
Aku berada dalam pelukan Alex. Aku masih tidak menyangka Kami benar-benar melakukannya. Ini bahkan pertemuan pertama Kami setelah 10 tahun lamanya.
Selepas menuntaskan hasratnya, Alex memeluk tubuhku dengan erat. Aku tidak bergerak dan menunggu. Berharap akan ada kejelasan dari sikapnya ini.
Beberapa menit Aku menunggu, namun Aku tidak kunjung mendengar kata-kata itu. Hingga Aku mendengar napas teraturnya yang tenang.
Aku mendongak dan menatapnya. Alex kembali tidur. Dia tertidur sembari memelukku dengan erat, membuatku bergelung dengan nyaman di dadanya.
Ahh, mungkin dia kecapekan? Ngantuk? Atau kepalanya pusing karena mabuk? Mungkin dia akan membahas hal ini besok pagi? Ya, sebaiknya Aku menunggu dia bangun saja.
Aku berusaha untuk memejamkan mata, namun tetap tidak bisa. Aku memikirkan perbuatanku. Mereka sudah melakukan hal yang sangat berdosa. Melakukan zina sebelum pernikahan dilangsungkan.
Bagaimana hubungan Kami ke depannya? Apa itu artinya Alex akan menjadikanku pasangannya? Menikahiku? Membuatku menjadi istrinya?
Memikirkan menjadi istri Alex membuatku sangat bahagia. Hatiku berbunga-bunga. Aku tidak sabar menunggu Alex bangun.
Aku balas memeluk tubuh Alex dan menyusupkan kepalaku di dadanya.
"Aku mencintaimu..." bisikku penuh perasaan. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidur.
Aku hampir melayang ke dunia mimpi ketika kudengar suara-suara yang cukup mengganggu.
"Di!! Jangan lakukan itu!! Di!! Pleasee... Jangan lakukan itu... Di... Diana... Diana... Diana..."
Aku tersentak. Aku bangun dan memperhatikan Alex dengan seksama. Pria itu tetap memejamkan matanya, namun mulutnya mengigau. Tak henti-hentinya dia memanggil-manggil nama yang sama.
Diana... Diana... Diana...
Hatiku hancur. Benar-benar hancur. Aku merasa seperti hidupku telah runtuh. Duniaku telah rubuh. Kenyataan ini lebih menyakitkan dibandingkan yang dulu-dulu.
Tubuhku gemetar. Aku menutup mulutku untuk menahan isak tangisku. Airmata beruraian di pipiku.
Aku menatap Alex dengan perasaan terluka. Luka ini begitu dalam dan perih. Ingin rasanya Aku menghujamkan belati di dadaku agar rasa sakit ini segera hilang.
Ternyata Aku hanyalah Figuran.
Seumur hidupku, Aku hanya akan tetap menjadi seorang figuran di dalam hidup Alex. Aku tidak ada, tidak tampak di matanya.
Hidupnya hanya dipenuhi dengan Diana, Diana dan Diana.
Selama ini Aku sudah membodohi diri. Mencintai tanpa pamrih. Berharap suatu saat nanti Alex akan melihatku. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Alex tetap melihat Diana. Di hati Alex hanya ada Diana, tidak ada Khansa di sana.
"Huuuu... Huuummmp... Huuu..." Aku membekap mulutku untuk menahan suara tangisku. Perasaan sakit menggerogoti seluruh tubuhku.
Khansa bodoh... Khansa bodoh... Khansa bodoh...
Kamu hanyalah gadis bodoh yang terlalu terbuai dengan perasaan. Di perbudak oleh perasaanmu sendiri. Kamu tidak melihat dunia dengan benar.
Khansa... Kamu hanyalah seorang upik abu. Apa Kamu lupa dengan hal itu? Apa Kamu pikir dengan memiliki pekerjaan yang bagus dan kehidupan yang layak membuatmu pantas untuk sekedar dilirik oleh Pangeran Alex? Tidak, itu salah. Sekali menjadi upik abu tetaplah upik abu. Tidak mungkin berubah menjadi putri. Dasar Khansa bodoh.
Aku memaki-maki kebodohanku sendiri. Lama Aku menangis dalam diam. Menangisi kebodohanku yang teramat sangat ini.
Kemudian Aku memunguti bajuku dan mulai memakainya secara perlahan-lahan. Aku bagaikan wanita murahan yang telah dipakai oleh pelanggannya.
Aku memakai bajuku pelan-pelan. Berusaha menahan sakit bekas aktivitas zina yang Aku lakukan.
Sakit fisik ini membuktikan bahwa Aku memang telah melakukan hubungan terlarang dengan Alex. Namun sakitnya hati ini lebih menyakitkan. Entah apa Aku bisa bangkit dari semua ini?
Selesai berpakaian, Aku kembali menatap Alex dalam-dalam.
"Alex... Aku akan berusaha melupakanmu. Maaf Aku sudah ada di antara kalian. Maaf Aku sudah membuatmu mengkhianati Diana. Dari dulu hatimu hanya milik Diana. Cintailah Diana, Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi."
"Terima kasih atas jasa-jasamu dulu. Tanpamu, Aku dan keluargaku tidak mungkin seperti ini. Anggap saja tubuhku malam ini sebagai penebus hutang-hutangku. Alex... Berbahagialah..."
Aku mendekati Alex, pelan-pelan Aku mengecup keningnya. Airmataku jatuh di pipinya.
Aku pergi tanpa berbalik lagi. Aku keluar dari kamar itu dengan hati dan tubuh yang hancur.
Aku memesan taksi online dan pergi ke kontrakan. Di sepanjang perjalanan Aku hanya menangis dan menangis.
Aku benar-benar seperti wanita malam yang pergi setelah memuaskan pelanggannya. Benar-benar seorang wanita murahan.
Cinta membuatku buta. Membuatku kehilangan akal dan pikiranku. Yang kulihat hanya Alex, tiada yang lain. Aku bertindak tanpa berpikir.
Sekarang nasi sudah jadi bubur. Hubungan Kami sudah tidak akan sama lagi. Aku sudah menyerahkan kesucianku pada pria yang kucintai, pria milik wanita lain. Pria yang bukan suamiku.
Sekarang tubuhku sudah ternoda, sudah tidak suci lagi. Aku tidak pantas untuk laki-laki manapun di muka bumi ini. Sepertinya, seumur hidup Aku akan hidup sendiri.
***
Aku tiba di kontrakan ketika waktu menunjukan pukul 04.20 WIB. Aku langsung masuk ke kamar dan bergelung di dalam selimut.
Aku kembali menangis dan menangis. Tubuhku gemetar karena tangis. Menangisi kebodohanku sendiri. Menangisi pria yang tak bisa kumiliki. Menangisi perasaan yang ingin ku akhiri.
Menangis membuatku lelah. Rasa lelah karena menangis dan aktivitas yang kulakukan sebelumnya membuatku tanpa sadar terlelap selelap-lelapnya.
Aku benar-benar lupa bahwa pagi itu adalah hari Senin. Awal dari kerumitan rutinitas bagi pekerja seperti Kami.
***
Aku terbangun ketika waktu sudah menunjukan pukul 14.15 WIB. Aku benar-benar tidur dalam waktu yang lama.
Aku mengambil ponselku. Betapa terkejutnya Aku melihat ada 116 panggilan tak terjawab.
Entah mungkin kepalaku yang bodoh ini, tapi Aku berharap ada panggilan dari Alex dari 116 panggilan itu. Tapi... Hasilnya nihil.
Panggilan itu terdiri dari Sizil, Andre, pimpinanku dan anak buahku yang lain. Tidak ada satu pun nomor baru yang masuk. Itu artinya Alex benar-benar tidak menghubungiku.
Getaran rasa sakit kembali menjalari tubuhku. Tak ingin berlama-lama berkutat dalam rasa sakit, Aku segera membuka chat yang isinya ratusan itu.
Pesan dari Sizil kubaca pertama kali.
07.15 : Bu? Ibu dimana? Briefing sudah mau mulai nih.
07.30 : Bu, ibu telat ya? Bu, GH yang baru datang hari ini. Buruan datang Bu, jangan sampe telat.
08.10 : Ibu, ya ampun. Ini meeting sama GH udah mau mulai. GH-nya ganteng loh Bu. Masih muda juga. Semoga aja hatinya sebaik wajahnya.
11.07 : Ibu!! Syukur deh Ibu nggak ikut meeting. GH nya bener-bener jahat Bu. Wajahnya aja yang ganteng, tapi kelakuannya naudzubillah deh Bu. Hampir semua bagian kena semprot Bu. Untung deh Ibu nggak masuk, jadi nggak kena semprot.
11.09 : Tapi kasian Pak Andre sama Pak Arif (BM) deh Bu. Mereka berdua di semprot habis-habisan. Dibilang nggak becus mengelola perusahaan. Bahkan si GH ngancem mau mecat Pak Arif Bu, ya ampun...
Dan masih banyak chat lagi yang lainnya.
Aku membaca chat dari Andre.
07.13 : Sha, Aku terjebak macet nih. Aku kirim ojol ke kontrakan ya. Kamu ke kantor aja dulu, nanti Aku menyusul
07.49 : Sha? Kamu dimana? Kenapa ojolnya cancel orderan? Sha?
07.58 : Sha, Aku meeting dulu ya. GH yang baru sudah datang. Kalau Kamu nggak masuk hari ini, beristirahatlah. Nanti sepulang kerja Aku mampir ke kontrakan.
Dan masih banyak lagi pesan yang lain.
Aku ingin kabur dari semua ini. Kabur dari masalah hati dan juga pekerjaan. Kemana dia harus pergi?
***
Happy Reading 😩