
Rencana untuk berada di kotaku selama tiga hari gagal. Di hari kedua, Alex memutuskan untuk membawaku meninggalkan kota itu. Alasannya, tentu saja karena pekerjaan. Meskipun kesal, mau tidak mau Aku mengikutinya.
Rencanaku untuk tinggal lebih lama di kotaku gagal. Kegagalan itu salah satunya disebabkan ketiadaan orangtuaku di rumah. Aku tidak memiliki alasan untuk tinggal dan melahirkan di kotaku.
Seperti perkataan Alex kemarin, Kami berkendara menggunakan mobil. Kami berangkat sebelum pukul enam pagi, karena ada beberapa cabang yang harus Alex kunjungi. Alex menggunakan supir keluarga untuk mengantarkan Kami ke Surabaya. Kami duduk berdampingan.
"Ngantuk?" tanya Alex.
"Sedikit." Aku ngantuk karena tadi malam Kamu tidak membiarkanku tidur nyenyak. Selalu meminta jatah dan jatah. Benar-benar tidak ada capeknya.
"Sini tidur dulu. Perjalanan masih cukup jauh dan membosankan." Alex menarik tubuhku. Membuat kepalaku bersandar di dadanya dengan nyaman. Kemudian dia menyelimuti tubuhku dengan selimut yang ada di mobil.
Alex sudah memakai baju formal rapi. Tampak benar-benar siap untuk melakukan sidak.
"Kalau terlalu dingin bilang. AC-nya Aku matikan."
"Iya..."
"Tidur ya, cup..." Alex mengecup keningku sebelum perhatiannya kembali pada iPadnya.
Aku mengintip apa yang dilihat Alex. Ternyata pencapaian dari tiga cabang dan target yang belum terpenuhi. Alex benar-benar melakukan sidak seorang diri. Tanpa diketahui siapapun, hanya Aku yang tahu.
Membayangkan punya atasan seperti Alex pasti mengerikan. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba datang ke tiap-tiap cabang. Untuk meninjau kinerja cabang secara real time. Cabang tidak akan memiliki persiapan untuk menyiapkan data-data, sehingga kinerja cabang sesungguhnya akan sangat terlihat.
"Mas..."
"Hem?"
"Perlu ya datang ke cabang dadakan seperti ini?"
"Sangat perlu. Kita akan mengetahui kinerja cabang sesungguhnya dengan melakukan hal seperti ini."
"Apa itu tidak terlalu jahat? Apa tidak membiarkan mereka menyiapkan data-data dulu..."
"Sayang, bagaimana mungkin Kamu menjabat sebagai RMF tapi memiliki hati selembut ini? Dalam dunia bisnis tidak ada kata kasihan. Aku juga bekerja di gaji oleh perusahaan. Aku harus bertanggung jawab dengan jabatanku. Aku harus memutuskan cabang mana yang memperoleh profit atau justru loss dan menentukan merombak cabang itu. Ini bukan perusahaanku sayang. Jadi jangan coba-coba mempengaruhiku dengan pikiranmu."
Alex mulai berceramah. Mana mungkin seorang Khansa menang darinya? Tentu saja seorang Khansa hanya bisa mengiyakan perkataan Alex, si Tuan Maha Benar.
"Sudah, tidur saja ya. Tadi malam kurang tidur kan?"
"Iya, salah siapa?!"
"Salahku. Tapi Kamu suka kan? Buktinya Kamu pelepasan berkali-kali, auuuwwww!!" Aku mencubit perut Alex dengan kencang. Pria menyebalkan. Berani-beraninya dia berkata seperti itu ketika ada orang lain di sekitar mereka?!! Benar-benar memalukan!
"Sana! Aku tidur sendiri!" Aku mendorong dada Alex, tapi pria itu semakin memelukku.
"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang."
"Bodo."
"Sini deh."
"Nggak mau!!"
"Nggak nurut Aku cium lho. Mau di cium di depan Pak Supir?" Alex tampak tertawa geli.
Hisshh, Aku benci sekali dengan ancaman Alex seperti ini, karena pria itu pasti tidak main-main dengan ancamannya.
"Duduk sini." Alex menepuk-nepuk pahanya.
Hem, dia ingin memangkuku? Selama hampir empat jam perjalanan? Dengan kondisiku hamil besar seperti ini? Baiklah, Aku akan melakukannya. Biar dia merasakan kram di paha dan tubuhnya memangku bumil gendut sepertiku. Itu pembalasan yang cukup untuknya.
Aku duduk dipangkuan Alex dan menyandarkan kepalaku dengan nyaman. Alex kembali menyelimuti tubuhku.
"Jangan ganggu Aku. Aku mau tidur."
"Iya. Tidur yang nyenyak bayi gendutku, puk...puk...puk..." Alex menepuk-nepuk bok*ngku dengan sangat menyebalkan.
"Hissshh!!" Aku memang tidak pernah menang melawan orang ini. Dengan hati dongkol, Aku memutuskan untuk tidur.
***
Aku terjaga ketika merasakan tubuhku sedang terusik. Tatapan mataku bertemu dengan tatapan Alex.
"Kebangun ya. Maaf. Tidur lagi ya." Alex mengecupi keningku.
"Sudah sampai mana Mas?"
"Kota P. Kita sarapan dulu. Setelah ini langsung ke cabang. Mau dibungkus apa makan di tempat?"
"Makan di tempat saja." Alex membantuku turun dari mobil. Kami sarapan di tempat makan terkenal lintas Jawa Timur.
Aku melihat waktu. Ternyata hampir pukul sembilan pagi. Aku tertidur dengan nyaman dipangkuan Alex. Aku berharap pria itu merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya akibat memangkuku terlalu lama, tapi nyatanya tidak. Dia tetap bugar, seperti tidak terjadi apa-apa. Hal itu cukup membuatku kesal.
Selesai sarapan, Kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Belum setengah jam berkendara, Kami sudah tiba di cabang yang dituju.
"Mau turun apa di mobil?"
"Di mobil saja Mas."
"Kalau bosen minta antar Pak Sukri jalan-jalan ya."
"Memang berapa lama di sini Mas?"
"Paling lama satu jam. Masih ada 2 cabang lagi yang harus dikunjungi."
"Ya sudah Aku nunggu di mobil saja Mas."
"Iya."
Aku memperhatikan Alex yang memasuki kantor cabang dengan kepercayaan diri yang tinggi. Timbul kekhawatiran pada diriku dengan kondisi cabang Surabaya. Haruskah Aku menelepon Sizil? Ahh, biar kukirimi pesan saja.
- 09.35 : Zil, Kamu dimana?
- 09.36 : Di luar nih Bu. Lagi kelilingan. Kenapa Bu? Tumben inget sama Aku?
- 09.37 : Aku selalu mengingatmu Zil. Dasar anak ini. Zil, sebaiknya cabang perlu siap-siap deh.
- 09.38 : Siap-siap gimana Bu? Memangnya ada apa?
- 09.39 : Yah mungkin saja ada orang penting yang ke cabang...
Dddrrrttt... Ddrrrttt... Ddrrttt...
Ponselku langsung bergetar, ada panggilan masuk dari Sizil.
"Bu, kenapa tiba-tiba WA nggak jelas gitu sih? Apa maksudnya? Ibu dimana sekarang?"
"Ehmm... Aku..." Aku bingung mau mengatakannya.
"Bu, liburan minggu depan Aku mau ke rumah Ibu. Di tunggu ya..."
"Eh jangan Zil."
"Kenapa Bu?"
"Aku nggak ada di rumah."
"Memangnya Ibu dimana? Aku kangen banget lho."
"Berkali-kali Aku mau ke rumah Ibu, tapi Ibu melarang. Kenapa sih Bu? Sudah nggak pengen ketemu Aku lagi?"
"Bukannya begitu Zil. Sekarang Aku memang sedang tidak di rumah."
"Ibu dimana? Kenapa selalu menghindar sih?"
"Aku tinggal di Jakarta sekarang."
"Hah? Kok bisa Bu?!"
"I-iya. I-ikut suami Zil..." Hah, akhirnya Aku mengatakan hal ini juga pada Sizil.
"What?!! Suami!! Ibu beneran sudah nikah?! Kenapa nggak bilang-bilang Bu? Sumpah, Ibu jahat banget!!" Aku mendengar suara histeris Sizil di ujung sana. Anak itu tampak marah sekali. Hampir setengah jam Aku berusaha membujuknya, namun tidak kunjung berhasil.
Dari sudut mataku, Aku melihat Alex menghampiri mobil.
"Zil, sudah dulu ya. Pokoknya siapkan kondisi cabang sebaik mungkin. Mungkin dalam waktu 2-3 jam Kami sudah tiba di sana..."
Ceklek (Pintu mobil dibuka)
Aku cepat-cepat menutup panggilan. Namun Alex sudah terlanjur melihatnya.
"Telepon siapa?" tanyanya. Karena tidak mendapat jawaban, dia langsung meraih ponselku dan melihat-lihat.
"Sizil?"
"Hem..." Aku tidak berani memandang wajah Alex.
"Kenapa? Ngasih tahu kalau Kita mau kesana?"
"I-iya... Nggak boleh ya?"
"Sebenernya nggak boleh. Tapi karena Kamu istriku, Aku memaafkanmu." Aku menghembuskan napas lega. Alex masih asyik membuka-buka ponselku. Aku merasa ditelanj*ngi.
"Kenapa tidak ada foto-fotoku?"
"Memangnya harus ada?"
"Harus. Galerimu harus penuh dengan fotoku. Tubuh dan hatimu juga. Sini mendekat." Alex menarik tubuhku dan mulai berfoto-foto ria.
Banyak pose yang dilakukannya. Dari mencium pipi, kening, bibir sampai mengigit pipiku. Terakhir dia berpose memegang perutku yang membuncit dengan wajah puas dan bangga. Seolah-olah mengatakan pada dunia, bahwa perut buncitku ini adalah hasil perbuatannya.
"Simpan di galery. Jadikan wallpaper juga. Coba Aku lihat, Kamu menyimpan kontakku dengan nama apa?"
Alex benar-benar sesuka hati. Dia bebas mengutak-atik ponselku sesukanya, sementara Aku menyentuh ponselnya saja belum pernah.
"Apa-apaan ini? Kamu menyimpan kontakku dengan nama *Mas Alex*? Kamu tidak menganggapku suamimu? Ganti, ganti." Alex mengomel sendiri. Dia tetap getol mengutak-atik ponselku.
"Selesai." Alex menyerahkan ponselku. "Langsung ke Surabaya ya Pak" ucap Alex pada supir.
"Baik Den."
"Nggak ke Sid*arj* dulu Mas?"
"Nggak, langsung ke Surabaya saja. Karena info dari seseorang, mereka juga pasti sudah bersiap-siap kan." Alex menyindirku halus. Aku pura-pura tidak mendengar dan melihat ponselku. Aku menatap nama kontak Alex yang baru. Di situ tertulis "Suamiku Tersayang Tercinta Paling Tampan Sedunia". Hampir tersedak Aku membacanya. Dasar pria alay!!
***
Happy Reading 😅
NB : Maaf ya untuk updatenya satu-satu. Pokoknya begitu selesai 1 episode, langsung diterbangkan. Jadi mohon bersabar 😅🙏