
Rumah megah dan di penuhi oleh beberapa pelayan, apa yang dinginkan akan terpenuhi hanya dengan sekali bicara. Namun, itu semua tidak bisa membuat hati Harun senang, apalagi tersenyum bahagia karena tinggal sendirian tanpa siapapun lagi menemaninya di rumah ini.
Rasa sepi tiba-tiba menghampiri pria yang tengah berdiri di anak tangga paling atas memperhatikan seluruh penjuru rumahnya. Helaan nafas berkali-kali dia lalukan sebelum melangkah.
Sekarang jarum jam sudah menunjukkan angka 9 pagi. Hari ini, hari pertama Harun bekerja lagi di rumah sakit Edelweis, tapi tanpa jadwal apapun. Hanya sebagai dokter penganti jika ada dokter yang berhalangan hadir.
Sekarang pria itu ingin fokus pada kehamilan istrinya, juga menyenangkan hati Haura agar luluh dan kembali lagi kerumah. Memulai hidup tanpa penganggu, menikmati pagi yang indah dengan senyuman hangat Haura di pagi hari.
"Pak Harun."
Langkah Harun yang hendak keluar dari rumah berhenti ketika salah satu pelayan memanggil namanya, dia berbalik untuk menatap pelayan tersebut.
"Saya akan kemanakan semua barang-barang bu Elena dan Neng Vivian?"
"Terserah bibi saja, yang layak di pakai kalau mau diambil atau bagikan dengan yang lain, silahkan! Intinya barang-barang mereka sudah tidak ada di rumah ini!"
"Baik Pak." Sang pelayang mengangguk mengerti, hendak pergi tapi suara Harun kembali terdengar.
"Dus besar yang berada di kamar tamu, tolong kembalikan lagi ke kamar saya. Katakan jika ada yang kurang!"
Usai memberikan perintah atas pengurusan rumah, akhirnya Harun meninggalkan rumah mewah tersebut. Melajukan mobil merahnya menuju rumah sakit yang kebetulan searah dengan kontrakan Haura.
Harun telah mendapatkan jadwal pemeriksaan istrinya dan tidak akan dia lewatkan meski sekalipun, dia ingin menebus semua kesahalan yang telah dia lakukan selama ini.
Pria itu menginjak rem ketika sampai di depan pagar kontrakan Haura. Keningnya mengkerut melihat mobil mewah terparkir rapi di sana.
"Mobil siapa?" gumam Harun memperhatikan lamborghini hitam di depan mobilnya. Atensi pria itu teralihkan pada dua perempuan yang baru saja membuka pagar kontrakan.
"Mas Harun?" Kaget Haura.
"Mau kerumah sakit kan? Ayo, mas antar!" Langsung membukakan pintu, tapi Haura bergeming di tempatnya.
"Aduh maaf banget kak, kayaknya aku tidak bisa mengantar kakak deh. Tiba-tiba teman aku mau pakai mobilnya." Diana mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu sedikit takut melihat tatapan tajam Harun yang seakan menyiratkan ancaman, itulah mengapa Diana terpaksa berbohong.
Terlebih Diana tidak ingin mencari masalah dengan Harun yang merupakan sahabat dari om-om yang sedang dia incar.
"Dah kak, aku duluan!" Melambaikan tangannya sebelum melajukan mobil, menyisakan Haura dan Harun di sana.
Melihat istrinya masih saja bergeming, Harun lantas meraih lengan gamis wanita itu. "Ayo, tidak ada yang salah jika mas yang mengantar. Mas punya tanggung jawab untukmu juga anak kita." Harun tersenyum senang ketika Haura masuk ke mobilnya.
Sebelum masuk, pria itu mengepalkan tangannya ke udara sebab merasa sangat bahagia. Setidaknya Haura tidak lagi menghindarinya seperti saat wanita itu belum tahu bahwa dia tidak akan menikahi Vivian.
"Kamu buka usaha kecil-kecilan?" tanya Harun sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Iya Mas, soalnya aku butuh uang untuk ...."
"Maaf, seharusnya mas tidak mengusirmu dari rumah. Membuatmu berjuang padahal sedang hamil muda," lirih Harun. Senyuman diwajahnya berubah menjadi sendu.
Haura yang melihatnya lantas tersenyum. "Aku baik-baik saja, lagipula semuanya sudah berlalu. Yang harus kita lakukan hanya menyembuhkan hati masing-masing dari luka yang telah kita ciptakan sendiri."
"Apa ini artinya kamu mau memberi mas kesempatan?" Melirik Haura.
Samar-samar Haura menganggukkan kepalanya meski ada keraguan. Wanita itu sudah memikirkan sepanjang malam, bahkan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah.
Semua ini terjadi karena kesalahpahaman, Harun hanya termakan omongan Elena dan Vivian saja. Yang membuat Haura bertekad ingin bercerai hanya karena tidak ingin dimadu dan tidak siap membagi cintanya dengan wanita lain.
Tapi sekarang suaminya tidak menikah, apa salah jika Haura mencoba memberi kesempatan untuk Harun? Terlebih ini baru pertama kalinya pria itu membuat kesalahan.
Mungkin karena semasa hidupnya, dari mulai sekolah sampai menjadi dokter, semua di dikte oleh ayahnya.