
Aku memaksa mengantar gadis canggung itu. Ada perasaan khawatir setiap kali melihatnya. Apalagi malam ini. Perasaan itu tumbuh menjadi berkali-kali lipat.
Aku tahu Diana keberatan, tapi Aku tidak lagi peduli. Aku memutuskan untuk mengantar Diana lebih dulu.
Diana cukup posesif padaku. Dia mencemburui hampir semua gadis disekitarku. Sebenarnya Aku tidak tahu alasan dia dulu menerimaku. Apakah karena tampangku? Kekayaan keluargaku? Atau benar-benar sayang? Entahlah, dulu Aku tidak begitu memikirkannya, namun sekarang pikiran itu mulai terbersit dibenakku.
Aku mengantarkan Diana tepat didepan rumahnya.
"Tidur sana." ucapku.
"Ay, jangan macem-macem."
"Maksudnya?"
"Aku nggak suka Kamu nganterin dia." Diana melirik Khansa yang berada di dalam mobil. "Tapi tampang seperti itu nggak pantas Aku cemburui. Aku tahu Kamu nggak mungkin tertarik sama dia. Benar kan Ay? Kamu cuman kasian aja kan sama dia?"
"Iya."
"Cium Aku Ay..."
"Ada Khans..."
Cup... Cup... Cup... Diana lagi-lagi menciumku lebih dulu. Aku segera menahan tubuhnya dan melirik Khansa. Entah mengapa ada perasaan khawatir bila Khansa melihatku berciuman seperti ini.
"Kenapa sih? Cup... Cup... Cup..." Diana kembali menciumku. Sudah kepalang basah juga, akhirnya Aku membiarkan Diana menciumku.
Setelah beberapa kali kecupan dan l*matan, Diana mau masuk ke rumahnya juga. Aku kembali ke mobil. Perasaanku tidak enak melihat Khansa.
"Maaf ya, Kamu jadi melihat adegan seperti itu."
"Eh ya... Ng-nggak apa-apa. Su-sudah biasa..."
"Kamu sudah biasa melihat adegan seperti itu?"
"Ehmm ya..."
Aku menatap si kucing. Kenapa dia terlihat menggemaskan?
"Kamu sudah punya pacar Khans?" tanyaku. Dijawab dengan gelengan kuat si kucing. "Kenapa belum punya? Untuk anak SMA seperti Kita bukannya sudah wajar berpacaran ya?"
"Tidak ada yang mau." Si kucing menjawab dengan sendu. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa mendengar jawabannya.
"Hahaha, Kamu lucu juga ya. Kok bisa bilang nggak ada yang mau sih, ada-ada saja Kamu ini..."
"Memang tidak ada yang mau kok..." si kucing bersikukuh.
"Kok bisa?" Aku menatap Khansa dengan bingung.
"Entah Kamu mengejekku atau apa..."
"Hei, kenapa Kamu berpikir Aku mengejekmu? Aku benar-benar serius bertanya, kok bisa tidak ada yang mau? Kamu kan manis."
"Ja-jangan bohong..." Si kucing nampak tidak percaya diri. Dia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Aku ingin meraih dagunya dan menegaskan padanya, bahwa dia tidak sejelek yang dia pikirkan.
"Aku tidak berbohong. Coba kacamatamu dilepas. Rambutmu diurai, Kamu manis kok. Aku temanmu, mana mungkin Aku berbohong." Aku memang tidak berbohong. Si kucing memang manis. Apalagi kalau bisa kupelihara, akan lebih manis lagi.
[Di mataku, kucing tampak semanis ini]
***
"Al!! Bangun! Bangun!" Aku mendengar suara-suara berisik di pagi hari. Aku menarik selimut dan menutup kepalaku dengan bantal.
"Bangun Al! Jemput kakakmu. Ayo bangun!" Suara BuPres yang berisik menghiasi pagiku yang indah.
"Apasih Ma... Libur nih..."
"Karena Kamu libur, sana jemput kakakmu. Bangun sana. Cepat mandi." BuPres menarik selimut dan mengambil bantalku. Membuka tirai kamarku lebar-lebar hingga membuatku silau. Aku membalikan tubuhku dan melanjutkan tidur. Namun BuPres tidak membiarkanku begitu saja. Beliau mulai menarik kakiku hingga Aku terjatuh dari ranjang.
"Auuuww!!"
"Salah siapa disuruh bangun tidak mau. Anak ganteng cepat mandi ya. Kasihan kakakmu sudah menunggu di bandara tuh."
"Hishh, Mama. Kenapa nggak dijemput supir aja sih? Memang rumah Kita kekurangan supir?"
"Kakakmu tidak mau. Dia ingin dijemput adiknya. Sana cepat jemput. Mama nggak sabar lihat dua anak ganteng Mama ada di rumah ini." Mama bersenandung riang dan keluar dari kamarku.
Aku memutuskan untuk mandi. Rasa sakit di p*nt*t tidak bisa membuatku kembali tidur. Selesai mandi Aku langsung turun ke lantai bawah.
Hari ini Diana mengajakku kencan. Aku berencana mengajak Khansa juga. Mungkin dengan membuat mereka berteman, Diana tidak akan sejengkel itu pada Khansa.
Sepertinya kencan ini harus Aku undur selama beberapa jam karena Aku harus menjemput si playboy yang pulang kampung.
***
Dari kejauhan Aku sudah melihatnya. Sosoknya tampak menonjol di antara orang lain. Dia memakai celana dan jaket jeans abu-abu dengan kaos putih di dalamnya. Tingginya 180 cm, beda 7 cm denganku. Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup berdiri seperti itu saja dan perhatian orang-orang sudah terpusat padanya.
Dia adalah Yuan Aaron Seanan. Kakak laki-laki satu-satunya, karena Kami hanya dua bersaudara. Dia tiga tahun lebih tua dariku. Menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan berada di semester kedua.
Aku tidak tahu maksud kedatangannya kali ini. Mungkin dia tengah libur kuliah? Tapi Aku punya feeling dia akan membuat masalah.
"My lil bro!!" Aaron menangkap kehadiranku. Dia menarik kopernya dan berjalan ke arahku. Dalam sekejap mata dia mendekap tubuhku. Aku membiarkannya saja, karena kalau Aku memberontak dia akan lebih erat mendekapku.
"Bagaimana kabarmu Bro? Coba Aku lihat." Aaron memperhatikanku dari atas sampai ke bawah. "Hem... Wajah ini tampan juga. Tapi belum bisa mengalahkan wajahku. Tubuh ini juga semakin tinggi. Katakan padaku, Kamu sudah punya pacar kan?" Aaron memegang daguku. Aku menepis tangannya dan berjalan menjauhinya. Aaron selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil.
"Cepat pulang. Mama sudah nungguin."
"Tunggu dulu dong. Hampir setahun Kita nggak ketemu. Kamu nggak kangen sama kakakmu yang tampan ini?"
"Sama sekali tidak!" Memang Aku tidak merindukannya. Aaron senang mengusiliku. Kita hanya beda tiga tahun, tapi dia bersikap seolah-olah lebih dewasa dari segalanya.
Aaron menyergap leherku dan menguncinya. Membuatku tidak bisa bergerak.
"Adik bodoh. Bukan seperti itu cara menyambut kakakmu, bodoh."
"Lepaskan!!"
"Coba saja kalau bisa."
Percuma meladeni orang seperti dia. Sepertinya Aku cukup mendiamkannya saja.
Aaron mengoceh banyak hal. Aku membiarkannya berkicau sesuka hati. Kita tiba di parkiran bandara. Aku menyuruh Aaron menyetir dan dia menyetujuinya.
Di sepanjang jalan Aaron berbicara tentang banyak hal. Aku mengacuhkannya. Bukannya Aku tidak menyayangiku kakakku, hanya saja dia sering memperlakukanku seperti anak bayi. Itu yang membuatku malas.
Kami tiba di rumah disambut dengan teriakan gembira Ibu Presiden. Mama langsung melompat ke pelukan anak sulungnya itu. Aaron tak kalah antusias. Dia langsung menggendong tubuh Mama dan memutar-mutarnya. Aku memperhatikan adegan berlebihan itu sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan sikap kekanak-kanakan mereka.
"Ma, Aku keluar dulu."
"Eh mau kemana? Kakakmu baru datang. Makan siang dulu."
"Mau keluar sama dia. Sudah janji." ucapku.
"Diana?? Ya sudah hati-hati." Aku mencium tangan Mama dan berlalu.
"Hei, cium tangan kakakmu juga." Aaron menjulurkan tangannya. Aku menepisnya dengan segera.
"Pergi dulu." Aku pun berlalu.
"Dasar bocah teng*k. Si bocah punya pacar Ma?" tanya Aaron pada Mama.
"Punya. Pacarnya cantik banget lho Ar. Mama nggak sabar pengen jadiin dia menantu."
"Serius secantik itu?"
"Iya. Kapan-kapan Mama kenalin deh. Kalau adikmu nggak mau, buat Kamu saja. Mama nggak peduli sama yang mana. Asalkan dia jadi menantu Mama."
"Mama ada-ada saja."
Aku mendengarkan percakapan-percakapan itu sambil lalu. Semakin jauh jarak, suara-suara itu mulai tidak terdengar lagi.
Aku akan menjemput Diana, kemudian Kami akan pergi ke rumah Khansa. Aku akan mengajak si kucing itu pergi bersama Kami. Hitung-hitung biar si kucing ada temannya, iya nggak sih.
***
Happy Reading 🙄
NB : Bukan bolos Up, tapi lama proses review. Terima kasih untuk yang pengertian dan masih bersedia menunggu 🙏