Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 99 - Selamat Tinggal Khansaku


Seperti dugaan, Aku menjadi lulusan terbaik di provinsiku. Namaku menjadi lumayan terkenal pada saat itu. Banyak wartawan datang untuk datang mengulas berita. Hal itu menyebabkan beberapa universitas besar datang meminangku untuk menjadi mahasiswa mereka.


Keinginanku untuk menjadi pakar nano teknologi masih besar, namun hal itu bertentangan dengan keinginan keluarga. Orangtuaku menginginkanku untuk menjadi dokter, karena di dalam keluarga besar Kami belum ada yang berprofesi itu.


Keluargaku berasal dari keluarga pengusaha. Kakek nenekku merintis usaha kecil-kecilan di kota Kami. Berawal dari menjual pakaian secara door to door, dilanjutkan dengan membuka toko pakaian hingga pada akhirnya berhasil membuka pusat perbelanjaan terbesar di kotaku. Usaha itu menjadi besar dan diteruskan oleh anak cucu.


Begitu sukses dengan mall, ayahku mulai melebarkan sayapnya di bidang lain. Beliau mulai membuka hotel, rumah makan, rumah sakit, perusahaan air minum, tempat hiburan keluarga dan lain-lain. Setiap usaha memiliki manajemennya sendiri dan ayahku menjadi pusat pengontrolnya.


Sekarang usaha itu mulai menggurita dan merambah ke berbagai bidang. Berasal dari menjadi pengusaha daerah, akhirnya ayahku berhasil mengembangkan usaha hingga ke berbagai provinsi.


Di masa tuanya, beliau menginginkan anak-anaknya melanjutkan usaha itu. Aaron menjadi kandidat terbesar sebagai penerus usaha. Keluarga memaksanya untuk mengambil alih posisi itu sehingga membuatnya menempuh pendidikan di bidang yang mereka mau.


Kali ini pun keluarga besar kembali memaksakan kehendaknya padaku. Mereka ingin Aku menjadi dokter yang nantinya bisa mengambil alih rumah sakit keluarga, namun Aku tidak serta merta menerimanya. Cukup Aaron saja yang disetir keluarga, jangan Aku juga.


Aku tetap pada keputusan awal, menjadi pakar nano teknologi. Awalnya keluarga menolak, menganggap bahwa profesi itu tidak ada gunanya, namun Aku tetap pada pendirianku. Akhirnya mau tidak mau keluarga menerima keinginanku dengan syarat Aku harus kuliah di tempat yang sama dengan Aaron maupun Diana, yaitu Universitas Indonesia.


Aku tahu Diana memilih universitas itu semata-mata untuk mengejar Aaron, tapi itu tidak masalah buatku. Asalkan Aku bisa mengejar keinginanku, mau kuliah dimanapun tidak akan ada bedanya bagiku.


***


Begitu kelulusan tiba, pembicaraan mengenai pernikahan Diana maupun Aaron kembali didengung-dengungkan. Diana begitu antusias, sayangnya Aaron berpikiran sebaliknya. Dia menggunakan berbagai alasan untuk menolak pernikahan itu, hingga akhirnya keluarga besar kembali menunda acara sakral itu.


Aku bisa melihat pancaran wajah kesedihan dan kekecewaan di wajah Diana. Aku menepuk-nepuk bahunya untuk menyemangatinya.


"Masih banyak waktu untuk mengambil hatinya. Kamu masih muda. Jangan bersedih lagi."


"Sampai kapan dia akan menolakku Al? Apa ini karmaku karena dulu mengkhianatimu?"


"Pelan-pelan Di. Suatu saat nanti dia pasti akan membuka hatinya untukmu."


"Kenapa pria-pria di keluarga kalian tidak ada yang mencintaiku? Apa Aku begitu buruk di mata kalian?" Tetesan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Aku kembali menepuk bahu Diana.


"Dia pasti akan mencintaimu Di. Jangan menyerah padanya. Sudah jangan menangis lagi. Besok Kita akan berangkat. Setelah di Jakarta, Kamu bisa lebih leluasa untuk mendekatinya."


"Kalau tahu dia akan sedingin ini, Aku tidak akan begitu mudah jatuh dalam pelukannya. Betapa bodohnya Aku,"


"Iya, Kamu memang bodoh. Cantik tapi bodoh."


"Jahat ihh! Bukannya menghiburku malah menjatuhkanku!" Diana memukul bahuku.


"Kenyataannya memang seperti itu. Sekarang Kamu hanya perlu menjalani resiko yang Kamu pilih. Kalau Kamu begitu menyukainya, kejar dia. Kalau tidak, lepaskan saja." Diana tidak membantah kata-kataku. Sepertinya dia membenarkan kata-kataku.


***


"Kamu yakin akan pergi dengan perasaan seperti ini? Kamu nggak ingin menemuinya?" tanya Dino. Pemuda itu datang di malam sebelum keberangkatanku.


"Nggak." Aku terdiam, menghela napas dalam-dalam. Besok akan menjadi hari terakhirku di kota ini. Entah kapan Aku bisa kemari lagi. Entah kapan Aku bisa melihat wajah itu lagi. Berpikir seperti itu selalu saja membuat hatiku sakit.


"Kamu yakin akan kuliah di sini?" tanyaku pada Dino.


"Yah, sebenarnya Aku ingin ikut Kamu Nguk. Ingin keluar dari kota kecil ini juga. Seumur hidup di sini lumayan bosan juga, tapi mau bagaimana lagi, Mama melarangku untuk kuliah di luar kota,"


"Jaga dia untukku ya," tanpa sadar kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


"Hah?"


"Lupakan kata-kataku." Aku memalingkan wajah dengan malu. Sepertinya Aku mulai tidak bisa mengontrol pikiran dan hatiku.


Malam itu Kami berbincang kesana-kemari. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Dino pamit undur diri.


Aku kembali ke kamar. Pikiranku melayang-layang. Besok adalah hari terakhirku di kota ini. Mungkin akan menjadi hari terakhirku melihatnya. Berpikir tidak akan bisa melihat wajahnya sesering yang kumau membuat hatiku bergejolak. Tanpa sadar tubuhku sudah bergerak sendiri. Aku berlari ke lantai bawah dan menuju garasi.


"Mau kemana malam-malam begini Al?" Mama menghentikan langkahku.


"Keluar sebentar Ma. Mau cari angin." Aku mencium tangan Mama dan bergegas mengambil motor. Aku memacu motor dengan kecepatan tinggi. Keinginanku untuk bertemu Khansa sangat menggebu-gebu.


Setidaknya Aku harus menemuinya. Kalaupun dia tidak mau menemuiku, Aku harus melihat wajahnya. Ini malam terakhirku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Setelah berkendara selama dua puluh menit, Aku tiba di depan rumah Khansa. Rumah itu tampak tertutup rapat dan gelap, hanya lampu di teras saja yang masih menyala. Sepertinya semua penghuninya sudah tertidur.


Aku ragu-ragu, antara ingin mengetuk pintu itu atau tidak. Hampir lima belas menit Aku berdiri seperti orang bodoh di depan rumah itu, menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan. Pada akhirnya hatiku menang.


Tok... Tok... Tok...


Aku mengetuk pintu rumah, namun tidak ada jawaban. Aku mencobanya lagi. Setelah tiga kali percobaan, baru terdengar suara dari dalam. Beberapa saat kemudian pintu dibuka dari dalam.


"Saya teman Khansa Pak,"


"Ya?"


"Bolehkah Saya bertemu dengan Khansa?"


"Ini hampir tengah malam. Besok saja kalau mau bertamu," Ayah mau menutup pintu itu, tapi Aku menahannya dengan tanganku.


"Tolong ijinkan Saya bertemu dengannya Pak. Besok Saya sudah harus berangkat ke Jakarta,"


"Ini sudah tengah malam. Khansa sudah tidur." Ayah kembali mau menutup pintu, tapi Aku lagi-lagi kembali menahannya. Aku bisa melihat kegusaran di wajah beliau.


"Baik Pak, Saya akan pulang. Tapi tolong sampaikan pesan Saya. Nama Saya Alex, mungkin Bapak lupa dengan Saya. Dua tahun yang lalu Saya sering main ke sini Pak. Besok pesawat Saya akan berangkat pukul 11.40 WIB. Saya akan menunggunya. Tolong sampaikan pesan..." belum selesai berkata-kata, pintu itu sudah ditutup dari dalam.


Aku menatap pintu itu dengan putus asa. Ingin rasanya Aku menggedor-gedor pintu lagi. Namun Aku tahu hal itu akan menimbulkan keributan. Aku berdiri di depan rumah Khansa hampir satu jam. Berharap keajaiban datang, dan melihat gadis itu keluar. Namun harapan hanyalah harapan. Khansa tidak kunjung keluar. Tepat pukul dua belas, Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku harap ayah Khansa menyampaikan pesanku kepadanya.


***


Sudah pukul sepuluh pagi. Semua keluarga berkumpul di ruang tamu, bersiap-siap untuk mengantar kepergianku dan Diana hari itu.


Karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, baik keluarga besarku maupun Diana memutuskan untuk pergi menyusul Kami di lain waktu.


Berulang kali Aku melihat jam tangan, beberapa kali menengok ke luar, berharap ada yang datang mencariku. Semakin dekat dengan jam keberangkatan, membuatku semakin gelisah.


"Kamu kenapa sih Al? Dari tadi kelihatan gelisah," Diana datang menghampiriku.


"Nggak apa-apa."


"Kamu khawatir karena jauh dari mama ya? Dasar anak mama,"


"Berisik!"


Akhirnya tiba waktunya Aku berangkat. Semua barang sudah dimasukkan ke bagasi. Kami mengucapkan perpisahan singkat. Bahkan di detik terakhir pun Aku masih berharap Khansa datang. Namun harapan hanyalah harapan, orang yang kutunggu tak kunjung datang.


Di sepanjang perjalanan menuju bandara Aku menatap sekitar. Menatap jalanan yang pernah kulalui bersamanya. Hal sederhana, namun begitu melekat di hati.


Aku mengingat pertemuan pertama Kami. Percakapan pertama, belajar bersama, boncengan pertama dan kilatan kenangan lainnya mulai bertebaran. Tanpa sadar tetesan itu mulai mengalir di pipi.


Aku segera mengambil kacamata dan masker. Menutupi wajahku dari tatapan orang-orang yang ingin tahu.


Terkadang Aku bertanya-tanya, andaikan Aku menyadari perasaanku lebih awal dan menyatakannya pada Khansa, akankah gadis itu menerimanya? Pengandaian yang kutakut untuk mengetahui jawabnya.


"Hei dari tadi ngelamun aja. Udah nyampe tuh. Yuk turun." Diana menepuk lututku, mengalihkanku dari lamunan. Benar kata Diana, Kami memang telah tiba di bandara. Aku melayangkan pandang, berharap melihat sosok itu di sana, namun lagi-lagi kekecewaan itu datang.


Aku bermaksud untuk menunggunya di pintu keberangkatan, namun Diana memaksaku untuk melakukan check in sehingga mau tidak mau Aku mengikutinya.


Penundaan keberangkatan, yang membuat kebanyakan orang kesal malah membuatku senang. Hati kecilku masih berharap dia datang. Hingga akhirnya pengumuman itu terdengar.


"Yuk berangkat. Jangan cemberut gitu dong. Dasar anak mama," Aku menatap Diana dengan kesal, namun Aku tetap berdiri dan mengikuti langkahnya.


Berakhir sudah. Benar-benar sudah berakhir. Khansa benar-benar tidak mau menemuiku. Sampai kapanpun Aku menunggu, sepertinya dia juga tidak akan pernah datang. Mungkin sudah saatnya Aku mengucapkan selamat tinggal...


Alex...


Aku tersentak. Aku merasa mendengar suara Khansa memanggil namaku. Aku menoleh untuk melihat asal muasal suara...


"Ayo! Ngapain sih? Lama banget." Diana menarik tanganku dan memaksaku untuk mengikuti langkahnya.


"Aku mendengar ada yang memanggil namaku..." ucapku dengan ragu-ragu.


"Itu hanya perasaanmu saja Al. Siapa yang mau menyusulmu ke sini. Ayo cepat, keburu ditinggal pesawat nih." Benar kata Diana. Siapa yang akan menyusulku kemari? Itu hanya keinginan bodohku saja.



Aku mengikuti langkah Diana dan berjalan masuk ke dalam pesawat. Ketika pesawat sudah lepas landas, Aku melihat kotaku dari atas. Kota tempatku dilahirkan. Kota penuh kenangan.


Selamat tinggal kotaku... Selamat tinggal cinta pertamaku... Selamat tinggal Khansaku... Aku berharap akan segera melupakanmu.


***


Happy Reading 😟