
Setelah tiup lilin berakhir mereka semua makan bersama tak lama hujan yang semakin deras baru terdengar di telinga mereka semua
"Apa sedari tadi sudah hujan? " Tanya Erick yang kemudian teringat papa nya yang masih berlutut tadi sore di depan rumah
"Seperti nya, hujan nya semakin lebat jadi kita baru mendengar nya mungkin" timpal Kelly dia juga baru menyadari di luar hujan.
Erick dan El saling bertatapan mungkin mereka memiliki pemikiran atau pertanyaan yang sama 'Apakah Nick masih di luar'.
Erick segera berlari ke jendela membuka tirai nya dan terlihat Nick masih sama tidak merubah posisi nya dia masih berlutut.
El melihat juga, Anaya dan kelly yang merasa bingung kenapa Erick dan El melihat ke jendela.
Mereka berdua akhirnya ikut berjalan dan melihat apa yang kedua nya lihat.
"Nick" Gumam Anaya pelan, meski sedikit pelan namun semua orang mendengar nada kekhawatiran dari suara itu.
Bagaimana tidak khawatir wajah Nick sudah memucat badannya terlihat gemetaran, mungkin saja hujan sudah turun sedari tadi jadi tubuhnya sudah terlihat basah kuyup.
"Mama? " Menatap Mamanya yang terlihat khawatir "Pergilah? " Ucap Erick yang tau mungkin di sudut hati terdalam mamanya masih ada nama papanya.
"Tidak perlu, sebentar lagi istrinya pasti akan datang " Ucapan Anaya baru saja selesai di ucapkan suara mobil sudah terparkir di depan rumah mereka "Sudahlah tutup saja" Ucap. Anaya tidak ingin melihat keromantisan Nick dan Rachel itu yang Anaya pikirkan.
El dan Kelly yang tadi bersimpati juga malas untuk melihat nya, namun Erick masih setia menatap papanya, orang yang keluar dari mobil itu bukan wanita yang dia temui di toko melainkan laki-laki yang selalu berada di sisi papanya.
"Tuan muda apa yang kau lakukan hujan semakin deras lebih baik kita kembali dan besok kita kesini lagi" jimly membujuk tuannya
"Pulanglah! ini cara ku menebus dosaku yang sangat banyak, aku tidak menjadi kan prioritas ku, aku mengabaikan Anaya saat dia membutuhkan ku, aku sebagai laki-laki nya bahkan tidak tau bahwa wanitaku hamil, aku membiarkan wanitaku hamil dan membesarkan anak ku sendirian, hanya hujan dan berlutut bahkan mungkin tidak bisa menebus semua kesalahanku! pergilah!! " Bentak Nick membuat Jimmy memilih mundur dia tau betapa keras Kepala nya sahabat nya itu.
Erick tidak mendengar begitu jelas apa yang Papa nya bicarakan tapi dia melihat raut kesedihan dan penyesalan saat papanya berbicara kemudian dia melihat papanya mengusir pria itu
Hujan semakin deras petir semakin keras suaranya kilatan terang sesekali terlihat di langit gelap itu, Erick semakin kasihan dengan papanya, Anaya melihat Erick masih menatap jendelanya.
"Sayang sudahlah, biarkan saja dia pergi dengan istri barunya" Anaya menyangka Nick akan pergi
Erick menggelengkan kepalanya, membuat Anaya mengernyitkan dahinya "Dia tidak pergi" Erick menatap Mama nya "Dan yang datang tadi hanay seorang paman" Ucapnya lagi.
Anaya melihat tubuh yang semakin terlihat gemetaran wajah semakin memucat membuat hati kecil Anaya teriris tidak tega.
Tubuh Anaya tidak bisa lagi di kontrol Anaya segera mengambil payung dan berlari keluar "Kau bodoh!! tuan muda tidak tau malu!! " Ucap Anaya yang menghalangi hujan menjatuhkan badan Nick lagi.
"Anaya maafkan aku, aku memang bodoh, aku sangat bodoh! benar-benar bodoh!!! Maafkan aku" Ucap Nick suaranya terdengar sangat pilu, mungkin saja jika tidak ada air hujan wajah Nick mungkin sudah di penuhi air mata.
"Berdiri! aku tidak perlu kau melakukan ini! " Anaya tidak tega lagi melihat Nick dari dekat wajahnya lebih pucat dan tubuhnya sedingin es.
"Aku tidak akan berdiri jika kau tidak memafkan ku Anaya" Nick memohon dia mengiba pada wanitanya.
"Aku tidak perlu memaafkan mu, karena aku tidak pernah marah terhadap mu, apa yang terjadi semua hanya sebuah kontrak kau tidak perlu menyalahkan dirimu karena tidak melakukan kontrak hingga akhir, membantuku membalas dendam" Ucapan Anaya membuat Nick sakit
"Anaya aku tidak pernah menganggap hubungan kita hanya kontrak, Aku mencintaimu Anaya! " Nick meremas lututnya yang sudah mati rasa.
Anaya tau mungkin Nick sudah kebas karena berlutut sejak tadi " Tidak usah bicarakan masa lalu aku bantu kau berdiri, masuklah dan keringkan tubuhmu" Ucap Anaya melepaskan payungnya dan membantu Nick bangun.
Adegan itu berlangsung cukup lama, keduanya larut dalam rasa rindu masing-masing.
Anaya tidak tau harus berkata Apa ada perasaan senang tapi juga ada perasaan sedih. Anaya membawa Nick masuk, Erick membawakan handuk kepada papanya.
"Biar dia mandi di kamarku ma" Ucap Erick kepada Anaya
"Ay, kau pergi ke kamar dan mandilah!, kau juga basah" Ucapan El itu mampu mengobarkan api di hati , teringat anaknya memanggilnya dady membuat pikiran Nick menjadi kacau.
Nick mengepalkan tangannya *Ay, sebutan romantis apa ini! dia ingin merebut wanitaku mimpi saja" Nick tidak bisa menahan cemburu nya dia benar-benar sangat cemburu, ingin rasanya dia menghantam laki-laki yang memanggil wanitanya itu ay dengan pukulan kerasnya.
"Baiklah aku pergi mandi dulu " Anaya mulai berjalan menuju kamarnya
"Aku ikut" Ucap spontan Nick ucapkan, membuat Putra nya memelototi nya
"Tidak!! kau mandi di kamarku, Dady ambilkan bajumu untuk dia dan antar Mama ke kamarnya" Erick sengaja melakukan itu, untuk memancing respon papanya
"Aku mengerti" El sengaja membawa sepupu nya begitu dekat dengannya membuat Nick benar-benar cemburu, rahang nya mengeras tangannya mulai mengepal.
"Ayo ikut" Ucap Erick sengaja membuat papanya benar-benar cemburu, tapi melihat dari sikap papanya Erick tau papanya masih mencintai mamanya, dan Erick ingin tau kenapa mereka berpisah.
Nick membersihkan dirinya setelah keluar dari kamar mandi Erick sudah menunggu dan menyiapkan baju El yang ada beberapa di rumah ini untuk di pakai Nick.
Nick mengganti bajunya, Erick sibuk dengan smartphone nya. Nick duduk di samping putranya ada keinginan memeluknya namun Nick takut tindakan begitu tiba-tiba membuat anaknya membencinya.
"Jadi kenapa kau meninggalkan mama? " Pertanyaan itu langsung keluar dari mulut anak berusia 5tahun itu.
"Aku tidak meninggalkan nya, sebuah kesalahpahaman yang aku ciptakan membuatnya memilih meninggalkan ku" Jawab Nick menatap putranya
"Kenapa kau tidak mencarinya! apa kau begitu bodoh! " Ucap terus terang Erick.
"Benar aku sangat bodoh seharusnya aku menemukan kalian lebih cepat" Nick mengacak rambut putranya "Tapi sekarang karena aku sudah menemukan kalian aku tidak akan melepaskan kalian" Nick tersenyum penuh arti.
"Lalu istrimu? " Erick teringat Rachel yang menjatuhkan rotinya dia berfikir wanita itu istri Nick
"Apakah dia pantas menjadi istriku, satu-satunya wanita yang pantas jadi istriku adalah mamamu, kau mengerti"
"Lalu wanita itu? dia apakah pasangan kencan buta mu? " Nick memijat kepala nya dari mana bocah sekecil ini mengerti hal seperti ini.
"Dia bukan siapa-siapa hanya adik seorang teman" Nick sudah tidak menganggap Rachel adiknya lagi
"Tapi begitu menempel padamu".
" Aku segera menyingkirkan nya jika kau mau, tapi aku akan lebih dulu menyingkirkan dady mu itu, berani sekali menyentuh wanitaku" Nick mengepalkan tangannya
"Kau tidak perlu menyingkirkan dady ku, pikirkan saja bagaimana kau bisa mendapatkan kembali hati mamaku"
"Aku pasti bisa mendapatkan nya kembali, jangan khawatir!" Nick mengacak lagi rambut putranya