
Aku lega Khansa bisa menerima alasanku. Memang Aku sedikit berbohong padanya, meskipun tidak benar-benar berbohong. Aku seperti ini bukan karena putus dengan Diana, tapi karena pengkhianatan yang dilakukan keduanya.
Mengingat pengkhianatan mereka dan ketakutanku akan benar-benar dibenci oleh Khansa mau tak mau membuatku menangis di depannya. Ini sungguh memalukan. Aku menunjukkan sisi terlemahku di depannya. Aku berharap Khansa tidak illfeel melihatku yang seperti ini.
Aku begitu bodoh. Mengapa Aku harus merusak diriku seperti ini sementara mereka tidak merasa bersalah? Untuk apa Aku melakukannya? Sementara di sisi lain ada hal yang begitu kutakutkan. Aku takut Khansa membenciku dan meninggalkanku. Perasaan ini jauh lebih menakutkan dibanding harus kehilangan dua orang br*ngsek itu dari hidupku.
Aku, memutuskan untuk berbenah diri. Meninggalkan hal-hal diluar kebiasaanku dan kembali menjadi diriku yang dulu. Ada Khansa di sampingku. Dia ingin Aku kembali menjadi Alex yang dulu. Aku pasti akan baik-baik saja.
Pers*tan dengan dua br*ngsek itu. Mereka tidak pantas mendapat perhatianku. Mereka pasangan yang serasi. Yang satu tidak berotak, dan yang satu murahan. Mereka begitu cocok bersama. Aku tidak akan merusak hidupku hanya untuk orang-orang seperti itu!!
***
Aku memutuskan untuk merapikan rambutku dan kembali berpenampilan rapi. Meninggalkan rokok, minuman keras maupun gadis random tidak jelas. Dino sangat senang melihat perubahanku. Dino memelukku dan menangis melihatku yang katanya sudah kembali seperti dulu. Aku pikir, masih banyak orang yang ternyata menyayangiku. Aku hanya perlu fokus pada orang-orang itu.
Pagi ini Aku sangat bersemangat ke sekolah. Kesalahpahaman dengan Khansa sudah terselesaikan. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Sekarang Aku tidak perlu memiliki rasa bersalah untuk bertemu dengannya. Aku pria bebas, tidak sedang memiliki hubungan dengan siapapun. Aku bebas dekat dengan Khansa kapan pun Aku mau.
Membayangkan menghabiskan waktu bersama Khansa membuatku senang. Belajar bersama di perpustakaan, bertemu diam-diam di belakang gedung sekolah, jalan-jalan ketika sekolah libur dan kegiatan lainnya. Aku tersenyum-senyum sendiri.
Mungkin benar kata Dino, perasaan ini bukan hanya perasaan untuk teman. Khansa begitu spesial dihatiku. Bayangnya tak pernah lepas dari pikiranku. Keberadaannya sangat berarti untukku. Tanpa kusadari Aku sudah menyukai kucing polos itu.
Sejak kapan perasaan ini muncul? Apakah sejak Aku meminjam tipe X dan menatap mata polos itu? Atau ketika Aku melihat sosoknya yang tegar, mengayuh sepeda tanpa perasaan malu? Atau ketika Aku berniat menciumnya pada saat itu?
Aku tidak tahu sejak kapan mulanya, namun sekarang Aku cukup yakin dengan perasaanku. Aku menyukaimu, Khansaku.
***
Begitu memasuki jam istirahat, kakiku langsung melangkah ke kelas 2E. Aku begitu bersemangat untuk bertemu dengan Khansa. Aku akan mendekati Khansa secara perlahan. Setelah memastikan Khansa juga memiliki perasaan yang sama untukku, Aku akan mengungkapkannya. Pasti akan menyenangkan menjadi pacarnya. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin berteriak-teriak kesenangan.
Aku bersandar di pintu kelas Khansa dan menatap gadis itu berlama-lama. Gadis itu tampak sedang melamun. Apa yang sedang dilamunkannya? Bahkan wajah melamunnya terlihat cantik. Tanpa sadar Aku tersenyum kecil. Senyum yang akhir-akhir ini hilang dari wajahku.
Aku berjalan mendekati Khansa. Setiap langkah yang kuambil membuat hatiku berdebar. Mungkin karena Aku sudah menyadari perasaanku untuknya.
"Khansa, Aku tunggu di tempat biasa ya." ucapku seraya berbalik. Aku begitu yakin Khansa akan mengikuti langkahku.
"Aku tidak bisa!" Jawaban ketus Khansa membuatku serta merta menghentikan langkah. Aku kembali berbalik dan menatap Khansa penuh dengan tanda tanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku sibuk." Khansa kembali menjawab dengan ketus. Ada apa dengan dia? Dia tidak seperti biasanya. Apa Khansa sedang ada masalah?
"Sibuk apa? Ada PR? Bawa aja. Aku akan koreksi seperti biasa..." Aku mencoba untuk membujuknya.
"Aku tidak bisa!" Nada suara Khansa semakin meninggi. Membuatku yakin bahwa ada yang salah dengannya. Otakku mulai menerka-nerka.
"Khansa, Kamu kenapa?" Aku semakin mendekatinya. Aku mulai menghubung-hubungkan perubahannya dengan kejadian akhir-akhir ini. Terakhir kali Aku bertemu dengannya adalah tadi malam. Apa Khansa berubah karena pertemuan Kami itu?
"Aku tidak apa-apa!" Khansa masih menjawab dengan ketus.
"Ya!! Aku sangat kaget. Ya ampun, Aku benar-benar nggak nyangka, seorang Alex menangis menghiba-hiba karena diputusin wanita! Hahaha, lucu sekali!"
DEG
Jawaban Khansa seolah-olah menamparku. Membuat duniaku berhenti untuk sesaat. Aku begitu terkejut dan terpaku. Tanpa sadar nada suaraku juga mulai meninggi.
"Khansa!!"
"Apa?!" Khansa menjawabku tak kalah tinggi. Dia berdiri dan berkacak pinggang di depanku. Ini benar-benar diluar perkiraanku. Dia bukan Khansa. Dia orang lain yang wajahnya mirip Khansa...
"Asal Kamu tahu ya, Aku dekat denganmu untuk memanfaatkanmu! Memanfaatkan otakmu! Kekayaanmu dan juga kepopuleranmu! Apa Kamu pikir Aku tulus?! Tidak!! Aku tidak pernah tulus!"
"Sikapmu tadi malam juga membuatku terganggu dan muak! Hei Alex!! Bukan hanya Kamu saja yang punya masalah dalam hidup! Masalahku lebih banyak! Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan kecengenganmu itu!"
"Oh ya, terima kasih atas bantuanmu. Karena bantuanmu nilai-nilaiku membaik dan Aku tidak perlu pusing memikirkan pembayaran ini-itu. Aku pikir, tidak ada salahnya juga dekat denganmu. Terima kasih teman." Orang berwajah mirip Khansa itu menepuk bahuku dan berjalan keluar kelas. Meninggalkanku yang masih berdiri tercengang.
***
Tubuhku terpaku, benar-benar terpaku. Pikiranku kosong, seolah-olah ragaku sudah tidak ada di sana. Rasa gemetar menjalar di tubuhku. Aku berusaha menelaah apa yang baru saja terjadi. Tapi bagaikan tidak punya otak, pikiranku terhenti.
Bagaikan orang bodoh Aku berdiri di kelas itu. Menjadi tontonan semua orang. Merasa dipermalukan? Tidak, bukan perasaan itu yang kurasakan. Aku tidak berpikir tentang rasa malu lagi. Aku hanya mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi dan otakku gagal melakukannya.
Entah berapa lama Aku berdiri di tempat itu, hingga Aku merasa seseorang menarik tubuhku dan membawaku. Aku tidak peduli dibawa kemana, pikiranku benar-benar tidak ada di sana.
Mataku terbuka, namun Aku tidak bisa merasakan keberadaan orang-orang disekitarku. Aku seolah-olah sendiri, menyembunyikan diriku dalam duniaku sendiri.
Aku benar-benar mencoba menelaah kata-katanya, tapi otakku tetap tidak bisa mencernanya.
Apa maksud dari kata-katanya? Mengapa Khansa mengucapkan kata-kata itu? Apa benar semua yang diucapkannya?
Khansa muak padaku. Dia muak melihatku yang seperti ini. Muak melihat kecengenganku. Mengeluh seperti anak kecil atas masalahku sendiri. Khansa tidak menyukaiku. Khansa membenciku!!
"Nguk? Kamu nggak apa-apa? Nguk?!" Aku merasa seseorang menepuk-nepuk bahuku. Aku menoleh untuk melihat asal suara itu. Aku melihat sahabatku tengah berada di depanku. Tatapannya begitu khawatir.
Aku menatap Dino dengan menerawang. Memahami kenyataan bahwa Khansa membenciku membuat airmataku tanpa sadar mengalir keluar.
Satu hal yang terlintas di pikiranku... Khansa membenciku. Dan itu adalah pukulan telak yang entah apa Aku sanggup untuk menerima segala rasa sakit ini.
***
Happy Reading 😔
NB : Untuk sementara setor 1 dulu. Masih otewe ✍️. Begitu selesai pasti langsung diterbangkan eps selanjutnya. Tetap ditunggu kisah mereka ya😙🤗