
Tidak ada orang tua mendampingi, tidak ada orang terdekat yang selalu ada saat merasa sepi membuat Harun benar-benar kehilangan arah sekarang. Hidup sebatang kara sangatlah menyesakkan meski begelimang harta, terlebih wanita yang selalu menemaninya kini terbaring tidak berdaya.
Dengan langkah pelan Harun meninggalkan ruangan intensif, menuju sebuah ruangan di mana putranya berada setelah keluar dari ruangan Nicu karena kondisi sudah membaik.
Tiga hari tidak terasa begitu cepat berlalu, tapi kondisi Haura tidak kunjung membaik, bahkan untuk sekedar di pindahkan ke ruangan yang lebih nyaman belum bisa.
Dengan pergerakan pelan Harun membuka ruangan yang ditempati putra kecilnya. Langkah Harun terhenti ketika mendapati Diana tidak sendiri di dalam ruangan itu. Ada wanita paruh baya dengan pakaian modis yang mengendong putranya.
Tanpa banyak bicara Harun mengambil alih bayi mungil tersebut, jangan lupakan tatapan tajam yang dia layangkan.
"Pergi!" usir Harun dengan tatapan penuh amarah. Kehadiran wanita itu bagai menabur garam pada luka yang belum kering. Perih tak tertahankan.
"Harun, bunda berhak untuk mengendong ...."
"Saya bilang pergi! Bunda saya sudah meninggalkan 14 tahun yang lalu!" bentaknya. "Diana, tolong bawa wanita tidak tahu diri itu pergi dari hadapan saya!" perintah Harun.
Diana yang tidak tahu apa-apa langsung saja menarik tangan wanita paruh baya yang matanya tengah berkaca-kaca.
"Ayo bu, saya antar sampai depan."
Wanita paruh baya itu mengangguk, sebelum pergi menyepatkan diri menatap putra kandungnya yang sedang berduka.
"Maafin bunda karena menanam luka terlalu dalam dihatimu," batin wanita paruh baya itu.
Setelah berada di depan pintu ruangan yang tertutup rapat, bunda Harun segera menarik tangannya yang masih berada di genggaman Diana.
"Kamu siapanya Harun? Bukannya istrinya sedang koma?" tanyanya.
"Ak-aku temannya kak Haura, Bu. Beneran ibu itu bundanya kak Harun? Tapi kenapa kak Harun seperti membenci ibu?" tanya Diana yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Bukannya tersinggung, bunda Harun malah tersenyum. "Ceritanya panjang dan sangat memalukan. Harun juga tidak salah karena membenci saya. Tolong ya, jaga cucu saya sampai bundanya benar-benar telah pulih. Harun tidak memiliki siapapun di dunia ini."
"Kehadiran saya sepertinya tidak diharapkan oleh Harun."
"Tapi belum tentu kak Haura membenci ibu. Dia wanita yang baik dan pemaaf, mungkin kak Harun mau memaafkan ibu kalau saja kak Haura membujuk." Diana kembali menarik tangan wanita paruh baya itu agar tidak pergi.
Sekarang Harun membutuhkan dukungan dari keluarganya, jika sekarang bundanya pergi. Maka Harun benar-benar akan sendiri menghadapi masalah.
"Biarkan dia pergi Diana! Saya tidak membutuhkan wanita sepertinya. Jika dia benar-benar peduli, dia tidak akan pergi 14 tahun yang lalu," ucap Harun yang baru saja membuka pintu setelah menidurkan putranya.
"Maafin bunda Nak." Usai mengatalan hal tersebut, wanita paruh baya itu segera pergi.
Tidak ada seorang anak yang akan menerima bunda sepertinya. Bunda yang tega menghancurkan kepercayaan anak remaja dengan berselingkuh bersama pria lain di dalam kamar suaminya, sementara suaminya sedang berjuang di rumah sakit seorang diri.
Bunda Harun muncul kali ini hanya karena tidak tega mendengar musibah yang menimpa putranya. Hadir ingin melihat cucunya untuk pertama dan terakhir kalinya karena tahu Harun tidak akan membiarkan dia bertemu dengan cucunya lagi.
"B-bunda?"
Wanita itu lantas mendonggakkan kepalanya mendengar saapan seseorang, melempar senyum pada sahabat putranya.
"Ternyata kamu tumbuh dengan baik Nak. Jaga Harun ya, jangan biarkan dia bersedih. Bantu dia keluar dari masalah."
"Kenapa Bunda baru kembali sekarang? Bunda tidak tahu apa yang Harun rasakan setelah mengusir Bunda? Dia menjadi orang pendiam selama beberapa tahun bahkan tidak ingin mengenal perempuan. Dia tidak membenci bunda, dia membutuhkan kasih sayang ...."
"Berhenti Nak, jangan buat bunda mengharapkan sesuatu yang lebih!" pinta bunda Harun.
Ezra menghela nafas panjang, memandangi kepergian wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Harun. Wanita yang berhasil menghancurkan masa remaja sahabatnya.
Namun, sebesar apapun kesalahan seorang ibu dan sebenci apapun anak pada ibunya. Rasa rindu akan tetap hadir tanpa diminta, dan Harun pasti merasakan itu terlebih sekarang sedang terpukul.