
Dino memang tidak pernah mengecewakanku. Dia berhasil mengatur reuni itu dan memastikan nama Khansa terdaftar di sana. Perasaan gugup, tidak percaya diri, antusias, bahagia bercampur aduk di hatiku. Aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaanku.
"Winda, pesan tiket ke Surabaya."
"Untuk kapan Pak?"
"Hari Minggu. Senin Kita sidak ke beberapa wilayah Jatim, salah satunya Surabaya."
"Baik Pak. Akan Saya siapkan semuanya."
Seperti perkataannya, Winda menyiapkan seluruh data cabang yang akan kukunjungi. Dari daftar nama karyawan beserta jabatannya, total DPK (Dana Pihak Ketiga), perolehan Bancassurance (produk asuransi), total dana keluar masuk, total kredit dan NPL-nya (Non Performing Loan) dan data lainnya.
Aku meraba nama Khansa. Wanitaku memang cerdas. Kalau melihat betapa canggungnya dia semasa SMA, siapa yang menyangka dia akan menjabat sebagai manager funding yang membutuhkan kemampuan komunikasi dan persuasi yang baik. Aku sangat bangga padanya.
Khansa, jangan membenciku. Aku harus menjadikanmu milikku.
***
Perjalanan menuju Surabaya benar-benar membuatku gugup. Berulang kali Aku minum untuk mengurangi kegugupanku.
"Apa perlu Saya mintakan air lagi Pak?" tanya Winda yang duduk di sebelahku.
"Ti-tidak perlu." Kami sedang berada di pesawat. Setengah jam lagi pesawat akan mendarat di kota Surabaya, tempat wanitaku berada.
"Apa Kamu sudah memesan hotel?" tanyaku.
"Sudah Pak. Kita akan menginap di hotel Plum, sesuai dengan arahan Bapak."
"Oke, thank."
"Sama-sama Pak."
Kami tiba di kota itu ketika waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Winda memesan king excutive room untukku, sementara untuk dirinya sendiri dia memesan deluxe twin room. Winda memerintahkan bell boys untuk membawa koperku ke dalam kamar.
"Ada lagi yang Anda butuhkan Pak?" tanyanya.
"Tidak ada. Kamu bisa kembali ke kamarmu. Malam ini acara bebas. Kamu bisa menggunakan waktumu."
"Baik Pak."
"Nanti malam Aku ada acara, jadi jangan ganggu Aku."
"Baik Pak. Untuk besok, jam berapa Kita kunjungannya?"
"Waktu morning briefing. Paling telat jam delapan."
"Baik Pak. Saya akan kembali datang di waktu itu. Selamat sore Pak, selamat bersenang-senang."
"Oke Winda, thank."
"Sama-sama Pak."
Winda kembali ke kamarnya, Aku pun begitu. Aku mulai membongkar koperku dan mencari-cari baju yang akan kupakai untuk malam reuni. Aku benar-benar gugup setengah mati.
"Alex, Kamu pasti baik-baik saja. Kamu bisa melakukannya. Kamu pasti bisa melaluinya. Kamu pasti bisa!" Bayangan Khansa akan dimiliki oleh orang lain membuatku menguatkan tekad untuk bertemu dengannya. Aku menyemangati diri sendiri.
Aku mencukur jenggot-jengot halus di wajahku dan mulai membersihkan diri. Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima sore ketika Aku selesai bersiap diri. Untuk mengusir kegugupanku, Aku menelepon Dino.
"Din, Kamu yakin semua sudah siap?"
"Nguk, Kamu mengganggu kencanku. Kamu bisa mengeceknya sendiri. Semua sudah siap. Tinggal menunggu pemeran utama datang,"
"Apa Kamu yakin dia akan datang?" tanyaku dengan sangsi.
"Aku yakin. Tapi kalaupun dia tidak datang, Kamu masih bisa menemuinya besok." Aku terdiam mendengar ucapan Dino. Sepertinya pria itu bisa membaca kegelisahanku. Dia kembali berkata, "Jangan gugup Nguk. Kamu adalah seorang Yohan Alexander. Pria tampan, kaya, tukang perintah namun baik hati. Anak dari mantan orang nomor 1 di kota ini. Seorang direktur Nanotechno dengan tujuh anak perusahaan. Pria dengan kecerdasan luar biasa, tapi sayangnya lemah pada satu wanita. Nguk, Aku yakin dia tidak akan menolakmu. Percaya dirilah. Kalaupun kemungkinan terburuk dia menolakmu, jadikan dia milikmu. Dengan begitu dia tidak akan lari darimu." Dino berkata dengan panjang lebar.
"Apa maksudmu menjadikannya sebagai milikku?" tanyaku.
"Kamu mengerti maksudku Nguk. Sudah, Aku mau kencan dulu. Sukses untuk kalian berdua, bye." Dino menutup panggilan. Selepas itu Aku berbaring di kamar. Memikirkan akan seperti apa pertemuan Kami nantinya. Karena belum bisa menghilangkan kegugupan, pada akhirnya Aku memutuskan untuk melihat aula tempat reuni dilangsungkan. Memeriksa setiap persiapan.
***
Akhirnya waktu yang kutunggu datang. Tepat pukul 19.00 WIB, namun Aku masih belum beranjak dari kamarku. Aku benar-benar gugup. Aku berjalan hilir mudik untuk mengurangi kegugupan, namun ternyata itu tidak membantu. Berkali-kali Aku menatap pantulan wajahku di cermin, memastikan bahwa Aku sudah benar-benar rapi dan siap untuk bertemu dengannya.
Meskipun setiap hari Aku bisa melihat setiap aktivitasnya, namun ini adalah pertemuan pertama Kami setelah 10 tahun berlalu. Di saat gugup seperti ini Aku butuh rokok dan mungkin sedikit minuman keras, namun Aku tidak bisa menemukan keduanya.
Akhirnya tepat pukul setengah delapan Aku memutuskan untuk turun ke aula. Hatiku berdebar-debar. Aku harap Khansa datang.
Tepat di depan pintu aula, Aku memeriksa daftar tamu yang hadir. Perasaan lega, bahagia dan gugup bercampur menjadi satu ketika kulihat namanya ada di sana. Khansa benar-benar menghadiri reuni ini.
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu aula pelan-pelan. Kedatanganku langsung menjadi pusat perhatian. Banyak teman-teman datang berhamburan. Aku tidak peduli dengan mereka, karena tujuan reuni ini hanya untuk dia.
Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Berusaha mencari-cari keberadaannya, dan... Aku berhasil menemukannya.
DEG... DEG... DEG...
Detak jantungku berdebar lebih cepat. Mata Kami saling bertemu pandang. Tubuhku seolah-olah terpaku, tidak bisa memalingkan wajahku.
Dia sangat cantik!! Khansaku luar biasa cantik!! Seratus kali lipat lebih cantik dibanding di foto!! Jantungku seolah-olah ingin melompat keluar. Perasaanku campur aduk tidak karuan.
Aula yang ramai tiba-tiba menjadi hening. Waktu seolah-olah terhenti. Seluruh duniaku hanya terpusat padanya. Aku menikmati detik-detik dunia Kami bersama. Tubuhku ingin berlari dan mendekapnya, namun tepukan halus membuyarkan ikatan Kita.
"Eh sini deh Lex, sudah lama Kita nggak ketemu." salah seorang teman menarik tanganku dan mulai membuatku sibuk menjawab rentetan pertanyaan mereka.
Berkali-kali Aku melayangkan pandang padanya. Sosok cantik itu duduk sendiri di pojok ruangan. Seolah-olah keberadaannya tetap transparan. Ingin ku meraihnya dalam pelukan. Mengatakan padanya, bahwa ada Aku yang selalu melihatnya. Dia bukan sosok transparan, dia adalah pusat perhatian, pusat duniaku.
Panitia reuni tampak bersemangat menjalankan reuni sesuai dengan susunan acara yang telah mereka buat. Aku, yang menurut mereka sebagai bintang utama mau tidak mau mengikuti acara itu. Selama acara berlangsung, mataku tak pernah lepas memperhatikannya.
Setiap kali mataku bertemu, selalu timbul debaran di hatiku. Perasaan gugup luar biasa selalu datang melandaku. Di reuni kali ini Aku berencana untuk menyatakan perasaanku. Membayangkan adanya penolakan membuat nyaliku ciut. Aku merokok dan meminum minuman keras untuk menutupi kegugupanku.
***
Next \=> 😌