Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 93 - Pemandangan Yang Mengejutkan


Aku senang melihatnya tersenyum. Semakin tersenyum, kucingku semakin manis. Ternyata senyummu hanya seharga tujuh belas juta. Kalau tahu seperti itu, dari dulu Aku sudah membayar tagihannya. Mungkin dengan begitu Aku bisa sering melihat senyum itu ada.


Seminggu kemudian ujian pun selesai. Kami melaksanakan class meeting sebelum raport dibagikan. Menjelang libur kenaikan kelas, raport pun dibagikan.


Aku benci bila libur telah tiba. Itu artinya kesempatanku untuk bertemu dengan Khansa akan semakin kecil. Aku harus mencari-cari alasan agar bisa bertemu dengannya.


Hari ini adalah hari pertama libur dimulai. Aku tengah melamun, mencari-cari alasan untuk bertemu dengan Khansa ketika ponselku berbunyi. Ternyata ada pesan masuk.


"Ay, hari ini mau kemana?"


"Nggak kemana-mana."


"Ay, Aku pergi ke salon ya"


"Ya. Tapi Aku nggak bisa nganterin Kamu."


"Iya, nggak apa-apa. Aku pergi sama teman."


"Ok." Aku mengakhiri pesan itu.


Yes, bebas dari Diana!! Hari ini enaknya ngapain ya?


Aku bermaksud pergi ke lantai bawah untuk sarapan. Di koridor atas Aku berpapasan dengan Aaron yang sudah berpakaian rapi. Sepertinya dia bersiap untuk pergi.


"Rapi benar. Mau kemana?" tanyaku.


"Ehem. Anak kecil nggak perlu tahu. " Aaron mengalihkan pandangan dan langsung turun ke bawah. Entah mengapa dia akhir-akhir ini tidak menjahiliku. Mungkin karena dia sudah punya mainan baru? Masa bodohlah, itu urusan dia. Aku tidak perlu ikut campur.


Lagi-lagi Aku hanya sarapan berdua dengan BuPres. Aaron memilih untuk sarapan diluar, sementara Papa belum pulang.


Selesai sarapan Aku kembali ke lantai atas. Bingung harus melakukan apa. Hampir semua teman sepermainanku punya kegiatan masing-masing, tak terkecuali Dino. Bocah itu tengah melakukan liburan bersama keluarganya.


Aku mengambil gitar dan mulai memainkannya. Tiba-tiba wajah itu kembali terbersit di benakku. Wajah dengan mata bening, bibir tipis namun penuh...


Si*l! Kenapa Aku selalu mengingatnya?! Dia sedang apa ya? Pasti dia sedang di rumah. Termenung sendirian. Meratapi nasib karena tidak bisa liburan. Mungkin Aku sebaiknya mengajaknya keluar. [Modus 😼]


Dengan bersemangat Aku pergi ke kamar mandi dan mulai bersiap-siap. Kali ini Aku memutuskan untuk berpenampilan sedikit keren. Selesai bersiap-siap, Aku segera turun ke bawah.


"Wah, tumben anak Mama ganteng banget. Mau pergi sama Diana ya?"



"Hem." Aku menjawab tanpa melihat wajah Mama.


"Iya, mumpung liburan. Kalian harus sering-sering banyak keluar. Biar semakin lengket dan mesra. Mungkin saja nanti Kamu berubah pikiran."


"Maksudnya?"


"Nggak ada maksud apa-apa ganteng. Uang jajannya masih ada? Mama tambahin ya?"


"Nggak usah Ma. Masih ada kok. Pergi dulu Ma." Aku mencium tangan Mama dan pergi ke garasi.


Aku menatap deretan motor yang berjejer dengan rapi. Bingung mau mengendarai yang mana untuk terlihat lebih keren di matanya. Ada sembilan motor di garasi dan semuanya adalah milikku. Aku lebih suka koleksi motor, sementara Aaron lebih suka mobil sport. Dia memiliki empat mobil sport. Aku lihat, dia kembali menggunakan si merah melihat mobil itu sudah tidak ada di garasi.


Aku memutuskan untuk mengendarai ninja, karena kebetulan warna motor itu sama dengan warna bajuku.


"Blacky, mari Kita menculik anak orang." Aku mengendarai motorku dan memacunya menuju rumah Khansa.


Aku mampir ke toko helm dan membeli dua helm. Yang satu untuk Khansa, yang satu untuk adiknya, kali saja si pengganggu itu ikut juga.


Dari jarak puluhan meter Aku sudah melihatnya. Benar dugaanku. Gadis itu tengah melamun di depan rumahnya. Untung saja Aku datang. Aku akan mengajak kucing menyedihkan itu jalan-jalan.


TIN... TIN... TIN...


Aku mengklakson berkali-kali. Membuatnya terkejut dan kesal. Aku membuka helmku.


"Cewek, lagi ngapain? Bengong ya? Daripada bengong, ikut abang jalan-jalan yuk."


***


Aku senang merasakan tangannya memeluk pinggangku. Aku menarik tangannya agar memeluk pinggangku dengan lebih erat. Tubuh Kami menempel satu sama lain. Hanya dengan melakukan hal seperti ini saja sudah membuatku bahagia.


Siang itu Kami bermain sepuasnya. Hal itu berlanjut sampai sore hari. Menjelang sore, Aku mengantarnya ke rumahnya.



Selama liburan Diana jarang menggangguku. Dia jarang menelepon ataupun mengirimiku pesan. Mungkin dia sudah lelah dengan sikapku? Atau sudah bosan denganku? Entahlah, Aku tidak mau terlalu memikirkannya.


***


Tahun ajaran baru pun dimulai. Aku sudah kelas 2 SMA sekarang. Aku berharap tahun ini pun Aku bisa satu kelas dengan Khansa.


"Ay, Kita satu kelas." Diana datang mendekat padaku yang baru saja selesai memarkir motor.


"Kok bisa?"


"Kenapa? Kamu keliahatan nggak senang gitu Ay?"


"Kamu lihat dimana?"


"Itu pengumumannya sudah keluar Ay." Diana menunjuk gerombolan siswa yang tengah membaca pengumuman. Aku bergegas kesana, sementara Diana mengekoriku. Aku berharap nama itu ada di daftar kelasku.


Aku membaca nama dari 40 siswa yang tergabung di kelas 2 A. Berulang kali Aku membaca daftar itu, namun tidak kutemukan nama Khansa. Perasaan kesal dan marah pun melanda. Aku berniat mencari namanya di daftar lain ketika sudut mataku menangkap tubuh familiar itu.


Khansa terlihat sedang duduk sembari menunduk. Kakiku tanpa sadar melangkah mendekatinya.


"Khansa... Kita tidak sekelas ya. Kamu di kelas apa?"


***


Kelas tanpa si kucing rasanya sangat sepi. Tidak ada wajah di kursi belakang yang bisa kulihat.


Diana tidak memberiku kesempatan untuk sekedar melihatnya.


Setiap hari Diana selalu bersamaku. Bahkan Kami duduk sebangku. Di kelas Kami bersama, pun ketika waktu istirahat tiba. Aku benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk sekedar berkunjung ke kelas Khansa.


Diana sangat tidak menyukai Khansa. Mungkin dia tahu Aku sedikit menaruh perhatian pada Khansa. Diana adalah tipe gadis yang menginginkan perhatian semua orang terpusat padanya. Bila ada orang lain, terlebih Aku yang notabene adalah pacarnya memberi perhatian lebih pada gadis lain, dia pasti tidak akan menyukainya.


Aku tahu itu bukan perasaan cemburu. Hanya perasaan tidak ingin terkalahkan dan tersaingi. Aku begitu memahami sifat Diana dan memakluminya.


Hari ini Aku pulang sendiri. Meskipun Kami satu kelas, Diana tetap tidak mau pulang denganku karena Aku hanya membawa motor. Aku memutuskan untuk sekedar bermain ke rumah Dino dan melakukan aktivitas layaknya remaja pria pada umumnya. Bermain game, bermusik dan menonton blue film.


Aku bisa pulang lebih larut malam ini karena BuPres dan PaPres tidak ada di rumah. Mama mengirimiku pesan bahwa beliau dan Papa pergi ke rumah nenek selama dua hari. Hari ini Aku bisa bebas bermain sesuka hati tanpa mendengar ceramah panjangnya.


Menjelang pukul sembilan malam, Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Suasana rumah tampak sepi. Aku memarkir motorku di garasi. Kulihat mobil sport Aaron tampak lengkap, itu artinya si playboy sudah berada di rumah.


Aku naik ke lantai atas dan bersiap masuk ke kamarku. Aku menghentikan langkah sejenak ketika kudengar suara-suara aneh dari kamar Aaron.


Aku mendekati kamar Aaron dan menempelkan telingaku di daun pintu kamarnya.


"Uuuhhh... Aaahh... Ssshhhh..." terdengar desahan seorang wanita dari dalam kamar Aaron.


Br*ngs*k!! Dia tidak mungkin membawa pacarnya ke rumah kan? Dia tidak mungkin seberani itu kan?


Ya, si playboy ini pasti tidak akan berani. Dia pasti sedang menonton blue film. Aku ingin melihat wajah s*ngenya. Sekali-kali Aku yang mengerjainya, bukan dia saja yang bisa mengerjaiku.


Memikirkan ide itu membuatku senang. Aku mengambil ponselku dan mengaktifkan fitur kamera. Aku bersiap-siap memfoto Aaron ketika dia sedang mencoba untuk mencari kenikmatan.


Tanganku memegang gagang pintu... Satu... Dua... Tiga...


BRAAAAKK (Pintu kamar Aaron terbuka)


"Kena kau!!" Teriakku sembari tanganku aktif memfoto setiap adegan di kamar itu.


Namun... Bukan adegan seperti yang kubayangkan yang berada di dalam kamar itu. Secara tak kusadari ponselku jatuh ke lantai. Tubuhku gemetar. Luapan perasaan amarah, emosi, jijik, dan dendam menguasaiku!! Aku menatap keduanya dengan tatapan murka!!


Aku melihat Diana dan Aaron t*lanj*ng bulat!! Mereka tengah melakukan hubungan suami istri!!


"BR*NGS*K KAU!!" Tanpa Aku sadari tubuhku berlari dan secara membabi buta menghajar Aaron yang tampak belum sepenuhnya tersadar dengan situasi.


***


Happy Reading 😉


NB : Mulai kebuka satu-satu kan rahasianya. Makanya, tetap sabar ya kesayangan semua. Baca cerita ini sampai selesai ya. Terima kasih buat yang masih setia sama AlKhans 😚🤗