
Gagal. Aku tidak bertemu dengannya. Tidak ada orang di rumahnya. Nomornya pun dihubungi tidak bisa. Dia pergi kemana sih?
"Sebenarnya Kita mau kemana si Ay? Ini rumahnya siapa?"
"Bukan siapa-siapa. Ayo Kita pulang."
"Terus kencan Kita?"
"Kencan di rumah saja. Aku capek." Aku benar-benar tidak ada mood lagi. Rasanya malas mau melakukan apapun. Diana menghentakkan kakinya, namun Aku sudah tidak peduli.
Aku memacu mobil ke arah rumah. Entah mengapa Aku merasa sangat kesal. Begitu tiba di rumah Aku memarkir mobil secara sembarangan. Masuk ke dalam rumah, menuju kamarku di lantai dua.
"Ay, mau kemana sih?" Diana menarik ekor bajuku.
"Kamar. Aku capek, mau t idur."
"Lah Aku gimana? Katanya kencan di rumah?"
"Kamu sama Mama aja. Atau minta temenin kakakku sana."
"Kakak?" Diana menatapku kebingungan.
"Mama di belakang. Kamu cari aja. Aku ke atas dulu." Tanpa menunggu jawaban Diana Aku naik ke kamarku. Meninggalkan Diana berdiri termangu.
Aku tidak peduli lagi. Rasanya moodku benar-benar jelek hari ini. Di paksa bangun pagi hanya untuk menjemput kakak rese, kemudian rencana yang kubuat untuk bermain dengan si kucing ternyata gagal. Sudahlah, Aku mau tidur saja.
***
Aku bangun ketika hari sudah menjelang sore. Rasa lapar menuntunku untuk pergi ke lantai bawah. Aku bermaksud untuk pergi ke dapur. Ketika melewati ruang keluarga, Aku melihat Mama tengah membaca majalah.
"Mana Diana Ma?" tanyaku.
"Untuk apa Kamu peduli?"
"Cuman tanya aja sih Ma. Kalau nggak dijawab juga nggak apa-apa." Aku berbalik, namun sejurus kemudian Aku merasakan sakit di kepalaku.
"Auwww Ma! Ampun! Ampun Ma!" Mama sedang menjambak rambutku.
"Jadi laki-laki kok tidak peka sih?! Sifatmu ini sama dengan Papamu. Ayah anak kok sama saja! Rasakan ini!" Mama semakin menjambak rambutku.
"Pacar datang bukannya ditemenin malah ditinggal tidur. Sudah gitu nggak dianterin pulang. Nggak ada peka-pekanya. Diana sudah pulang! Kakakmu yang nganterin. Paham anak ganteng?!"
"Ma, serius sakit. Lepasin sih."
"Nih tambahan. Kalau Mama ngomong didengerin. Jangan cuman masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ngerti?!"
"Iy-ya Ma, ngerti-ngerti. Ma, lepasin. Sakit kuping dan kepalaku..."
"Lebih sakit mana? Perasaan Diana lebih sakit. Bukannya diajak kencan malah ditinggal tidur. Bla... Bla... Bla..." BuPres mulai berceramah sembari memelintir telingaku. Menyesal Aku turun ke lantai bawah. Tahu begitu Aku lebih memilih menahan lapar daripada harus merasakan sakit seperti ini.
***
Hari Senin pun datang. Aku bersemangat lagi. Hari ini Aku bisa bertemu dengan si kucing. Sehari tidak bertemu kucing rasanya sangat hambar. Kenapa Aku menjadi seperti ini?
Aku masuk ke kelas dan melihatnya sudah duduk di sana. Dengan bersemangat Aku menghampirinya.
"Hai..." sapaku.
"Eh... H-hai..."
"Kemarin Kamu kemana?"
"Aku dan Diana kemarin ke rumahmu. Tapi rumahmu nggak ada orang. Aku meneleponmu, tapi nomormu tidak aktif."
"Eh? Ke rumahku? Untuk apa?"
"Kita mau ngajak Kamu jalan. Kamu kemana?"
"Oh... Aku-aku keluar..." Aku tidak puas dengan penjelasan si kucing. Aku ingin memberinya lebih banyak pertanyaan, tapi sejurus kemudian guru datang.
Hari ini adalah ujian mapel Fisika. Mau ujian apapun Aku selalu siap. Bukannya sombong. Hanya dengan sekilas membaca saja Aku sudah paham dengan semua materi pelajaran. Jadi bila ada ujian seperti ini Aku tidak perlu repot-repot untuk belajar lagi.
Aku memikirkan si kucing. Apa dia bisa mengerjakan ujian kali ini? Aku memutuskan untuk pura-pura meminjam tipe X dan menanyakan hal itu pada si kucing. Aku lega ketika melihat jawabannya. Sepertinya si kucing bisa mengerjakannya.
Ujian kali ini pun lebih gampang dari yang kukira. Aku menyelesaikan ujian itu lebih awal dari yang lainnya. Begitu bel istirahat berbunyi, semua siswa mengumpulkan kertas ujian.
Aku berbalik ke belakang, ingin mengajaknya bercakap-cakap. Namun sejurus kemudian Diana kembali datang, mengajakku ke kantin. Mau tidak mau Aku menurutinya.
***
Aku kembali ke kelas. Kursi si kucing tampak kosong. Aku melayangkan pandanganku, namun Aku tidak menemukan keberadaannya. Kemana dia?
Aku keluar dari kelas dan mulai mencarinya. Mungkin Aku memang sudah gila. Untuk apa Aku mencarinya? Apa hanya untuk menyerahkan roti dan susu ini? Padahal Aku bisa menyerahkannya di kelas bukan? Tapi Aku punya feeling, sepertinya dia sedang dalam masalah.
Aku mencarinya ke tempat-tempat yang sekiranya dia ada di sana. Seperti misalnya perpustakaan, ruang multimedia, kantin bahkan kamar mandi. Namun Aku tetap tidak menemukannya.
Sebenarnya dia kemana sih? Kenapa membuatku khawatir seperti ini? Sebenarnya ini perasaan apa? Pasti hanya perasaan kasihan bukan?
Aku mulai putus asa. Aku tidak menemukannya dimana-mana. Aku melihat tukang sapu berdiri tak jauh dariku. Aku akan bertanya pada beliau untuk terakhir kali. Bila Aku tidak bisa menemukannya kali ini, Aku akan menunggunya di kelas.
"Permisi Pak."
"Iya Nak?"
"Apa Bapak melihat gadis kira-kira tingginya segini, rambutnya dikuncir, dan memakai kacamata?" Aku berbicara sembari memperagakan ciri-ciri Khansa.
"Gadis itu ya... Sepertinya Bapak tahu. Kalau tidak salah dia pergi ke arah sana. Mungkin berada dibalik gedung itu." Bapak paruh baya itu menunjuk belakang gedung. Setelah mengucapkan terima kasih, Aku berjalan ke arah itu. Berharap menemukan kucing peliharaanku di sana.
Pelan-pelan Aku melangkah. Semakin dekat langkahku, semakin kudengar suara itu. Aku mendengar suara tangisan. Apakah itu Khansa?!
Aku semakin mempercepat langkahku dan menengok belakang gedung sekolah. Langkahku terhenti begitu melihat pemandangan di depanku.
Aku melihat gadis itu tengah terduduk sembari menyembunyikan wajahnya pada kedua lipatan tangannya. Suara tangisnya terdengar keras, tampak menyedihkan dan menyayat-nyayat perasaan. Hatiku seperti dicubit. Hatiku ikut merasakan sakit melihatnya seperti itu.
Pertanyaan-pertanyaan berkelebat di otakku. Namun Aku tidak mau terlalu banyak berasumsi. Tanpa sadar Aku mendekati Khansa hingga gadis itu menoleh, menyadari keberadaanku.
Aku tertegun melihat wajahnya. Baru kali ini Aku melihatnya menangis! Dia tidak pernah menangis meskipun sering tidak dianggap oleh teman-teman yang lain. Dia tidak pernah menangis meskipun harus mengayuh sepeda ke sekolah ataupun ke tempat lain! Dia tidak pernah menangis meskipun rumahnya sederhana dan harus menggantikan peran almarhum ibunya dalam menjaga adiknya. Hal macam apa yang membuatnya menangis sampai seperti ini? Masalah besar apa yang membuat gadis tegar ini menangis?!
Aku ingin meraihnya dalam pelukanku dan mengatakan padanya untuk tidak menangis lagi. Namun Aku menahan tangan-tanganku untuk melakukannya. Aku berjalan mendekati Khansa dan bertanya...
"Kenapa menangis?"
"Aku-Aku nggak menangis..." Si kucing dengan gelagapan menjawabku sembari mengusap airmatanya. Berusaha menyembunyikan itu dariku. Tapi terlambat, Aku sudah mengetahui semuanya. Dia tidak akan kulepas sebelum memberiku jawaban yang tepat.
***
Happy Reading 🤗
NB : Aku akan menulisnya secara runtut ya, agar semua pertanyaan di POV Khansa bisa terjawab semua. Untuk sementara Aku nggak mau baca komen dulu. Dari awal Aku sudah bilang, yang nggak suka please di SKIP aja novel ini ya. Jangan justru mampir hanya untuk komen yang membuat perasaan down. Aku tidak sesetrong yang terlihat gezz 🤧
Terima kasih Aku ucapkan buat yang selalu mendukung AlKhans, love you all 😙🤗