
"Ayah-Bunda!"
Seorang anak kecil berusia 6 tahun terus berlari sambil membawa buku gambar di tangannya, belum lagi tas ransel dan seragam sekolah yang membuat anak laki-laki itu terlihat sangat mengemaskan.
Harun dan Haura yang sedang menikmati waktu istirahat lantas menoleh dan tersenyum pada putranya.
"Jangan lari-lari, Sayang." Haura langsung berlutut untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Azzam. Menunggu anak kecil itu menghambur kepelukannya.
"Azzam dapat 10 Bunda." Bocah 6 tahun itu memperlihatkan gambarnya setelah melerai pelukan dengan sang bunda.
Harun dan Haura saling pandang, merasa bahagia melihat senyuman putra mereka yang terlihat mengemaskan dan ceria.
Tidak terasa 6 tahun telah berlalu sejak Haura sempat dinyatakan koma beberapa hari. Pelaku tabrak lari yang Harun tidak ketahui siapa telah mendapatkan hukumannya sendiri.
Ternyata pria itu bukan hanya menabrak Haura, melainkan mencuri mobil yang dia pakai. Semuanya murni kecelakaan tanpa adanya dendam menyertai.
Sejak keluarnya Haura di rumah sakit, keluarga kecil itu telah menjalani hari-hari bahagia bersama putra kecil yang sangat mengemaskan dan bawel padahal seorang cowok.
Seperti saat ini, bukannya mengucapkan salam setelah pulang sekolah. Azzam malah berteriak memanggil orang tuanya karena terlewat bahagia.
Harun ikut berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya, mengelus pipi cubi Azzam.
"Harusnya kalau masuk rumah itu ucap salam dulu Sayang, meski sebahagia apapun itu," ucap Harun memperingatkan.
"Beneran, Bunda?" Menatap Haura. Wanita itu lantas menganggukkan kepalanya.
Harun dan Haura terkesiap ketika Azzam berlari menuju pintu bahkan melewatinya. Baru saja akan menyusul, Azzam telah muncul dan berdiri tegap di depan pintu.
Azzam mengucapkan salam seperti yang diajarkan Harun. Lantas saja sepasang suami istri itu membalas salam putra kecil mereka. Memeluknya seerat mungkin setelah tiba.
"Pintar banget sih anak ayah," puji Harun mengacak-acak rambut Azzam.
"Hm, iya deh anaknya Bunda."
Haura lantas tertawa. Mengambil buku gambar di pelukan putranya ketika menyadari sesuatu. Mata wanita itu membulat sempurna, lalu mengulum senyum setelahnya.
"Azzam, ini bukan sepuluh Nak, tapi 100."
"Seratus?"
"Iya, kalau nolnya ada dua berarti seratus. Kalau nolnya satu baru sepuluh."
"Gitu ya Bunda?"
"Iya Sayang." Mengacak-acak rambut putranya. Haura segera berdiri. "Azzam mau ganti baju sendiri atau dibantuin Bunda?" tanya Haura.
"Azzam ganti baju sendiri Bunda. Azzamkan udah gede dan pintar. Bukunya disimpan di atas meja, tasnya di kursi. Seragam kotor di keranjang terus ambil baju bersih di lemari posisi paling atas." Azzam menjabarkan hal-hal yang pernah Haura ajarkan tanpa ada yang terlewat sama sekali.
"Pintar, ayo ganti baju. Bunda sama ayah tunggu di sini."
Azzam lantas mengangguk, berjalan hati-hati menapaki anak tangga sesuai peringatan bundanya. Sementara Haura dan Harun dengan seksama memperhatikan hingga putra mereka benar-benar telah sampai di anak tangga terakhir.
Haura tertawa ketika keningnya tiba-tiba dikecup oleh sang suami. "Didikan Bunda keren banget. Tidak pernah mengambil keputusan sendiri, apa saja selalu meminta pendapat Azzam," puji Harun.
"Karena aku tidak mau putra kita besar tanpa pilihan Mas. Memilih dan mempertanggung jawabkan pilihannya dari hal-hal kecil tidak akan membuatnya hilang arah saat dewasa nanti. Mendukung pilihannya bisa membuat dia lebih percaya diri nantinya, terlebih Azzam kelak akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya."
"Aku benar-benar beruntung mendapatkan istri. Dengan begitu keturunan mas nantinya akan bijak sana seperti bundanya."
"Jangan puji aku terus Mas, malu."
"Gemes banget sih wajah merah istriku." Menjawil cuping hidung Haura.