
Pikiran-pikiran aneh menyeruak di kepalaku. Keringat dingin mulai bermunculan di keningku. Membayangkan hamil membuat tubuhku menggigil.
Bagaimana bila ternyata Aku benar-benar hamil. Apa yang harus Aku lakukan?
Tubuhku gemetar membayangkan hal itu. Aku mengambil napas dalam-dalam dan meminum air putih. Berusaha menenangkan pikiranku yang limbung.
Aku harus berpikir jernih. Pertama-tama, Aku tidak boleh menduga-duga hal seperti ini. Karena dugaan hanya akan membuat pikiran terbebani. Aku harus memastikan bahwa Aku tidak hamil.
Cara pertama yang bisa kulakukan, adalah dengan membeli testpack. Setelah itu Aku akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan diri. Berangkat dari keyakinan itu, Aku memutuskan untuk pergi ke apotek.
Aku sangat malu membeli benda itu, sehingga Aku memutuskan untuk menggunakan masker.
Aku membeli enam macam testpack dari berbagai merk dan harga. Aku harus memastikannya dengan benar.
Petugas apoteker menyuruhku untuk melakukan test di pagi hari karena menurut mereka hormon hCG di pagi hari lebih tinggi, sehingga tingkat keakuratan hasil test juga akan lebih tinggi.
Berhubung waktu sudah malam, Aku memutuskan untuk menunggu sampai besok pagi.
Sepanjang malam Aku tidak bisa tidur. Pikiranku mengembara kemana-mana. Bagaimana kalau Aku benar-benar hamil? Apa yang harus kulakukan?
Aku tidak mungkin memberitahu Alex. Dia pasti muak dan benci melihatku. Mungkin tidur denganku di malam itu akan menjadi aib yang tidak ingin di ingatnya. Buktinya sampai saat ini Alex tidak pernah menghubungiku. Padahal Aku sudah meletakkan nomorku di meja. Aku juga selalu mengaktifkan ponselku, tidak berganti nomor, berjaga-jaga mungkin dia akan menghubungiku. Tapi Aku tidak kunjung mendapat kabar darinya.
Mungkin Alex benar-benar menyesal. Ya, dia pasti menyesal. Aku telah membuatnya mengkhianati Diana. Dia pasti membenciku.
Aku benar-benar tidak bisa mengharapkan Alex berada di sampingku. Itu artinya, bila kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi, sepertinya Aku harus merawat anak ini sendiri.
Aku memegang perut datarku. Perasaanku menjadi sangat sendu.
"Apa Kamu benar-benar ada di sana? Apa Kamu hadir untuk menemaniku? Aku begitu bingung dengan kehadiranmu. Haruskah Aku senang atau sedih?"
Aku berbicara sendiri seperti orang gila. Perasaanku kembali rapuh. Memikirkan jika Aku benar-benar hamil dan merenungkan nasib anak itu kedepannya.
***
Hampir semalaman Aku tidak tidur hanya untuk menunggu pagi datang. Menjelang subuh Aku pergi ke toilet dan buang air kecil untuk pertama kalinya di hari itu.
Aku menampung urineku di sebuah wadah. Kemudian Aku mencelupkan satu persatu dari testpack yang Aku beli.
Perasaanku benar-benar kacau. Detik demi detik berlalu. Semakin mendekati ke menit membuat perasaan gugupku bertambah.
Lima menit berlalu. Aku tidak memiliki keberanian untuk melihat hasil testpack ku. Hampir sepuluh menit Aku berdiri dalam diam. Kepalaku berkecamuk karena kebingungan. Akhirnya Aku memberanikan diri untuk mengintip dan...
DEG
Hasil dari enam testpack menunjukkan hasil yang sama. POSITIF.
Tiba-tiba pandanganku sedikit kabur. Tubuhku lemas. Kakiku seperti tak bertulang. Aku berpegangan pada dinding. Menahan diriku agar tidak terjatuh.
Tanganku gemetar memegang hasil itu. Rasa tidak percaya menghantuiku. Sebelumnya Aku hanya menduga-duga, namun ternyata kenyataan sudah berada di depan mata. Aku benar-benar hamil?!!!
Aku terduduk di atas closet. Aku takut jika berdiri Aku akan jatuh. Badanku lemas selemas-lemasnya. Pikiranku langsung kosong. Aku tidak bisa berpikir lagi.
Entah berapa lama Aku terduduk di kamar mandi dengan pikiran kosong. Tiba-tiba selintas pikiran mendarat di otakku.
"Ha-hasil testpack belum tentu akurat. A-aku tidak mungkin hamil hanya dalam sekali melakukannya bukan? In-ni kesalahan pasti ada pada alat test ini..."
Aku menanamkan pikiran itu di otakku. Berusaha untuk membuat perasaanku baik-baik saja.
Meskipun lemas, tubuhku tertatih-tatih menuju ranjang. Aku terduduk dan mulai berpikir.
Aku mengambil ponsel dan mencari-cari info dari sana. Hanya satu hal paling akurat untuk mengetahui kehamilan, yaitu pergi ke dokter kandungan.
Aku kembali berkeringat dingin. Ingin rasanya Aku lari dari kenyataan. Namun Aku tidak bisa. Hasil dari testpack membuat kepalaku berputar-putar. Aku harus mengetahui kepastian itu secepat mungkin.
Pagi itu Aku memberanikan diri untuk mencari dokter kandungan yang buka praktik. Melalui gugel, Aku menemukannya. Aku mencari alamat yang paling dekat dengan rumah kontrakan dan menuju kesana.
Di sepanjang perjalanan, perasaan gugup, bingung, rapuh menguasaiku. Aku terus mendoktrin pikiranku bahwa kesalahan ada pada testpack. Aku tidak hamil. Titik.
Waktu masih menunjukkan pukul 07.12 WIB ketika Aku tiba di tempat itu. Tidak terlalu banyak orang, sehingga Aku tidak perlu mengantri terlalu lama.
"Silakan daftar dulu Bu." Suara asisten dokter membuyarkan lamunanku. Aku mendekat dan duduk di kursi yang terletak di depannya.
"Dengan Ibu siapa?"
"Kh-khansa..."
"Nama lengkap Bu?"
"Khansa Aulia..."
"Nama suami?"
DEG
"Ibu Khansa... Nama suami?"
"Ehhh... Ohh... Yo-Yohan Al-alexander..." Maaf... Maaf Alex, Aku meminjam namamu. Maafkan Aku.
"Usia Ibu? Usia suami?"
"Ak-aku 27 tahun. Di-dia 28 tahun."
"Tujuan pemeriksaan?"
"Ma-maksudnya?"
"Ibu kesini untuk memeriksa kandungan atau ikut program kehamilan?"
"Pe-periksa..."
"Baik Bu, ditunggu dulu ya. Nanti akan Kami panggil setelah pasien berikutnya selesai. Silakan duduk Bu."
Aku mengikuti perintah asisten itu. Aku duduk dengan gugup. Ada tiga pasangan yang berkunjung ke tempat praktik itu. Hanya Aku satu-satunya yang tidak memiliki pasangan. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam.
"Ibu Khansa Aulia, silakan." Suara asisten itu membuyarkan pikiranku. "Ini buku pemeriksaannya Bu. Kalau datang lagi, silakan buku ini dibawa. Silakan masuk Bu." Asisten itu menyerahkan buku pemeriksaan kehamilan. Ada namaku dan Alex di sana, beserta catatan tujuanku datang ke tempat itu.
Dengan ragu-ragu Aku memasuki ruang praktik itu. Seorang wanita paruh baya berjas putih tersenyum ramah padaku.
"Dengan Ibu siapa?"
"Khansa Aulia Dok..."
"Silakan duduk. Bisa Saya lihat bukunya?" Aku menyerahkan buku itu. "Melakukan pemeriksaan ya... Sendirian saja Bu?"
"Iy-ya..."
"Suaminya tidak ikut?"
"Iy-ya Dok... Di-dia kerja..."
"Oh pantas saja. Ada keluhan Bu?"
"Sa-saya sudah satu bulan tidak mendapatkan menstruasi Dok... Saya sudah melakukan testpack, namun Saya belum yakin dengan hasilnya..."
"Baiklah, Ibu Khansa... Silakan tidur di ranjang pasien." Dokter bernama Nana itu menunjuk ranjang pasien yang berada di belakangku. Aku dengan ragu mengikuti perintah dokter itu.
Kemudian dokter Nana mulai menghidupkan monitor. Dia menaruh gel di perutku dan mulai menggerakan benda aneh di atasnya.
"Sudah lama menikahnya Bu?"
"Eeehh??"
"Ibu Khansa sudah lama menikahnya?"
"Eeehh yaaa..."
"Apa ini kehamilan pertama?"
"Mak-maksudnya Dok?"
"Ibu Khansa hamil lho. Ini janinnya. Ini kelopak mata, hidung, tangan dan tulang rawannya juga sudah mulai terbentuk. Mau mendengarkan detak jantungnya Bu?" Dokter Nana menunjuk bagian-bagian yang dimaksud.
Aku benar-benar tidak bisa memahami perkataan dokter Nana. Mataku menatap monitor tanpa berkedip.
"DEG!!DEG!!DEG!!DEG!!"
Aku terkejut mendengar suara itu. Aku menoleh pada dokter Nana untuk bertanya-tanya.
"Oh, ini suara detak jantung bayi Ibu. Suara detakannya kuat kan Bu? Yang menandakan bahwa bayi Ibu sedang dalam kondisi sehat-sehat saja. Selamat atas kehamilannya Ibu Khansa. Usia kehamilan Anda memasuki minggu ke 8. Selamat ya..." Dokter Nana meraih tanganku dan menjabatnya.
Badanku lemas. Tanpa Aku sadari, airmata mengalir di sudut mataku. Pikiranku benar-benar buntu.
***
Hellow-helooww readers zheyengkoohh 😆😁
Aku membaca komen dari part-part sebelumnya. Banyak yang kecewa sama sikap Khansa dan Alex ya 😁😂
Tidak mau banyak berkata-kata, cukup "nikmatilah" cerita ini ya.
NB : Banyak yang complain masalah kehamilan 8 minggu ya? 😅 Begini kezheyengan semua, saya memang belum pernah hamil dan tidak tahu detail kehamilan itu seperti apa. Tapi saya nulis itu juga baca-baca referensi dan literasi. Jadi nggak asal nulis. Sebelum komen masalah "kehamilan 8 minggu tapi sudah terbentuk ini-itu," silakan dibuka referensinya. Di google juga banyak dijelaskan kok. Bila memang ada tulisan saya yang tidak sesuai, itu artinya saya salah mengambil sumber referensi. Demikian penjelasannya, Sekian & terima kaseeehh 😙😚
Aku kasih bonus foto Alex deh, biar readers pada segeeeerr dan gak baver sedih2 lagi 🤗😚