sekilas wajah dokter muda itu. Ada kilatan ketertarikan di wajahnya ketika melihat Alex. Aku tidak suka melihatnya.


Aku melihat Alex. Dipikir-pikir, bukan salahnya dokter itu juga kalau tertarik melihat Alex. Sedari SMA pria ini memang sudah tampan. Banyak wanita yang mengemis di kakinya hanya untuk sekedar menjadi pacarnya. Itu masih berlaku sampai sekarang. Apalagi kata orang, semakin dewasa umur pria, maka pesonanya akan semakin keluar. Berbanding terbalik dengan wanita. Memikirkan hal itu membuatku semakin kesal.


"Kenapa cemberut?"


"Nggak apa-apa." Kami berada di mobil dan sedang perjalanan pulang ke rumah.


"Kenapa? Sini bilang." Alex menarik tubuhku dan meraih wajahku. Memposisikan wajahku agar menatapnya.


"Masih tidak mau jujur?"


"Bisa tidak dokternya diganti Mas?"


"Kenapa?"


"Aku lebih suka dokter yang lebih tua..."


"Menurut Winda, dokter tadi itu salah satu dokter kandungan terbagus di sini. Ada yang salah?"


"Aku lebih suka yang tua. Katanya pengalamannya lebih banyak..." Aku berusaha mengeles, tidak mau menatap wajah Alex karena takut pria itu membaca kebohonganku.


"Ya, dokternya Kita ganti saja. Kita cari dokter yang tua. Sesuai dengan maumu." Alex menarik tubuhku dan mencium keningku. Aku memeluk pria itu.


Semakin hari Aku menjadi semakin egois. Aku ingin menguasai Alex, menjadikannya milikku saja. Aku takut dengan perasaan ini.


***


Selama tiga hari berturut-turut Alex berada di rumah. Tidak banyak aktivitas yang Kami lakukan selain makan, rebahan, bercinta. Begitu terus berulang-ulang.


Seperti saran dokter, Alex melakukannya secara perlahan dan penuh kelembutan. Tapi masalah durasi, dia tidak bisa mengaturnya. Durasinya tetap saja lama. Dan hasil akhirnya, Aku selalu saja lemas tak berdaya.


Aku mulai pintar berciuman, tapi tidak pintar hal lainnya. Pelajaran mengenai ranjang tidak bisa kuserap dengan baik karena Aku selalu tumbang dibuatnya. Aku secara sukarela selalu melayani Alex karena Aku suka melihatnya memanggil namaku ketika pelepasan. Seolah-olah Aku menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupnya. Mengusir nama-nama wanita lain, termasuk Diana. Itu dalam khayalanku.


Di hari ke empat, Alex mulai bersiap-siap ke kantor. Aku menyiapkan baju dan sepatunya. Belum apa-apa Aku sudah merasa kesepian.


"Kalau butuh apa-apa, telepon ya. Nanti Aku suruh Winda memesannya untukmu."


"Hem."


"Kenapa cemberut?"


"Nggak apa-apa..."


"Aku janji, begitu pekerjaan selesai Aku akan langsung pulang. Kamu baik-baik di rumah. Jangan keluar rumah tanpa izin dariku, oke?"


"Iya..."


"Sini bibirnya." Alex menangkup wajahku dan mengecupi bibirku. Mengigitinya kecil-kecil. Menggodaku untuk membalasnya. Namun karena sedang kesal, Aku tidak membalas perlakuannya.


"Jangan cemberut lagi. Aku usahakan pulang cepat. Suami berangkat kerja tidak boleh cemberut. Sini cium Aku." Alex meraih tubuhku. Mau tidak mau Aku membalas ciumannya untuk menyenangkan hatinya.


Kami berpag*tan cukup lama sebelum akhirnya berpisah. Sepeninggalnya Alex, Aku kembali sendiri. Aku tidak suka dengan perasaan ini. Aku kembali kesepian dan merasa tidak berguna.


Entah apa kuat berdiam diri tanpa melakukan apa-apa selama tiga bulan kedepan seperti ini? Sepertinya Aku harus membujuk Alex untuk memperbolehkanku bekerja lagi.


***


Indeks saham mulai stabil. Isu yang beredar juga sudah mulai hilang. Gejolak para nasabah untuk menarik dana secara besar-besaran juga sudah senyap, seharusnya Alex bisa pulang cepat nanti malam.


Menunggu Alex pulang kerja sama seperti menunggu cintaku untuk dibalas olehnya. Lama.


Setiap jam Winda selalu menelepon dan menanyakan hal yang sama. Sementara Alex tidak pernah menghubungiku sendiri. Apa menjadi GH memang sesibuk itu? Hingga dia tidak punya waktu untuk menghubungiku?


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku sudah mandi dan berdandan sedikit. Aku bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Alex. Aku turun ke lantai bawah dan mulai keluar teras.


"Nyonya mau kemana?"


"Mau kedepan."


"Kata Tuan, Nyonya tidak boleh keluar rumah. Kalau pun keluar harus izin beliau..." Mbak Asih, ART ku yang berumur akhir 30an mengikuti langkahku dengan wajah cemas.


"Aku hanya di depan rumah Mbak. Aku mau menunggunya pulang."


"Tapi Nyonya..."


"Tidak apa-apa Mbak. Dia tidak akan marah."


"Kalau begitu, apa Saya boleh ikut? Saya tidak akan mengganggu Nyonya. Saya hanya diam dan menemani Nyonya..."


"Iya Mbak, tidak apa-apa. Silakan." Kemudian Aku keluar rumah. Security tampak ragu membukakan pintu. Namun setelah meyakinkan bahwa Aku tidak akan kemana-mana, dia membukakan pintu itu untukku.


Aku seperti mendapat udara segar. Rasanya begitu lega berada di luar rumah seperti ini, meskipun hanya sebatas di depan rumah.


Seindah apapun rumah yang dibangun, namun bila tidak diberi kebebasan untuk melakukan apapun yang Kita mau rasanya cukup mencekik juga. Sama seperti burung di dalam sangkar.


Aku menanggalkan sandalku dan mulai berjalan hilir mudik. Mbak Asih mengikuti kemana pun Aku melangkah. Sepertinya benar-benar takut Aku akan meninggalkan rumah itu.


Sudah lama Aku tidak berjalan kaki seperti ini. Semenjak hamil Aku sering berolahraga kecil seperti ini. Namun semenjak tinggal di Jakarta Aku mulai melupakan rutinitasku ini. Aku terlalu sibuk bermanja-manja pada Alex, hal yang selama ini tidak pernah kudapatkan.


"Biasanya dia pulangnya malam ya Mbak?"


"Saya kurang tahu Nyonya. Saya baru bekerja di sini. Semua pekerja di sini baru semua."


"Kok bisa?"


"Iya. Setahu Kami, Tuan baru membeli rumah ini Nyonya. Sepertinya Tuan khusus membelinya untuk Nyonya..."


Aku mencerna informasi itu baik-baik. Sengatan rasa sakit kembali menelusup di hatiku.


Ya, pantas saja Alex baru membeli rumah ini. Sebelumnya pria itu tinggal bersama Diana. Hidup dengan bahagia. Karena kehadiranku, dia membeli rumah ini agar bisa kutempati tanpa mengganggu kehidupannya dengan Diana. Pantas saja bila semuanya terasa baru.


Tapi mengapa selama seminggu ini Alex selalu bersamaku? Alasan apa yang dia gunakan pada Diana?


Perasaan bersalah menghantamku. Selama seminggu Aku sudah menguasai Alex. Padahal Diana juga sedang hamil. Masih sama-sama membutuhkan Alex. Mengapa Aku egois sekali? Ingin menguasai Alex untuk menjadi milikku sepenuhnya? Padahal Aku orang ketiga dalan hubungan mereka. Benar-benar tidak tahu diri.


Aku melangkah sembari berpikir. Menyusuri jalan di depan rumah tanpa ingat dengan sekitarku. Aku tidak menyadari ketika ada mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di sebelahku.


Kaca penumpang mobil itu diturunkan, kemudian tampak seorang wanita cantik melongokkan kepalanya sembari memanggilku.


"Khan... Khansa ya?" Mendengar namaku dipanggil, Aku pun menoleh. Betapa terkejutnya Aku melihat siapa yang memanggilku.


"Di-Diana??" suaraku pun menjadi tercekat.


***


Happy Reading 😑