
Menjelang adzan Dzuhur berkumandang, Aku tiba di kosan yang sudah kupesan sebelumnya.
Aku memutuskan untuk kost karena mengontrak rumah kupikir akan terlalu besar bagi Kami berdua.
Aku membutuhkan lingkungan yang aman, tenang, damai yang baik bagi tumbuh kembang anakku kelak. Cukup susah mencari kosan seperti itu mengingat kondisiku sekarang.
Aku sudah mencoba menghubungi beberapa kosan yang biasa digunakan untuk keluarga, dan induk semang selalu menanyakan tentang KTP dan buku nikah.
Sebenarnya ada opsi lain, yaitu memilih kos-kosan yang bebas. Namun itu tidak baik untuk perkembangan bayiku. Setelah mencari dan mencari akhirnya Aku mendapat kosan ini.
Kosan itu berlantai tiga dan bangunannya membentuk huruf U. Aku memilih lantai pertama untuk memudahkanku dalam beraktivitas.
Kosan khusus putri itu di jaga oleh seorang security sehingga membuat Kami yang berada di dalamnya merasa nyaman. Kosan itu juga membuat aturan ketat, yaitu tidak memperbolehkan tamu laki-laki untuk masuk ke dalam kamar.
Sebelum Aku berhasil memesan kosan, pemilik kost menanyaiku bermacam-macam. Aku menceritakan kondisiku yang sebenarnya, bahwa Aku tengah hamil. Namun Aku berbohong soal suami. Aku mengatakan pada pemilik kost bahwa Aku menikah sirih dan suamiku sedang bekerja di luar kota.
Awalnya dia ragu untuk menerimaku. Namun dengan sedikit bujukan dan tambahan uang, akhirnya dia mau menerimaku. Aku memutuskan untuk kost di tempat itu selama setahun penuh dan membayar pembayarannya di awal.
Supir travel menurunkan barang-barangku di depan kost dan security membantuku membawa barang itu ke kamar.
Aku membuka pintu kost dan melihat sekeliling. Aku puas dengan kondisi kamarku. Fasilitas di kamar itu cukup lengkap. Ada ruang tamu kecil, ranjang springbed yang nyaman, televisi, kulkas, AC, dapur kecil, dan kamar mandi dalam.
Kamar itu seperti rumah dalam bentuk miniatur. Segala hal yang kuperlukan berada di dalamnya.
"Ini tempat baru Kita Dek. Semoga Kita betah tinggal di sini ya. Sekarang Kita istirahat dulu, nanti sore baru cari makan, oke...hehe..." Aku mengelus-ngelus perutku. Aku punya kebiasaan baru. Aku senang berbicara dengan bayiku.
Kata dokter, mengajak bayi berbicara sangat membantu mengenalkan bayi pada Kita. Bayi akan familiar dengan suara Kita sehingga ikatan batin akan lebih mudah terbentuk. Membayangkan ada kehidupan lain di perutku benar-benar membuatku takjub. Aku tidak sendiri lagi. Aku memiliki tujuan hidup sekarang. Aku akan hidup demi bayi ini.
***
Aku bangun ketika perutku mulai keroncongan. Aku memeriksa jam. Ternyata sudah pukul lima sore.
"Wah, pantesan Kamu lapar Dek. Sudah lima jam Kita tidur. Mari Kita cari makan."
Aku mengambil jaket dan menyelimuti tubuhku dengannya. Aku keluar dari kamar dan mulai melihat lingkungan sekitar.
Kosan itu terletak di dekat kampus Universitas Br*wij*y* sehingga sangat ramai dan banyak kuliner di sana.
Aku menatap para pedagang sembari meneteskan air liur. Ingin rasanya Aku membeli semua makanan itu. Aku memutuskan untuk makan soto. Aku juga membungkus makanan berat lainnya seperti lalapan ayam dan sate.
Aku mengantisipasi bila nantinya kelaparan di tengah malam karena beberapa minggu ini Aku sering mengalami hal seperti itu. Aku juga membungkus camilan seperti bakpao, telur gulung, sosis bakar, cilok, martabak dan terang bulan.
"Wah stok makanan Kita banyak nih Dek. Semoga nanti malam Kamu nggak kelaparan ya. Ayo Kita pulang, hehe..." Berbicara dengan bayiku entah mengapa membuatku sangat bahagia. Membuatku sangat berharga. Hanya Aku yang dimiliki oleh bayi ini. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.
Aku kembali ke kosan dan meletakan makanan di atas meja. Aku mengambil ponsel yang lupa kutinggalkan di kamar. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab. Aku melihat nomor ayahku yang menghubungiku.
Perasaanku menjadi hangat. Hanya keluarga yang peduli padaku. Aku memutuskan untuk menelepon ayahku.
"Assalamu'alaikum Ayah..."
"Wa'alaikumsalam Nduk... Dari tadi Ayah telepon kok tidak di angkat?"
"Iya Yah, tadi ponselnya ketinggalan..."
"Habis darimana?"
"Lagi santai saja Nduk. Ini Kita lagi nonton TV. Adikmu seperti biasa, pacaran. Bagaimana kabarmu Nduk? Apa Kamu baik-baik saja?"
"Iya Ayah, Khansa selalu baik-baik saja. Bagaimana kabar keluarga di sana?"
"Alhamdulillah sehat semua Nduk." Ayah terdiam, kemudian kembali melanjutkan. "Nduk... Ayah mimpi tidak enak. Ayah langsung kepikiran Kamu Nduk..."
"Memangnya mimpi apa Yah? Khansa baik-baik saja kok Yah, tidak perlu khawatir..."
"Ayah mimpi menangkap burung Nduk."
"Memang artinya apa Yah? Apa artinya jelek?"
"Kalau dari buku primbon yang Ayah baca, burung itu pertanda anak Nduk. Tidak mungkin Ayah akan dapat anak lagi. Ayah dan Ibumu sudah tua. Tiba-tiba Ayah kepikiran Kamu Nduk..."
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Aku langsung tersedak ludah sendiri. Padahal Aku tidak sedang makan atau minum sesuatu.
"A-ayah... Sudah Khansa bilang jangan suka baca primbon. Mimpi hanya bunga tidur Yah, tidak ada artinya. Khansa baik-baik saja kok Yah..." Hah, Aku semakin lancar berbohong. Entah sejak kapan Aku mulai pintar melakukannya.
"Iya, Ayah yakin anak Ayah pasti baik-baik saja. Anak Ayah tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Bodohnya Ayah percaya sama mimpi itu Nduk. Oh ya, mungkin itu pertanda lain Nduk. Mungkin saja jodohmu sudah dekat. Ayah sudah tidak sabar melihatmu menikah Nduk..."
Perasaan sedih langsung membelengguku. Setiap perkataan ayah menusuk sanubariku. Perasaan menyesal dan bersalah datang. Aku merasa sangat bersalah karena sudah membohongiku keluargaku.
"Su-sudah Khansa bilang Ayah, mimpi itu hanya bunga tidur. Ayah jangan memikirkannya terlalu dalam..."
"Iya Nduk, iya. Kamu sudah makan belum?"
"Sudah Yah. Ini bentar lagi mau makan lagi."
"Tumben anak Ayah makannya banyak, hehe. Tetap jaga kesehatan ya Nduk. Jangan terlalu capek kerja. Istirahat yang cukup. Ya sudah, lanjutkan aktivitasmu. Ayah juga mau istirahat..."
"Iya... Ayah juga ya. Jaga kesehatan ya Yah. Salam buat Ibu. Khansa sayang kalian semua..."
"Kami juga sangat menyayangimu Nduk. Putri berharga dan kebanggaan Kita semua. Met istihat Nduk, assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Aku terduduk dengan perasaan bersalah. Aku benar-benar telah mengecewakan keluargaku.
"Maaf Ayah, Ibu... Aku telah berbohong. Aku takut, ketika Aku jujur nanti kalian akan menyuruhku untuk membuang bayi ini. Aku takut kalian akan mencari dia dan meminta pertanggung jawaban darinya. Biarkan Aku melahirkan bayi ini. Setelah bayi ini lahir, Aku akan memberitahu kalian mengenai cucu kalian. Semoga kalian tidak membencinya. Tolong... Tolong jangn benci dia. Maafkan putrimu yang bodoh ini... Maafkan Aku Ayah, Ibu... Tolong terimalah bayi ini. Tolong sayangilah dia seperti kalian menyayangiku. Tolong jangan membencinya... Karena selain Kita, siapa lagi yang akan menyayanginya..."
Aku mengelus perutku dengan sedih.
"Maaf ya Dek... Maafin Mama... Kamu terlahir seperti ini. Harusnya Kamu terlahir dari keluarga yang bahagia. Tapi nyatanya Kamu terlahir dari Ibu sepertiku. Dek... Jangan membenciku ya... Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia. Tumbuhlah dengan sehat dan segera lahir ke dunia. Agar Kita selalu bersama selama-lamanya.
***
Happy Reading 😑
NB : Beberapa chapter ke depan mungkin hanya menceritakan tentang kehamilan Khansa ya, please jangan bosen-bosen bacanya sambil nunggu Alex keluar dan Kita timpuk rame-rame. Terima kaseehh 😆
~ErKa~