Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 73 ~ Tabir Pernikahan


Haura yang sedang sibuk tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah pelukan yang hangat di tubuhnya. Terlebih ketika orang itu dengan lancang mengecup pipi Haura berberapa kali.


"Mas ngangetin aku!" Membalik tubunya menghadap Harun tanpa membalas pelukan karena tanganya penuh akan tepung.


"Serius banget buat donatnya sampai tidak menyadari mas pulang."


"Maaf, tadi aku tidak dengar mobil mas berhenti. Sekarang lepasin dulu! Aku mau cuci tangan dan ...."


Cup


Harun dengan cepat mengecup bibir istrinya tanpa melepaskan tangan yang melingkar di pinggang. "Selesaikan pekerjaan kamu, Sayang. Aku bisa ganti baju sendiri."


"Tapi ...."


"Ck, jangan khawatirkan suami tampanmu ini!" teriak Harun yang mulai menghilang di balik pintu dapur.


Haura hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat tingkah Harun layaknya anak kecil. Ternyata pria yang benar-benar nyaman pada pasangannya dia yang memperlihatkan sikap konyol dan sisi terburuknya, seperti yang dilakukan Harun saat ini.


Lalu untuk apa lagi Haura meragukan cinta suaminya?


"Bu Haura, kulkasnya mau di simpan di mana?" tanya bibi yang baru saja dari luar.


Haura mengerutkan keningnya, wanita itu merasa tidak memesan kulkas apapun, tapi kenapa bibi malah bertanya?


"Kulkas?" tanya Haura balik dengan kening mengkerut.


"Iya bu, tadi pak Harun datang sama mobil besar yang mengantar dua kulkas sekaligus. Katanya buat usaha online ibu."


"Ah it-itu, letakin di samping microwave aja bi. Kebetulan di sana tempatnya kosong." Meski merasa terkejut karena Harun membeli sesuatu tanpa memberitahunya, dia tetap saja menyambut para tamunya yang sedang membawa kulkas 4 pintu yang lebih besar dari sebelumnya.


Dan satu kulkas freezer yang entah untuk apa nantinya Haura tidak tahu.


Setelah kepergian orang pengantar kulkas, Haura lantas menyusul suaminya di dalam kamar. Sementara yang hendak di susul tidak berada di kamarnya, pria itu ada di ruang kerja sedang menghubungi seseorang, lebih tepatnya Diana untuk menayakan perkembangan ruko yang telah dirombak habis-habisan dengan ide yang berada di kepala Diana.


"Bagaimana? Sebentar lagi hari ulang tahun istri saya, apa bisa selesai tepat waktu?"


"Aduh pak Dokter, aku itu bukan robot, ya kali bisa selesai dalam satu minggu!" Suara Diana terdengar kesal di seberang telpon karena masib saja mengingat momen Ezra dengan perempuan lain.


"Pekerjakan banyak orang! Saya tidak mau tahu! Saya sudah menepati janji, jadi kamu harus melakukan hal yang sama!"


Baru saja akan membalas sambungan telpon sudah diputus oleh Diana. Kalau saja bukan karena butuh, Harun tidak akan terlibat dengan gadis menyebalkan tersebut.


"Mas!"


"Iya Sayang?" Harun buru-buru membuka pintu ruangan kerja.


"Ternyata mas di sini. Aku tadi dari kamar nyariin."


"Kangen?"


Haura mengeleng dengan raut wajah seriusnya. "Kenapa membeli kulkas lagi? Padahal dua kulkas dirumah masih bagus. Ini sama saja pemborosan listrik juga barang."


"Untuk bahan-bahan kamu Sayang. Kan semalam kamu sendiri yang bilang kalau bahan-bahan buat jualan dan rumah harus dipisah biar tahu modal yang kamu keluarkan berapa. Jadi mas membelinya. Gunakanlah dua kulkas itu untuk jualanmu." Tersenyum tanpa dosa, menarik tangan Haura kembali menuju dapur.


"Lelah?"


Haura mengeleng.


"Kalau begitu lanjutkan! Mas bakal bantu kemas sampai selesai."


"Mas tidak capek? Habis kerja sekarang bantuin aku?" Ikut duduk di hadapan Harun yang tengah membentuk dus menjadi kotak sesuai sketsanya.


"Sama sekali tidak jika itu membuat istri dan putraku bahagia."


"Mulai lagi!"


"Mau bagaimana lagi? Aku suka melihat wajahmu yang tersipu itu Sayang." Mencolek dagu Haura layaknya pria yang sedang menggoda seorang gadis.


Sementara Haura mulai menunduk karena tidak sanggup menahan degup jantungnya yang sangat hebat. Ternyata benar, jatuh cinta itu sangatlah membahagiakan, terlebih jika jatuh cintanya berdua, bukan seorang diri.


"Sayang."


"Mas sudah! Jantung dan perutku beraksi berlebihan," lirih Haura.


"Humairahku, mau jalan-jalan malam ini? Bukan berdua kok, ada Ezra dan Diana juga."