Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
Ch 50 - Aku Tidak Mau Menikah Denganmu


Alex terdiam mendengar kata-kataku. Aku melirik sekilas. Tampak buku-buku jarinya memutih memegang kemudi. Sepertinya dia sangat tidak suka mendengar perkataanku.


"Baiklah. Aku tahu Kamu tidak akan membuat ini mudah." Alex menoleh padaku. Senyum licik tersungging di bibirnya. "Tapi Kamu tahu, Aku tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuanku."


Aku merinding mendengar kata-kata Alex. Apa dia akan memaksaku? Menculikku dan memaksa untuk melakukan pernikahan? Sebenarnya ada dimana otak pria ini? Seharusnya dia senang karena Aku tidak meminta pertanggung jawabannya. Aku tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangganya. Kenapa Alex malah membuatnya serumit ini?


"Halo Winda. Mengenai permintaanku kemarin. Kamu tidak perlu mencarinya. Aku sudah menemukannya. Ya, dia berada di sampingku sekarang." Alex melirikku sembari tersenyum menyebalkan.


"Oh ya, apa wanita hamil bisa bepergian dengan pesawat? Emm, untuk kehamilannya sudah cukup besar. Oh harus dapat izin dari dokter dulu? Hem, baiklah. Berarti Aku harus pergi sendiri."


"Winda, Kamu harus segera kemari. Ada tugas untukmu. Pesan tiket sekarang juga. Aku tidak mau mendengar alasan. Dua jam lagi Kamu sudah harus di sini. Apapun caranya. Mengerti?!"


Aku mendengar Alex menelepon. Entah siapa yang di teleponnya. Selesai menelepon, dia menghadap Aku.


"Kamu tinggal dimana?"


"Bukan urusanmu."


"Kalau begitu, Aku akan membawamu ke tempat yang Aku mau." Alex bersiul kecil. Ya ampun, Aku benar-benar inging mencakar wajahnya. Pria tidak tahu malu. Sudah punya istri dan calon anak juga, masih berani mengajak wanita lain untuk menikah. Apa dia pikir Aku akan langsung menerima ajakannya?!


Dan kenapa responnya seperti itu? Kenapa Alex malah terlihat santai? Rencana apa yang sedang disusunnya kali ini?!


"Serius tidak mau mengatakan tempat tinggalmu?" Suaranya terdengar ceria. Aku tidak mau menjawab. "Baiklah, Aku akan benar-benar akan membawamu ke tempat yang Aku mau."


Alex menyalakan mobil. Bibirnya tak henti-hentinya bersiul. Sepertinya penolakanku tidak membawa pengaruh apa-apa padanya.


Dia mengemudi dengan santai. Lima belas menit kemudian, Alex tiba-tiba menghentikan mobil di salah satu hotel bintang lima di kota Malang. Aku menatapnya dengan terkejut.


"M-mau apa kesini?"


"Tidur."


"Hah?"


"Aku lelah. Ayo turun."


"Tidak mau."


"Kamu mau Aku gendong lagi? Aku sih tidak keberatan..." Alex mengedikkan bahu dengan santai.


"Apa sih maumu?!"


"Menikahimu."


"Tapi Aku tidak mau. Kenapa masih maksa?"


"Karena ada anak itu." Alex menunjuk anak di perutku.


"Tapi Aku tidak mencintaimu..."


"Terus kenapa? Aku menikahimu karena anak itu. Bukan karena yang lain."


Sengatan sakit hati membakar dadaku. Aku tahu Alex tidak mencintaiku. Tapi dia tidak perlu mengatakan segamblang itu.


"Aku tetap tidak mau."


"Jangan paksa Aku untuk mengambilnya darimu." Alex berkata dengan nada dalam. Ada nada ancaman di setiap kata-katanya. Tidak terbayang rasanya kalau dia benar-benar mengambil anak ini dariku.


"Ka-kalau Aku menikah denganmu, lalu bagaimana dengan Diana dan anaknya?"


"Memang kenapa dengan Diana? Dia akan baik-baik saja."


Ya ampun, Aku sudah tidak mengerti lagi dengan pemikiran Alex. Kenapa dia menjadi pria tega seperti ini? Apa dia tidak memikirkan perasaan Diana? Bagaimana kalau Diana tahu Kami menikah dan juga sama-sama menantikan kelahiran buah hati Kami?


Dia benar-benar bukan Alex yang kukenal. Dia seperti pria yang tidak memiliki hati nurani. Yang dipikirkannya hanya bagaimana dia memperoleh apa yang dia mau.


"Ayo turun."


"Aku tidak mau."


"Jangan memaksaku untuk menggendongmu. Atau Kamu suka Aku gendong?" Huh, pria ini benar-benar menyebalkan!!


"Antarkan Aku pulang." Ucapku dengan ketus. Alex tersenyum puas.


"Seharusnya bilang dari tadi. Kita tidak perlu muter-muter seperti ini kan." Alex menyeringai, ingin kuhapus seringai itu dari wajahnya dengan cara mencakarnya.


Dengan berat hati Aku memberitahu alamat kostku. Di sepanjang perjalanan Kami terdiam. Aku merasa Alex memperhatikanku. Tapi Aku tidak mau melihatnya.


Kruuukk... Kruuuk... Kruuuukk...


Dari sudut mata Aku melihat tubuh Alex bergetar. Aku menatap pria itu. Betapa menyebalkannya Aku melihat dia sedang berusaha menahan tawa.


"Kamu lapar?" katanya dengan suara sok tenang. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan nada geli di suaranya.


Aku tidak mau menjawab. Ini terlalu memalukan.


"Mau makan apa? Ada makanan yang ingin Kamu makan?" Aku tetap tidak menjawab. Wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus. Bayiku benar-benar kalap kalau soal makanan.


Aku mengalihkan pandanganku di sepanjang jalan. Melihat para pedagang lima berjejer rapi menjual berbagai macam makanan membuatku menelan ludah dengan susah payah.


Tiba-tiba Alex menghentikan mobil tepat di depan kumpulan para pedagang kaki lima.


"Mau makan di sini?"


"Hem." Aku tidak peduli dengan gengsi lagi. Bayiku sudah berteriak-teriak kelaparan.


Alex turun dari mobil dan mengitarinya. Dia membuka pintu mobil untukku. Entah mengapa Aku merasa sangat tersanjung.


"Ayo." Alex mengambil tanganku dan menggenggamnya. Jantungku menjadi berdebar-debar tak karuan.


Deg... Deg... Deg...


Khansa sadarlah!! Jangan terbuai. Dia suami orang!! Kamu tidak boleh mencintainya!!


Mendapat pikiran semacam itu membuatku serta merta menepis tangannya. Aku pergi mendahului dia dan mulai memesan berbagai macam makanan.


Aku melihat Alex tertegun. Namun beberapa saat kemudian dia mulai mengekoriku.


Aku memesan tiga makanan berat dan berbagai macam camilan. Dia menatapku dengan takjub.


"Yakin mau memakan semuanya?"


"Hem."


"Jangan terlalu banyak makan. Nanti perutmu sakit."


"Kalau Aku kurang makan, perutku akan sakit."


"Apa Kamu terbiasa makan seperti ini?" Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku duduk di kursi plastik yang sudah di sediakan oleh si pedagang.


"Makan di sini Mbak?"


"Iya Pak."


Alex ikut-ikutan duduk di depanku. Dia menatapku lekat-lekat. Aku tidak membalas tatapannya. Aku takut hatiku akan goyah lagi.


"Apa dia makannya selalu banyak seperti ini?"


"Hem."


Aku berusaha mengacuhkan Alex. Sangat berbahaya bila Aku dekat dengan pria ini. Aku takut hatiku lemah dan luluh lagi. Alex masih menatapku lekat-lekat. Sejurus kemudian dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Di, tolong packing baju-bajuku. Nanti ada Winda yang datang mengambil. Aku? Aku masih ada urusan. Nanti kalau mau balik ke Jakarta minta antar Mami dulu ya. Setelah semua urusan selesai, Aku juga balik kesana. Hem, ya. Kamu juga jaga diri baik-baik."


Dan panggilan pun di tutup. Alex sedang menelepon Diana. Hatiku entah mengapa terasa sakit. Betapa kotornya hatiku? Padahal Alex sedang menelepon istri sahnya, tapi mengapa malah Aku yang sakit hati?


Aku mengalihkan pikiranku dengan melahap makanan di depan mata. Makanan membuat moodku membaik...


"Pelan-pelan makannya." Alex mengusap makanan di bibirku. Aku merasa tersengat. Serta merta Aku menepis tangannya dan menjauhkan tubuhku.


"A-aku bisa sendiri..." Aku mengelap bibirku dengan serampangan. Aku merasa seperti selingkuhan.


Istri sah Alex berada di rumah sementara Aku sekarang bersama dengannya. Aku benar-benar menjadi orang ketiga. Menjadi duri dalam hubungan orang lain.


Aku menghabiskan makananku. Aku perlu mengisi energi untuk berdebat dengan laki-laki ini. Satu jam kemudian, Aku telah menghabiskan semuanya, Aku menatap Alex. Berusaha menguatkan diriku agar tidak goyah.


"Alex, Aku benar-benar ingin bicara secara serius."


"Aku mendengarkan."


"Aku tidak mau menikah denganmu. Tolong jangan paksa Aku."


***


Happy Reading 🙄