
Anaya selesai berbelanja tiba-tiba hp nya berdirinya Anaya mengangkat telpon dari nomor yang tidak di kenal.
"Permisi apakah ini nomor Nona Anaya? " Ucapan seseorang sopan dari seberang telepon
"Iya benar, saya Anaya ini dengan siapa? " Anaya penasaran suaranya terdengar sangat formal
"Saya suster yang merawat paman dan bibi Anda, Nona saya turut berduka cita mereka berdua sudah tidak ada" Ucap suster yang tidak tau kepala rumah sakit dan Nick sudah mengatur untuk kematian itu, tapiereka harus berpura-pura melakukan prosedur rumah sakit
"Baik saya akan datang untuk mengambil jasad mereka nya" Ucap Anaya dan mematikan telpon nya
"Ros ke rumah sakit sekarang kita harus mengantarkan paman dan bibi ke peristirahatan terakhir" Ucap Anaya dengan wajah yang tak nampak kesedihan bahkan Anaya bermuka datar, dia tidak tau apa yang harus di rasakan atas kepergian paman dan bibinya.
"Nona akan mengurusi mayat mereka? " Ros heran mereka telah memperlakukan Anaya tidak layak tapi Anaya masih mau mengurusi pemakaman paman dan bibinya
"Bagaimanapun bibi adalah adik kandung dari ayahku, aku akan memberikan meraka balasan atas merawat ku meski itu tidak bisa di sebut untuk merawat" Anaya berjalan mendahului Ros, Ros tau Anaya sebenarnya gadis yang baik tapi keadaan mengubahnya menjadi wanita yang penuh dendam.
Ros mengikuti langkah Anaya keluar dari Mall dan pergi ke parkiran untuk mengambil mobil.
Ros mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, setelah sampai Anaya segera mengurus prosedur nya, Anaya meminta pihak rumah sakit saja yang memakamkan nya
"Apakah Nona yakin? " Tanya perawat itu
"Mereka tidak punya kerabat, Anaknya juga sudah lama meninggalkan nya, hanya ada aku, aku juga tidak tau apa mereka memiliki teman, lebih baik segera menguburkan nya tidak perlu menunda" Ucap Anaya
"Baiklah kami akan menguburkan nya di tempat pemakaman rumah sakit" Ucap perawat itu
Sekian lama Anaya mengikuti proses pemakaman akhirnya selesai juga, Anaya menabur bunga di atas makam mereka " Jika ada kehidupan kedua jadilah kalian manusia baik" Ucap Anaya sembari menaburkan bunga ke pemakaman paman dan bibinya.
Anaya tidak meneteskan air matapun untuk mereka, mungkin hati Anaya terlalu patah untuk paman dan bibinya itu.
Anaya kembali ke rumah setelah pemakaman itu selesai.
Paman aji menyambut kepulangan Anaya, Anaya melihat Nick belum ada di rumah jadi dia belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Nick.
Anaya memilih segera membersihkan diri, dia juga sudah makan malam di luar dengan Ros, jadi dia memutuskan untuk segera tidur.
Sebelum tidur Anaya melihat HP nya mati dia segera mengisi daya HP nya. " Kemana dia? apa dia menemani Rachel di rumah sakit? " Anaya menatap langit-langit kamarnya berusaha untuk memejamkan matanya tapi dia tiba-tiba teringat akan cincin yang melingkar di jarinya dia menatap cincin itu dan mulai memejamkan mata, sebelum dia terlelap Anaya mulai bergumam "Setelah ini aku ingin memiliki hidup yang lebih baik" Ucapnya dengan mata yang sudah berat dia akhirnya terlelap.
Di sisi lain Nick, kapten dan Nathan sedang mempersiapkan kejutan untuk Vincent, Kapten memang belum menemukan di mana dokumen itu tapi dia sudah mengetahui lokasinya, hanya butuh waktu untuk nya masuk ke dalam rumah Vincent, sore tadi kapten dan anak buahnya berhasil menyamar dan melihat semua tempat yang memiliki kode keamanan hanya butuh satu kali kesempatan lagi kapten akan berhasil mengambil dokumen milik Ayah Anaya itu.
"Bagaimana kau sudah mengetahui lokasinya? " Tanya Nick
"Sudah, aku juga sudah mengatur Amora untuk bertemu dengan Vincent malam ini membuat nya mabuk dan membuat duplikat sidik jari miliknya" Ucapan kapten
"Bagus, apa mereka ada di bar milik mu? " Tanya Nick
"Benar anak buah ku terus mengawasi Amora tenang saja dia tidak akan terluka lagi pula dia profesional di bidangnya"
"Aku juga sudah memberikan bukti perselingkuhan nya satu persatu ke awak media, tapi untuk mempublikasikan nya kita harus menunggu kapten mendapatkan dokumen perusahaan nya, jika di sebar sekarang aku takut dia akan semakin waspada dan memperketat keamanan nya"
"Aku tau aku juga sudah membeli beberapa anak cabang perusahaan nya dengan perusahaan lain yang kita miliki bersama di bawah nama Roland" Nick bahkan membuat perusahaan untuk mengenang jasa sahabat nya itu tanpa sepengetahuan Rachel, Nick memikirkan ini untuk kebaikan Rachel Nick pikir saat Rachel menikah dia tidak bisa terus menafkahi nya jadi Nathan mengusulkan membuat perusahaan atas nama Roland dan akan memberikan nya pada Rachel saat Rachel menikah nanti.
"Bagus, di akan mengalami titik terendah di hidupnya " Ucap Nathan.
Jimmy mengangkat telepon dari rumah sakit membuat raut wajah Jimmy berubah memucat membuat semua orang bertanya "Baik saya akan segera kesana" Ucap Jimmy dan mematikan telepon
Semua orang memandang Jimmy penuh tanda tanya sampai akhir kapten bersuara "Ada apalagi dengan Rachel? " Kapten menebak itu berhubungan dengan Rachel
"Nona Rachel terus menangis dan ingin meminum banyak obat tidur " Ucap Jimmy
"Apa dia ingin bunuh diri? " Tanya Nathan
"Mungkin saja saat dia tau kakak yang dia cintainya tak bisa menikahinya mungkin membuat nya depresi" Ucap kapten melirik pada Nick.
"Sudahlah jangan memperkeruh suasana, kita ke sana bagaimana pun dia adik dari Roland saudara kita" Nathan memang terlihat lebih dewasa dan bijak dari Nick dan kapten.
Nick tanpa berbicara segera pergi ke rumah sakit bersama dengan Jimmy, sedangkan kapten dan Nathan menyusul dengan mobil mereka masing-masing.
Sesampainya di rumah sakit, kebetulan dokter baru keluar dari ruangan Rachel.
"Bagaimana keadaan pasien dokter?" Tanya Nathan
"Kondisinya belum stabil, seperti nya jiwanya terguncang " Dokter itu menjelaskan kondisi Rachel
Kapten hanya tersenyum sinis mendengar ucapan dokter itu tentang kesehatan Rachel
Seelah dokter itu menjelaskan keadan Rachel dokter itu segera pergi
Saat mereka semua datang Rachel terlihat lemah diam menatap jendela di samping nya
"Rachel " Ucap Nathan membuat Rachel menangis ke arah mereka, hanya kapten yang enggan menanggapi Rachel.
"Kenapa mereka mencegahku untuk menyusul kakak ku, aku ingin bertemu dengan nya.. aku merindukan nya " Air mata mulai mengalir di wajah Rachel entah itu air mata sungguhan atau air mata palsu.
"Apa yang kau katakan Rachel, Nick telah susah payah merawat mu kenapa kau berfikir seperti itu" Nathan berusaha tenang mengahadapi Rachel..
"Besok adalah peringatan kematiannya akan lebih baik jika aku ikut dengannya menemui ayah dan ibu, kak Nick akan segera menikah dia tidak akan bisa merawat ku lagi" Ucap Rachel menangis tersedu sedu
Nick hampir melupakan peringatan kematian sahabatnya itu, melihat itu Rachel membuat kesempatan
"Kak Nick apa kau lupa?, kakak ku pasti akan kecewa jika tau itu kau bahkan melupakan nya hanya karena Anaya" Ucap Rachel yang membuat Nick terdiam ucapan Rachel memang benar.
"Sudahlah jangan bahas lagi, kau tidurlah besok kita pergi bersama menjenguknya" Ucap Nathan yang melihat wajah Nick mulai berubah pucat saat ini mungkin dia tengah menyalahkan dirinya.