
Aku langsung mendorong tubuh Alex kuat-kuat hingga pria itu terhuyung-huyung, hampir kehilangan keseimbangan.
"Ahh, emm... Tadi A-Alex ba-bantuin Aku ma-masang anting Di..." Aku begitu tergagap. Aku tidak berani memandang wajah Diana. Aku takut Diana menangkap kebohonganku.
"Oh begitu. Eh acara udah dimulai tuh. Masuk yuk." Tanpa Aku duga Diana menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke dalam hotel. Aku melihat dengan ujung mataku. Alex tampak berusaha untuk menguasai diri, kemudian dia mengikuti Kami.
Kami memasuki aula resepsi. Seperti dugaanku, kehadiran Alex dan Diana menjadi sorotan melebihi pengantin itu sendiri. Banyak para tamu dan teman-teman yang hadir langsung mengerubuti Diana. Sementara teman-teman sekelas tampak mengerubuti Alex. Aku kembali menjadi orang yang tidak tampak.
Aku memisahkan diri dari mereka dan mulai mengikuti barisan untuk memberi selamat pada Dino dan istrinya.
"Selamat ya Dino atas pernikahannya. Semoga samawa ya." Aku menyalami Dino dan istrinya.
"Khansa ya? Mana Alex?" Dino melongokkan kepalanya ke belakangku.
"Masih di depan, sama Diana."
"Oh... Ngomong-ngomong terima kasih sudah datang. Semoga Kamu dan bayimu juga sehat-sehat ya. Semoga kalian bahagia."
"Iya, terima kasih Dino." Aku turun dari pelaminan. Otakku bertanya-tanya. Mengapa Dino tampak tidak terkejut dengan kehamilanku? Apa Alex menceritakan pernikahan Kami? Itu artinya Dino tahu kalau Aku istri siri Alex?
Berpikir seperti itu membuatku bahagia. Setidaknya bukan hanya keluargaku saja yang tahu pernikahan ini, tapi ada beberapa teman Kami yang juga tahu.
"Eh itu Khansa kan? Perasaan waktu reuni kemarin dia belum hamil deh. Setahuku juga belum nikah. Lihat sekarang, perutnya buncit gitu. Aku tebak mungkin sudah 6-7 bulan tuh kehamilannya."
"Entah berita ini benar atau tidak ya, tapi Aku punya teman yang rumahnya dekat dengan rumah dia. Kata temanku, dia hamil di luar nikah dan kalian tahu?!"
"Apa?! Apa?!"
"Orang yang menghamilinya sudah menikah!! Dia hamil dengan suami orang. Maka dari itu dia hanya dinikahi secara siri. Aku dengar keluarganya juga pindah karena tidak tahan dengan omongan tetangga. Benar-benar nggak nyangka kan?! Wajah saja yang alim, tapi kelakuan kayak pur*l. Iya nggak sih??"
"Iya, ngeri. Hati-hati say, pelakor jaman sekarang ngeri-ngeri. Pelakor tidak lagi identik dengan wanita berpenampilan nakal, tapi wanita sok alim pun lebih menakutkan. Kita harus jaga suami Kita baik-baik. Jangan sampai wanita l*cur macam dia mendekat."
Aku melihat ada tiga orang teman sekelasku yang membicarakanku secara terang-terangan. Mereka sengaja meninggikan suaranya agar Aku mendengar percakapan mereka.
Sakit hati? Tentu saja hatiku sakit. Tapi Aku tidak akan membiarkan perkataan mereka mempengaruhi. Aku memeluk perutku. Tidak membiarkan anakku mendengar perkataan itu.
"Jangan didengerin ya Dek. Daripada dengerin omongan tidak penting, Kita cari makan saja yuk." Aku sengaja mengeraskan suaraku juga dan berjalan melalui mereka.
Sudah resikoku menikah dengan pria beristri. Apalagi menikah karena hamil. Jadi wajar saja kalau menjadi bahan pembicaraan orang. Aku hanya harus kuat mental. Yang menjadi pikiranku sekarang adalah perkataan mereka tentang keluargaku. Benarkah keluargaku pindah? Kenapa tidak memberitahuku?
Ayah... Ibu... Aku benar-benar membuat kalian malu ya. Maaf ya, maafkan Aku... Kalian dimana? Aku merindukan kalian...
Aku tidak memiliki nafsu makan lagi. Aku pergi ke pojok ruangan yang sepi dan mencari tempat duduk kosong. Aku duduk di sana sendiri. Tidak ada yang mempedulikanku. Seolah-olah kehadiranku memang tidak ada pengaruhnya apa-apa. Aku sedikit menyesal menghadiri acara itu.
Aku melihat Diana masih sibuk dikerubungi oleh orang-orang. Banyak yang minta foto atau tanda tangan. Ada juga yang memegang perut Diana, tampak ingin tahu dengan kehamilan Diana.
Aku melayangkan pandanganku, namun Aku tidak melihat Alex di ruangan itu. Dimanakah pria itu?
"Hei sayang, Kamu di sini? Aku mencarimu kemana-mana." Tiba-tiba Alex muncul dari pintu samping, dekat dengan tempatku duduk.
"Maaf ya, tadi anak-anak tiba-tiba..."
"Iya tidak apa-apa."
"Sudah memberi selamat pada Dino?"
"Sudah."
"Sudah makan?" Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku mau pulang Mas. Bisa minta tolong pesankan taksi? Ponselku ketinggalan..."
"Nanti Aku akan mengantarmu. Sekarang makan dulu. Aku ambilkan." Alex beranjak menjauh. Tidak memberiku kesempatan untuk menolak.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali datang dengan membawa beberapa macam makanan. Dari makanan berat, cake, buah dan juga puding. Alex mengambil kursi lain dan meletakkan makanan itu di sana.
"Ayo makan." Alex menyendok dalam jumlah besar.
"Aku bisa makan sendiri..."
"Jangan membantah. Di rumah biasanya juga disuapin kan."
"Malu... Banyak yang lihat..."
Aku memperhatikan sekitar. Sangat takut bila ada yang memperhatikan Kami. Benar kata Alex, semua orang tampak sibuk. Apalagi setelah pasangan pengantin bergabung bersama mereka dan bernyanyi. Mereka diliputi euforia. Aku lega karena tidak ada yang melihat Kami.
"Kasih daging yang banyak Mas."
"Iya. Sudah selera makan?"
"Iya." Aku makan dengan lahap. Alex tersenyum tipis.
"Aku mau gudeg Mas." Aku menunjuk makanan gubukan yang terletak tak jauh dari Kami.
"Tunggu di sini." Alex kembali ke meja prasmanan untuk mengambilkanku makanan itu. Kemudian dia kembali menyuapiku.
Seperti biasa, Aku makan porsi tiga orang. Belum lagi ditambah hidangan penutup.
Aku menyandarkan tubuhku sembari mengelus perutku yang kekenyangan. Alex tampak tertawa geli melihat tingkahku.
"Sudah kenyang?"
"Iya."
"Yakin tidak ada yang mau dimakan lagi?"
"Nggak ada."
"Heran sama Kamu Yank. Makanmu banyak, tapi kenapa ini semua tetap kecil?" Alex menyentuh lengan, paha dan betisku.
"Semua makananku di ambil dia." Aku menunjuk perutku. Tatapan Alex tampak menghangat. Dia mengelus perutku dengan lembut.
"Cepat besar ya anak Papa." Ucapnya sembari mengelus perutku. Tatapannya tampak sangat sayang. Melihatnya seperti itu, rasanya Aku akan menerima apapun status yang dia berikan padaku asalkan anakku mendapat kasih sayang darinya.
"Mas..."
"Hem?"
"Aku ingin pulang..."
"Untuk apa pulang? Di hotel Kamu sendirian sayang."
"Aku khawatir sama Ayah dan Ibu. Aku dengar berita nggak enak..."
"Oh, Aku sudah menelepon Fian. Kata Fian, Ayah nganterin Ibu pulang kampung. Di sana tidak ada sinyal. Itu mengapa Kita tidak bisa menghubungi mereka. Mungkin mereka ada di sana cukup lama..."
"Kenapa Fian mau mengangkat teleponmu, tapi tidak mengangkat teleponku? Dimana anak itu sekarang?"
"Dia tidur di kosan temannya. Jadi untuk sementara, Kita menginap di hotel saja."
"Kita?"
"Hem."
Aku tidak mau memikirkan ucapan Alex. Mungkin dia berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Aku tahu malam ini dia harus pulang ke rumah keluarganya. Jadi tidak mungkin bisa menginap bersamaku di hotel.
Akhirnya Aku kembali pulang bertiga. Alex mengantarku ke hotel terlebih dulu, setelah itu dia mengantarkan Diana.
Aku kembali ke kamarku dan merebahkan diri. Banyak kejadian yang berkelebat di kepalaku. Hal yang paling membuatku lega adalah mengetahui kenyataan tentang keluargaku. Setidaknya Aku tahu kemana keluargaku pergi.
Hal yang menyesakkan hati adalah mendengar orang-orang membicarakanku. Aku tahu sebagian besar apa yang mereka katakan itu memang benar. Aku memang hamil di luar nikah, pria yang menghamiliku juga sudah memiliki istri. Aku juga menikah siri. Semua perkataan mereka benar, tapi mengapa hatiku masih terasa sakit?
Apakah nantinya anakku juga akan menerima perlakuan seperti ini? Apakah anakku juga akan disembunyikan dari mata dunia? Sampai kapan hal ini akan berlalu?
Tanpa sadar air mataku kembali menetes. Memikirkan nasib anakku ke depannya. Padahal dia sudah memiliki ayah sekarang, tapi entah mengapa nasibnya masih terasa menyedihkan?
Ddddrrttt... Ddddrrttt... Ddddrrttt...
Ponselku bergetar. Aku melihat siapa yang menelepon. Ternyata "Mas Alex" sedang melakukan panggilan video.
***
Happy Reading 😊
Yalord, nggak enak nulis sembunyi2 gini. Takut ketahuan bos 😂 Lanjooodd besok lagi 😉