Wanita Pendendam Milik Tuan Muda

Wanita Pendendam Milik Tuan Muda
Episode 102


Anaya melangkah kan kakinya langsung di ruangan yang sudah Jimmy atur untuk Anaya bersenang-senang dengan paman dan bibinya.


Anaya masuk ke dalam ruangan itu terlihat bibinya yang mengalami luka parah dia bahkan sudah kritis tapi peralatan yang dia pakai hanya seadanya sesuai yang di minta Jimmy pada pihak rumah sakit


Sedangkan paman nya mengalami patah kaki dan tangan beberapa luka dalam lainnya tapi dia masih sadarkan diri.


Mendengar langkah kaki pamannya melirik ke arah langkah kaki Anaya. Anaya tersenyum kepada Pamannya Paman nya ketakutan melihat kedatangan Anaya.


"Ap.. Apa yang kau lakukan di sini! " Ucapnya panik dia tidak menyangka Anaya akan menemuinya di saat dirinya terluka parah seperti ini.


"Tentu saja menjenguk paman ku yang sedang sakitnya" Anaya meremas tangan yang mengalami cedera itu membuat Paman nya berteriak


"Aaaaa aa kau gila, kau wanita gila!! pergi dari sini jangan menggangguku pergi!! dokter dokter dokter" Teriak paman nya


Anaya tertawa geli "Haha, paman apa kau pikir akan ada dokter yang mendengar nya? ah sayang sekali ini ruangan kedap suara, teriak lah paman teriak!!! " Ucap Anaya yang seketika merubah ekspresi nya menatap paman nya. Meremas lebih kuat tangan pamannya membuat Paman nya mengaduh kesakitan.


"Sak.. sakit sakit lepaskan tanganmu dari tanganku lepaskan!!! "


"Kenapa? apa kau merasa sakit?! apa kau ingat saat aku berteriak menangis kesakitan karena kehilangan ayah ibuku, kau malah memukulku dan berkata, aku sangat berisik!! " Anaya tiba-tiba mengingat masa lalu kelamnya saat itu dia pikir kematian ayah dan ibunya


"Kau yang menyebabkan kecelakaan itu bukan? Paman kau harus membayar setiap darah yang ayah dan ibuku keluarkan di kecelakaan itu" Ucap Anaya.


"Tidak ayah dan ibumu mati karena nasib buruk nya sendiri" Pamannya tidak mau mengakui perbuatannya malah mengatai orang tua Anaya penuh dengan nasib buruk


"Berani kau mengatakan orang tua ku penuh dengan nasib buruk kau benar-benar ingin menguji kesabaran ku!! " Anaya emosi dan menarik tangan Pamannya dan terdengar suara patah dari tangan Paman anaya " Ini hukuman untuk tangan yang berani mengotak-atik mobil ayahku" Teriakan kesakitan dari Paman nya tak membuat Anaya iba, dia mengingat pada saat satu hari setelah pemakaman dia menangisi kematian ayah ibunya setiap malam, karena hal itu anaya malah mendapat siksaan dari paman nya karena suara tangisannya.


pamannya terus berteriak kesakitan dan tanpa sadar menangis " Aaaaaa sakit kau sudah gila sakit kau benar-benar gila " paman anaya malah terus mengatai Anaya.


"Teruslah berteriak paman Menangislah apa kau ingat apa yang kau lakukan saat aku dulu menangis saat mengingat kematian ayah dan ibuku? saat itu aku masih kecil dan kau terus memukuli ku tanpa ampun dan mengurung ku di gudang" Anaya mengulurkan tangan nya pada Ros, Ros memberikan tongkat kayu yang mengingatkan paman Anaya pada Anaya saat kecil, dia akan memukul Anaya saat Anaya menangis atau berteriak.


"Tidak.. tidak jangan lakukan!! " Ucap paman anaya mencoba menggeleng kan kepalanya.


"Paman aku akan mengembalikan setiap pukulan mu kepadaku saat itu!! kau bahkan tidak membiarkan ku makan nasi baru!! kau memberiku nasi basi saat itu!! " Ucap Anaya yang teringat masa kecil nya yang menyakitkan di asuh orang seperti paman nya ini.


Buugh... Buugh... Buugh.


Anaya terus memukuli perut pamannya membuat pamannya mengaduh kesakitan, "Ma.. maafkan paman Anaya hen.. hentikan Ukhh" Ucapnya memohon belas kasih Anaya


Buugh... Satu pukulan keras mengakhiri siksaan Anaya.. sebelum Anaya pergi anaya menarik selang infus milik paman nya " Ini adalah hukuman untuk orang yang iri dengan harta orang lain, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nya" Ucap Anaya


Anaya menemui bibinya " Kau selalu diam saat suamimu menyiksaku bagaimana aku bisa memiliki bibi seperti mu, kau harus pertanggung jawabkan dosamu pada ayahku kakak kandung mu sendiri!! " Anaya juga menarik selang infus dari tangan bibinya.


Dan pergi meninggalkan ruangan itu " Ros menghapus setiap jejak yang Anaya tinggalkan untuk berjaga-jaga.


Anaya baru keluar dari kamar paman dan bibinya " Ayah ibu aku sudah mengirim mereka menemui mu, Anaya sudah membalas setiap perbuatan mereka terhadap kita " Ucap Anaya yang tidak sanggup menahan Air matanya, Ros mengambil sapu tangan miliknya


"Jangan menangis lagi kau masih harus menyelesaikan dendam mu yang lain" Ros menyemangati Anaya dengan caranya.


"Benar, ini belum berakhir Vincent dan Glen aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja, lihat bagaimana aku akan membunuh kalian berdua" Ucap Anaya yang penuh dengan amarah di tubuhnya


"Bagus aku akan membantumu menyelesaikan dendam mu Anaya" Ucap Ros menepuk pundak Anaya wanita tuan nya yang sudah dia anggap seperti saudara perempuan nya sendiri.


Saat ini Anaya berjalan keluar rumah sakit tidak menyangka dia bertemu seseorang yang baru saja mereka bicara kan.


"Anaya, kenapa kau berada di rumah sakit, ah iya aku mendengar paman dan bibi mu kecelakaan bagaimana keadaannya, kau baik-baik saja bukan" Ucapnya seakan memberikan perhatian nya pada Anaya.


"Glen, simpan suara manis mu untuk wanita lain, kita sudah berakhir"


"Anaya aku tidak pernah ingin putus denganmu, aku juga tidak menyetujui keputusan mu untuk putus" Mencoba memegang tangan Anaya.


Anaya menghempas tangan Glen " Aku tidak membutuhkan persetujuan mu, aku dan kau sudah tidak ada hubungan lagi"


*Wanita ini semakin ganas sekarang, dia benar-benar berubah tapi dia semakin cantik, aku harus mendapatkan nya untuk menandatangani surat milik papa, kalau tidak papa akan kehilangan semuanya" Ucap Glen dalam hati, beberapa minggu yang lalu dia baru mengetahui rahasia besar papanya, papanya mengatakan dia harus mendekati Anaya kembali, beberapa minggu Glen sudah mencari tahu keberadaan Anaya tapi tidak mendapat kan petunjuk apapun, kali ini dia tidak akan membiarkan Anaya lepas begitu saja


"Baiklah aku akan menyetujui prihal kita putus dengan satu saat, kau tentu masih ingat bukan lusa adalah ulang tahun ku, aku ingin kau merayakan nya untuk terakhir kalinya sebelum kita benar-benar berpisah" Glen merubah raut wajahnya dengan menyedihkan, Anaya merasa muak tapi dia memang tidak melupakan hari ulang tahun glen hari di mana dia mendapatkan kehidupan barunya.


"Baiklah aku akan datang" Anaya segera pergi di ikuti Ros.


"Anaya kau benar-benar akan pergi? " Tanya Ros.


"Tentu saja aku akan mengakhiri dendam ku di hari aku mendapatkan kehidupan ku kembali" Ucap Anaya yakin, Ros sedikit bingung nunggu hanya bisa menganggukkan kepalanya dia akan sepenuhnya mendukung Anaya sesuai janjinya pada dirinya sendiri