Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 65 ~ Tabir Pernikahan


Malam minggu adalah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh semua pasangan bucin, terlebih para anak remaja. Begitupun dengan Diana yang kini telah rapi dengan setelan sederhana tapi lumayan terbuka.


Menepuk-nepuk pipinya perlahan sebelum keluar dari kamar. Langkah gadis cantik itu berhenti di anak tangga paling atas ketika melihat ayahnya bersedekap dada di bawah sana.


Diana menyengir tanpa dosa, menghampiri ayahnya dengan santai.


"Ayah sayang, Diana pamit dulu ya. Teman-teman Diana sudah nunggu sejak tadi. Jam 10 malam pasti pulang!" teriak Diana berlari keluar rumah setelah mencium paksa tangan ayahnya.


Sementara pria paruh baya itu hanya membalik tubuhnya menghadap pintu utama masih bersedekap dada. Menunggu teriakan seorang gadis yang mungkin akan mengelagar sebentar lagi.


"Ayahhhhhhhhh!" Benar saja, Diana berteriak sangat kencang. Mungkin jika ada urat-urat leher yang putus karena berteriak, maka Dianalah orang pertama yang akan masuk rumah sakit.


Gadis cantik itu kembali memasuki rumah dengan wajah ditekuk. Bagaimana tidak, 5 mobil dan satu motor di garasi tidak memiliki kunci juga bannya kempes tanpa tersisa.


Ayahnya benar-benar sangat terniat.


"Ayah kira bisa mencegahku? Baiklah, aku akan memesan taksi." Diana senyum penuh kemenangan, duduk di sofa dan memesan taksi untuk membawanya pergi.


Senyuman gadis itu memudar seketika setelah mendapat telpon dari sopir taksi yang baru saja dia pesan.


"Maaf Nona, tapi jalan menuju kompleks anda sedang diblokir malam ini. Tolong cancel pesanannya dan jangan lupa beri bintang 5," ucap sang sopir.


Diana mengambil nafas dalam-dalam lalu menghenbuskannya secara perlahan. Berusaha mengontrol emosi yang hampir saja meledak, terlebih ketika melihat ayahnya pergi menjauh, lebih tempatnya masuk ke kamar.


Memblokir jalan bukanlah hal yang sulit untuk ayah Diana, terlebih pria itu sering melakukannya ketika sudah lelah menunggu putrinya yang kabur dari rumah tidak kunjung kembali.


Alasan ayah Diana ingin menikahkan putrinya dengan pria yang lebih dewasa karena ingin gadis itu berubah menjadi lebih baik. Dan hanya Ezra satu-satunya kandidat yang masuk dalam kriteria menantu idaman ayah Diana, terlebih Ezra terlihat sangat sabar, jelas mampu mengimbangi tingkah Diana yang diluar nalar.


"Bunda, ayah jahat!" pekik Diana menghentak kaki layaknya bocah ingusan.


"Masuk kamar, jangan nangis! Anak gadis tidak boleh keluar malam!"


"Sama aja," gerutu Diana.


Akhirnya gadis itu kembali ke kamarnya, melepar tas asal lalu tidur tengkurap di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Mengirim pesan pada teman-temannya yang lebih dulu berada di club malam.


Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan ketika ponselnya tiba-tiba berdering menampilkan nama.


Bismillah calon suami


"Demi apa dokter Ezra telpon aku!" Pekik Diana sakin senangnya, bahkan gadis itu lupa untuk menjawab panggilan karena sibuk berdialog dengan dirinya sendiri.


"Ucapan dokter Harun benar-benar bisa dipercaya."


Tanpa membuang waktu lagi, Diana lantas menjawab panggilan dari Ezra.


"Apa benar kau temannya Harun?" tanya Ezra di seberang telpon tanpa basa-basi.


"Iya, kenapa ya pak Dokter?" Mengigit bibir bawahnya agar tidak berteriak sakin bahagianya, terlebih suara Ezra tidak sekasar saat bertemu dengannya secara langsung.


"Bisa bertemu besok? Kantin rumah sakit Edelweis jam 9 pagi."


"Bisa banget pak dokter!"


Kening Ezra di seberang telpon mengerut, merasa aneh dengan gadis yang dia hubungi. Selain suaranya terdengar familiar, gadis itu tahu namanya padahal dia belum memperkenalkan diri.


"Pak Dokter?" panggil Diana.


"Ah ya, saya akan menunggu kamu untuk membicarakan hal serius. Maaf menganggu malam-malam seperti ini."


"Tidak masalah pak, diganggu setiap malampun aku mau. Sering-sering ...."


Tut


Belum selesai Diana bicara, Ezra telah memutuskan sambungan telpon sepihak. Untung saja hati gadis itu sedang berbunga-bunga jadi tidak memaki.


"Aaaaaaaa! Jadi tidak sabar ketemu. Kira-kira calon suami aku mau ngomong apa ya? Apa dia mau jadi suami aku?" Diana mengigit bantalnya gemas