
Harun, pria itu terus saja menatap pintu rumah mewah milik orang tua Diana. Sejak tadi Harun menunggu kedatangan istrinya yang tidak kunjung muncul sejak meminta izin untuk menemui Diana.
Sebenarnya Harun bisa saja menunggu di dalam bersama keluarga Ezra, hanya saja tidak enak mendengar beberapa hal privasi yang keluarga mereka bicarakan tentang pernikahan dan ucapan yang terlontar dari mulut Diana.
Apalagi penyebab pacaran pura-pura terjadi karena keegoisannya yang ingin membahagiakan Haura. Itulah yang berada di pikiran Harun saat ini.
Senyuman pria itu mengembang sempurna setelah wanita cantik yang dia tunggu mengetuk pintu mobil. Dengan sigap Harun membukanya.
"Kenapa lama sekali? Mas takut kamu tidak nyaman di dalam sana."
"Aku tadi habis nenangin Diana dan beri nasehat sedikit. Memangnya kita mau kemana Mas?" tanya balik Haura sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada jok mobil, sementara Harun dengan telaten memasangkan sabuk pengaman.
"Ke suatu tempat yang mungkin kamu sukai. Kalau mengantuk atau lapar bilang sama mas!" Melajukan mobilnya secara perlahan meninggalkan lingkungan rumah Diana. Dimana rumah itu sedang diisi suasana yang sangat menegangkan antar keluarga.
Sepanjang jalan, tangan Harun terus saja mengenggam tangan istrinya tanpa takut kalau apa yang dia lakukan membayakan nyawa dirinya juga Haura.
"Mas, fokuslah kedepan jangan natap aku terus. Bahaya tau," tegur Haura.
"Kamu terlalu cantik untuk diabaikan begitu saja sayang." Mencuri kecupan di pipi ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
Haura tersipu malu, mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang mulai padat karena berhenti satu-persatu. Kini perasaan wanita itu sangat bahagia kerena suaminya sangat perhatian juga manja. Dia bukan lagi istri figuran, tetapi istri sesungguhnya yang selalu ada di hati Harun.
Lama berkendara akhirnya Harun dan Haura sampai di sebuah mall yang baru kali ini Haura kunjungi bersama Harun.
"Kenapa di sini mas? Barang-barang di sini terlalu mahal," bisik Haura engang turun dari mobil padahal Harun sudah berdiri di luar mobil sambil memegang pintu yang telah terbuka.
"Lalu kenapa?"
"Kita cari mall yang lain saja Mas. Lagian kenapa ke mall? Bahan-bahan makanan dan segala perlengkapan rumah masih utuh dan ...."
Haura mengerjapkan matanya perlahan ketika sebuah kecupan di bibir mendarat begitu saja.
Keduanya berjalan beriringan memasuki mall yang tidak terlalu ramai akan pengunjung. Mungkin karena mall ini tidak terlalu merakyatnya seperti mall-mall pada umumnya.
Tujuan Harun ke sini tentu saja untuk mewujudkan keinginnan Haura. Membeli gamis yang telah ditandai pada majalah semalam.
Sepanjang menyusuri mall, Harun selalu melirik kanan kiri untuk memastikan istrinya tidak akan terluka karena seseorang. Mungkin terkesan berlebihan, tapi Harun tidak ingin kehilangan istrinya yang mendekati sempurna.
Langkah Haura memelan dengan mata membulat sempurna ketika Harun menariknya memasuki toko yang sangat dia kenali.
"Kita belanja buat abang saja, Mas." Menarik tangan Harun agar tidak memasuki toko gamis yang harganya lumayan fantastis.
"Beli buat bundanya dulu sebelum abangnya."
Haura menghela nafas panjang, mengikuti langkah suaminya dengan pasrah. Keduanya berhenti di depan sebuah manekin yang tinggi semampai.
"Ayo Sayang dicoba dulu bajunya!" pinta Harun.
"Tidak, aku tidak suka sama modelnya."
"Benarkah?" Alis Harun terangkat penuh menyelidik. "Lalu untuk apa memberi lingkaran dengan gamis yang serupa, hm? Ambilah Humairah! Gamisnya hanya ada dua di kota ini."
Haura mengelengkan kepalanya, tetap pada pendirian yang tidak ingin membeli sesuatu dengan uang suaminya. Terlebih gamisnya sangatlah mahal sampai jutaan.
"Aku bisa pakai gamis yang harganya ratusan ribu. Bahannya juga nyaman dan ...."
"Tolong dikemas keduanya, tidak perlu dicoba lagi!" perintah Harun yang tidak ingin mendengar bantahan lagi.
Pelayan yang sejak tadi memperhatikan perdebatan Harun dan Haura lantas mengambil gamis pengeluran terbaru di toko tersebut lalu mengemasnya dengan rapi.
"Ayo, kita belanja buat abang!"