Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 85 - Bertemu dengan Si Polos


Awalnya Aku tidak menyadari keberadaannya. Dia bagaikan mahluk transparan di kelasku. Tidak ada yang menganggap atau memedulikannya. Aku pun awalnya juga tidak peduli dengannya, hingga akhirnya Aku menatap mata polos itu.


"Hei, pinjam tipe X dong." Wajahnya terlihat gugup. Dia tampak sulit berkata-kata. Dia menganggukkan kepalanya dan menyerahkan tipe X itu padaku.


Aku melihat wajahnya sekilas. Tidak ada yang menarik pada wajahnya. Secara keseluruhan, dia gadis yang biasa-biasa saja. Orang tidak akan repot-repot untuk melihatnya dua kali bila berpapasan di jalan dengannya. Hanya saja mata dibalik kacamata itu... Mata itu menarikku.


Mengingatkanku akan mata seekor kucing yang ditelantarkan oleh tuannya. Polos, rapuh dan minta dikasihani. Aku tidak bisa mengabaikannya.


Aku mencoba untuk mengajaknya bercakap-cakap, namun sepertinya gadis itu terlalu menutup diri. Susah sekali untuk membuatnya membuka mulut.


Baiklah, sepertinya gadis ini tidak begitu menyukaiku. Oke, cukup sampai di sini. Masa bodohlah kalau dia tidak menyukaiku. Aku cukup mengacuhkannya saja, sama seperti yang dilakukan teman yang lainnya.


***


Aku menikmati hari-hariku seperti remaja pada umumnya. Sekolah, bermain futsal, nongkrong dengan teman, atau sekedar pacaran.


Aku memiliki pacar yang cantik. Kami berasal dari SMP yang sama. Menurut orang, Kami adalah pasangan yang sangat serasi. Banyak temanku yang iri padaku karena berhasil memacarinya. Hal itu menjadi semacam kebanggaan bagiku.


Kalau boleh jujur, pada awalnya Aku tidak begitu tertarik dengan Diana. Oke, dia memang cantik, tapi hanya sebatas itu pesonanya. Tidak ada hal lainnya.


Aku memacarinya karena desakan teman-temanku. Itu menjadi semacam tantangan bagiku untuk menaklukannya. Dan Aku berhasil melakukan itu dengan mudah.


Tanpa Kami sadari, hubungan itu berlanjut hingga Kami SMA. Kami menikmati hubungan itu sewajarnya. Pergi kencan, makan di cafe, nonton film, atau menemaninya ke salon. Melakukan hal-hal kecil bersama. Tanpa Aku sadari, Aku mulai terbiasa dengan kehadiran Diana.


Diana sering mengajakku ke rumahnya, begitu pula sebaliknya. Kami saling mengenal orang tua satu sama lain. Orangtua Kami merespon positif hubungan Kami. Seolah-olah merestui Kami bila nantinya hubungan ini berlanjut ke jenjang yang lebih serius.


Diana adalah sosok yang manja, ingin selalu menjadi pusat perhatian dan tidak suka bila ada orang lain yang mendapat perhatian lebih darinya. Mungkin karena berasal dari keluarga berada dan memiliki paras di atas rata-rata hingga membentuk wataknya menjadi seperti itu. Overall, Aku masih bisa menerima wataknya.


Sama seperti remaja laki-laki pada umumnya, tentu saja dalam berpacaran Aku mencoba hal-hal yang membuat penasaran. Misalnya bagaimana rasanya berpelukan dan berciuman dengan lawan jenis Kita. Hal-hal yang membuat penasaran itu kutemukan jawabannya dalam diri Diana. Dia bagaikan mentorku, entah dia belajar darimana, Aku tidak peduli.


Hari ini sekolah Kami melaksanakan ujian. Aku tahu gadis itu adalah anak yang tidak menonjol dalam bidang apapun. Aku cukup khawatir dengan masa depannya di sekolah ini.


Aku menoleh ke belakang. Rupanya di ujian kali ini pun dia duduk di belakangku. Aku menatap wajahnya yang kebingungan. Mirip seperti anak kucing yang terlantar. Ingin rasanya Aku membawanya pulang dan merawatnya, sungguh pemikiran yang lucu.


"Kamu sudah selesai?" tanyaku. Si kucing menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas. Entah harus tertawa atau kasihan melihatnya seperti itu.


Baiklah kucing kecil bermata polos, Aku memutuskan untuk membantumu. Lain kali Kamu harus mendapatkan nilai dengan usahamu sendiri.


Aku menulis jawaban di secarik kertas kecil dan memberikan padanya. Ujian berlangsung seperti biasa. Ketika ujian selesai, kucing polos itu mentowel bahuku dan balas memberiku secarik kertas. Sebelum Aku sempat bereaksi, kucing itu sudah pergi menjauh. Aku tersenyum membaca kertas itu.


Terima kasih ya, sudah membantuku.


Si kucing mulai mau berinteraksi denganku? Hem, menarik juga.


Selama hari-hari selanjutnya Aku tetap konsisten membantunya hingga ujian selesai. Hari terakhir ujian, Aku mulai kembali mengajaknya berbicara lagi.


"Namamu siapa?" tanyaku.


"Ak-aku Kansha..." Hem, namanya Khansa ya. Nama yang bagus juga.


"Kamu dari SMP mana?"


"SMP X."


"Dimana itu?" tanyaku bingung. Aku benar-benar tidak tahu dengan SMP yang dimaksud. Khansa berusaha menjelaskan padaku dimana letak sekolahnya, Aku hanya mengangguk-anggukan kepala saja. Pura-pura mengerti, padahal sama sekali tidak.


"Kamu sendirian atau ada teman yang lain?"


"Oh...pantas saja."


"Pan-pantas kenapa?"


"Kamu terlihat selalu sendiri." Terjawab sudah kenapa dia selalu sendiri. Dia menjadi satu-satunya anak dari SMP itu.


"Lex, ayo ke kantin." Tiba-tiba segerombol temanku datang. Mau tidak mau Aku harus mengikuti mereka. Hari ini cukup sampai di sini wawancara dengan si kucing polos, besok lanjutkan lagi.


***


Hari itu Aku pulang sendiri. Seperti biasa, Diana menolak pulang bersamaku bila Aku hanya membawa motor. Alasannya panas, takut kulitnya hitam. Oke, wajar dia berpikir seperti itu. Dimana-mana cewek cantik akan selalu menjaga tubuhnya bukan? Tak terkecuali dengan Diana.


Sebenarnya orangtuaku menyediakan mobil antar jemput buatku. Kalau Aku mau, orangtuaku juga mengijinkanku untuk membawa mobil sendiri. Tapi buat apa? Tidak ada guna juga.


Lebih enak bawa motor sendiri. Apalagi saat ini, ketika Aku bisa pulang sendiri. Aku bisa bebas mampir kesana-kemari. Aku bisa mampir ke persewaan komik, main futsal atau sekedar belajar mengasah kemampuan bergitarku.


Menjelang malam, Aku pulang ke rumah disambut oleh ceramah Ibu Presiden.


"Pulang malam terus Al. Darimana saja Kamu? Mana Diana? Kenapa tidak membawanya kesini?"


"Sebenarnya anak Mama itu Aku atau dia sih? Yang ditanyain Diana terus. Ambil aja dia sebagai anak Mama."


"Dia cantik banget lho Al. Mengingatkan Mama waktu muda dulu. Pinter banget Kamu cari pacar Al. Dia anaknya Pak Adrian kan?"


"Kok Mama tahu?"


"Tahu lah, info Mama kan banyak. Keluarga Pak Adrian setara dengan Kita. Diana juga cantik. Kapan Kamu akan mengenalkan Kita Al?"


"Maksud Mama?"


"Ya ngenalin Mama Papa ke calon besan. Kamu harus segera mengikat Diana Al. Keburu diambil orang dia."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Sungguh tidak mengerti dengan cara berpikir Ibu Presidenku ini. Aku baru 16 tahun, tapi Mamaku sudah membicarakan hal ini? Luar biasa lucu.


Aku tidak menghiraukan ucapan Mama lagi. Aku naik ke lantai dua, pergi ke tempat persembunyianku.


"Al, kalau Kamu nggak mau biar kakakmu saja yang mengikatnya! Mama sih terserah, mau Kamu atau kakakmu yang penting segera ikat Diana Al! Kamu dengar Mama ngomong Al?"


Aku tidak mau mendengarkan ucapan Mamaku yang tidak masuk akal. Aku memilih menutup telingaku dengan headphone dan mendengarkan musik keras-keras.


Entah mengapa tiba-tiba sekelibat mata polos itu terbersit di benakku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Menghapus mata itu dari pikiranku. Namun bukannya terhapus, sosoknya malah semakin muncul di benakku. Kegugupan, kebingungan, kepolosan, keluguannya menari-nari dibenakku. Membuatku bertanya-tanya dan berpikir, apa maksud dari ini semua?


"Kucing, sepertinya Aku harus memeliharamu."


***


Happy Reading 😊


NB : Tadi Aku melakukan vote di igeh, mengenai POV Alex. Ternyata hasil vote menunjukan bahwa readers lebih suka bila POV Alex sejak SMA. Pada akhirnya Aku memberikan POV Alex sejak SMA.


Jadi mungkin ceritanya agak sedikit lebih panjang dari prediksiku. Semoga readers suka 😁 Bagi yang merasa ceritanya berbelit-belit, tolong di skip saja ya.


Oh ya, untuk update masih selow ya. Setiap ada episode baru akan langsung Aku setor. Bila tidak bisa update, Aku akan mengumumkannya via igeh. Mohon pengertiannya semuanyah, Terima kaseeeh ya 😙🤗💃💃💃