
Aku terduduk dengan lemas di dalam mobil. Pikiranku seolah-olah kosong. Aku tidak bisa berpikir. Aku menatap perutku yang masih datar dan memegangnya.
"Jadi Kamu benar-benar ada di dalam sini ya? Kamu benar-benar datang di hidupku. Kenapa? Apa Kamu kasihan karena melihatku sendiri? Itu sebabnya Kamu ingin menemaniku?"
Aku mengeluarkan hasil USG dan menatapnya dalam-dalam. Foto USG 3D itu menunjukan mahluk kecil seukuran biji kacang.
"Jadi seperti ini bentukmu? Kecil sekali..." Aku mengusap-ngusap perutku dengan lembut.
"Hai... Apa Kamu bisa mendengar suaraku?" Mataku berkaca-kaca, airmata mulai bercucuran kembali.
Meskipun Aku sangat terkejut dan pikiranku dalam kebingungan, namun tidak ada rasa benci sedikit pun pada bayi kecil ini. Yang ada hanya perasaan tidak percaya, bahwa bayi itu benar-benar ada di perutku sekarang.
Aku bingung dengan nasibku dan bayi ini. Masa depan tampak abu-abu bagiku. Tidak ada kejelasan. Yang paling ku khawatirkan adalah nasib bayi ini.
"Apa yang harus Kita lakukan? Kita hanya berdua sekarang. Kita harus saling menguatkan..."
"Ahh, kasihan sekali nasibmu. Kamu hadir karena kesalahan Kami. Tidak ada yang menginginkanmu. Akankah orang lain bisa menerimamu?
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Huuu... Hikks..." Aku menangis sendirian.
Pikiranku berkeliaran kemana-mana. Terbayang wajah Alex di sana. Wajah laki-laki yang tidak mungkin kumiliki. Wajah yang tak bisa kuharapkan berada di sampingku. Mendengarkan keluh kesahku. Memberiku jalan dari kebingungan ini.
"Alex... Aku hamil. Di perutku ada bayi Kita. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin membuangnya. Bayi ini tidak berdosa. Bayi ini memang hadir karena kesalahan Kita. Tapi bukan berarti Kita bisa menolak kehadirannya..."
"Alex... Apakah Kamu akan marah bila Aku melahirkan bayi ini? Ijinkan Aku untuk melahirkannya ya... Jangan benci Aku..."
"Alex... Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkanku untuk mencintaimu. Tapi ijinkan Aku untuk mencintai bagian dari dirimu. Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu. Aku berjanji kehadirannya tidak akan menghambatmu. Aku akan mencintainya dengan sepenuh hatiku. Aku akan memberikan keseluruhan cintaku kepadanya. Aku akan mencintainya berkali-kali lipat. Menutupi porsi cinta yang tidak bisa didapatnya dari ayahnya. Alex, tolong jangan membenciku. Biarkan Aku merawat dan membesarkannya ya. Kami benar-benar tidak akan mengganggu hidupmu. Biarkan dia hidup bersamaku. Biarkan dia menemaniku. Alex, berbahagialah..."
Aku memeluk tubuhku sendiri. Merasa seolah-olah sedang memeluk bayi itu. Bayi itu adalah buah dari kesalahan Kami. Aku harus bertanggung jawab atas kehadirannya. Apapun resiko ke depannya, Aku memutuskan untuk melahirkannya.
***
Aku kembali izin tidak masuk kerja. Aku perlu menata banyak hal. Beberapa hari otakku berpikir, bagaimana baiknya masa depan Kami.
Aku hamil di luar nikah. Kondisi ini tidak akan dapat diterima oleh semua kalangan. Karena ini sangat tidak sesuai dengan adat ketimuran.
Wanita yang hamil di luar nikah, harus menerima setiap perlakuan masyarakat padanya. Entah itu dikucilkan, dijadikan bahan omongan, ditolak dan dipandang sebelah mata. Keluarga dari pihak wanita pun tidak akan luput dari sanksi sosial itu.
Mengingat keluarga, membuatku teringat pada ayah dan ibuku. Mereka pasti akan sangat kecewa padaku. Anak yang mereka pikir selalu membanggakan ternyata melakukan hal di luar norma-norma masyarakat. Aku tidak bisa membayangkan wajah kecewanya.
"Ayah, Ibu... Maafkan Aku... Maaf sudah membuat kalian kecewa. Tapi Aku tidak bisa membuang bayi ini. Bayi ini tidak berdosa. Biarkan Aku menanggung kesalahan ini. Biarkan bayi ini lahir dan merasakan hidup di dunia ini. Ayah, Ibu... Tolong maafkan Aku..." Airmata kembali menetes.
Aku akan menoreh luka pada wajah-wajah orang yang kusayang dan menyayangiku. Aku akan sangat mengecewakan mereka. Namun sebesar apapun rasa kecewa mereka, Aku tetap tidak bisa membuang bayi ini. Aku akan menghadapi apapun itu resikonya asalkan Aku bisa melahirkan bayi ini dengan selamat.
***
"Baiklah, Kita akan memulai hidup baru sekarang. Aku harus melahirkanmu dengan tenang. Jauh dari orang-orang yang nantinya akan menghinamu. Kita harus kuat ya..." Aku mengelus perutku sembari mengetik surat permohonan resign. Rencananya surat itu akan kuberikan besok. Semakin cepat semakin baik. Karena bila terlalu lama Aku takut orang-orang mulai menyadari kehamilanku.
Selesai mengetik surat resign, Aku mulai mencari-cari kota yang bisa di tuju. Aku tidak mungkin pulang ke kotaku, karena akan mencoreng wajah keluargaku. Aku mencari kota lain yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang hampir sama dengan Surabaya, dan Aku memutuskan untuk pergi ke Malang.
Ya, Kami bisa hidup di Malang. Aku akan mencari pekerjaan freelance atau menjadi agent credit card atau asuransi. Karena untuk mencari pekerjaan dengan posisi sebagai karyawan tetap sudah tidak mungkin bagiku, mengingat Aku hamil di luar nikah, meskipun pengalamanku sangat cukup di bidang perbankan.
Aku memeriksa saldo tabunganku. Sebenarnya saldoku cukup banyak. Menjabat sebagai RMF membuatku memiliki gaji dua digit. Aku hanya menggunakan gaji itu untuk kredit mobil, kebutuhan hidup yang biasa-biasa saja dan membayar uang kuliah Fian. Setiap bulan masih banyak sisanya, sehingga Aku bisa menggunakannya untuk menabung.
Hasil tabungan selama enam tahun itu mencapai tiga digit. Cukup untuk membiayai hidup Kami selama beberapa tahun ke depan. Namun Aku tidak ingin hanya mengandalkan uang itu. Aku akan mencari penghasilan lain yang bisa kugunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup Kami sehari-hari. Itulah mengapa Aku memutuskan untuk tetap bekerja, meskipun hanya sebagai agen.
***
Pak Arif menatap surat resign-ku dengan mulut ternganga. Beliau tampak sangat terkejut. Tidak menyangka akan membaca surat itu saat ini juga.
"Khansa, apa maksud surat ini? Kamu sedang bercanda kan?"
"Tidak Pak, Saya tidak bercanda. Saya memang berniat untuk resign dari perusahaan ini."
"Mengapa tiba-tiba? Apa alasannya? Apa masalah gaji? Atau target? Aku bisa menegokan keduanya. Kamu minta gaji berapa?"
"Maaf Pak, bukan masalah gaji. Namun ada alasan lainnya yang tidak bisa Saya katakan."
"Aku tidak akan menerima surat pengunduranmu ini." Pak Arif menautkan kedua tangannya di depan dada. Tampak benar-benar tidak mengijinkanku untuk resign sebelum mengetahui alasan yang sebenarnya. Aku menjadi dilema.
Aku tidak mungkin menceritakan alasan yang sebenarnya. Itu aibku, Aku harus menutupnya dengan baik. Sebenarnya tidak masalah mereka menggunjingku, tapi Aku tidak tahan bila nantinya anak ini yang akan menerima caci maki itu.
"Saya harus pulang ke kota Saya Pak..."
"Kenapa? Ada apa?"
"Saya akan menikah Pak. Itulah mengapa Saya mengundurkan diri dari perusahaan ini."
***
Happy Reading 😥
- Jangan tanya Alex dimana, karena masih Aku kekepin 😌
- Jangan tanya POV Alex, karena itu akan muncul di akhir cerita.
Terima kaseeeeh 😆😁